PANGURURAN-SAMOSIR, www.hkbp.or.id  Sekitar satu hektar tanah yang berada di samping rumah dinas Praeses HKBP Distrik VII Samosir Pendeta Mangido Tua Pandiangan STh MM dalam dua hingga tiga tahun belakangan ini telah dijadikan lahan percontohan cocok tanam. Peserta kegiatan Pelatihan dan Pembentukan Komunitas Petani HKBP Distrik Samosir usai ibadah pagi bersama, berbondong menuju lokasi percontohan cocok tanam itu yang dipandu oleh Kepala Departemen Diakonia Pendeta Debora P Sinaga MTh, Marthin Sitanggang dan Pendeta Reinjustin Gultom STh MA.

Pagi ini, peserta melakukan tinjau lapangan di dalam sesi Pertanian Organik, Sustainable Agriculture dan Dampak GMO. Marthin menjelaskan kepada peserta mengenai pupuk kompos yang mereka tutupi di dalam terpal berwarna biru. Pupuk tersebut dari kotoran hewan yang juga biasa dipelihara masyarakat lainnya di Samosir. Antusiasme peserta terlihat jelas melalui beberapa pertanyaan dan keinginan kuat mereka untuk memraktekkannya di tempat mereka nantinya.

Pendeta Gultom turut menambahkan melalui ilmu yang didapatnya ketika belajar banyak di Jepang, mengenai percepatan dan penyuburan pertumbuhan tanaman yang ditanam, baik itu dari batang pisang, hingga beberapa tanaman yang tidak pernah layu. Selain itu, peserta juga diajak mengenal lahan yang dijadikan percontohan tanaman organik itu dengan beragam jenis tanaman seperti, jagung, jahe, cabe, ceylon spinach, lemon, terong belanda, sawi botol, dan lainnya.

Diakones Agnes Lumbantobing menjelaskan dengan cermat hadirnya ceylon spinach di lahan tanaman organik ini. Awalnya, ia menemukannya di rumah salah seorang jemaat HKBP Onan Baru yang menjalar ke beberapa tempat dan si empunya tanaman mengira itu adalah bunga biasa yang menghiasi. Melalui banyak pengalaman dari Jepang, Diakones Agnes mengatakan kepada si empunya kalau itu adalah sejenis bayam dengan nama ceylon spinach. Jenis tanaman ini jarang dijumpai di Samosir. Kini tanaman itu sudah hadir di lahan pertanian organik untuk dibudidayakan. Kami berencana membudidayakannya dan mencobanya untuk dijadikan bahan kerupuk yang belum pernah ada di Samosir ini, ujar Agnes.

Pendeta Debora menekankan komitmen untuk melakukan cocok tanam di lahan pertanian organik seperti ini sebab ada beragam jenis yang ditanam, bukan sejenis di dalam satu hektar. Memang kerepotannya adalah memerhatikan kesehatan dan kesuburan tanaman. Kualitas tanaman tetap menjadi fokus pertanian organik ini, pungkasnya. dm/biro informasi