JETUN-SILANGIT, SIBORONGBORONG, www.hkbp.or.id – Kepala Departemen HKBP, Pdt Dr. Martongo Sitinjak memaparkan bahwa peran Pendeta (beserta Pelayan tahbisan HKBP) terhadap pelayanan kategorial Sekolah Minggu sangatlah besar, dalam mengarahkan Pengajaran yang disampaikan oleh Guru Sekolah Minggu sesuai dengan dokumen Teologi HKBP. Buku Kurikulum Pengajaran Sekolah Minggu HKBP dapat membantu Para pelayan dalam menyampaikan makna Teologi HKBP kepada Guru Sekolah Minggu untuk diberitakan kepada anak-anak Sekolah Minggu, tambah Pdt. Martongo Sitinjak di tengah-tengah penjemaatan dan training Kurikulum Sekolah Minggu HKBP Gelombang I di Perkampungan Pemuda HKBP, Jetun-Silangit, Kecamatan Siborongborong, 20-23 Maret 2018.

HKBP melalui Biro Sekolah Minggu, Remaja Naposobulung (SMIRNA) yang dinaungi oleh Departemen Koinonia telah bersusah payah dan bekerja keras untuk membentuk suatu Kurikulum dalam Pengajaran Sekolah Minggu (SM) dan Buku Ende yang akan dikumandangkan dalam ibadah Sekolah Minggu, sebab telah sekian puluh tahun HKBP menantikan adanya suatu Panduan pengajaran bagi anak-anak Sekolah Minggu HKBP serta Buku Ende Bagi anak-anak sekolah minggu.

Rencana Induk Pengembangan Pelayanan (RIPP) HKBP menyatakan bahwa Pelayanan Kategorial Anak Sekolah Minggu dikembangkan ke arah pemantapan dan peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran sehingga anak-anak memiliki pengenalan, pemahaman dan penghayatan dasar tentang firman Allah yang terefleksi dalam perbuatan dan perilaku nyata anak-anak. Guru Sekolah Minggu juga memiliki tugas dan tanggungjawab yang sangat penting dalam membantu orangtua dalam meletakkan fondasi Kekristenan yang kokoh kepada anak-anak.

Berangkat dari RIPP HKBP dan Kerinduan HKBP akan Kurikulum Pengajaran Sekolah Minggu HKBP serta Rencana stratejik (Renstra HKBP) maka Departemen Koinonia HKBP berupaya melahirkan Konten Pengajaran yang mendasar dalam pengajaran Sekolah Minggu di HKBP. Kurikulum Pengajaran ini diharapkan dapat menguatkan kembali Teologi HKBP bagi anak-anak Sekolah Minggu, sebab isi dari Kurikulum tersebut berdasarkan Alkitab dan dokumen-dokumen Teologi yang dimiliki HKBP (Katekhismus, Agenda, RPP, Konfessi HKBP, AP HKBP, dan BE HKBP). Kurikulum pengajaran itu diurai dan dijabarkan dalam khasanah dan bahasa anak-anak.

Guna mempersiapkan anak-anak SM HKBP menjadi Jemaat HKBP, maka HKBP harus memperkenalkan ibadah dan nyanyian-nyanyian HKBP kepada anak-anak agar tidak terjadi keganjalan atau kebingungan dari seorang anak ketika kelak ia tumbuh dewasa dan beribadah ke ibadah minggu dewasa HKBP. HKBP melalui Departemen Koinonia juga melahirkan Buku Ende Sekolah Minggu HKBP sebagai Buku yang harus dipakai dalam peribadahan Sekolah Minggu

Peminimalisan lagu-lagu di luar dogma HKBP haruslah segera dilakukan di peribadahan Sekolah Minggu HKBP, dengan maraknya lagu-lagu itu maka dapat dikatan HKBP sedang mempersiapkan Jemaat Gereja lain di masa depan. Pdt. Martongo Sitinjak menghimbau seluruh pendeta dan para praeses yang mengikuti Penjematan dan Training Kurikulum & Buku Ende Sekolah Minggu agar memakai Buku Ende ini dalam peribadahan Sekolah minggu, sebab Buku Ende ini berisi tentang dokumen Teologi HKBP serta seluruh pelayan partohonan harus memakai baju tohonannya dalam ibadah Sekolah Minggu, terang Kadep Koinonia.

Penjemaatan & training Kurikulum serta Buku Ende Sekolah Minggu yang dilakukan selama tiga gelombang diharapkan dapat mensosialisasikan buku tersebut agar dapat menanam rasa cinta Anak sekolah minggu terhadap HKBP hingga elak ia dewasa.

Mewakili team kerja kurikulum, Pdt Morhan Dolok Saribu, M.Th menginformasikan bahwa Buku Kurikulum Pengajaran Sekolah Minggu ini disusun untuk menjadi bahan pengajaran Sekolah Minggu  HKBP. Pengajaran ini untuk memperkenalkan “Pamusatan ni Hata ni Debata” (Dasar Ajaran Alkitab) sejak dini melalui Katekhismus Kecil Martin Luher. serta Pdt. Boho Pardede dan team dari Buku Ende Sekolah Minggu HKBP berharap hasil dari dedikasinya dapat memperkenalkan firman Tuhan dan lagu-lagu HKBP di gereja HKBP kepada anak-anak.

Selamat melayani Anak Sekolah Minggu HKBP bagi para pelayan dan Guru Sekolah Minggu HKBP, tetaplah dalam sukacita serta pakailah waktu dan kesempatan yang ada untuk mengembangkan kualitas dan kapasitas pengajaran bagi Anak Sekolah Minggu, sebab Anak Sekolah Minggu adalah warga gereja, tutur Pdt. Dr. Martongo Sitinjak.

Penulis: Pdt. Reonal Hutabarat, S.Th