Seluruh umat Kristiani memeringati hari kematian Yesus Kristus, pada 2000 tahun silam Ia disalibkan di Bukit Golgota. Begitu juga dengan warga jemaat HKBP Pearaja Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara turut memeringatiya, yang juga disebut Jumat Agung ini dengan ibadah pukul 10.30 wib, Jumat (30/3). Ibadah ini dilayani langsung oleh Ephorus Pdt Dr Darwin Lumbantobing sebagai pengkhotbah dan Pdt Victor Pasaribu (pendeta fungsional) sebagai liturgis.

Melalui firman Tuhan yang dikutip dari Yohanes 19: 28-37, Ephorus menerangkan begitu besar pengorbanan Tuhan atas kesalahan dan dosa umat-Nya. Ia menggunakan bahasa Batak Hokkop yang begitu kental dengan pemaknaannya yang mengartikan pembelaan, penebusan, kepedulian. Tuhan membela, menebus, peduli terhadap umat manusia sehingga Ia turun ke dalam dunia.

Lebih lanjut juga, Ephorus mengatakan, tidak ada kesalahan yang didapat dalam diri Yesus. Namun, karena ia diutus oleh Allah untuk datang ke dunia menebus kesalahan dan dosa manusia. “Dia harus kena hukum, dirasakannya kesakitan ketika disiksa. Itu semua dilakukan-Nya supaya kita menjadi sembuh seperti yang telah dituliskan dalam Yesaya 53: 5,” jelasnya.

Kematian Yesus membuktikan bahwa begitu berharganya manusia untuk ditebus dan diselamatkan. “Dimana berharganya manusia? Karena Yesus langsung Turung ke dalam dunia untuk menyelamatkan dan menebus manusia,” tuturnya. Setiap orang yang telah ditebus bukan lagi dirinya yang hidup atasnya, melainkan Kristus yang hidup di dalamnya. Hal ini dikatakan Ephorus sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Rasul Paulus dalam Galatia 2: 20, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Dalam Injil ini Yohanes melihat langsung kejadian tersebut. Dia menceritakan kisah Yesus ini supaya orang lain percaya kepada Yesus Kristus.

Ephorus juga mengajak warga jemaat untuk merefleksikan peringatan Jumat Agung ini dengan menghidupi keselamatan dan pengorbanan Yesus Kristus. “Memang saat ini kita tidak sedang berada di Golgota. Kita di Tarutung, Pearaja ini. Namun, kita harus dapat menghidupi dalam peringatan atas kematian Yesus, pembelaan-Nya, pengorbanan-Nya kepada manusia. Mari kita hidupi keselamatan dan pengorbanan Yesus Kristus ini,” pungkasnya.

Ibadah ini turut dihadiri oleh Ompuboru M Siahaan dan seluruh warga jemaat HKBP Pearaja mengisi seluruh bangku dan balkon. Seusai ibadah, Ephorus, majelis jemaat, dan warga jemaat tetap berada di lingkungan gereja menantikan bersama ibadah memeringati detik-detik kematian Yesus atau yang lazim disebut dalam bahasa Batak Ulaon na Hohom pada pukul 14.00 wib. Pada ulaon na hohom ini, dibacakan perjalanan Yesus setelah tertangkap oleh pasukan Romawi hingga disalibkan, dan kemudian dilanjutkan dengan Perjamuan Kudus. (Biro Informasi / DM)