Sipoholon 12 September 2018, Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing bersama Badan Usaha HKBP meninjau lahan Seminarium Sipoholon HKBP dalam rangka membuat Rancangan Gambar Pembangunan Wisma Seluruh Distrik HKBP. Ompu i Ephorus HKBP didampingi Ketua STGH Pdt. Demak Simanjuntak, M.Th, Kabiro Jemaat Pdt. Ebsan Hutabarat, M.Th, Kabiro Hukum Pdt. Betty Sihombing, S.Th, SH, Kabiro Ama dan Lansia Pdt. Jahor Purba, M.Th, Staff Pdt. Alter Pernando Siahaan, S.Th, CPdt. Ben Petrus Sianturi, S.Th, dan dari pihak Badan Usaha St. Sabar Lumbangaol SH, bersama Team.

Sebagaimana hasil Rapat Praeses HKBP dan Rapat MPS HKBP Tahun 2017, yang telah membicarakan program ini dalam rangka memanfaatkan serta mengelola lahan Seminarium Sipoholon HKBP. Pengolahan lahan ini dianggap sangat penting dikarenakan dengan kondisi yang sekian lama lahan yang tidak terkelola dengan baik, sehingga bisa memunculkan masalah – masalah sesuai perkembangan zaman. Misalnya saja, dikarenakan tingkat kelahiran dan kematian manusia yang bisa berkurang dan bertambah sementara lahan untuk perumahan dan pemakaman umum maupun keluarga semakin terbatas. Akhirnya bisa saja memunculkan niat untuk mengambil lahan tanpa ada izin maupun komunikasi dengan pemilik. Saat ini, justru sudah ada beberapa pemakaman/kuburan warga berada lahan tanah Seminarium Sipoholon HKBP ini.

Selain itu, seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan meningkat, tanah yang dulunya tidak dianggap penting bahkan batas – batasnya pun bermodalkan saling percaya saja, justru sekarang tanah menjadi sorotan banyak orang, menarik perhatian untuk dibeli maupun dimiliki. Melihat kondisi saat ini, ada banyak lahan gereja yang telah disumbangkan Ompung-nya dulunya, namun sekarang justru digugat untuk kembali kepada keluarga. Bahkan yang bukan disumbangkan Ompungnya pun, yang tidak ada kaitannya sama sekali, bisa menjadi perkara karena dibangun bangunan di lahan gereja tanpa izin, bahkan bisa terbit sertifikat hak milik padahal tanah tersebut milik gereja. Karena gereja selama ini tidak berpikir untuk mensertifikatkan tanah gereja, sehingga saat ini ada banyak kasus/masalah tanah gereja yang masih tahap pengurusan Biro Hukum HKBP.

Selain itu, HKBP juga sampai saat ini tidak memiliki fasilitas penginapan yang layak dan baik. Itu terlihat dari kondisi setiap kali HKBP kalau mengadakan acara besar misalnya Ibadah Raya, Sinode Godang, Retreat Gereja – gereja, Sidang, Rapat, Pertemuaan Kegiatan Oikoumene, dan Perayaan – perayaan lainnya, dan ini sering menjadi keluhan utama dari jemaat dan pelayan HKBP. Ditambah lagi, dengan situasi perkembangan pariwisata Tapanuli yang menjadi pusat perhatian pemerintah saat ini. Tentu kedepan, pariwisata akan meningkat, akan semakin banyak pengunjung, dan HKBP mau turut ambil bagian dalam mendukung peningkatan pariwisata tersebut. Bisa jadi, itu akan dikelola secara profesional sehingga bermanfaat bagi HKBP, Pemerintah Tapanuli, dan masyarakat.

Nah, dengan melihat kondisi itulah, lahan HKBP yang luas seperti Seminarium Sipoholon ini harus dikelola dengan baik dan bermanfaat. Salah satu upaya, dengan rencana membangun Wisma Seluruh Distrik HKBP dengan mempertimbangkan supaya ramah dengan alam. Sehubungan dengan rencana ini, sedang berjalan juga pembanguan Museum HKBP, ada juga Sekolah Tinggi Guru Huria (STGH) HKBP sebagai bagian dari HKBP, yang pasti juga menambah orang tertarik untuk datang nantinya, apalagi kalau sekitar lahan ini juga bisa dikembangkan dengan program pertanian.

Ephorus HKBP menjelaskan rencana pembangunan ini dengan langkah – langkah yang baik dan bertahap:

  1. Membuat denah tanah dan gambar bangunan Wisma Seluruh Distrik HKBP, dengan mempertimbangkan jumlah Ressort masing – masing Distrik, sehingga luas wisma setiap Distrik tidak sama dikarenakan besar – kecilnya Distrik tersebut dan kondisi tanahnya. Misalnya dengan Distrik XI Toba Hasundutan yang memiliki 8 Ressort yang mungkin bisa menjadi 8 kamar saja beserta tambahan kamar untuk tamu – tamu lainnya. Namun untuk distrik DKI Jakarta yang memiliki Ressort banyak, bisa memungkinkan dengan dua sampai tiga bangunan. Yang dibutuhkan konsep tata tempat wisma dan gambar setiap bangunan dengan kamar yang bagus serta fasilitas lainnya.
  2. Diharapkan rancangan ini bisa dibawa ke Sinode Godang HKBP ke 64 bulan Oktober ini, sekaligus menjadi informasi penting bagi semua peserta.
  3. Kemudian segera dilaksanakan, menjemaatkan program, pengumpulan dana, dan pelaksanaan pembangunannya.

St. Sabar Lumbangaol, utusan Badan Usaha HKBP mengusulkan model pembangunan ini dengan model profesional yang bisa dikelola secara profesional sehingga HKBP bisa juga menjadikan ini menambah menariknya destinasi wisata baik intern HKBP, maupun di Tapanuli Utara, apalagi dalam konteks Pengembangan Pariwisata Danau Toba. Oleh karena itu desain yang menarik juga dibutuhkan. Awalnya satu wisma diperkirakan dengan enam kamar. Namun dengan kondisi lapangan yang sudah kami tinjau, konsep gambar itu akan banyak berubah. Jadi ini bisa diserahkan kepada konsultan, dan kami siap menerima masukan dan pertimbangan dari Ompu i Ephorus agar bisa dikonsep dengan baik.

Kita membutuhkan gambar dengan baik yang bisa ditampilkan berupa viode visual yang bisa dilihat oleh orang banyak dengan tampilan jelas, khususnya rencana kita akan dibawakan ke Sinode Godang ini. Tentunya, ini berawal dengan pemikiran supaya lahan yang luas ini bisa dimanfaat dengan baik dan berguna, sehingga tidak menjadi lahan tidur yang bisa memunculkan niat tidak baik dari berbagai pihak. Seandainya gambar sudah ada dan lahan sudah ada, tetapi teknis pelaksanaan itu tidak boleh asal – asalan. Harus ada team khusus yang menangani ini, agar bisa tertata dengan rapi. Kemungkinan diantaranya: bangunan bisa diserahkan kepada masing – masing distrik, tetapi team yang melaksanakan pembangunan yang ditentukan Hatopan. Bisa juga diserahkan kepada pihak lain, dibangun dengan gambar yang dibuat HKBP, namun dilaksanakan oleh team lain dengan sesuai dengan kebutuhan HKBP tentunya, kata Ompu i Ephorus. Jadi bisa ditaksasikan biayanya, sehingga Distrik bisa mulai mempersiapkannya, namun gambar dan teknis pelaksanaan harus satu agar tetap sesuai dengan gambar, tambah St. S. Lumbangaol. Di sebagian lahan yang ditentukan itu akan dibagi menjadi 35 bagian untuk 31 distrik dan menjaga kemungkinan bertambahnya distrik – distrik berikutnya, seiring dengan perkemabngan pelayanan HKBP.

 

Penulis, Pdt. Alter Pernando Siahaan