SIBORONGBORONG, www.hkbp.or.id – Usai membuka resmi kegiatan Training of Trainers Guru Sekolah Minggu HKBP Wilayah II yang diadakan di Perkampungan Pemuda HKBP, Jetun Silangit, Siborongborong pada Rabu (15/3), Ompui Ephorus Pdt Dr Darwin Lumbantobing membawakan sesi pertama kepada peserta tentang sosialisasi orientasi pelayanan 2017, yakni pendidikan dan pemberdayaan. Ia membuka kalimatnya dengan pemberdayaan jemaat yang dimulai dari distrik.

“Ini merupakan jiwa Aturan dan Peraturan HKBP 2002 Setelah Amandemen kedua, yakni pemaksimalan pelayanan jemaat,” ujarnya. Ia menegaskan tidak ada lagi kegiatan-kegiatan yang melibatkan jemaat yang diselenggarakan di tingkat pusat, semua akan dimaksimalkan di tiga puluh distrik. Ini akan lebih efisien dan bahkan akan lebih banyak melibatkan jemaat ketika diadakan di tingkat pusat, tambahnya.

Karenanya, ia menuturkan, perlunya penambahan jumlah pelayan di perangkat-perangkat distrik agar memaksimalkan tenaga pelayanan demi melayani jemaat sampai ke pelosok-pelosok sekalipun. Ia menyontohkan kegiatan yang akan datang seperti memperingati keseratus tahun meninggalnya IL Nommensen 23 Mei 2018. Kegiatan ini tidak akan diadakan di pusat, melainkan dimaksimalkan di tiga puluh distrik agar seluruh jemaat turut merayakannya.

Lebih lanjut ia menyosialisasikan arah orientasi pendidikan dan pemberdayaan di 2017 ini dengan melakukan revitalisasi. Ia menegaskan, sebelumnya HKBP memiliki kemampuan (vital) dalam berbagai pelayanan, namun, yang oleh karena sesuatu telah terjadi kemunduran. Karena itu, dengan istilah revitalisasi ini artinya ada pengakuan diri bahwa sebagai gereja HKBP akan memperbaiki diri. Tidak perlu orang lain mengingatkan, tetapi semua dimulai dari diri sendiri. Kita harus maju bersama memperbaiki diri, mulai dari sekarang, supaya tidak terlalu larut di dalam kekurangan tersebut,” tegasnya.

Perevitalisasian ini dibingkai dalam penggalan percakapan antara Raja Pontas Lumbantobing dengan IL Nommensen yang memberikan pengharapan bahwa bangsa Batak akan menjadi maju ketika menerima Kekristenan. Menurutnya, ini merupakan kali pertama percakapan mereka. Nunga ditinggalhonho bangsom, ditinggalhonho luatmu, dungi ro ma ho tu hutanami on, tu tano Batak asa gabe Kristen hami. Ai molo Kristen hami, aha ma lapatanna di hami, aha do gunana, aha do untungna molo gabe Kristen hami, tuturnya meniru isi pertanyaan Raja Pontas kepada Nommensen.

Menjawab pertanyaan ini, Nommensen menjawab, molo gabe Kristen hamu, bangso na maju ma hamu. Hamajuoni ima gabe bangso na pistar ma hamu. Dung gabe na pistar hamu, gabe bangso na sehat, na hipas, gabe bangso na parasiniroha na olo manarihon donganna ma hamu, dohot gabe bangso parbarita nauli ma hamu.

Karena itu, di dalam satu periode ini telah dicanangkan orientasi pelayanan 2017 terkait pendidikan dan pemberdayaan, 2018 kesehatan, 2019 diakonia (parasinirohaon), 2020, marbarita nauli. Keputusan ini bertepatan juga dengan keseratus tahunnya Rumah Sakit HKBP di Balige pada 2018, dan ini pun diketahui oleh Ephorus setelah menyosialisasikannya di RS HKBP di Balige, dan direspons positif oleh Ketua Yayasan Kesehatan HKBP Trimedya Panjaitan mengingat ulang tahun rumah sakit tersebut.

Ia juga menekankan, agar tidak surut atau berkurang semangat untuk mendidik, terutama kepada Anak-anak Sekolah Minggu HKBP. Ephorus menyontohkan salah satu semangat mendidik ASM adalah pembekalan terhadap GSM agar mengetahui teologi HKBP sehingga pengajarannya pun jelas. Ia begitu berharap kepada seluruh pengajar ASM di jemaat benar-benar dibekali dengan pemahaman Kristen dan teologi yang baik sebab selain pemberitaan firman, ada beberapa lagu yang kurang layak untuk diajarkan kepada ASM. “Lagu sangat menentukan pembentukan perilaku dan pola pikir anak, bahkan dapat merombak kultur kita yang sudah baik,” tegasnya.

Degradasi pendidikan tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari diri sendiri yang menhancurkan kebudayaan kita, tuturnya. Tanpa disadari pengajaran terhadap ASM lambat laun memisahkan mereka dari HKBP. Baiklah lagu itu yang berdampak ke spiritual, nalar pikiran dan sesuai dengan teologi kita, tambahnya.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Koinonia melalui Biro Pembinaan ini akan berlangsung selama 15-20 Maret 2017. Adapun tujuh distrik yang meliputi wilayah II, yakni Distrik V Sumatera Timur, X Medan-Aceh, XIII Asahan Labuhan Batu, XIV Tebing Tinggi, XXIII Binjai Langkat, XXIV Tanah Jawa dan XXIX Deli Serdang. Para peserta terdiri atas praeses masing-masing distrik dan pendeta. dm/ biro informasi