1. Pendahuluan

Pada dua periode yang lalu, program pelayanan tahunan di HKBP ditetapkan secara kategorial. Dalam pelaksanaan  program tahunan kategorial tersebut, terlebih pada periode terakhir, kita sangat disibukkan dengan berbagai festival koor, yang setiap tahun dilaksanakan secara berturut-turut, yang dimulai dari tingkat Resort ke tingkat Distrik sampai ke tingkat Pusat (Hatopan).   Kita lelah secara tenaga dan finansial, akibat dari pelaksanaan program pelayanan kategorial yang berakhir pada puncak festival se-HKBPnya. Tenaga, waktu, dan financial – cost sangat mahal untuk melaksanakan program tersebut. Para pelayan/pendeta pun sangat dilelahkan dengan mengumpulkan dana yang dibebankan hatopan ke distrik kemudian sampai ke tingkat ressort dan jemaat.

Namun demikian, tentu ada yang kita syukuri di dalamnya. Semangat, jiwa, dan spirit kebersamaan ber-hkbp  tertanam dan bertumbuh dengan baik. Gereja kita HKBP tentu diperkaya melalui berbagai pengalaman dengan kegiatan program tahunan kategorial tersebut. Akan tetapi dampak pelaksanaan program tahunan kategorial tersebut perlu dicermati untuk kemudian dievaluasi agar dapat melangkah ke depan dengan lebih baik lagi. Oleh karena itu, hal-hal yang berpotensi negatif akan diatasi, sedangkan hal-hal yang berpotensi positif akan dipertahankan, dikembangkan  dan ditingkatkan. Namun demikian kita tentu dapat mewaspadainya, karena setiap program pelayanan yang bersifat festival, pertandingan atau perlombaan, sangat berpotensi menimbulkan kerawanan konflik. Kita bisa cermati bagaimana yang terjadi di jemaat dan sesama kita pelayan HKBP.

Pada periode 2016 – 2020 ini, kita tidak lagi melaksanakan hal yang sama seperti pada periode-priode yang lalu. Pada periode ini, kita tidak lagi melaksanakan program yang bersifat festival, pertandingan,  atau perlombaan pada tingkat hatopan.

 Sebenarnya jiwa dari AP 2002 (baik sesudah amandemen I dan II) adalah Pemberdayaan Distrik. Perubahan tingkat sinode, dari Sinode Ressort menjadi Sinode Distrik dimaskudkan untuk penguatan Distrik. Demikian juga pengadaan kelengkapan aparat Distrik seperti keberadaan MPSD, Kabid Koinonia, Diakonia, dan Marturia di tingkat Distrik, Sekretaris Dsitrik  dan Badan Audit Distrik adalah untuk penguatan Distrik itu sendiri, sehingga setiap Distrik dapat semakin berdaya dan semakin dikuatkan dalam pelaksanaan program tugas pelayanannya. Oleh karena itu pada periode ini, puncak kegiatan dan pelaksanaan program HKBP berada pada tataran tingkat Distrik. Pimpinan HKBP mempersiapkan berbagai program yang sifat opsional, pilihan,  yang kemudian dapat dikonkritkan pada setiap Distrik. Tentunya Pimpinan HKBP akan turun ke tingkat Distrik, atau mengundang utusan-utusan dari Distrik untuk mengikuti program kegiatan tertentu sesuai dengan orientasi pelayanan tahunan HKBP. Oleh karena itu distrik yang dipimpin oleh praeses bertugas untuk mengkonkretkan program HKBP secara hatopan, Praeses bersama dengan perangkatnya memikirkan bagaimana merealisasikan program secara hatopan itu agar kontekstual dengan jemaat dan jemaat benar-benar menerima pelayanan. Pemberdayaan itu berlangsung pada setiap pelayanan HKBP karena memuat ketiga tri tugas panggilan gereja secara hakikatnya.

  1. Orientasi Pelayanan Periode 2016 2020

Dalam suatu kesempatan, Raja Pontas Lumbantobing berdialog dengan Ingwer Ludwig Nommensen, tidak lama setelah ia diterima bermukim di Saitnihuta, Tarutung. Raja Pontas bertanya: “Nunga pola ditadinghon ho luatmu, hutam dohot bangsom, manogihon hami bangso Batak asa gabe Kristen. Ai molo dung Kristen hami, aha ma huroha lapatanna dohot panghorhonna di hami?” Nommensen memberikan jawaban: “Molo dung Kristen hamu, gabe bangso na maju ma hamu!” Nommensen tidak mengatakan akan memperoleh keselamatan setelah menerima penghapusan dosa, sebagaimana lazimnya dijelaskan para Pekabar Injil ketika memberitakan Injil Kristus kepada bangsa-bangsa yang belum memeluk iman Kristen. Justru ketika kita memahami kemajuan yang dimaksud oleh Nommensen itu, keselamatan yang dikatakan oleh Alkitab secara lisan sedang dijemaatkan dalam kehidupan jemaat.

Di dalam pelayanan selanjutnya, Nommensen menjelaskan konsep hamajuon yang dimaksud serta menguraikannya dengan program konkrit. Konsep hamajuon bangso Batak ialah:

  1. Menjadi bangsa yang cerdas, pintar dan bijak (na malo, na pistar jala na marbisuk).
  2. Menjadi bangsa yang sehat jasmani, bersih lingkungan (na hipas pamtangna, ias dagingna, bagasna dohot hutana).
  3. Menjadi bangsa yang peduli terhadap sesamanya, mengasihi sesamanya (manghaholongi dongan, parsidohot di ulaon parasi ni rohaon).
  4. Menjadi bangsa yang percaya kepada Yesus Kristus dan turutserta memberitakan Injil Kristus (manjanghon Kristus gabe Sipalua, jala parsidohot marbarita na uli).

Atas dasari konsep hamajuon inilah Nommensen melaksanakan program kekristenan di tanah Batak melalui program Pendidikan, Kesehatan, Diakonia, dan Pekabaran Injil. Dimana Injil diberitakan, disana ada program pendidikan, kesehatan, diakonia, dan pekabaran Injil dilaksanakan.  Pendidikan, kesehatan, dan diakonia, tidak terlepas dari pemberitaan Injil. Hal inilah yang dicanangkan dan dilaksankan Nommensen ketika membangun pos-pos penginjilan dengan membentuk pargodungan sebagai stase penginjilan.

Pada generasi pertama sampai generasi ke tiga atau ke empat, sekita tahun 1950-an, kekristenan di tanah Batak, yang dapat dilihat kehidupan gereja HKBP, konsep program pargodungan itu sangat maju.  Bahkan sisa kejayaannya masih dapat dilihat pada awal tahun 1970-an. Pendidikan di HKBP dengan kehadiran berbagai sekolah di berbagai jemaat dan resort sangat mengagumkan. Bahkan pada tahun 1954, ketika Universitas HKBP Nommensen didirikan di Pematangsiantar menjadi tonggak kejayaan HKBP dalam program pendidikan. Kehadiran Rumah Sakit HKBP Balige dengan berbagai poliklinik di daerah-daerah lain, pekerjaan diakonia dengan  adanya Huta Salem, penampungan penderita penyakit kusta, Panti Asuhan Elim dan Hephata mengalami kejayaannya sampai tahun 1950-an.  Pekabaran Injil yang dilakukan HKBP seperti penginjilan ke Sakai, pulau Rupat, Enggano dan Sengoi Malaysia sangat berkibar sampai tahun  1950. Akan tetapi sejak tahun berikutnya sampai sekarang ini sudah semakin menurun bahkan berbagai pos penginjilan kini tinggal hanya kenangan.

Oleh karena itu pada periode 2016 – 2020 ini akan dilakukan program revitalisasi, pemberdayaan, pembangunan kembali apa yang sudah ada selama ini. Program vitalisasi yang dimaksud menjadi orientasi program pelayanan tahunan pada periode ini, dengan maksud membangun kembali, menghidupkan kembali agar konsep hamajuon yang sudah pernah berjaya di HKBP agar dapat dibangunkan, dihidupkan, dan diberjayakan kembali. Untuk itu pada tahun-tahun periode  2016 – 2020 ini akan diprogramkan sebagai berikut:

  1. Orientasi Pelayanan 2017: Pendidikan dan Pemberdayaan
  2. Orientasi Pelayanan 2018: Kesehatan dan Kebersihan Lingkungan
  3. Orientasi Pelayanan 2019: Diakonia – Ulaon Parasi ni rohaon
  4. Orientasi Pelayanan 2020: Zending – Pekabaran Injil
  1. Orientasi Pelayanan 2017: Pendidikan dan Pemberdayaan

Orientasi pelayanan di bidang pendidikan dan pemberdayaan yang dimaksud bukan soal pembangunan kembali atau pengadaan sarana dan prasarana pendidikan.  Orientasi pelayanan di bidang pendidikan yang pokok dilakukan adalah pembangunan semangat, spirit, dan jiwa pendidikan itu sendiri, yang dimulai dari rumah, keluarga, dan di masyarakat, dari pendidikan informal sampai formal yang dilaksanakan melalui pendidikan institusional. Semangat dan jiwa pendidikan itu lahir dari filosofi dan pandangan hidup tentang urgensi pendidikan, yang didasarkan pada pemahaman dan keyakinan akan adanya masa depan yang lebih baik. Filosofi dan pandangan yang didasarkan pada keyakinan adanya pengharapan yang lebih baik. Sebagaimana kita tahu, pengharapan itu adalah inti pokok dari iman kekristenan. Tidak ada larangan membangun sekolah di daerah atau peta pelayanan kita masing-masing, karena itu baik, namun hal yang paling mendasar adalah jiwa dan semangat pendidikan itu yang harus kita bangun dalam kehidupan berjemaat.

Filosofi dan pandangan hidup tentang pendidikan akhirnya menjadi suatu harapan untuk dapat memperbaiki masa depan. Pendidikan akhirnya dipahami secara tingkat pemikiran teoretis dan praktis menjadi salah satu objek pencapaian untuk dapat merubah masa depan. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen Batak, pendidikan adalah suatu pokok utama dalam membangun masa depan. Dengan demikian, pendidikan sejak dini, atau mengikut-sertakan anak mengikuti pendidikan formal dengan biaya pendidikan yang tergolong mahal, hal itu secara sadar dipahami sebagai asset masa depan. Tindakan dan praktek mengikut-sertakan anak dalam proses pendidikan adalah suatu upaya deposito kehidupan untuk masa  depan.

Filosofi dan padangan hidup masyarakat Kristen Batak tentang pendidikan direkam oleh komponis Nahum Situmorang  melalui ciptaan lagunya: Anakhonhi Do Hamoraon Di Au. Perhatikanlah penggalan syair lagu tersebut:

     Anakkon hi do hamoraon di au…
Ai tung so boi pe au lao da Tu paredang edangan
Tarsongon dongan dongan ki da, Na lobi passarian
Alai sudena gellengki da, Dang jadi hahurangan
Anakkkon hi do na ummarga di au

Ai tung soboi pe au marwolda, Marnilon mar jam tangan
Tarsongon dongan donganki da, Marsedan marberlian
Alai sudena gellengki da, Dang jadi hahurangan
Anakkkon hi do hamoraon di au

Nang so tarihut hon au pe angka dongan, Ndada pola marsak au disi
Alai anakhonki da, Dang jadi hatinggalan sian dongan mangodang na i

Hugogo pe massari arian nang bodari, Lao pasikkolahon gellekki
Naikkon marsingkola satimbo timbona, Sikkap ni natolap gogokki

Marhoi hoi pe au inang da, Tu dolok tu toruan
Mangalului ngolu ngolu na boi parbodarian
Asal ma sahat gellengki da sai sahat tu tujuan
Anakhonki do hasangapon di au

Salah satu inti pokok filosofi dan pandangan tentang pendidikan ini, masyarakat Kristen Batak selalu berusaha dengan segala daya dan dana yang untuk menyekolahkan anaknya. Kemiskinan tidak pernah menjadi hambatan untuk menyekolahkan anaknya.  Oleh karena itu semangat, filosofi dan pandangan hidup merupakan pemicu dan pemacu untuk meraih pendidikan ke tahap yang lebih tinggi. Inti pokoknya adalah karena: anakhonhi do hamoraon di au.

Akhir-akhir ini, semangat, filosof dan pandangan tentang pendidikan ini sudah semakin kendor dan menurun. Tentu ada berbagai hal penyebabnya. Bahkan sampai adanya pergeseran dari filosifi dan pandangan hidup, ada faktor-faktor lain termasuk lagu yang sangat kuat pengaruhnya pola pikir masyarakat. Pandangan hidup dan filosof tentang pendidikan di kalangan masyarakat Kristen Batak itu sendiri diruntuhkan oleh pengaruh sebuah nyanyian yang sangat digemari di masyarakat Kristen Batak, yaitu Anak Medan. Perhatikanlah penggalan syairnya:

anak medan, anak medan, anak-medan do au kawan.
modal pergaulan boi do mangolu au.
tarlobi dipenampilan main cantik do au kawan.
sonang manang susah happy do di au.

 371 solot digontinghi.siap bela kawan berpartisipasi.
378 sattabi majo disi. ada harga diri mengantisipasi.

horas, pohon pinang tumbuh sendiri. horas, tumbuhlah menantang awan.
horas, biar kambing di kampung sendiri. horas, tapi banteng di perantauan.

anak-medan, anak-medan, anak-medan do au kawan.
susah didonganku so boi tarbereng au.
titik darah penghabisan ai rela do au kawan.
hansur demi kawan, ido au kawan.

 371 solot digontinghi. siap bela kawan berpartisipasi.
378 sattabi majo disi. ada harga diri mengantisipasi.

 horas, pohon pinang tumbuh sendiri. horas, tumbuhlah menantang awan.
horas, biar kambing di kampung sendiri. horas, tapi banteng di perantauan.

anak-medan, anak-medan, anak-medan do au kawan.

susah didonganku so boi tarbereng au.
titik darah penghabisan ai rela do au kawan.
hansur demi kawan, ido au kawan.

 Lagu ini adalah salah satu lagu yang bisa merusak filosofi masyarakat/jemaat Kristen Batak. Dari banyaknya lirik lagu pun bisa kita cermat, bisa saja itu merusak jiwa dan semangat orang Batak yang sudah tertanam sejak dahulu, belum lagi faktor lainnya. Kita bisa bandingan kedua lagu ini, bagaimana pengauh lagu ini di tengah-tengah masyarakat. Kecenderungan saat ini, justru lagu seperti “anak medan” ini lebih banyak menarik perhatian masyarakat/jemaat, bahkan ini kita nyanyikan ramai-ramai dengan semangat, ditortohon, bahkan ini juga dinyanyikan di Pesta Pembangunan atau acara-acara gereja dan Pesta Adat Batak. Demikian halnya dalam Sekolah Minggu HKBP, pelayanan Sekolah Minggu juga tidak bisa terlepas dari nyanyian/Lagu yang juga adalah salah satu media pemberitaan Firman.

Pertemuan kita hari ini Training of Trainers Guru Sekolah Minggu sangat penting bagi kita untuk mencipta dan meningkatkan kompetensi pelayan HKBP dalam pendampingan dan pengajaran terhadap Anak Sekolah Minggu. Perlu kita ingat, kita pelayan HKBP bukan menjadi penontong dalam pelayanan sekolah minggu, bukan pula sekedar memantau dan memanajemen, tetapi juga harus terlibat aktif. Ini mengacu kepada Poda Tohonan kita. Pelayan HKBP harus terampil dalam pelayanannya di jemaat, kegiatan ini harus mampu menciptakan Trainers (Pelatih), dan juga harus ikut aktif dalam pelayanan sekolah minggu. Bila kita lihat sendiri di di jemaat, sebahagian ada Pendeta yang tidak pernah turun ke pelayanan Sekolah Minggu selama melayani di satu jemaat sehingga anak-anak sekolah minggu pun tidak mengenal pendetanya karena tidak pernah dilihat dalam ibadah sekolah minggu. Dalam rangka pencapaian orientasi pelayanan HKBP tahun 2017 ini adalah Pendidikan dan Pemberdayaan, maka kita yang hadir disini diproses menjadi Pelatih/Pengajar Sekolah Minggu, yang notabandnya kita berangkat dari Distrik kita masing-masing, ini adalah proses pendidikan dan pemberdayaan. Nantinya kita kembali sebagai pelatih/pengajar di Distrik/Jemaat, yang kemudian diteruskan dan dikembangkan di distrik untuk pemberdayaan guru sekolah minggu/jemaat.

  1. Penutup

Dalam Orientasi Pelayanan HKBP tahun 2017 ini termasuk dalam satu periode ini, menjadi tanggung-jawab kita bersama. HKBP secara Hatopan memberikan arah pelayanan HKBP tetapi untuk menjemaatkannya adalah tugas kita bersama termasuk yang kita peroleh dalam ToT Guru Sekolah Minggu ini. Peran kita sebagai pelayan bukan sebagai penonton dan pelengkap tetapi menjadi pelaku, pembimbing, pengajar, sebagaimana thema tahun 2017 ini dalam 2 Timoteus 3: 16 – 17. Bagaimana peranmu sebagai pendeta di tengah-tengah jemaat yang kita layani untuk menjemaatkan program hatopan demikian halnya pendidikan dan pembedayaan, dalam hal ini ToT Guru Sekolah Minggu. Kita memikiran dan bertindak dengan peran kita masing-masing, sebagaimana kita berangkat dari Distrik, demikian juga kita hendak memaksimalkan pelayanan dan pemberdayaan Distrik. Terimakasih….

…Kiranya Yesus Kristus Raja Gereja memberkati kita sekalian dalam pelayanan…

…HORAS…