Kamis (20/9/2018) Sekolah Tinggi Diakones HKBP di Balige melaksanakan wisuda TA 2018 kepada 19 orang mahasiswi yang telah menempuh pembelajaran selama empat tahun lamanya. Wisuda 2018 ini merupakan lulusan Sarjana Agama (S.Ag) tahun kedua di  Sekolah Tinggi Diakones HKBP. Wisuda Sekolah Tinggi Diakones ini dihadiri oleh Head International Diakonia and Training Center Bielefeld-Bethel, Germany, Pdt Matthias Boener bersama Advisory Group, BA Diakonia International UEM dari tiga benua yaitu Afrika, Jerman, dan Asia sebanyak 15 orang, dengan pengkhotbah yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Pdt David Farel Sibuea MTh DMin. Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Departemen Koinonia Pdt Dr Martongo Sitinjak, Kepala Departemen Marturia Pdt Dr Anna Vera Pangaribuan, Kepala Departemen Diakonia Pdt Debora Purada Sinaga MTh, Ketua STT HKBP Pdt Dr Viktor Tinambunan, perwakilan Ketua Sekolah Tinggi Bibelvrouw, Ketua Sekolah Tinggi Guru Huria Pdt Demak Simanjuntak MTh, perwakilan Rumah Sakit HKBP di Balige, Direktris Akademi Perawat HKBP, Kepala Dinas Pendidikan Tobasa Drs. Lalo H. Simanjuntak yang mewakili Bupati Tobasa, perintis sekolah Diakones Zchwester B Hutabarat, para orang tua wisudawati dan para undangan.

Tema dari Wisuda STD 2018 tertulis di Amsal 19:17 yang berbunyi, “Berbelas kasih kepada orang yang lemah.” Dengan tema yang disajikan oleh panitia wisuda ini, Pdt David Sibuea menyampaikan khotbahnya dengan kontekstual terhadap jiwa seorang diakones. Ia mengatakan, seorang diakones harus memiliki rasa belas kasihan, sama seperti Yesus di dalam Perjanjian Baru.

“Belas kasihan kepada anak-anak, kepada orang yang termarginalkan, kepada orang-orang yang lemah, adalah manifestasi dari belas kasihan itu sendiri. Maka, orang yang tergerak hatinya bisa memulihkan kembali eksistensi kehidupannya. Pelayan-pelayan yang berbelas kasihan adalah seperti doa syafaat, kepada orang yang membutuhkan dan berkata kasihanilah kami. Seringkali belas kasihan hanya dianggap sebatas materi atau yang hanya dilihat oleh mata. Padahal sebenarnya, belas kasihan adalah rasa empati, dapat duduk bersama dengan rasa kepedulian. Oleh karena itu, didasari belas kasihan kepada Allah, diakones harus bisa menjadi diakones yang excellent yang bisa menerima apa adaya orang lain tersebut.”

Ia juga menambahkan dan menitipkan pesan lewat khotbahnya agar wisudawati yang diwisuda hari ini menjadi diakones yang go to the next level, menjadi pelayan Tuhan di HKBP dengan berlandaskan dengan orientasi melayani dari hati.

Setelah acara kebaktian selesai, acara wisuda dibuka dengan upacara nasional yang dipimpin oleh Ketua Sekolah Tinggi Diakones yaitu Diakones Serepina Sitanggang MRE. Dalam kata sambutannya, Ketua STD mengatakan, sekolah diakones ini sudah mempersiapkan pelayan diakones selama 47 tahun dan masih berjalan sampai pada saat ini. Wakil Ketua I Bidang Akademi, Diakones Ramsida N Siburian MSi, juga menambahkan bahwa mahasiswi yang mendaftar ke Sekolah Tinggi Diakones setiap tahunnya bertambah. “Visi dan misi STD adalah HKBP menjadi berkat bagi dunia ini melalui pembelajaran dan proses pengembangan diakonia,” ujarnya.

STD memiliki ketenagakerjaan yang bersifat edukatif dan administratif. Dengan 8 orang dosen, di mana seorang dosen sedang menjalani studi lanjut Doktoral Diakonia di Jerman, dan 4 orang staf atau pegawai STD, serta 2 orang yang dipersiapkan menjadi ketanagakerjaan untuk menjadi dosen yaitu program magister di Salatiga dan Jogjakarta. Karenanya, STD berharap bahwa seluruh yang hadir, terlebih pimpinan HKBP dapat membantu STD dalam mewujudkan kampus yang lebih efisien dalam hal proses belajar-mengajar dengan membuka wacana tentang pembangunan kampus yang baru. Hal ini juga menjadi sangat penting karena STD sudah menyusun akreditasinya sebagai sekolah tinggi yang akan menerima BAN-PT dari pemerintahan.

Hal ini dijawab langsung oleh arahan dari yang mewakili Ephorus HKBP yaitu Kepala Departemen Diakonia, yang mengatakan akan menyampaikan usul tersebut ke rapat Majelis Pekerja Sinode HKBP mendatang. Ia juga menambahkan kata semangat dan selamat kepada wisudawati sebagai lulusan tahun kedua setelah program sarjana agar mereka boleh menjadi pelayan Diakones di HKBP yang benar-benar memiliki hati yang tergerak oleh karena belas kasihan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Pdt Matthias Boener. Ia mengatakan, diakones bukanlah pelayan gereja atau manusia, melainkan pelayan Tuhan sehingga diakones harus takut akan Tuhan, dan berdedikasi. Ia juga menambahkan, pelayan diakones harus mampu mengasah kemampuannya terlebih di bidang Bahasa Inggris agar mampu bersaing keluar daerah.

Rangkaian acara wisuda ini berjalan dengan lancar dan juga menyuguhkan pemberian bunga oleh wisudawati kepada para orang tua mereka masing-masing. Setelah itu disusul dengan pemberian cenderamata kepada wisudawati yang terbaik, yaitu Uci Sabrina Samosir sebagai peringkat pertama, Erni Mesalina Hutauruk sebagai peringkat kedua, dan Desy Yopana Sitorus sebagai peringkat ketiga. Suasana haru sangat bisa dirasakan mengingat wisuda adalah salah satu bukti pemeliharaan Allah kepada wisudawati selama empat tahun dan keberhasilan dari perjuangan mereka pada tahap ini. Arth – CDS