SIBORONGBORONG, www.hkbp.or.id – Sembilan pimpinan biro hadir di hadapan peserta Training of Trainers Guru Sekolah Minggu HKBP Wilayah II di Perkampungan Pemuda, Jetun Silangit, pada Kamis (16/3). Kepala Biro Sekolah Minggu Remaja Naposobulung, Kabiro Ama/Lansia Pdt Ramli Hutagaol STh, Kabiro Informasi Pdt Arthur Lumbantobing STh, Kabiro Hukum Pdt Betty D Sihombing STh SH, Kabiro Perempuan Pdt Imelda Pakpahan STh, Kabiro Pembinaan Pdt Darwin Sihombing STh, Kabiro Ibadah Musik Pdt Hadikun Aruan STh, Kabiro Oikumene Pdt Samuel Sitompul STh, Wakabiro Jemaat Pdt Daslan Rajagukguk STh, Wakabiro SMiRNa Pdt Timbul Hutahaean STh memperkenalkan diri masing-masing serta menerangkan sekilas pelayanan yang diemban oleh mereka.

Sesi ini dipandu langsung oleh Kepala Departemen Koinonia Pdt Dr Martongo Sitinjak. Masing-masing peserta mengajukan pertanyaan mewakili distriknya. Mulai dari sertifikasi tanah, pendataan pelayan yang diharapkan lebih update di tahun ke depannya. Kinerja pelayanan antarbiro saling melengkapi. Hal tersebut sering terjadi ketika pendataan pelayan ke tiap gereja, namun tidak mendapat respons cepat sebab limit waktu pencetakan almanak HKBP sehingga perbaikan dilakukan di Biro Informasi melalui Majalah Surat Parsaoran Immanuel HKBP.

Mengenai alat informasi yang mendidik jemaat juga dioptimalkan oleh Departemen Koinonia melalui Biro Perempuan yang menerbitkan SP Ina. Pendeta Martongo secara jelas meminta kepada setiap peserta untuk menyampaikan ke para pelayan yang ada di distriknya masing-masing untuk bersedia membuat informasi tentang keluarga jemaat yang mengedepankan iman di dalam kehidupannya sehari-hari sehingga dapat menjadi teladan bagi segenap warga jemaat HKBP ketika membaca majalah SP Ina.

Lebih khususnya, salah satu peserta meminta agar buku panduan GSM HKBP juga lebih mengedepankan dialog antarwarga yang berbeda agama sebab ini sedang dialami oleh tempat pelayanan yang daerahnya rawan konflik politisasi agama. Meskipun keadaan umat Kristiani lebih sering terdengar dikecam, diancam dan mengalami kekerasan untuk beribadah, HKBP sebagai gereja tetap menyuarakan perdamaian dan tidak terpancing emosi. Begitu juga dengan setiap isi pengajaran kepada Anak-anak Sekolah Minggu sudah ditanamkan untuk rasa menghargai dan menghormati temannya yang beragama lain.

Pendeta Martongo merespons pernyataan dan pertanyaan dari salah satu peserta terkait perkembangan informasi teknologi saat ini dengan ramainya akun di sosial media dan beberapa oknum menggunakan akun HKBP. Ia menegaskan, tidak ada facebook resmi HKBP, yang ada website resmi HKBP. Menurut UU IT terakhir tidak bisa menggunakan nama akun perusahaan atau organisasi selain dirinya sendiri. Akun-akun yang bernama HKBP itu bukan dari Kantor Pusat, tetapi pekerjaan dari kelompok atau komunitas di luar Kantor Pusat HKBP, tambahnya.

Pendeta Martongo menutup sharing ini dengan mengatakan, akurasi data begitu penting di zaman modern ini, baik dalam pendataan jemaat dan pelayan, maupun informasi tentang kurangnya muatan di buku panduan GSM HKBP. “Kita sedang sharing bersama sekarang, mari kita memahaminya dan memberikan kritik dan kontribusi yang terbaik demi kemajuan pelayanan HKBP,” ujarnya.

Ia mengangkat pembahasan birokrasi dan jabatan yang dijalankan oleh HKBP saat ini. Ia mengatakan, ini hanyalah alat yang dipakai oleh Tuhan untuk menuju kerajaan-Nya. “Birokrasi dan jabatan hanyalah alat Tuhan untuk menuju Kerajaan Allah, jangan terlalu dibesar-besarkan struktur dan jabatan ini, melainkan hubungan persaudaraan kita tidak akan pernah lekang oleh waktu,” tutupnya.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Koinonia melalui Biro Pembinaan ini akan berlangsung selama 15-20 Maret 2017. Adapun tujuh distrik yang meliputi wilayah II, yakni Distrik V Sumatera Timur, X Medan-Aceh, XIII Asahan Labuhan Batu, XIV Tebing Tinggi, XXIII Binjai Langkat, XXIV Tanah Jawa dan XXIX Deli Serdang. Para peserta terdiri atas empat hingga lima pendeta yang mewakili masing-masing distriknya. arth, dm/ biro informasi