Seminar Ekklesiologi HKBP Wilayah III dibuka resmi oleh Ompu i Ephorus HKBP Pdt Dr Darwin Lumbantobing pada Rabu (12/4) di Pekanbaru. Ibadah yang dimulai sejak pukul 08.30 WIB berjalan dengan khidmat dan sukacita. Ibadah ini dilayani oleh Praeses HKBP Distrik Riau Pdt Robert Silaban MTh sebagai pengkhotbah dan Pdt Janti Nababan MDiv (Pendeta HKBP Ressort Judika Minas) sebagai liturgis. Dalam seminar ini, tampak hadir Sekjen Pdt David F Sibuea MTh DMin, Kepala Departemen Koinonia Pdt Dr Martongo Sitinjak, Kepala Departemen Marturia Pdt Dr Anna Vera Pangaribuan, Kepala Departemen Diakonia Pdt Debora P Sinaga MTh, Para Praeses HKBP beserta dengan para pelayan penuh waktu lainnya, tokoh-tokoh, utusan jemaat, Komisi Teologi HKBP, dan Komisi Aturan Peraturan HKBP.

Pdt Robert Silaban menjelaskan khotbahnya yang berdasarkan dari firman Tuhan dari 1 Samuel 2: 1 “Ndang tuk angka na adong i di hita mangambati sangkap ni Debata, autsura lomo ni roha ni Debata tu hita, ndang adong na boi mangambati i. Autsura parbinotoan na adong di hita mangambati sangkap ni Debata, itu tidak akan sanggup menghembang apa yang akan dilakukan Allah kepada kita, dan itu akan kembali ke nol. Di bagasan turpuk on, parompuan na mangadopi perkara do ibana, dia seorang perempuan yang harus memenangkan perkara yang luar biasa, di luar sistem yang ada, di luar kebiasaan yang terjadi. Ketika seorang wanita mandul, harus menghadapi keberadaan poligami itu sendiri di keberlangsungan sikap ketidakadilan. Ndang na pinangido ibana i, ndang ala ni kelalaian ibana sehingga kondisi itu berlangsung di tengah tengah kehidupan, tetapi itu memang harus dia hadapi dalam hidupnya. Dipaloas Debata do di partingkian tertentu menghadapi perkara, walaupun kita begitu sempurna membentengi diri kita dari segala masalah. Sikap dan tindakan Penina yang menonjolkan keberadaannya yang unggul sebagai wanita sebagai isteri dari Elkana, harapannya hampir punah, alai dirajumi ibana ndang adong na boi tarpangasahon ibana. ketika itu, hal berdoa bagi masyarakat Yahudi, doa sebagai hal yan perlu diperguncingkan. Disi do masa perlakuan yang tidak terpuji dari anak-anak Eli. Ndang pe kondisi songon i, na so talup martangiang alai manontong do si Hanna martangiang dan Tuhan memberikan jawaban atas doanya.

Sebenarnya molo dibandingkan do HKBP on songon angka na asing, tung mansai halongangan do on. Sahat tu nuaeng, bah tung maol do hita padengganhon Dana Pensiun HKBP dope. Anggo so ala ni Debata nama nampuna HKBP, ndang boi HKBP jongjong sahat tu sadari on. Mungkin ada yang membandingkan tentangan persembahan, kekayaan, dan jumlah jemaat. HKBP seperti wanita cantik yang sering dibicarakan di dunia maya, dan setiap percakapan, termasuk tentang Seminar Ekklesiologi ini, ada yang bertanya tentang boasa dua tokoh i na gabe narasumber? Boasa ndang adong sian sundut naumposo? Ndang parsoadahon, molo tataringoti Ekklesiologi, yang berpusat kepada Kristus, atik beha hita do na maol mangantusi Ekklesiologi, ala sahat tu naueng adong na mencoba mangalo SK. Pingkiran ni Debata marhite narasumber be na naeng mangalugahon hita sahat tu jolo on. HKBP kita percayai bisa menjadi gereja yang produktif untuk mencipta jemaat yang berkualitas dan beriman.

Sebenarnya hal pemahaman dasar dari Aturan kita telah lengkap, dan kita kembali mau menemukan itu, dengan menggali dari dokumen-dokumen teologi. Hanna tidak berhenti dan menutup keberhasilan yang telah dia terima dari Allah, demikian kita juga melalui Seminar Ekklesiologi ini kita menemukan harta yang berharga itu. Kita harus jujur, kita sangat tidak pernah serius memikirkan untuk HKBP. Di Sinode Godang terkesan seperti reuni saja, banyak yang tidak masuk mengikuti setiap sesi. Tahun 2002, kita telah memakai Aturan, dan tahun 2008 dan 2012 kita telah mengamandemen kembali, habiaranku hira setiap dua taon ma hita mengamandemen Aturan. Tetapi kiranya Aturan HKBP kita amandemen benar-benar menjawab kebutuhan gereja HKBP. Tuhan menyertai kita semua peserta seminar, diberikan kesetiaan dan kemampuan untuk memikirkan yang terbaik untuk HKBP”, demikian kutipan singkat khotbah.

Dalam ibadah berlangsung, Ompu i Ephorus membuka secara resmi Seminar Ekklesiologi HKBP Wilayah III ini. Seminar ini dihadiri oleh para utusan ke enam distrik HKBP diantaranya, Distrik Riau, Distrik Riau Pesisir, Distrik Kepri, Distrik Labuhan Batu, Distrik Jambi, dan Distrik Sumbagsel, yang berjumlah sekitar 155 orang. Praeses HKBP Distrik Riau menjelaskan jumlah peserta yang telah mendaftar dan jumlah peserta yang telah hadir di ruang seminar ini.

Tampak ruangan seminar ini dipenuhi oleh para peserta, dan antusias para peserta juga tampak di saat berlangsungnya seminar ini para peserta mengikuti penjelasan narasumber. Untuk mengikuti seminar ini. Seminar ini diharapkan juga sekaligus untuk menampung berbagai aspirasi/pandangan/pendapat secara theologis tentang Ekklesiologi HKBP yang akan menjadi wacana dalam beberapa tahap diantaranya Rapat Pendeta, Rapat Praeses, Rapat MPS, Penjemaatan di jemaat, dan Sinode Godang Amandemen yang direncanakan pada tahun 2018.

Seminar Ekklesiologi HKBP ini diadakan dalam lima wilayah, yang sudah berlangsung (di Silindung, dan di Jakarta), yang sedang berlangsung (di Pekan Baru), dan yang berikutnya pada tanggal 19 April 2017 di Medan dan Tanggal 20 April 2017 di Pematangsiantar. Seminar Ekklesiologi ini awalnya memang diharapkan mencapai 150 orang saja, namun jumlah peserta seminar bertambah dibanding dengan yang diharapkan sejak awal. Ini tentu terlihat antusias para pelayan dan jemaat untuk memahami dan memberikan pendapat tentang Ekklesiologi HKBP. Dalam Seminar Ekklesiologi di kelima wilayah ini tentunya membuka kesempatan untuk diikuti oleh jemaat secara umum (koordinasi dengan panitia lokal di setiap wilayah).

Penulis : Pdt. Alter Pernando Siahaan, Sekhus Ephorus