Bertempat di Sopo Toba Samosir, Selasa (21/2), Ompui Ephorus membuka secara resmi Lokakarya Penginjilan, Liturgi dan Musik Gerejawi yang diselenggarakan oleh Departemen Marturia HKBP. Pembukaan diawali dengan Kebaktian Pagi yang dipimpin oleh Pdt. Ginto Robinson (PI Zending HKBP) dengan mengutip dari Roma 1:16-17. Hadir dalam Pembukaan Lokakarya ini: Ompu Boru, Sekretaris Jenderal dan Ibu, Kepala Departemen Marturia dan Bapak.

Dalam Sessinya sekaligus sebagai Keynote Speaker, Ompui Ephorus Menyampaikan Makalah dengan Judul: HKBP: Gereja  Yang Dibearkan Oleh Jemaat Missioner. Ompui memaparkan Turunnya Roh Kudus menjadi awal semangat untuk memberitakan Injil. Turunnya Roh Kudus adalah awal kelahiran Gereja, karena disana ada persekutuan yang kita pahami menggerakkan dan memotivasi penerima-penerima Roh Kudus Tersebut. Kuasa Roh Kudus memberikan talenta yang luar biasa, berbicara, bersaksi, mengaku iman.  Mereka menyaksikan pengalamannya dengan Tuhan karena mereka orang yang didiami Oleh Roh Kudus dan mereka dikenal dengan nama peneima Kharisma. Penerima Kharisma memeberitakan Injil secara Spontan, dimana ada waktu dan peluang memberitakan Injil, seperti yang dikatakan Rasul Paulus, beritakan Injil baik atau tidak baik waktunya.

Ompui juga memaparkan, ada 2 jenis tugas panggilan yang kita terima dari Tuhan, Pertama: Vocatio Generalis: ditujukan kepada seluruh warga gereja, yang sudah dibaptis dan sudah naik sidi. Kedua: Vocatio Specialis, ditujukan kepada pelayan tahbisan. Tugas Pelayan Tahbisan agar menjaga, mengelola dan menyatukan agar jangan terpecah belah. Tugas pelayan tahbisan adalah bagimana agar jemaat menjadi jemaat missioner.

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) adalah sebuah contoh gereja yang dibesarkan warga jemaatnya. Pasca berakhirnya kehadiran misionaris Jerman di tanah Batak, kekristenan di tanah Batak telah lahir dengan perpaduan hakristenon dengan habatahon – nilai-nilai kekristenan yang menyatu dan berpadu dengan nilai-nilai kultur Batak. HKBP bukan HBKP. Warga jemaatnya adalah Kristen Batak, bukan Batak Kristen. Kristen Batak artinya mendahulukan nilai-nilai kekristenan, baru menyusul nilai-nilai kultur Batak. Nilai-nilai kekristenan yang paling diutamakan, sehingga apabila ada nilai-nilai kultur Batak yang bertentangan dengan kekristenan, maka nilai-nilai kultur Batak itu yang akan ditinggalkan dan dilarang diberlakukan.

Warga jemaat HKBP bertumbuh dan berkembang dengan nilai-nilai kekristenan dan kultur Batak sebagaimana terakomoder di dalam jiwa kekristenan Batak tersebut. Kecintaan terhadap kekristenan dan kebatakan terakomoder di dalam semangat jiwa bergereja HKBP, baik memlalui liturginya maupun melalui pemahaman teologinya. Inilah yang mnenyebabkan kemana orang Batak (Kristen Batak) pergi merantau, ke dalam dan keluar negeri, selalu berharap dan bercita-cita akan membangun gerejanya sendiri, yaitu HKBP. Bertumbuhnya dan berkembangan gereja-gereja Batak, yaitu HKBP, diberbagai kota di seluruh Indonesia maupun di luar negeri adalah atas dasar semangat missioner warga jemaat HKBP. Ephorus HKBP tidak pernah membuat sehelai surat sebagai permohonan kepada warganya agar di mana mereka berada, bekerja dan bertempat tinggal, segera membangun gereja HKBP. Warga jemaat HKBP sendirilah yang berkumpul dan berupaya membangun secara spontan untuk mendirikan gereja HKBP. Kebesaran HKBP hingga kini adalah dari upaya spontanitas warga jemaat HKBP yang missioner tersebut.

Oleh karena itu, upaya jemaat missioner yang spontanitas harus ditata dan dikelola, ditata dan dikembangan sebagai kekuatan dan kekayaan dalam kehidupan gereja di dalam pembangunan jemaat missioner di kalangan HKBP. Sebab apabila tidak ditata dan tidak dikelola dengan baik, maka semangat spontanitas membangun gereja itu dapat terkontaminasi faktor-faktor negative yang ada di dalam jiwa habatahon sendiri, misalnya semangan kemandirian yang didorong oleh keinginan untuk memisahkan diri dari gereja induk. Sebab semangat dan keinginan “mamungka huta” adalah kultur legal dalam budaya Batak Toba. Kultur “mamungka huta” dapat dan sangat berpotensi mendorong pemisahan diri dalam setiap bentuk persekutuan kehidupan orang Batak, temasuk dalam kehidupan bergereja. Oleh karena itu, faktor-faktor kultur negatif itu harus sesegera mungkin dihapus dan ditinggalkan dari kehidupan bergereja Kristen Batak. Dengan demikian tetap dapat dipertahankan bahwa keberadaan HKBP adalah karena dibesarkan warga jemaat HKBP yang missioner.

Dalam 2 Kor 3:2-3, Paulus mengatakan bahwa orang-orang percaya, pengikut Yesus Kristus, adalah sebagai ‘surat-surat Kristus yang hidup, yang ditulis bukan dengan tinta tetapi dengan Roh.’ Sebagai surat Kristus, maka setiap orang Kristen, melalui ucapan, pikiran dan perbuatannya, harus menjadi surat Kristus yang dapat dibaca orang banyak. Kehadiran seorang Kristen, warga jemaat atau pelayan gereja, di mana saja dan kapan saja, harus menampilkan diri sebagai surat Kristus yang dapat dibaca oleh semua orang. Mungkin seseorang tidak berbicara, tidak berkhotbah dan tidak mengajar tentang Firman Tuhan, tetapi sebagai surat Kristus, perbuatannya dapat melebih khotbah dalam arti lebih efisien dan lebih efektif dari pada khotbah-khotbah dan pengajaran verbal lainnya. Dengan pemahaman sebagai surat Kristus, maka semua orang percaya turut serta dan bertanggung-jawab di dalam pelayanan dan di dalam pembangunan jemaat untuk menuju kedewasaan dan pemenuhan sebagai tubuh Kristus.

Kegiatan yang akan berlangsung hari ini: Sessi I oleh Ompui Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing yang sekaligus sebagai Keynote Speaker. Sessi II akan disampaikan oleh Sekretaris Jenderal HKBP Pdt. David F Sibuea, M.Th, D.Min  dengan Materi: Penginjilan di Gereja Lokal dan Hubungannya Dengan Pastoral. Sessi ke III disampaikan oleh Pdt. Bonar H. Lumbantobing, M.Th dengan Materi: Peran Liturgi dalam Pengembangan Pelayanan Marturia. Sessi ke IV akan disampaikan oleh Kepala Departemen Marturia Pdt. Dr. Anna Vera Pangaribuan dengan Materi: Meningkatkan Kualitas Pelayanan Marturia  di HKBP.Sessi ke V disampaikan oleh Ir. Lukas B. Tandadjaja (Ketua Evangelism Explosion Malang) dengan Materi: Metode Penginjilan, dan Sessi VI disampaikan oleh Pdt. T.P.L. Rajagukguk dengan Materi: Teologia Musik Gereja dan Praktisnya dalam Pelayanan Marturia. Dari Hasil Lokakarya ini akan dirumuskan BukuPedoman Pelaksanaan Pelayanan Marturia di Tingkat Pusat, Distrik Ressort dan Huria. Kegiatan hari ini dihadir1 118 peserta. Tuhan Memberkati Kegiatan Lokakarya ini//Arth/Biro Informasi.