Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing

Ephorus HKBP

 

1. Prakata

Awal berdirinya gereja adalah pada waktu turunnya Roh Kudus di Yerusalem (Kis 2:1-13). Peristiwa pentakoste tersebut bukan hanya merupakan peristiwa turunnya Roh Kudus, tetapi menjadi awal lahirnya gereja dan menjadii titik tolak dan dasar pemahaman tentang hakekat gereja. Gereja dipahami  sebagai tempat dan peristiwa penerimaan Roh Kudus. Orang-orang yang percaya, yang berkumpul dan yang bersekutu di Yerusalem adalah orang-orang yang telah menerima Roh Kudus. Itulah sebabnya para ahli PB lebih mengatakan bahwa kitab yang ditulis Lukas dengan judul Kisah Karya Para Rasul – The Acts of the Apostle lebih tepat dikatakan Kisah Karya Roh Kudus – the Acts of the Holy Spirit History.

Orang-orang percaya yang bersekutu itu telah menerima Roh Kudus tersebut. Jadi Roh Kudus yang bertindak. Roh Kudus yang berbuat di dalam hidup orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Dengan demikian mereka telah memiliki kharisma, talenta, yaitu suatu pemberian dari Tuhan, sehingga mereka memiliki kemampuan yang khusus. Pada masa turunnya Roh Kudus di Yerusalem itu, mereka menerima kharisma berbahasa lidah, berbahasa asing, bernubuat dll (1 Kis 14).Kemudian pada perkembangan selanjutnya, karunia dan kharisma itu ditemukan di dalam berbagai pelayanan yang dibutuhkan jemaat.

Akan tetapi selanjutnya, sering terjadi permasalahan, ketika kharisma itu menjadi suatu kesombongan pribadi. Di jemaat Korintus misalnya, terjadi perpecahan karena penerima kharisma yang satu memahami lebih utama dari penerima kharisma yang lain. Akhirnya rasul Paulus menegur mereka, bahwa apapun yang mereka miliki tentang kharisma, maka harus dipahami bahwa itu adalah pemberian Tuhan (1 Kor 12:7-11), sehingga harus dipergunakan untuk pembangunan jemaat (1 Kor 14:12).

Dengan dasar pemahaman rasul Paulus ini, maka secara teologis, semua orang percaya, warga jemaat, adalah orang-orang penerima pemberian Roh Kudus. Dalam kehidupan gereja, perisrtiwa itu dipahami ketika seseorang itu dibaptis. Baptisan telah menjadikan seseorang hidup bersama-sama dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (Roma 6:3-5). Hal itu hanya dapat terjadi dengan kuasa Roh Kudus. Sebab orang-orang yang dibaptis itu telah mengenakan memakaikan – Kristus (Gal 3:27), hingga ia mempunyai kekuatan, kemampuan dan talenta yang khusus dari Roh Kudus.

Kuasa Roh Kudus yang diterima itu dapat merupakan suatu kemampuan yang luar biasa, yang memiliki aspek-aspek kodrati dan adikodrati; yang natural dan supra-natural. Bahkan kuasa Roh Kudus itu dapat juga berupa pemberian kharisma atau talenta kepada seseorang, sehingga ia mempunyai keahlian khusus – skill – yang mungkin lahir melalui pengalaman, pendidikan, baik formal atau informal. Semuanya itu harus dipahami sebagai pemberian Tuhan melalui Roh Kudus.

Sesuai dengan pemeberian Roh Kudus itu maka keberadaan jemaat, baik fungsi atau posisinya dipastikan berbeda-beda. Kharisma dan talenta yang kita terima, sekalipun berbeda-beda, namun harus dipergunakan untuk membangun jemaat (band. 1 Kor 14:3-5). Dengan pemahaman ini, maka asumsi teologis yang mengatakan bahwa semua warga gereja memiliki kemampuan untuk melayani, untuk turut serta di dalam pembangunan jemaat, dapat diterima. Salah satu ciri khas penerima Roh Kudus, sebagaimana pada peristiwa turunnya Roh Kudus di Yerusalem, adalah memiliki semangat pemberitaan injil secara spontan, dinamis dan aggresif.

Kuasa Roh Kudus yang ada pada mereka, baik secara personal maupun secara kolektif, mendorong dan memotivasi mereka untuk berpertasipasi aktif memberitakan Injil secara spontan dan dengan semangat yang luar biasa.Kondisi seperti itu juga ditemukan di dalam pribadi seseorang pada warga jemaat gereja sampai pada masa kini. Kuasa Roh Kudus itulah yang menjadikan seseorang menjadi warga jemaat yang missioner. Dari warga jemaat missioner itulah lahir gereja  yang missioner.

2. Memperlengkapi Warga Gereja

Ada dua jenis tugas panggilan yang kita terima dari Tuhan. Hal ini selalu ditekankan di dalam teologi Protestant. Pertama ada vocatio generalis, panggilan umum yang ditujukan kepada seluruh warga gereja, yang sudah dibaptis dan telah naik sidi. Berdasarkan pemahaman ini, maka semua orang percaya turut serta dalam pemberitaan Injil Kristus, yang dilakukan melalui talenta, kharisma yang dimilikinya bail di dalam ucapan, secara verbal, maupun secara perbuatan dan tingkah-laku sehari-hari. Oleh karena itu mereka juga sering disebut sebagai the non-ordained minister – pelayan non-tahbisan, atau pelayan yang tidak menerima tahbisan. Kedua, ada vocatio specialis, yaitu dari antara orang-orang penerima vocatio generalis itu ada yang menerima vocatio specialis, panggilan khusus dalam tugas dan pelayanan yang khusus pula. Jadi di samping talenta yang mereka miliki, mereka mempunyai tugas tertentu di dalam pelayanan sesuai dengan kebutuhan jemaat. Mereka juga disebut sebagai the ordained minister – pelayan tahbisan – pelayan penerima tahbisan. Di dalam gereja kita sekrang ini, orang-orang penerima vocatio specialis itu adalah seperti pendeta, penatua dan pelayan tahbisan lainnya..

Pada dasarnya warga jemaat sebagai yang bukan penerima tahbisan mempunyai kesamaan dengan pelayan yang menerima tahbisan. Mereka adalah dari kalangan warga jemaat yang sudah dibaptis dan yang telah naik sidi, dalam arti telah dapat mengaku imannya secara pribadi dan mandiri. Namun karena tugas panggilan khusus itu, maka seorang pelayan penerima tahbisan memiliki kemampuan dan peranan yang khusus di dalam jemaat, sesuai dengan tugas dan panggilan yang khusus itu pula. Mereka juga mempunyai kuasa yang khusus, sesuai dengan pemberian yang memanggil dan yang mengutusnya, yaitu Yesus Kristus (Luk 9:1-6; 10:1-12).

Oleh karena kekhususan yang diterimanya, maka para penerima vocatio specialis – yang telah ditahbis menjadi pelayan atau partohonan tertentu mempunyai tugas dan fungsi untuk memperlengkapi warga jemaat. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Efesus mengatakan:

“Dan Ialah yang memberikan rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.” (Ef 4: 11-12).

Tugas para penerima panggilan khusus itu adalah untuk memperlengkapi jemaat, yang disebut juga sebagai orang-orang kudus. Tujuan memperlengkapi itu adalah agar anggota jemaat turut-serta di dalam pelayanan dan pembangunan jemaat sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu anggota jemaat tidak pernah diasumsikan sebagai objek pelayanan semata-mata, melainkan bagian dari subjek, pelaku dan pelaksana pelayanan.

Memang kehidupan jemaat purba, atau jermaat pada masa para rasul, telah menunjukkan adanya pembagian tugas di dalam, pelayanan. Baik penerima panggilan umum, pelayan yang bukan penerima tahbisan, maupun penerima panggilan khusus, pelayan yang menerima tahbisan, sama-sama mempunyai tugas yang konkret di dalam mengupayakan pertumbuhan kehidupan jemaat. Pemilihan ke tujuh orang dari warga jemaat menjadi diaken di Yerusalem (Kis 6:1-7) adalah contoh konkret tentang adanya pembagian tugas tersebut dan ikut-sertanya anggota jemaat mengambil bagian di dalam pelayanan itu.

Ke tujuh orang yang dipilih menjadi diaken itu adalah merupakan orang terbaik, dan sebenarnya bukan orang istimewa, dari kalangan jemaat. Pemilihan ke tujuh diaken itu juga menunjukkan  bahwa para rasul-rasul sendiri tidak sanggup melaksanakan semua tugas pelayanan jemaat. Para rasul itu ternyata memiliki keterbatasan, baik dari segi waktu maupun kemampuan. Oleh karena itu di dalam pelayanan, anggota jemaat harus diikut-sertakan. Bahkan menurut rasul Paulus, di dalam suratnya kepada jemaat Efesus, mengatakan bahwa keikut-sertaan jemaat dalam pembangunan jemaat sebagai tubuh Kristus akan dengan sendirinya mengarahkan jemaat itu “bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah kepala.”  Sebab, “dari padanyalah seluruh tubuh – yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya sesuai dengan kadar tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (Ef 4: 15b-16).

Dengan kata lain, jemaat yang bertumbuh adalah jemaat yang berkembang menuju kedewasaan iman. Jemaat yang bertumbuh dan dewasa secara iman terjadi hanya apabila semua bagian yang ada di dalam jemaat turut aktif mengambil bagian di dalam pelayanan. Pelayanan yang hanya dipikul majelis atau penerima tahbisan saja adalah pertanda bahwa jemaat itu belum bertumbuh menuju kedewasaan. Jemaat yang sudah bertumbuh secara dewasa, di mana warga jemaatnya turut aktif di dalam pelayanan, itulah pertanda jemaat yang missioner. Dengan kata lain, terjadinya jemaat yang missioner adalah apabila pelayannya dan warganya juga missioner, yang turut serta di dalam berbagai kegiatan pelayanan demi pertumbuhan jemaat sebagai tubuh Kristus.

3. Mengaktifkan Partisipasi Jemaat dalam Pelayanan

Pelayanan gereja, di manapun berada dan program apapun yang dilaksanakan, harus berbasis jemaat. Pelayanan berbasis jemaat dimaksudkan agar pelayanan itu sesuai dengan kebutuhan jemaat dan merupakan jawaban atas berbagai pergumulan jemaat.

Dalam sebuah buku, The Marketing Church, digambarkan bahwa gereja pada masa kini persis sama dengan sebuah perusahaan bisnis yang berada di tengah-tengah pasar bebas. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam produksi barang dagangan harus selalu mempertimbangkan pangsa pasar sebelum memproduksi barang tersebut. Barang yang hendak diproduksi tidak lagi hanya berkwalitas, tetapi harus sesuai dengan kebutuhan konsumer, sesuai dengan pangsa pasar. Barang yang diproduksi yang tidak berkwalitas dan yang tidak sesuai dengan pangsa pasar tidak akan laku dan tidak akan dibutuhkan konsumer. Bahkan sekalipun suatu barang itu berkwalitas tinggi, tetapi apabila tidak sesuai dengan pangsa pasar, maka pasti tidak akan ada orang yang membutuhkannya dan tidak ada orang yang akan membelinya.

Gereja dan pelayanannya juga demikian. Sebelum gereja menetapkan suatu program pelayanan kepada jemaat, gereja harus mempertimbangkan bagaimana agar pelayanan itu bermutu dan sesuai dengan pangsa pasar, yaitu kebutuhan jemaat dan menjawab pergumulan jemaat. Betapapun hebatnya suatu pelayanan, apabila tidak menyentuh pergumulan hidup iman jemaat, dan apabila tidak sesuai dengan kebutuhan jemaat, maka pasti pelayanan itu tidak akan dibutuhkan, tidak diminati dan akan ditinggalkan. Akhirnya jemaat tersebut akan mencari di mana ada pelayanan yang dapat menolong pergumulannya dan sesuai dengan kebutuhannya.

Untuk menemukan pelayanan yang berkwalitas dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan jemaat, maka pelaksanaan pelayanan itu minimal harus mengikut-sertakan jemaat untuk menentukan dan menetapkan pelayanan yang harus dilakukan gereja.  Mengikut-sertakan warga jemaat di dalam pelayanan akan dengan sendirinya mengetahui apa kebutuhan jemaat, pelayanan yang bagaimana yang diharapkan jemaat, sehingga pelayanan tersebut menjadi relevan dan actual di dalam kehidupan jemaaat. Dalam kondisi pelayanan seperti itu, jemaat tidak lagi hanya sebagai objek pelayanan. Mereka sudah turut-serta memikul, mengambil bagian  dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pelayanan tersebut. Pelayanan seperti itu disebut pelayanan berbasis jemaat.

Pelayanan berbasis jemaat berarti mengetahui talenta dan kharisma yang dimiliki warga jemaat, yang kemudian dapat dimotivasi dan akomoder sebagai bentuk dan bagian dari pelayanan. Hanya dalam tindakan pelayanan seperti itulah dapat disebut bahwa hubungan sesama pelayan adalah sebagai ‘kawan sekerja Allah’ (1 Kor 3:9). Sesama pelayan dan antara pelayan dan  warga jemaat tidak lagi dalam struktur atau hierakhis organisatoris atau struktur kekuasaan institusional yang tersusun secara ‘monolitis’ – kepemimpinan yang bertumpu pada satu batu pilar, atau figure pemimpin – seperti ditemukan di banyak system dan sifat kepemimpinan gereja masa kini. Sehingga, struktur, susunan, dan posisi antara jemaat dan pelayan menjadi terkondisi dalam posisi atasan dan bawahan.

Pelayanan berbasis jemaat dibangun dengan prinsip “kawan sekerja”. Tidak atas dasar pemahaman struktur hierarchis atasan dan bawahan. Pelayanan berbasis jemaat itu harus menjadi pelayanan terpadu, karena mengikut-sertakan semua unsur yang ada di jemaat sebagai “kawan sekerja“. Akan tetapi di dalam konsep pelayanan yang terpadu tersebut perlu diatur agar berlangsung secara tertib, damai dan aman (band. 1 Kor 14: 33, 40). Dengan demikian pelayanan itu akan berlangsung dengan rapi dan teratur. Untuk itulah dibutuhkan adanya koordinasi pelayanan, untuk menjadikan pelayanan itu berjalan secara efisien dan efektif.

Catatan: Ada banyak gereja akhir-akhir ini yang memahami bahwa peranan organisasi, kelembagaan dan kepemimpinan di dalam gereja tidak dibutuhkan. Pandangan ini menekankan bahwa talenta dan kharisma yang dimiliki setiap orang percaya, yang diterima langsung dari Roh Kudus, telah cukup menjadikan pelayanan itu berjalan secara efisien dan efektif. Pandangan ini tentu tidak seluruhnya dapat dibenarkan. Kasus jemaat Korintus (baca 1 Kor 12-14) adalah contoh konkret, yang menunjukkan betapa berbahayanya keutuhan kesatuan jemaat apabila talenta dan kharisma dilaksanakan dengan tidak teratur dan tidak tertib (1 Kor 14: 33, 40). Oleh karena itu, pelayan dan warga jemaat yang melayani perlu ‘diikat’ dalam pemahanan bahwa mereka adalah satu di dalam melayani tubuh Kristus yang satu (Ef 4: 1-4). Untuk menumbuhkan pemahaman seperti itulah dibutuhkan peranan pelayan  untuk memperlengkapi warga jemaat sehingga turut serta menjadi bagian dari pelaku pelayanan tersebut.

4. Kendala-kendala

Ada dua tipe warga jemaat kita. Pertama, disebut sebagai warga jemaat Kristen susu.  Dalam hal ini Paulus mengatakan:

“Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukan makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya” (1 Kor 3: 1-2a).

Warga jemaat yang bertipe Kristen susu adalah warga jemaat yang belum dewasa. Baik pengalamannya mauhpun imannya masih seperti bayi yang membutuhkan susu sebagai makanannya. Tipe orang Kristen seperti ini masih perlu bimbingan, pengawasan, asuhan agar mereka dapat hidup dan sesuai dengan kehendak Kristus.

Tipe warga Kristen yang ke dua adalah Kristen dengan makanan keras. Mereka adalah warga jemaat yang sudah dapat berhadapan dengan berbagai tantangan dan ancaman. Mereka dapat mencari jawaban atas pergumulannya. Mereka dapat memilih, menguji dan mengambil yang dari segala sesuatu yang ada di hadapannya (1 Tes 5:21), kemudian menetapkan dan melakukan yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Pada satu sisi, semua orang Kristen pernah menjadi Kristen susu. Namun tidak jarang seorang Kristen terus sepanjang hidupnya berperilaku sebagai Kristen susu, sekalipun ia sudah lama menjadi seorang Kristen. Ia tidak pernah berperilaku sebagai Kristen makanan keras, sebagaimana warga jemaat yang dihadapi penulis Ibrani:

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barang siapa masih memerlukan susu, ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindra yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” (Ibrani 5: 12-14).

Jadi kendala dalam mengefektifkan peranan warga jemaat di dalam pelayanan adalah dengan adanya warga jemaat yang masih Kristen susu tersebut. Kita masih temukan misalnya, anggota jemaat yang masih menginginkan agar ia diperlakukan sebagai seorang Kristen susu, yaitu dengan mengajak atau membujuk untuk datang beribadah. Ia tidak akan pernah mengambil prakarsa sendiri dalam mengikuti suatu kegiatan. Tetapi kalau ia diajak, diminta dan dibujuk, barulah ia ikut-serta dalam ibadah dan dalam kegiatan pelayanan.

Kendala yang lain adalah kehidupan warga jemaat yang terkondisikan atau dikondisikan sedemikian rupa, sehingga ia terus seperti Kristen susu. Atau ibarat sebuah pohon, ia bukan saja tidak berbuah, tetapi terus dalam kondisi hidup yang kerdil, tetap kecil. Ia sebagai seorang Kristen yang hidup kerdil, tidak berbuah, dan terus memerlukan makanan ‘susu’ dalam kehidupannya. Pada hal sebagai seorang Kristen yang dipanggil dan dipilih Yesus Kristus,  kita adalah – dan seharusnya  demikian- sebagai seorang Kristen yang berbuah. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah …” (Yoh 15:16). Ucapan ini ditujukan kepada semua orang percaya, bukan hanya kepada para pelayan saja yang dipilih dengan panggilan khusus saja. Oleh karena itu panggilan yang kita terima bukan panggilan untuk hidup kerdil atau hidup sebagai Kristen susu, melainkan untuk berbuah banyak.

Ada juga warga jemaat yang tidak berbuah, tetapi sebenarnya bukan karena ia tidak mau berbuah, melainkan karena ia telah terkondisi atau dikondisikan untuk tidak berbuah. Artinya ada factor-faktor tertentu yang membuat ia menjai tidak dapat berbuah, misalnya pergumulan, penderitaan dan berbagai rintangan dalam kehidupan yang dihadapinya. Akibat dari semuanya itu, jadilah ia seperti pohon yang kerdil, yang tidak berbuah, bahkan justru yang memerlukan perawatan dari pihak lain. Begitu juga perkembangan iman dan kepercayaannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi seperti itu, maka tugas utama para pelayan – dalam arti ‘pelayan tahbisan’  semakain dirasakan untuk berperan sebagai pelayan yang ‘menanam’, ‘menyiram’ firman Tuhan (band. 1 Kor 3:6), yang dilakukan dengan berbagai cara dan pendekatan. Baru kemudian, ia dapat bertumbuh sebagaimana ia layaknya, atas kasih dan berkat pertumbuhan yang diberikan Allah.

5. HKBP: DIBESARKAN JEMAAT MISSIONER

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) adalah sebuah contoh gereja yang dibesarkan warga jemaatnya. Pasca berakhirnya kehadiran misionaris Jerman di tanah Batak, kekristenan di tanah Batak telah lahir dengan perpaduan hakristenon dengan habatahon – nilai-nilai kekristenan yang menyatu dan berpadu dengan nilai-nilai kultur Batak. HKBP bukan HBKP. Warga jemaatnya adalah Kristen Batak, bukan Batak Kristen. Kristen Batak artinya mendahulukan nilai-nilai kekristenan, baru menyusul nilai-nilai kultur Batak. Nilai-nilai kekristenan yang paling diutamakan, sehingga apabila ada nilai-nilai kultur Batak yang bertentangan dengan kekristenan, maka nilai-nilai kultur Batak itu yang akan ditinggalkan dan dilarang diberlakukan.

Warga jemaat HKBP bertumbuh dan berkembang dengan nilai-nilai kekristenan dan kultur Batak sebagaimana terakomoder di dalam jiwa kekristenan Batak tersebut. Kecintaan terhadap kekristenan dan kebatakan terakomoder di dalam semangat jiwa bergereja HKBP, baik memlalui liturginya maupun melalui pemahaman teologinya. Inilah yang mnenyebabkan kemana orang Batak (Kristen Batak) pergi merantau, ke dalam dan keluar negeri, selalu berharap dan bercita-cita akan membangun gerejanya sendiri, yaitu HKBP. Bertumbuhnya dan berkembangan gereja-gereja Batak, yaitu HKBP, diberbagai kota di seluruh Indonesia maupun di luar negeri adalah atas dasar semangat missioner warga jemaat HKBP. Ephorus HKBP tidak pernah membuat sehelai surat sebagai permohonan kepada warganya agar di mana mereka berada, bekerja dan bertempat tinggal, segera membangun gereja HKBP. Warga jemaat HKBP sendirilah yang berkumpul dan berupaya membangun secara spontan untuk mendirikan gereja HKBP. Kebesaran HKBP hingga kini adalah dari upaya spontanitas warga jemaat HKBP yang missioner tersebut.

Oleh karena itu, upaya jemaat missioner yang spontanitas harus ditata dan dikelola, ditata dan dikembangan sebagai kekuatan dan kekayaan dalam kehidupan gereja di dalam pembangunan jemaat missioner di kalangan HKBP. Sebab apabila tidak ditata dan tidak dikelola dengan baik, maka semangat spontanitas membangun gereja itu dapat terkontaminasi faktor-faktor negative yang ada di dalam jiwa habatahon sendiri, misalnya semangan kemandirian yang didorong oleh keinginan untuk memisahkan diri dari gereja induk. Sebab semangat dan keinginan “mamungka huta” adalah kultur legal dalam budaya Batak Toba. Kultur “mamungka huta” dapat dan sangat berpotensi mendorong pemisahan diri dalam setiap bentuk persekutuan kehidupan orang Batak, temasuk dalam kehidupan bergereja. Oleh karena itu, faktor-faktor kultur negatif itu harus sesegera mungkin dihapus dan ditinggalkan dari kehidupan bergereja Kristen Batak. Dengan demikian tetap dapat dipertahankan bahwa keberadaan HKBP adalah karena dibesarkan warga jemaat HKBP yang missioner.

6. Penutup

Dalam 2 Kor 3:2-3, Paulus mengatakan bahwa orang-orang percaya, pengikut Yesus Kristus, adalah sebagai ‘surat-surat Kristus yang hidup, yang ditulis bukan dengan tinta tetapi dengan Roh.’ Sebagai surat Kristus, maka setiap orang Kristen, melalui ucapan, pikiran dan perbuatannya, harus menjadi surat Kristus yang dapat dibaca orang banyak. Kehadiran seorang Kristen, warga jemaat atau pelayan gereja, di mana saja dan kapan saja, harus menampilkan diri sebagai surat Kristus yang dapat dibaca oleh semua orang. Mungkin seseorang tidak berbicara, tidak berkhotbah dan tidak mengajar tentang Firman Tuhan, tetapi sebagai surat Kristus, perbuatannya dapat melebih khotbah dalam arti lebih efisien dan lebih efektif dari pada khotbah-khotbah dan pengajaran verbal lainnya. Dengan pemahaman sebagai surat Kristus, maka semua orang percaya turut serta dan bertanggung-jawab di dalam pelayanan dan di dalam pembangunan jemaat untuk menuju kedewasaan dan pemenuhan sebagai tubuh Kristus.

Sopo Toba Hotel, 19 Pebruari 2017

Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing.