SAMOSIR, www.hkbp.or.id – Ephorus Pdt Dr Darwin Lumbantobing memimpin langsung peletakan batu alas (Mameakhon Batu Ojahan) dan menahbiskan gereja (mangompoi) HKBP Pardomuan Sibutar Ressort Onan Runggu Distrik Samosir di Desa Pardomuan, Kecamatan Onan Runggu, pada Minggu (24/6/2018).  Sukacita warga jemaat tampak mulai penyambutan kedatangan rombongan prosesi menuju gedung gereja hingga berakhirnya acara ramah-tamah. Ibadah ini dilayani oleh Praeses MT Pandiangan STh MM sebagai liturgis dan Ephorus sebagai pengkhotbah.

Dalam khotbahnya yang didasarkan pada Mazmur 104: 19-30, Ephorus mengatakan, kesehatan, kebersihan dan lingkungan hidup perlu dijaga dan dipelihara. Ini merupakan orientasi pelayanan HKBP di 2018 ini. “Memang benar, kita diciptakan dan diberikan kuasa untuk menggunakan alam ini. Tapi, kita tidak hanya menerima itu, melainkan juga menjaga dan melestarikannya,” ujarnya.

Dalam aplikasinya, Ephorus menekankan Danau Toba adalah pemberian Tuhan kepada orang Batak dan bangsa Indonesia. Danau Toba merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. “Luar biasa Danau Toba diberikan Tuhan kepada kita bangsa Indonesia. Tidak pernah Danau Toba kita katakan sebagai sumber bencana, tapi justru sebaliknya, sebagai sumber penghidupan bagi kita,” jelasnya.

Ephorus juga mengutarakan target yang akan dicapai terkait dengan Danau Toba menjadi tujuan daerah wisata. “Mari kita dukung Pemkab Samosir untuk memajukan dan menjadikan Danau Toba tujuan wisata,” tuturnya.

Namun, tetap saja ada yang mengatakan, Danau Toba itu memiliki penguasa yang harus ditakuti dan disembah. Ketika ada peristiwa duka, mulai bermunculan ada yang mengatakan, penguasa yang ada di Danau Toba harus didatangi dan berdoa kepadanya supaya jauh dari bencana. Kalau kemana-mana harus mengatakan atau berucap ‘permisi’ (santabi), harus melakukan parsantabian. Entah apa artinya itu, tambahnya lagi.

Ephorus menegaskan, peristiwa kecelakaan itu terjadi karena kesalahan dan ketamakan manusia itu sendiri. “Tidak ada yang sadar kalau itu semua terjadi karena kesalahan dan ketamakan manusia. Manusia memikirkan dirinya sendiri, memajukan kepentingannya sendiri. Kita sering berhadapan dengan orang-orang yang serakah, tamak (mokkus) yang akhirnya menjadikan orang lain sebagai korban dari ketamakannya,” terangnya.

Ia menjelaskan lagi, Tuhan telah memberikan setiap orang suatu rezeki kehidupan. Bumi ini cukup bagi manusia untuk saling berbagi di dalam kehidupannya. Tapi, akan menjadi kurang kalau setiap orang merasa kurang dan serakah untuk berada di dalam bumi ini.

“Tidak ada ciptaan Tuhan yang diciptakan untuk menjadi sumber bencana. Tapi, apabila manusia itu sendiri salah menggunakan, salah mengartikan apa yang telah diberikan oleh Tuhan, maka akan menjadi bencana dan ancaman bagi manusia itu sendiri,” ucapnya dengan tegas.

Setiap hal memiliki ketentuannya sendiri supaya dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Sama seperti orang yang baru saja membeli mobil, tapi melanggar ketentuan ketika menjalankannya dengan kecepatan begitu tinggi tanpa mempedulikan apa dan siapa yang berada di samping dan sekitar jalan, maka yang pasti akan terjadi kecelakaan.

Ephorus juga mengajak jemaat memaknai kehadiran gereja bagi diri mereka. “Sekarang bagaimana kita memakai, menggunakan, menjaga dan melestarikan apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Tuhan pada saat ini juga mengatakan kepada kita bahwa inilah gereja yang telah diberikan kepada kita,” ujarnya.

Pembangunan gereja, menyaksikan peletakan batu alas dan penahbisan gereja tidak dapat dirasakan oleh semua orang sebab setia orang tidak memiliki kesempatan yang sama tentang hal ini. Sama halnya dengan Raja Daud yang tidak memiliki kesempatan untuk membangun dan menyaksikan Tuhan menahbiskan Bait Allah, sementara ia sudah memintanya kepada Tuhan, namun tidak diberikan kesempatan sampai akhir hayatnya.

Seusai berkhotbah, Ephorus membacakan liturgi peletakan batu alas dan penahbisan gereja. Pendeta HKBP Ressort Onan Runggu Pdt Hasudungan Manalu STh bersama dengan majelis dan warga jemaat berdiri menghadap ke altar untuk mendengarkan titah Allah dan perjanjian mereka. Peti kecil yang terbuat dari kayu, berisikan dokumen teologi HKBP, dimasukkan ke dalam altar oleh Ephorus sambil mengetukkan palu tiga kali di dalam nama Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus.

Bangunan gereja ini berdiri di atas tanah 18 x 42 meter. Pada acara ramah tamah, panitia mendaulatkan Ephorus dan Ompuboru M Siahaan untuk memberikan kenang-kenangan sebagai tanda kasih dan terima kasih kepada keluarga Ompung Ristama Gultom dan Ompung Timbul Gultom yang telah memberikan tanah pertapakan gereja.

HKBP Pardomuan Sibutar memiliki 286 jiwa. Kaum bapak 57 orang, ibu 72 orang, pemuda laki-laki 26 orang, pemuda perempuan 23 orang, anak laki-laki 52 orang dan anak perempuan 56 orang.

Turut hadir beberapa tamu undangan, Ketua DPRD Samosir Rismawati Simarmata, Perwakilan Bupati Asisten I Mangihut Sinaga, Camat Onan Runggu Junita Sinaga SSos, Staf Khusus Ketua DPD RI Edison Manurung, dan beberapa gereja tetangga. Biro Informasi (DM)