Pearaja Tarutung, 14 April 2017 tepatnya pada hari jumat Amang Sekjend HKBP Pdt. David F. Sibuea, M.Th, D.Min memimpin ibadah Jumat Agung dalam memperingati detik-detik kematian Tuhan Yesus demi keselamatan umat manusia. Dalam acara ibadah ini gedung gereja dipenuhi oleh seluruh jemaat yang hadir, baik jemaat tetap HKBP Pearaja maupun anak rantau yang datang dari tempat pekerjaannya masing-masing. Sejak awal kebaktian dimulai suasana ibadah kelihatan biasa aja ditambah lagi karena suasana duka yang sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun. Namun setelah Amang Sekjend menyampaikan firman Tuhan dari atas Altar gereja, keadaan menjadi berubah relax, sesekali disambut dengan respon senyum dan gelak tawa dari jemaat dikarenakan mereka semua benar-benar meresapi aplikasi serta ilustrasi khotbah yang mengena dengan keadaan kehidupan saat ini. Yang menjadi liturgis dalam ibadah ini adalah Pdt. Erhan Nababan, S.Th.

Dalam kesempatan ini, Pendeta Sibuea menyampaikan pesan dalam khotbahnya yang tertulis di kitab Markus 15:22-41 bahwa kematian Kristus itu adalah puncak dari penderitaan-Nya untuk mewujudkan keselamatan bagi umat manusia, hati Allah selalu berbalik kepada anak-anakNya, Dia tidak menginginkan kita hilang dan menjauh dari diriNya. Allah selalu menyapa mengingatkan manusia dengan segala cara termasuk dengan memerintahkan muridNya untuk menyuarakan manusia untuk kembali mengenal setiap kasih karunia Allah agar hidup setiap manusia berjalan sesuai dengan kehendak Allah. Dia menegur kita dengan kasih setiaNya, hal ini dapat terlihat ketika Allah masih memberi pengampunan kepada bangsaNya yang sudah terbuang. Allah mengasihi manusia bukanlah melihat rupa, melainkan dengan kasih. Jiwa yang mengampuni, itulah yang dimiliki oleh Allah bagi kita umat manusia yang berlumur dosa ini. Allah tidak menginginkan kematian orang fasik melainkan kembalinya manusia itu dari jalannya yang salah. Melalui peringatan Jumat Agung ini, kita di ingatkan bahwa rencana keselamatanlah yang terjadi atas diri Yesus. Betapa berharganya manusia dihadapan Allah agar dapat terlepas dari dosa. Dia selalu melindungi kita bahkan membela hingga Dia disalibkan. Segala ejekan dan caci maki yang diterima dari orang-orang yang belum mengenal kasih karunia Allah, sehingga firman ini berpesan Janganlah kiranya kita yang hidup pada zaman ini menjadi orang yang suka menghina, mencaci serta berbaur kepada hal yang tidak berkenan dihadapan Allah. Allah juga menggenapi segala perbuatan baik ketika Allah telah diperdamaikan dengan manusia melalui salib. Segala sesuatu telah tuntas dan sudah ditebus. Agar kita dapat menerima itu tentunya kita harus mengimaninya, merenungkannya dan setiap tutur kata yang terucap dapat diciptakan dalam setiap perbuatan yang baik. Manusia hendaknya janganlah hanya memposisikan diri sebagai penerima yang berharga saja dari Allah. Tetapi jadilah orang yang memiliki jiwa pencipta kedamaian, yang melahirkan setiap nilai kebaikan, tidak hanya melalui materi melainkan dapat juga dengan cara menunjukkan perhatian, kepedulian, perkataan, memberi waktu untuk saling menolong dan membantu sesama, tidak menimbulkan rasa sakit hati dan terutama juga menabur fitnah yang menimbulkan keributan antar sesama dan merusak tali persaudaraan. Oleh karena itu janganlah menjadi orang yang lebih banyak memposisikan diri sebagai penonton dan pemberi komentar, tetapi perbanyaklah melakukan setiap yang baik, tutur Pdt. David F. Sibuea, M.Th, D.Min.

Acara kebaktian berjalan dengan penuh sukacita dan tertib. Dan setelah acara kebaktian selesai, Amang Sekjend melanjutkan pelayanan dengan memimpin ibadah ulaon na hohom yang dimulai pada Pkl. 14.00 Wib dan diikuti banyak jemaat serta melayankan perjamuan kudus dibantu oleh oleh Pdt. Sondang Simanjuntak, Pdt. Erhan Nababan, S.Th dan Pdt. Jona Togatorop, S.Th. Acara demi acara diikuti dengan penuh ketenangan dan perenungan.

Pdt. Jona Togatorop, S.Th

Sekhus Sekjend HKBP