Hari ini, Selasa (10/7/2018), Ephorus Pdt Dr Darwin Lumbantobing telah membuka resmi Konsultasi Nasional HKBP yang diadakan di Sopo Marpingkir HKBP, Jakarta. Kegiatan yang dihadiri lebih kurang 1000 orang ini diawali dengan ibadah pembukaan yang dilayani oleh Kepala Departemen Koinonia Pdt Dr Martongo Sitinjak.

Ephorus dalam sambutannya mencatatkan, pada tahun 2018 ini, HKBP memiliki dua agenda besar di antaranya, pertama, Konsultasi Nasional HKBP perihal 100 Tahun HKBP Pasca IL Nommensen yang akan diadakan pada tanggal 10 – 11 Juli 2018. HKBP akan selalu dituntun Tuhan melalui Roh Kudus dalam menjalani dan menempuh tujuan yang akan dicapai.

Karena HKBP adalah gereja, yakni persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus, maka HKBP tentu dapat mengantisipasi, memrediksi, dan kemudian merekayasa dalam arti merancang (reconstruction) pelayanan, yang tentunya bermutu, efisien dan tepat guna di masa depan. Dengan demikian, kehadiran HKBP di masa depan tetap diperhitungkan, dipertimbangkan, bahkan akan selalu diharapkan  di tengah-tengah kehidupan  masyarakat.

Konsultasi ini dimaksudkan untuk mengevaluasi dan kemudian merevitalisasi semua program yang dilakukan HKBP selama ini, yaitu di bidang persekutuan, kesaksian, dan pelayanan. Titik tolak berpikirnya adalah situasi dan kondisi HKBP Pasca 100 Tahun IL Nommensen. Apa dan bagaimana, pelayanan apa yang sudah dilaksanakan HKBP pada masa Nommensen dan pada masa 100 pasca Nommensen, serta apa dan bagaimana upaya merevitalisasinya. Kemudian, apa dan bagaimana antisipasi, prediksi, rancangan dan arah pelayanan HKBP setelah pasca 100 tahun Nommensen.

Momen 100 tahun pasca Nommensen dipakai sebagai titik tolak evaluasi terhadap persekutuan, pelayanan, dan kesaksian HKBP. Dengan demikian, HKBP telah melampaui tiga fase sejarah, yaitu sebelum Nommensen datang, pada masa Nommensen, dan 100 tahun setelah Nommensen. Titik kulminasi akhir adalah pada tanggal 23 Mei 2018 karena pada hari itulah genap 100 tahun setelah Nommensen meninggal dunia. Dengan demikian setelah tanggal dan hari itu, HKBP akan memasuki abad baru, abad setelah 100 tahun Nommensen.

Kedua, sesuai dengan Aturan dan Peraturan HKBP 2002 Setelah Amandemen II telah ditetapkan adanya Sinode Godang Kerja yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 – 12 Oktober 2018. Sabagaimana lazimnya, Sinode Godang Kerja adalah untuk mengevaluasi kinerja, melakukan percepatan, advokasi program kerja dan pelayanan, yang sudah dicanangkan dan ditetapkan sesuai dengan Rencana Induk Pengembangan Pelayanan (RIPP) 2012 – 2032. Sementara itu, pada Sinode Godang 2016 yang lalu juga telah menetapkan Rencana Strategik (Renstra) secara periodik untuk tugas pelayanan 2016 – 2020. Program dan panduan kerja periode kepemimpinan 2016 – 2020 didasarkan kepada kedua dokumen itu.

Sangat diharapkan, dalam konas ini, HKBP menerima gagasan pemikiran, aspirasi, analisa konteks, penilaian, kritikan, dan harapan untuk HKBP dalam konteks masa kini, juga untuk masa depan. Pemikiran-pemikiran itu menyangkut pergumulan teologi HKBP, bagaimana HKBP dalam konteks masyarakat majemuk, dan bagaimana peran HKBP dalam konteks daerah, regional, nasional dan internasional yang nantinya dirumuskan untuk dibawakan ke Sinode Godang Kerja melalui Barita Jujur Taon Ephorus.

Ephorus mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras untuk terselenggaranya kegiatan akbar ini, khususnya kepada Praeses HKBP Distrik DKI Jakarta Raya Pdt Midian KH Sirait. Panitia mulai bekerja sejak pengangkatannya dari keputusan Ephorus No. 91/108/I/ 2018 tertanggal 29 Januari 2018. Mereka mulai melaksanakan sejumlah persiapan penting untuk menyelenggarakan konas dengan tujuan merancang bangun program pelayanan dan kesaksian HKBP pasca 100 tahun Nommensen.

Salah satu upaya yang dilakukan panitia adalah dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan topik revitalisasi pelayanan HKBP. Di dalamnya dipertajam isu-isu pokok yang perlu dibahas dalam konas. Hasil konas akan dirumuskan melalui lokakarya di Hotel Grand Cempaka pada tanggal 11 Juli 2018.

Panitia secara khusus mencatatkan di dalam buku panduannya mengucapkan terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan yang telah banyak membantu panitia untuk menyediakan sejumlah fasilitas pendukung terlaksananya kegiatan ini.

Di sela acara, panitia melakukan peluncuran buku Pdt Dr Darwin Lumbantobing yang berjudul Tumbuh Lokal Berbuah Universal: Revitalisasi Program Pelayanan HKBP Pasca 100 Tahun Dr Ingwer Ludwig Nommensen. Seusainya, dilakukan penandatanganan prasasti konas yang ditandatangani oleh Ephorus, Luhut B Panjaitan, dan Anis Baswedan.

Kegiatan ini menghadirkan beberapa pembicara, seperti Menteri Koordinator Kemaritiman Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan, Ketua PB Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PGI Pdt Henriette H Lebang, Sekum PGI Pdt Gomar Gultom, Praktisi Hukum Otto Hasibuan, Mantang Hakim Agung Hendry Pandapotan Panggabean, Bupati Serdang Bedagai H Soekirman, Aris Merdeka Sirait, Pdt Dewi Sri Sinaga, Praeses Deonal Sinaga, Praeses Fridz Sihombing, Pdt Einar Sitompul, dan Tenaga Ahli Pemprov DKI Jakarta Sahala MT Panjaitan. Biro Informasi / DM