Pdt Debora : “hari ini kita telah sepakat mengubah paradigma kita bersama. Saudara kita kaum disabilitas tdk minta dikasihani, tetapi mari kita fasilitasi dan berikan semangat pelatihan agar mereka pun dapat mandiri dan berdaya saing di masyarakat.”

LAGUBOTI, TOBASA, www.hkbp.or.id – Panti Karya Hephata HKBP membuka pusat pelatihan pertanian-peternakan organik di Desa Sintong Mamipi, Laguboti yang berjarak sekitar 250 meter dari panti itu sendiri. Kepala Departemen Diakonia Pdt Debora Purada Sinaga MTh meresmikannya dengan membuka selubung papan nama, yang kemudian dilanjutkan berjalan bersama meninjau lokasi pusat pelatihan dengan penaburan 3000 benih ikan lele, 2000 ikan nila, bebel, ayam dan melihat proses pembuatan pupuk dari kotoran hewan pada Rabu (5/4).

Sebelum dilakukan peresmian, Kepala PK Hephata Pdt Osten Matondang memrakarsai diskusi yang melibatkan instansi pemerintah, RBM-RBM sekitar, dan Yapentra Tanjung Morawa. Diskusi ini dimoderatori oleh Pdt Morrys Marpaung dengan narasumber Arjuna Peranginangin SSos SPd dan Effendi Siahaan. Kondisi fisik yang dimiliki mereka walaupun tidak seperti teman-temannya sama sekali tidak menyurutkan semangat mereka untuk berkarya.

Effendi Siahaan membuka diskusi dengan pengalaman bertahapnya untuk mandiri dan ia juga berharap ini dapat diteladani oleh rekannya di PK Hephata HKBP. Ia memiliki kemandirian dengan membuka praktek menjahit, pertama-tama di Pematangsiantar, kemudian memilih berkarya di desanya sendiri, di Sigumpar. Pekerjaan yang ditekuninya membuahkan hasil sehingga dapat membentuk kelompok menjahit.

Sementara itu, Arjuna Peranginangin mengangkat perjuangan kaum disabilitas untuk memiliki hak yang sama di masyarakat. Ia menyempatkan diri untuk menulis pemberdayaan kaum disabilitas dalam mengisi lowongan kerja yang semakin kompetitif. Optimismenya merambah kesempatan kaum disabilitas yang bersaing dengan kaum non disabilitas. Ia menuturkan, perlunya rasa percaya diri terhadap kualitas karya kaum disabilitas dan prospek karya ini juga harus diperkirakan pasarnya sehingga semakin dapat menghasilkan karya yang kompetitif.

Menutup bahan pembicaraan untuk diskusi, ia mengajak semua peserta yang hadir untuk memikirkan strategi yang dilakukan masing-masing lembaga pemerhati kaum disabilitas agar mereka semakin bermartabat dalam memroduksi karya-karya.

J Silaban dari Yayasan Pendidikan Tuna Netra di Tanjung Morawa mengusulkan untuk sama sekali tidak hanya berbelas kasihan kepada kaum disabilitas. “Mereka membutuhkan lebih dari itu, mereka harus kita fasilitasi,” tuturnya. Hal ini disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten Tobasa melalui tiga kedinasan yang hadir berterima kasih turut dilibatkan dalam pelayanan masyarakat seperti ini dan siap memfasilitasi kaum disabilitas terutama dalam berkarya di Kawasan Wisata Danau Toba.

Nilai kemandirian bagi kaum disabilitas di dalam diskusi ini begitu dalam hingga membuat kesepakatan bersama untuk bekerja sama dengan PK Hephata untuk memberdayakan mereka di masyarakat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ibadah peresmian dilayani oleh Pdt Morrys Marpaung sebagai liturgis dan Praeses HKBP Distrik IV Toba Pdt Mangantar Tambunan sebagai pengkhotbah.

Peresmian ini dihadiri langsung oleh UEM Regional Asia dari Medan Pdt Petrus Sugito dan Kristina Neu-bauer, Rehabilitasi Berdayasumber Masyarakat (RBM) Gereja Kristen Protestan Simalungun, RBM Siborongborong, dari Kabupaten Tobasa turut hadir dari Dinas Pendidikan, dr R Sinurat Kepala Dinas Kesehatan, Kabid Kemasyarakatan MT Gultom dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Marlin Marpaung dari Dinas Pertanian, Perwakilan Dandim A Silalahi Praeses HKBP Distrik III Humbang Pdt Julson Pasaribu, Kabiro Pembinaan Warga Jemaat Pdt Nelson Siregar, Kabiro Caritas Emergency Pdt Tendens Simanjuntak, Kepala Panti Elim HKBP Pdt Juniadi Sitinjak dan beberapa pelayan Distrik Toba. (dm)