Ephorus HKBP bersama rombongan tepat di depan jembatan Ponulele Palu, mengatakan Palu – Donggala Bangkit

Pimpinan HKBP mengunjungi jemaat HKBP Palu pasca Tsunami, Gempa, dan Likuifaksi yang terjadi di Palu dan Donggala serta sekitarnya – Sulawesi Tengah, pada Minggu (24/3). Ompu i Ephorus HKBP yang didampingi Ompu Boru, Kepala Departemen Diakonia Pdt. Debora P. Sinaga, M.Th, Praeses HKBP Distrik XVII Indonesia Bagian Timur Pdt. Pahala Sitorus, S.Th bersama Inang, Para Pendeta diantaranya Pdt. Dotur Purba, Pdt. Juni Saor P. Sirait, Pdt. Agus Sidauruk, dan Pdt. B. Sitompul, serta sekhus Pdt. Erwin Hutauruk, dan Pdt. Alter Pernando Siahaan. Kunjungan tersebut diawali dengan meninjau lokasi bencana tsunami, gempa, dan likuifaksi di Palu serta sekitarnya.

Kala kejadian, Palu ini seperti tempat yang tidak berpenghuni, terasing, gelap gulita, putus komunikasi, tidak bisa dikunjungi, bahkan kekurangan makanan. Semuanya meratapi bencana dan para korban yang kami saksikan langsung, banyaknya korban jiwa, kami berpikir hanya bisa berupaya lari dan menghindar walaupun dilanda rasa kekuatiran yang sangat besar, bahkan tanpa arah yang jelas karena menjelang malam, kata seorang keluarga korban. Diantara kami juga, yang meninggalkan keluarga hanya sebentar saja tetapi kejadian itu tiba tiba memisahkan kami dengan keluarga selamanya. Bahkan ada yang melihat saudaranya tertimbun ke dalam tanah, bahkan masih mendengar teriakan minta tolong dari himpitan tanah, hingga malam itu pun masih terdengar teriakan minta tolong dan tangisan dari dalam tanah, ada yang mencoba memberikan minum, namun karena tidak ada pertolongan, akhirnya besok telah meninggal, kata seorang jemaat.

Ompu i Ephorus bersama rombongan mengunjungi beberapa tempat kejadian bencana tersebut yang dipandu Pendeta HKBP Ressort Palu Pdt. Drs. Timbul M. Simorangkir, beserta parhalado dan utusan jemaat. Sembari menerangkan kondisi Palu saat ini, tiba di tempat kejadian bencana, tampak kerusakan bangunan, runtuhan bangunan, bahkan potongan jembatan yang tidak nampak lagi dikarenakan dibawa arus air, demikian kendaraan rusak, menjadi bukti bencana tersebut. Sebelum kejadian, sekitaran pantai sangat ramai dikunjungi, padat akan tempat santai dengan berbagai kuliner, demikinan cafe, pembukaan Pesona Palu Nomoni dan acara hiburan lainnya, namun sekarang tampak sepi bahkan datang pun ke tempat tersebut masyarakat masih trauma dan ketakutan.

Selain itu juga, setibanya di tempat dimana terjadinya likuifaksi tersebut, terkesan seperti tidak mungkin terjadi namun runtuhan bangunan menjadi saksi bisu terjadinya bencana demikian warga sekitar. Tanah yang bergerak, terbuka, bergeser, membuat rumah beserta warga dan apa pun di atas tanah tersebut, tertimbun, tenggelam seolah ditelan bumi, yang menyisakan puing – puing bangunan dan ratapan tangis korban sejenak dan jeritan tangisan dari para keluarga korban. Ompu i Ephorus bersama rombongan menyaksikan tempat kejadian, yang sudah tampak sepi, hanya ada beberapa anak yang datang meminta dikasihani. Bahkan datang ke tempat tersebut pun warga masih cukup menakutkan atas ingatan kejadiaan tersebut, kata seorang jemaat.

Ephorus HKBP bersama rombongan tiba di lokasi bencana likuifaksi Balaroa

Pengakuan seorang jemaat marga Siahaan, kalau likuifaksi yang terjadi di Palu ini fenomena aneh dan dan itu diakui dunia dikarenakan ada beberapa jenis likuifaksi yang terjadi. Misalnya saja, likuifaksi yang terjadi di Balaroa, yang tiba – tiba tanah bergerak memutar seperti putaran blender kemudian ambles ke dalam, lalu tanah dari atas karena seperti perbukitan menutup yang sudah jatuh ke dalam. Sementara di Petobo, pergeseran tanah disertai lumpur dari tanggul kali yang roboh dan perbukitan yang turun menggulung ke bawah terus sehingga pepohonan seperti banyak pepohonan misalnya pohon kelapa, kompleks perumahan beserta warga terbawa arus dan terhantam arus lumpur yang kuat sehingga banyak korban dan kerusakan parah lalu akhirnya lumpur itu menumpuk, misalnya saja kondisi rumah salah satu jemaat HKBP Palu Kel. Panjaitan/br. Pardede. Bahkan ada juga yang menyaksikan kalau sempat terjadi semburan air yang cukup tinggi kemudian tiba – tiba permukaan tanah menurun kembali dan menarik seluruh benda yang diatasnya. Begitu juga dengan beberapa bangunan yang bergeser sekitar 50 meter dari posisi awal. Lalu di tempat lain tepatnya di Jono Oge Kabupaten Sigi, tanah tanah yang terbelah sehingga merubuhkan banyak bangunan padahal warga banyak yang didalam rumahnya masing – masing, begitu juga dengan kondisi jalan yang terbelah.

Jemaat HKBP Palu sendiri, tidak lepas dari kejadian tersebut, menurut informasi ada 5 orang jemaat yang menjadi korban jiwa dari bencana, ada yang dikarenakan tsunami, ada dikarenakan likuifaksi dan gempa, hingga kini keluarga korban masih di dalam kesedihan beralaskan tempat tinggal sementara yang bersifat bantuan sementara. Gereja HKBP Palu ketika itu juga merupakan salah satu posko pengungsian dan bantuan disebut dengan Posko Solidaritas Kemanusiaan kepada korban bencana yang langsung dipimpin oleh Pdt. Drs. M. Timbul Simorangkir.

Ephorus HKBP Didampingi Praeses Pdt. Pahala Sitorus, Pdt. Timbul Simorangkir, St. SIlitonga, dan rombongan meninjau lokasi tempat tinggal sementara

Dengan kerja keras, curahan tenaga, kesedihan serasa badan tidak pernah lelah, Pendeta bersama parhalado dan beberapa jemaat berupaya mencari bantuan ke kantor – kantor, ke toko – toko usaha, ke pemerintah, ke jemaat, dan lainnya demi kebutuhan warga termasuk jemaat HKBP, sembari sebagian pun harus berpikir untuk keselamatan isteri/suami maupun anak – anaknya. Alat transpoartasi yang terbatas, bukan hanya dikarenakan banyaknya rusak, tetapi juga tidak ada minyak bensin/solar, dan lainnya. Dikarenakan gempa yang berulang – ulang, membuat sebagian juga harus tidur di halaman rumahnya tanpa ketenangan jiwa.

Sangat memprihatinkan ketika terjadi bencana, bukan hanya karena runtuhnya bangunan baik rumah, rusaknya alat transportasi, kehilangan keluarga, tetapi juga dikarenakan terjadinya penjarahan dimana – mana, apa saja yang bisa dijarah langsung dijarah, sehingga bencana terjadi tetapi penjarahan juga terjadi, kata seorang jemaat. Sejak bencana sampai saat ini warga khususnya korban masih sangat menantikan realisasi bantuan Pemerintah.

Dengan bantuan dari jemaat, Kantor Pusat HKBP, Tanggap Bencana – TABE HKBP, termasuk dari Evangelical Lutheran Church of Amerika – ELCA, membuat HKBP juga hadir menjadi berkat kepada warga Palu yang disalurkan dengan kehadiran Pimpinan HKBP Kepala Departemen Diakonia HKBP Pdt. Debora P. Sinaga bersama Staff, Team Tabe HKBP, maupun jemaat dan distrik yang menyampaikan bantuan secara langsung. Bukan hanya bantuan secara materi, obat – obatan, makanan, tetapi juga bantuan untuk trauma healing yang dilakukan oleh Kepala Departemen Diakonia dan Kepala Departemen Marturia hingga kunjungan Ompu i Ephorus HKBP kali ini.

Ephorus HKBP dalam bimbingan pastoralnya meneguhkan jemaat berlandaskan Firman dari Yesaya 54: 10 “ai munsat pe angka dolo, jala humuntal angka robean, alai anggo asiasingKu na so tupa munsat sian ho, jala padan ni hadameonKu na so tupa humordit, ninna Jahowa siasii ho”, bila dipahami secara teori itu bisa saja bagian dari sastra untaian kata – kata, namun di Palu ini khususnya warga dan jemaat HKBP Palu tentunya bukan lagi sekedar untaian kata – kata saja namun sudah menjadi keluarga korban, saksi hidup, yang menyaksikan kejadian bencana yang tidak bisa diduga banyak orang, namun terjadi secara langsung. Kejadian itu juga menjadi bukti kalau Alkitab bukan sekedar teori atau tulisan biasa namun juga fakta kebenaranya sebagai Firman Tuhan. Tuhan yang empunya Alam semesta ini bisa menjadikan apa saja dan apa saja bisa terjadi bila Tuhan berkehendak. Walaupun itu semua terjadi, Kasih Karunia Tuhan tidak berhenti untuk kita semua. Kita yang masih diberikan kesempatan untuk hidup, bukan sekedar hidup, namun Tuhan masih melanjutkan hidup kita dan diberikan kesempatan, pasti ada yang dikehendaki Tuhan dari kita semua. Apa itu? Itulah yang perlu kita jawab di dalam perjalanan kehidupan kita. Firman menjamin hidup kita di dalam kasihNya yang tiada batas itu.

Rombongan Ephorus juga membenarkan perkataan jemaat, kalau Palu saat itu menjadi kota mati dikarenakan putusnya akses baik komunikasi maupun transportasi, itu sebabnya bantuan pun cukup memakan waktu untuk tiba di Palu dan Donggala ini. Tidak banyak yang bisa menerima izin untuk datang ke tempat ini karena bantuan pun disalurkan dengan Pesawat Hercules milik TNI, sehingga para simpatisan maupun volunter yang mau datang harus menerima konfirmasi izin kedatangan termasuk Team Tanggap Bencana (TABE) HKBP dan rombongan saat itu. Sebagaimana Bimbingan Pastoral Ephorus HKBP kepada seluruh jemaat HKBP melalui press release dan surat pastoral yang diwartakan di setiap gereja HKBP, mengajak seluruh jemaat untuk turut mendokan seluruh keluarga korban termasuk gereja, demikian menghimbau agar setiap jemaat memberikan bantuan kepada keluarga korban dengan persembahan di setiap jemaat, demikian spontanitas yang digerakkan jemaat di berbagai daerah, selain juga bantuan yang datang dari Evangelical Lutheran Church of Amerika – ELCA, yang mana menurut laporan pertanggungan jawaban Pendeta Ressort HKBP Palu kepada Pimpinan HKBP dari Oktober 2019 sebanyak 1.183.166.123,-. Bantuan tersebut disalurkan dengan kedatangan Team TABE, Lintas rombongan jemaat yang datang langsung, dan lainnya, demikian Pimpinan HKBP.

Marilah kita doakan Palu dan Donggala serta sekitarnya. Palu – Donggala, Sulteng Bangkit… // APS