Senin (6/3), Pimpinan HKBP: Ompui Ephorus Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing, Sekretaris Jenderal Pdt. David Farel Sibuea, M.Th, D.Min, Kadep Koinonia Pdt. Dr. Martongo Sitinjak, Kepala Departemen Marturia Pdt. Dr. Anna Vera Pangaribuan, Kepala Departemen Diakonia Pdt. Debora Purada Sinaga, M.Th, bersama Empat Praeses HKBP Pdt. Midian KH Sirait, M.Th, Pdt. Banner Siburian, M.Th, Pdt. Berlin Tamba, M.Div, Pdt. Robert Pandiangan, M.Th, bersilaturahmi dengan Ketua MPR RI bapak Dr. (HC) Zulkifli Hasan, SE, MM. Turut hadir bersama Ompui: Ompu Boru, Pdt. Japati Napitupulu, S.Th, M.Pd bersama Ibu, Kabiro Perencanaan Pdt. Sumurung Samosir, STh, Kabiro Jemaat Pdt. Ebsan Hutabarat, M.Th, Kabiro Pembinaan Pdt. Darwin Sihombing, S.Th, Kabiro Informasi Pdt. Arthur Lumbantobing, STh dan Sekhus/Staf Pimpinan.

Pertemuan ini terlaksana dengan sukacita dan penuh keakraban, yang digagasi oleh keempat Praeses HKBP bersama dengan jemaat seperti bapak Laurensius Manurung. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Kerja di Lantai 9 Gedung MPR RI Nusantara III. Mengawali pertemuan ini, Ketua MPR bersukacita atas kunjungan Ephorus HKBP, Pemimpin Umat menemui beliau. Ketua MPR bapak Zulkifli ini menjelaskan keakrabannya dengan orang Batak yang hingga kini terjalin dengan baik. Bahkan dalam satu kesempatan di Pilkada di suatu daerah, beliau mendukung salah satu calon kepala daerah yang notabene adalah orang batak, karena memang menurutnya yang didukung itu adalah orang yang berkompeten.

Ompui Ephorus dalam awal pembicaraan, menyampaikan salam dari para pelayan penuh waktu dan jemaat HKBP. Ompui Epborus juga memperkenalkan para pelayan yang ikut dalam pertemuan tersebut. Ada beberapa hal penting yang disampaikan oleh Ompui, diantaranya:
1. Dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia inj, kita sudah seharusnya mengenal ada yang disebut Bhineka Tunggal Ika. Bila kita cermati Burung Garuda, bukan sekedar memegang tetapi juga mengcengkram/memegang kokoh tulisan Bhinneka Tunggal Ika. Landasan tempatnya berdiri dan juga yang harus dipegang dengan kuat. Ini membuktikan bahwa Bhinneka Tunggal Ika itu bukan sekedar tulisan yang menyangkut sejarah bangsa saja tetapi juga yang harus kita jaga bersama. Peran kami sebagai Gereja,  peran Pemerintah dan peran Bapak di MPR ini, dan peran kita bersama sangat dibutuhkan menjaga kebhinekaan.
2. Dalam konteks gereja HKBP, kami para Pendeta, pelayan lainnya, dan jemaat sangat menyadari pentingnya untuk tetap mempertahankan 4 pilar kebangsaan. Gereja punya peran untuk aktif juga dalam menjaga dan menjemaatkan 4 pilar kebangsaan itu. Pertemuan kita saat ini juga salah satu upaya untuk memelihara kepelbagaian dalam kehidupan berbangsa.
3. Sebelumnya kita sudah saling kenal, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang memiliki jemaat tersebar di nusantara ini, gereja HKBP yang juga berada di berbagai wilayah Indonesia ini adalah bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki hak dan tanggungjawab sebagai warga dan lembaga. Dalam kesempatan, kita mau berdiskusi bagaimana peran kita baik Bapak sebagai Ketua MPR dalam upaya bersama itu.
4. Perlu kami beritahukan kalau orang Batak pergi merantau, orang Batak bukan saja membawa adatnya tetapi juga membawa gerejanya. Itu sebabnya kemana saja orang Batak berkumpul maka akan membicarakan dimana kita membangun gereja. Jadi yang membangun gereja HKBP adalah jemaatnya sendiri, dengan upaya dan swadaya dan kerja sendiri, tidak pernah terpikirkan untuk membuat warga sekitar menjadi HKBP, tetapi bangunan gereja itu dibangun untuk persekutuannya kepada yang diimani. Jadi HKBP itu sebenarnya tidak perlu ditakuti dan dibenci. Namun melihat realita di bangsa kita di beberapa tempat, Kesulitan kita adalah bagaimana membangun gereja di tempat yang bukan asal orang batak. Kesulitan itu dikarenakan oleh peraturan lokal, karena kelompok intoleran, dan mungkin juga ada dari pimpinan daerah yang belum memberikan respon dengan baik. Daya tarik jemaat HKBP salah satunya adalah ketika dia bergereja di suatu tempat maka dia akan mencari gerejanya HKBP. Kepada Bapak Ketua MPR, kami mengharapkan bagaimana MPR juga mengambil peran aktif dalam membantu bertindak memberikan solusi dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Pokok-pokok penting yang disampaikan oleh Ompui Ephorus langsung saja disambut oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan. Beliau menjelaskan bahwa tugas MPR sebagai penjaga konstitusi, dan juga mengawal konstitusi. Kalau hanya MPR saja maka tidak akan sukses atau tidak akan tercapai, perlu ada peran kita bersama. Kita sudah 71 tahun merdeka, sebenarnya masalah berbangsa ini tidak ada yang mendasar belakangan ini. Kita lihat saja dulunya bangsa ini kerajaan,  kemudian dihapus asal kita bisa merdeka, dan itu adalah pengorbanan. Para panitia persiapan kemerdekaan Indonesia, termasuk tokoh Islam menyarankan beberapa kata dalam rumusan itu harus dihapus untuk memelihara kebangsaan. Yogyakarta terkecuali, daerah khusus yang bertahan sampai saat ini. Orang-orang kaya zaman dulu juga bersedia berkoban untuk kemerdekaan bangsa ini. Sekitar 19 tahun ini di MPR mengkaji, kita melihat mulai memudar perasaaan dan semangat kebangsaan. Menurut pengamatan kami, ini terjadi karena babak demokrasi yang sangat terbuka, sementara penataran P4 tidak ada lagi, kebebasan yang semena-mena, pendidikan kewarganegaraan hilang di berbagai tingkat pendidikan maupun instansi bahkan keluarga. Pendek kata, nilai-nilai luhur Pancasila pun makin terhapus, kita lihat saja dimana sekarang pendidikan yang mengajarkan Pancasila. Sekarang ini banyak orang dengan berbagai cara untuk menjadi pimpinan daerah dengan memakai politik adu domba untuk mensukseskan dirinya. yang terpenting sekarang, bagaimana kita mau bekerja sama, saling menghargai.

Menurut kami harus ada upaya membangun karakter berbangsa itu di masyarakat. Semua negara sangat membutuhkan itu, terutama mulai memberi perhatian pendidikan khususnya kepada kandidat kepala daerah di setiap wilayah. Misalnya mau jadi walikota, apa dasar dan tujuannya? Patuh pada konstitusi adalah tolak ukur utama. Sekarang kebanyakan orang jadi Bupati dengan jalan singkat untuk bagi kekuasaan, proyek, tanah, dan jalan, singkatnya mengumpulkan harta. Misalnya dikampung kami dulunya, disana banyak masyarakat pendatang akibat Gunung Meletus tetapi itu tidak menjadi masalah bagikampung kami, kami tidak ada ribut dulunya. Tapi sekarang, Pilkada berlangsung disana sampai terjadi bunuh-bunuhan. Ini merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa. Kita berbagai suku dan agama harus saling menghormati dan menghargai. Ketika segala cara dipakai, inilah yang merusak masyarakat 19 tahun belakangn ini. Yang sudah kita sepakati itu adalah nilai-nilai demokrasi yang harus kita pertahankan dan ini adalah tugas pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan kota bersama dengan semua lapisan masyarakat. Yang saya ingat, dulu ada. Sekarang ini, Pancasila diganti dengan Medsos karena banyak tidak bisa terlepas dari Medsos. Jadi ini tugas kita bersama, dan penting sekali ada buku-buku kebangsaan dan bagaimana sejarah Indonesia. Tentu perlu pengorbanan, dan sekarang ini kalau kita berkunjung ke negara lain, kita akan temukan lengkap dengan sejarahnya masing-masing. Jadi ini dia jati diri yang sangat penting. Kita beruntung kita punya pancasila. Kalau kita kembali ke masa lalu maka kita tidak akan maju-maju. Jadi kita berharap ada kerjasama dengan baik, dan ini tentu juga membutuhkan biaya besar untuk program. Dan yang terakhir Nilai-nilai budaya perlu kita pelihara dengan baik, demikian penjelasa dari beliau.

Ompui Ephorus menambahkan, apa yang kita percakapkan ini perlu menjadi perhatian yang prioritas dimana kami juga tetap bisa menjemaatkan pilar kebangsaan ini. Ompui juga menyampaikan harapan yang nantinya Ketua MPR RI berkenan berkunjung ke Pearaja, yang mungkin nantinya akan bisa diadakan dialog terbuka dengan gereja-gereja, tokoh-tokoh masyarakat, dan utusan Distrik. Setelah Ompui menyampaikan demikian Ketua MPR RI langsung menyampaikan kalau dulunya tahun 1987 ketika beliau baru menikah, beliau ber-honeymoon ke Tapanuli di Hotel Pardede dan tiga malam berikutnya ke Berastagi. Suasana yang dingin dan sejuk menjadi daya tarik daerah sana, namun sekarang kelihatannya sudah sepeti Bogor karena sudah ada macet lalu lintas, demikian ungkapan beliau.

Sekretaris Jenderal HKBP Pdt. David Farel Sibuea, MTh, D.Min, Kadep Koinonia Pdt. Dr. Martongo Sitinjak menambahkan kalau pertemuan ini akan menjadi langkah baik untuk bisa dikembangkan dalam berbagai hal manfaat seperti upaya mendukung Wisata Danau Toba dengan mengundang berbagai kalangan masyarakat, mengingat juga bapak Pdt. David Sibuea pernah menjabat Ketua PGIW Kepri. Dengan wacana menindaklanjuti percakapan dan langkah konkretnya maka direncanakan Ketua MPR RI akan berkunjung ke Kantor Pusat HKBP.

Pertemuan ini berlangsung sangat antusias, dikarenakan ada dialog yang terus berkembang, Kadep Marturia Pdt. Dr. Anna Pangaribuan menanyakan bagaimana upaya menyadarkan tokoh-tokoh agama agar sama-sama berperan dalam mewujudkan yang didiskusikan ini bukan hanya secata teori saja mungkin juga diperlukan ada buku panduan yang bisa dipelajari bersama. Ketua MPR menyampaikan memang saat ini ada Lembaga Pemanfaatan Pancasila dan ini sedang proses dan akan disesuaikan dengan perkemabangan zaman. Kita adalah bagian dari Bhinneka Tunggal Ika. Menurut beliau, akar masalahnya adalah kekuasaan. Kekuasaan ini yang membuat rusak karena memakai berbagai metode yang penting kekuasaan tercapai.
Kabiro Perencanaan Pdt. Sumurung Samosir, Praeses Distrik XXI Banten Pdt. Robert Pandiangan, dan Praeses Distrik XIX Bekasi Pdt. Banner Siburian menambahkan, bagaimana peran kita mengatasi berbagai masalah bangsa ini, demikian realita yang dihadapi oleh gereja-gereja, diantaranya kesulitan membangun gereja, kesulitan menjalankan ibadah di gereja walaupun tanah dan bangunan sudah ada. Bagaimana upaya kita, dengan harapan aturan SKB2 Menteri dihapuskan karena tidak adil, padahal warga Kristen adalah juga warga Indonesia.

Menjawab ini, Ketua MPR RI menambahkan bahwa saat ini sedang dibuat Haluan Negara yang akan mengaturkan perjalanan negara nantinya dengan baik, termasuk menjawab pertanyaan tentang satu orang kaya berbanding dengan banyaknya yang miskin. Tentang kesulitan yang dihadapi gereja, maka kami akan bantu mempasilitasi agar masalah itu bisa selesai. Kita coba lakukan cara yang berjalan sesuai dengan prosedurnya. Beliau sebagai Ketua MPR RI pun ternyata pernah mengalami kesulitan pengurusan izin seperti yang dihadapi oleh gereja. Jadi kita akan coba akan upayakan jalin komunikasi. Praeses HKBP Distrik VIII DKI Pdt. Midian KH. Sirait juga menambahkan kalau sangatlah penting berupaya bersama dan bekerja-sama untuk menyelesaikan masalah apalagi beliau sebagai Pimpinan di Distrik DKI yang siap menjadi perantara dan utusan HKBP menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk bermanfaat bagi jemaat dan bangsa ini.
Horas MPR.. Horas HKBP.. Horas NKRI…