“Dari perspektif ideologi, Indonesia punya ideologi yang kuat yaitu Pancasila untuk menjawab masalah itu, saya pikir ini bisa menjadi rujukan bagi dunia,” tutur Ephorus Pdt Dr Darwin Lumbantobing pada acara The 7th World Peace Forum (TWPF) di Hotel Sultan Jakarta yang digelar mulai hari ini, Selasa (14/8). Kegiatan ini bertemakan Perdamaian. Membuktikan Indonesia bukan hanya berpikir untuk diri sendiri, tetapi universal.

“Perdamaian bukan hanya kebutuhan Indonesia saja, bukan hanya untuk HKBP saja, tetapi semua orang dan negara merindukan itu. Melihat banyaknya masalah peradaban dan ancaman kemanusiaan di lintas generasi, penting dibicarakan secara terbuka dan menghasilkan gerakan bersama,” jelas Ephorus.

HKBP sebagai salah satu utusan tokoh agama dan gereja-gereja, menyambut baik dan mengapresiasi TWPF ini. HKBP berpusat di Pearaja, Tarutung, Tapanuli Utara, bukan hanya ada di Tapanuli saja, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia dan di luar Indonesia (luar negeri), pasti mendukung dan siap berpartisipasi dalam menyukseskan program negara demi kepentingan bangsa dan universal.

Ephorus menghadiri kegiatan TWPF yang digagasi oleh Kantor UKP-DKAAP dan The Centre For Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC), dan The Cheng Ho Multi-Cultural and Education Trust of Malaysia.

Ephorus HKBP diundang oleh Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja sama Antaragama dan Peradaban Republik Indonesia Prof Dr Din Syamsudin mengikuti kegiatan tersebut, yang lebih dulu dikonfirmasi Sekhus Ephorus HKBP Pdt Alter P Siahaan kepada Staff Ahli UKP Presiden dua minggu lalu.

The 7th World Peace Forum (TWPF) yang dipimpin oleh UKP DKAAP Din Syamsudin, diawali dengan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta TWPF, yang direncanakan akan dibuka langsung oleh Presiden RI Ir Joko Widodo.

Dengan tajuk Perdamaian Dunia dalam konteks kehidupan beragam, masyarakat yang majemuk dengan agama, ideologi, budaya, suku, politik, bahasa, dan sejarah, membuktikan kekayaan Indonesia sebagai bangsa yang besar, namun juga diharapkan hidup dalam damai.

Kantor UKP DKAAP menggagasi kegiatan Forum Perdamaian Dunia ke-7 ini dengan menempatkan Jakarta sebagai harapan salah satu rujukan dunia dalam toleransi dan perdamaian. Ratusan tokoh perdamaian dari berbagai negara berkumpul menghadiri TWPF ini.

TWPF ini berlangsung selama tiga hari, berlangsung sejak 14–16 Agustus 2018 dengan bentuk seminar  menyangkut keharmonisan, perdamaian, dan visi umat bersama di dunia ini menghadirkan para tokoh agama dunia, aktivis, pemikir atau kaum cendikiawan, dan para pemimpin dari 40 negara.

Menurut Din Syamsudin, peserta forum ini akan membahas jalan tengah dalam mewujudkan perdamaian dunia. Tema yang diangkat tentang wawasan jalan tengah, ini lebih dari sekadar moderasi. “Ini adalah konsep tentang keseimbangan, tentang keadilan yang ingin kita ajukan untuk peradaban dunia,” ungkapnya.

Ia menekankan, pengertian jalan tengah yang dimaksud adalah benang merah antara dua ideologi berbeda. Din bahkan mencontohkan ideologi Pancasila di Indonesia. Jalan tengah coba kita angkat. Dari agama dan dari ideologi negara atau bangsa di dunia ini. Seperti Indonesia dengan Pancasila, ini ada nuansa jalan tengahnya. Memang sudah ada pembahasan soal perdamaian oleh PBB. Namun, dirinya menilai belum memberikan solusi terbaik. “Sebenarnya sudah ada upaya untuk menanggulangi oleh PBB. Namun, hemat kami itu belum fundamental, hanya bersifat tambal sulam. Itu sebabnya penting gerakan dari berbagai negara, secara khusus untuk kali ini kita harapkan menghasilkan PESAN JAKARTA untuk dunia,” jelas Din. Turut hadir juga Ketua PGI Pdt Dr Henriette T Hutabarat–Lebang, demikian juga dalam acara ini Ephorus HKBP bertemu dengan utusan Genewa.

Penulis, Pdt. Alter Pernando Siahaan

No. Hp : 0813 9634 8422