HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN

PANGARIBUAN (7/1) – Pada awal tahun 2026, HKBP Resort Lontung menerima kucuran dana hibah dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara untuk mendukung keberlanjutan pelayanan. Dukungan tersebut disalurkan melalui rekening BPD Sumut bagi renovasi dua gereja pagaran, yakni HKBP Simaninggir dan HKBP Lobugala, dengan alokasi masing-masing sebesar Rp20.000.000. Selain bantuan fisik, Pemkab Taput juga memberikan insentif bagi para Guru Sekolah Minggu di tujuh gereja se-Resort Lontung senilai total Rp7.000.000. Penerimaan bantuan ini menjadi bukti nyata apresiasi pemerintah di bawah kepemimpinan Bupati JTP Hutabarat terhadap peran strategis HKBP dalam mendidik karakter generasi muda serta membangun fasilitas peribadatan yang layak bagi masyarakat.

TARUTUNG (6/1) – Ephorus HKBP memimpin peletakan batu pertama pembangunan dua unit Bagas Huria di Sigompulon, Tarutung (06/01). Pembangunan yang didanai bantuan keluarga W. Hutahaean senilai Rp10 miliar ini ditargetkan rampung pada Agustus 2026. Ephorus secara strategis mengubah istilah “Rumah Dinas” menjadi “Bagas Huria” untuk menekankan nilai spiritualitas dan rasa memiliki jemaat terhadap hunian pelayan. Sejalan dengan orientasi pelayanan 2026 tentang pengajaran iman keluarga, bangunan ini diharapkan menjadi simbol pengabdian bagi kemuliaan Tuhan. Proyek ini menjadi bagian dari transformasi HKBP untuk meningkatkan profesionalisme pelayanan serta kenyamanan para pelayan di Kantor Pusat dalam menjalankan tugas administratif maupun spiritual.

PEARAJA (6/1) – Tim Peduli Kasih HKBP menetapkan penyaluran bantuan tahap lanjutan sebesar Rp4 miliar bagi warga terdampak bencana ekologis di Aceh dan Sumatera. Alokasi dana ini merupakan tambahan setelah sebelumnya HKBP menyalurkan hampir Rp5 miliar dalam bentuk sembako dan tunai. Bantuan ini difokuskan bagi 73 keluarga berduka, perbaikan ribuan rumah yang rusak maupun hancur, serta pemulihan warga yang kehilangan lahan pertanian. Melalui langkah ini, HKBP memastikan kehadiran gereja secara nyata dalam meringankan beban ekonomi dan mempercepat rehabilitasi kehidupan jemaat. Transparansi data donatur dan penyaluran tetap dapat dipantau melalui portal resmi https://pedulikasihhkbp.net.

PEARAJA (5/1) – Dalam ibadah pengucapan syukur Tahun Baru 2026 di Pearaja, Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan menyampaikan duka mendalam atas bencana ekologis di Aceh dan Sumatera yang merenggut 73 nyawa warga HKBP serta merusak ribuan rumah. Sebagai respons cepat, Tim Peduli Kasih HKBP menggelar rapat koordinasi untuk mempercepat tahap pemulihan fisik dan ekonomi bagi para korban. Tahun ini, HKBP resmi menetapkan orientasi pelayanan “Transformasi: Pengajaran Iman di Tengah Keluarga”. Fokus utama kegiatan diarahkan pada penguatan keluarga sebagai sekolah iman pertama guna membentengi umat dari krisis sosial seperti narkoba dan judi. Melalui kepemimpinan kolektif bersama pimpinan lembaga, HKBP berkomitmen hadir sebagai solusi nyata bagi persoalan bangsa dan lingkungan hidup.

TARUTUNG (5/1) – Ephorus HKBP mengimbau para pelayan dan seluruh jemaat untuk aktif mempelajari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru, khususnya terkait aturan kerukunan beragama. Ajakan ini muncul setelah adanya diskusi strategis dengan tokoh nasional, Bapak Hashim Djojohadikusumo, mengenai pentingnya kesadaran hukum bagi masyarakat. HKBP menekankan bahwa pemahaman hukum yang jernih merupakan fondasi untuk membangun sikap saling menghormati dan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Melalui kegiatan literasi ini, HKBP berkomitmen membawa jemaat menjadi warga negara yang dewasa dan beradab, sekaligus memastikan gereja berperan aktif dalam menjaga kerukunan nasional demi kemajuan bangsa yang inklusif.

MUARA (4/1) – Ephorus HKBP memimpin ibadah Minggu di HKBP Lobu Tangga, Muara, Tapanuli Utara, dengan merefleksikan Yohanes 1:10–17 tentang anugerah Tuhan. Dalam kunjungannya, pimpinan HKBP menekankan bahwa iman tidak hanya berhenti pada liturgi, tetapi harus diwujudkan melalui tanggung jawab nyata menjaga ekosistem. HKBP mendorong sinergi antara gereja, masyarakat, dan pemerintah daerah untuk mentransformasi kawasan Muara menjadi lingkungan yang lebih hijau, bersih, dan asri. Melalui kegiatan ini, HKBP mempertegas posisinya sebagai penggerak pelestarian alam di Tapanuli, menjadikan pemeliharaan lingkungan sebagai kesaksian iman yang hidup demi menjamin masa depan generasi mendatang.

TARUTUNG (3/1) – Setelah menuntaskan penyaluran logistik darurat, HKBP melalui Tim Peduli Kasih kini memulai tahap pemulihan pascabencana ekologis pada Januari 2026. Fokus kegiatan dialihkan pada pelayanan psikososial (trauma healing) dan pendataan kerusakan infrastruktur. HKBP merencanakan bantuan pembangunan kembali gedung-gedung gereja yang hancur serta pemenuhan kebutuhan mendesak jemaat di lapangan. Meskipun menghadapi tantangan keterbatasan dana yang besar, HKBP tetap berkomitmen mengawal proses pemulihan ini secara transparan. Seluruh perkembangan donasi dan alokasi bantuan dapat dipantau langsung oleh jemaat melalui situs resmi https://pedulikasihhkbp.net sebagai wujud akuntabilitas pelayanan gereja bagi kemanusiaan.

TARUTUNG (2/1) – Mengawali tahun 2026, Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, mengeluarkan Surat Pastoral Nomor 01/L08/I/2026 yang menghimbau seluruh pelayan penuh waktu dan keluarga untuk tidak merokok. Kebijakan ini berlandaskan Konfesi HKBP yang menolak pola hidup yang merusak kesehatan tubuh sebagai anugerah Tuhan. Langkah ini diambil demi menjaga integritas pelayanan, memastikan keteladanan bagi jemaat, serta efektivitas penggunaan berkat Tuhan. Sejalan dengan orientasi pelayanan 2026 mengenai “Pengajaran Iman di Tengah Keluarga”, HKBP menekankan bahwa keteladanan hidup sehat orang tua adalah pengajaran terkuat bagi generasi muda guna mewujudkan transformasi gereja yang lebih berkualitas.

TARUTUNG (1/1) – Mengawali Tahun Baru 1 Januari 2026, Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, menetapkan orientasi pelayanan tahun ini pada “Pengajaran Iman di Tengah Keluarga”. Berdasarkan Amsal 3:1–6, HKBP mengajak jemaat membangun rumah sebagai sekolah iman pertama guna membentuk karakter generasi muda yang memiliki “tiga tinggi dan satu rendah”: tinggi iman, ilmu, perbuatan baik, namun rendah hati. Ephorus menegaskan bahwa keluarga harus menjadi ruang aman bagi anak-anak di tengah tekanan digital. Melalui pelayanan ini, HKBP berkomitmen mendampingi setiap keluarga agar berjalan bersama Allah, mengubah tantangan hidup menjadi berkat, serta mewariskan “mata air” kebaikan bagi masa depan.

Renungan Harian HKBP

Renungan Terkini

RENUNGAN MARTURIA: Kamis, 8 Januari 2026

Doa Pembuka:

Bapa yang Mahabaik, yang kami sembah di dalam Anak-Mu, Yesus Kristus, Tuhan kami, kami bersyukur atas kebaikan dan penyertaan-Mu di dalam kehidupan kami sampai saat ini. Pada waktu ini kami datang dengan hati yang rindu akan firman-Mu. Bukalah pikiran dan hati kami agar kami mampu mendengar, memahami, dan menghidupi kehendak-Mu. Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Renungan:

Bapak Ibu yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan yang menjadi renungan kita hari ini tertulis dalam Lukas 4:18-19, demikian:

”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Bapak-Ibu, salah satu ciri kehidupan kita hari ini adalah semuanya bergerak sangat cepat. Teknologi semakin maju, ekonomi berkembang, dan berbagai sistem dibuat untuk membuat hidup terasa lebih praktis. Kita seperti hidup di tengah cerita yang dibentuk masyarakat tentang apa yang dianggap berhasil, aman, dan layak dihargai. Ritme demikian membuat kita mudah merasa tertinggal dari orang lain, mudah membandingkan diri dengan orang lain, dan mudah cemas terhadap dunia sekitar kita. Tidak sedikit orang akhirnya merasa terjebak dalam kehidupan yang dibentuk berdasarkan ambisi, standar sosial, dan tekanan sehari-hari sering membuat kita kehilangan arah.

Di tengah keadaan itulah, Yesus datang dengan kabar yang sangat berbeda. Yesus menyatakan,

“Roh Tuhan ada pada-Ku… Aku datang membawa kabar baik… pembebasan… pemulihan… tahun rahmat Tuhan.”

Kalimat yang diucapkan Yesus ini adalah kalimat yang juga diucapkan oleh Nabi Yesaya (Yes. 61:1-2), yang disampaikan pada masa pasca-pembuangan Israel. Yesus mengutip kembali teks itu karena situasi umat Yahudi pada zaman-Nya memiliki kesamaan, yakni hidup miskin di bawah penjajahan Romawi, mengalami tekanan ekonomi dan sosial, serta merasa tertindas, sangat mirip dengan keadaan bangsa Israel setelah kembali dari pembuangan.

Firman Tuhan hari ini menegaskan bahwa Yesus datang untuk membawa kabar baik bagi yang merasa kecil, memulihkan hati yang terluka, membebaskan mereka yang tertawan oleh beban hidup, dan membuka jalan baru bagi yang kehilangan harapan. Ia mengumumkan tahun rahmat Tuhan, yaitu masa ketika Allah memberi kesempatan baru untuk bangkit dan dipulihkan. Yesus sengaja tidak melanjutkan bagian Yesaya tentang pembalasan karena fokus kedatangan-Nya adalah rahmat, bukan penghakiman (Yes. 61:2). Melalui diri-Nya, Allah menghadirkan kabar baik bagi yang tertekan, arah baru bagi yang bingung, dan kelegaan bagi mereka yang terikat oleh rasa bersalah, tekanan hidup, atau ketidakpastian masa depan, sebab banyak orang yang tidak terpenjara secara fisik pun tetap hidup dalam belenggu yang tidak terlihat.

Bapak Ibu yang dikasihi Tuhan, memasuki tahun yang baru ini, Yesus kembali mengingatkan bahwa Allah  telah menyatakan Tahun Rahmat-Nya melalui Yesus Kristus. Melalui Dialah, kita diberikan penyertaan dan tuntunan untuk mengatasi segala beban atau pun kekhawatiran kita. Tahun Rahmat Tuhan, berarti kita tidak dibiarkan berjalan sendiri di tahun ini, bahkan tahun-tahun berikutnya, tetapi ditolong dan disertai oleh-Nya. Mari percaya dan berharap teguh pada-Nya, sembari membenahi, menyerahkan dan memperbaharui hidup, agar kita sejalan dengan kehendak-Nya. Amin.

Doa Penutup:

Bapa yang Mahabaik, terima kasih atas firman-Mu yang telah kami dengar. Tolong kami untuk menghidupinya dalam kehidupan kami sehari-hari. Di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, kami berdoa. Amin.

CPdt. Daniel Purba

Renungan Marturia: Rabu, 7 Januari 2026

Nats Renungan: Imamat 1:1-2

Shalom Bapak Ibu saudara-saudari yang terkasih dalam nama Kristus Yesus, sebelum kita mendengarkan Firman Tuhan, kita satukan hati kita, kita berdoa. Syukur bagimu ya Allah Bapa yang bertakhta dalam Kerajaan Sorga, Engkau memanggil kami untuk mendengarkan FirmanMu. Buka hati dan pikiran kami agar FirmanMu dapat hidup dalam kehidupan kami, Amin. Yang menjadi nats renungan pada kita hari ini, tertulis dalam Imamat Pasal yang pertama ayat  sampai dua, demikian Firman Tuhan:

Ayat 1: TUHAN memanggil Musa dan berfirman kepadanya dari dalam Kemah Pertemuan:

Ayat 2: Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.

Bapak Ibu saudara-saudari, ada banyak suara yang memanggil manusia hari ini, suara tuntutan pekerjaan, suara ekspetasi keluarga, suara media sosial yang menuntut pengakuan, bahkan suara hati yang sering diliputi kecemasan dan rasa tidak layak. Namun ditengah hiruk pikuk itu, pertanyaan yang paling mendasar adalah suara siapa yang pertama sekali paling kita dengar Bapak Ibu. Imamat 1:1 ini membuka renungan ini dengan pertanyaan yang sangat sederhana, yakni Tuhan memanggil Musa dan berfirman kepadanya, artinya adalah Allah adalah Pribadi yang memulai relasi itu. Ia tidak menunggu manusia mencapai kesempurnaan, melainkan memanggil manusia dari tengah realitas hidupnya. Allah memanggil Musa dari dalam kemah pertemuan ini sangat penting, karena kemah pertemuan adalah simbol kehadiran Allah ditengah umat yang masih rapuh, yang masih baru keluar dari perbudakan Mesir. Allah tidak menunggu Israel menjadi bangsa yang matang secara moral terlebih dahulu. Ia hadir lebih dulu, memanggil lebih dulu, dan berbicara lebih dahulu. Artinya Allah berinisiatif, maka dapat dikatakan bahwa Ibadah bukanlah inisiatif manusia kepada Allah, tetapi respons manusia terhadap panggilan Allah, maka jangan tunggu bagaimana kematangan hidup kita, tetapi segera merespons panggilan inisiatif Allah memanggil kita umatnya, dan dikatakan juga apabila seorang mempersembahkan Korban kepada Tuhan. Kalimat ini juga berarti bahwa Allah juga yang membuka jalan, korban bukan sekedar ritual kosong, melainkan sarana relasi. Melalui korban manusia belajar bahwa mendekat kepada Allah yang Kudus dilakukan dengan cara sembarangan. Ada kesadaran akan dosa, kesadaran akan pengorbanan, adanya penyerahan diri, maka dapat dikatakan Bapak Ibu saudara-saudari terkasih, Allah menyediakan cara agar manusia tidak binasa oleh KekudusanNya, tetapi dipulihkan olehNya, maka dizaman ketika Ibadah direduksi menjadi rutinitas, sering dianggap sebagai formalitas, pengalaman emosional sesaat. Maka melalui Imamat 1:1-2 mengingatkan bahwa, Ibadah yang sejati dimulai dari kesadaran bahwa Allah lebih dahulu memanggil kita. Kita datang beribadah bukan karena kita layak, melainkan karena Allah berkenan berbicara menerima kita, membuka tanganNya. Dia tersalibkan dengan tangan yang terbuka, merangkul semua orang. Ibadah bukanlah panggung untuk menunjukkan kesalehan, tetapi ruang perjumpaan kepada Allah yang Kudus dan penuh Anugerah, Amen. Kita bersatu dalam doa. Kembali kami mengucap syukur ya Bapa buat BerkatMu, FirmanMu yang menyapa kami, yang mengajarkan kami Engkau adalah Allah yang berinisiatif untuk meanggil kami, untuk merangkul kami, untuk mengajak kami lebih dekat kepadaMu ya Tuhan, maka ajarilah kami, Roh KudusMu yang membumbing kami, agar kami semakin memahami panggilan yang daripadaMu dan semakin mendekatkan diri kepadaMu ya Bapa. Tuntun kami agar kami mampu melakukan FrimanMu dalam kehidupan kami dalam Kristus Yesus kami berdoa, Amin

 CPdt. Sebastian Butarbutar, S. Th.

Renungan Marturia: Selasa, 6 Januari 2026

 

Doa Pembuka,

Bapa kami di Surga, kami bersyukur untuk penyertaan dan kasih setia-Mu yang senantiasa hadir dalam hidup kami. Kami bersyukur Tuhan atas Kesehatan dan sukacita yang Kau berikan kepada kami hingga saat ini. Untuk memulai segala aktivitas dan pelayanan kami dalam satu hari ini, kami mau mendengarkan firman-Mu untuk dapat menopang dan menguatkan kami. Bukalah hati dan pikiran kami agar firman-Mu dapat melekat dalam hidup kami. Amin.

 

Renungan

Markus 1:15

“Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus, seberapa sering kita menunda sesuatu karena hal tersebut tidak begitu penting? Dan setelah ditunda apakah hal tersebut akan dilakukan? Atau mungkin jadi tidak dilakukan sama sekali? Sering kali kita mendulukan hal-hal yang tidak begitu penting dalam hidup ini, terlebih dalam hidup Kristen yang benar, sering kita tidak mendulukan kepentingan firman Tuhan dalam hidup kita masing-masing. Markus 1:15 merupakan ajakan yang tepat untuk kita tidak terlarut dalam hidup yang terus menunda, terlebih untuk bertobat dan percaya kepada Injil karena waktu telah genap. Ini bukan sesuatu yang harus ditunda, tapi harus dilakukan sekarang juga.

Tuhan melalui firman ini datang dalam waktu yang tepat. Disaat kita telah tergoda dan terjebak dalam dosa dan kejahatan dunia ini, Ia hadir untuk mengingatkan kita untuk bertobat dan turut pada Injil. Apa yang kita alami saat ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan rencana Tuhan untuk kita dapat tetap tertuju padaNya. Setiap rintangan pergumulan yang hadir, Tuhan juga turut serta didalamnya. Ia selalu menyertai dan menuntun kita menuju kehidupan yang lebih baik. Kerajaan Allah sudah dekat, bagaimana kita dapat merasakan Kerjaan Allah tersebut? Ketika kita mendengar kata Kerajaan, yang terlintas dipikiran kita ialah adanya aturan dan pemerintahan. Lantas dimana kita dapat menemukannya dalam hidup kehidupan kita sehari-hari? Sebagai umat Kristen, Tuhan memerintahkan kita dalam segala hal, dan berkat-Nya pun tersalur dalam kehidupan kita, namun masih banyak dari kita yang hanya mau menerima berkat tapi tidak mau menyatakan Kerajaan Allah dalam kehidupannya.

Bertobatlah! Bukan hanya hanya sebatas kata-kata dan keinginan sesaat, tapi sadari dan padangalah firman Tuhan, jika sebelumnya kita hanya berjalan dengan mengandalkan diri sendiri, saat ini marilah kita memandanga Tuhan untuk mengandalkan-Nya. Bertobat bukan karena hal buruk yang kita terima, melainkan sebuah keyakinan dan kepasrahan diri kepada Tuhan untuk hidup dijalan-Nya. Lakukanlah semua itu dengan percaya kepada Injil. Mengandalkan Tuhan berarti mengandalkan Injil dalam semua hal.

Bertobatlah dan percayalah kepada Injil, karena Kerajaan Allah sudah dekat! Bukan nanti, besok, atau lusa, tapi sekaranglah waktunya, kiranya firman ini dapat mengetuk pintu hati kita untuk mau menjalankan perintah-Nya. Lakukanlah semuanya karena semua sudah terpampang di depan kita dan waktunya telah genap! Amin.

Doa Penutup

            Terimakasih Tuhan untuk firman-Mu yang senantiasa mengingatkan kami untuk tetap hidup di jalan-Mu. Ajarlah kami untuk mau bertobat dan percaya kepada injil-Mu. Jadikanlah firman-Mu ini menjadi berkat bagi hidup kami, sehingga berkat itu dapat kami salurkan ketengah-tengah aktivitas dan pelayanan kami dalam satu hari ini. Terpujilah nama-Mu kini dan disepanjang segala masa. Amin.

CPdt. Porseales J  Leandro Hutabarat, S.Th. 

Renungan Marturia: Senin, 5 Januari 2026

Doa Pembuka..

Mari kita berdoa, Allah Bapa yang kami kenal di dalam Kristus Yesus. terima kasih atas kasih setia-Mu yang boleh kami rasakan hingga pagi hari ini. Sebelum kami memulai aktivitas kami dalam satu hari ini biarlah Firman-Mu menjadi penopang dan kekuatan baru bagi kami, untuk itu berkatilah hati dan fikiran kami agar boleh menerima dan memahami kebenaran Firman Tuhan. Di dalam nama anak-Mu Tuhan Jesus Kristus kami berdoa, Aminnn

Firman Tuhan bagi kita pada pagi hari ini tertulis dalam kitab Keluaran 3:14, “Firman Allah kepada Musa: ”AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: ”Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Demikian Firman Tuhan.

Bapa Ibu, saudara/i yang terkasih di dalam Kristus Yesus, Ketika Allah berkata, “AKU ADALAH AKU,” Ia tidak sekadar memberikan sebuah nama, melainkan menegaskan kehadiran-Nya yang setia. Di tengah berbagai pertanyaan dan kecemasan jemaat tentang ekonomi, kesehatan, dan masa depan, Tuhan menyatakan bahwa Ia tetap ada dan menyertai. Sebab sejatinya Iman Kristen bukan terutama tentang memahami semua jawaban atas persoalan hidup, tetapi tentang percaya bahwa Tuhan hadir dan bekerja di tengah ketidakpastian.

Allah yang menyatakan diri kepada Musa juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Ini menegaskan bahwa Tuhan yang sama yang menolong nenek moyang dan memimpin umat-Nya dari generasi ke generasi adalah Tuhan yang juga menyertai gereja dan jemaat pada masa kini. Zaman boleh berubah, tantangan boleh berbeda, tetapi kesetiaan Tuhan tetap sama dan tidak pernah berkurang.

Karena itu, seperti Musa yang dipanggil untuk melangkah meskipun merasa tidak mampu, jemaat juga dipanggil untuk tetap setia menjalani panggilan hidup dan pelayanan. Dalam kelemahan dan keterbatasan, jemaat diajak untuk percaya bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemampuan manusia, melainkan dari Tuhan yang berkata, “AKU ADALAH.” Dengan keyakinan akan kehadiran-Nya, jemaat dapat terus melangkah dengan iman, pengharapan, dan kesetiaan, karena Tuhan sungguh ada dan menyertai umat-Nya sepanjang masa.

Maka ketika kita percaya bahwa Tuhan selalu ada bagi kita kapanpun dan dimanapun, seharusnya kita dapat melangkah lebih berani dalam menjalani Tahun 2026 ini dengan penuh pengharapan dan percaya untuk semua yang akan terjadi Tuhan selalu ada bagi kita, amin.

Doa Penutup

Bapa kami yang di sorga, yang kami kenal di dalam nama Anak-Mu Yesus Kristus, terima kasih untuk Firman-Mu yang boleh kami dengarkan pada pagi hari ini, biarlah firman-Mu tetap tinggal di dalam hati kami dan menjadi pengingat serta pedoman bagi kami dalam menjalani aktivitas pada satu hari ini, Terpujilah Engkau Tuhan di dalam nama Anak-Mu Tuhan Yesus Kristus kami berdoa dan mengucap syukur, amin.

C.Pdt. Arif D.W. Simanjuntak

RENUNGAN APLIKASI MARTURIA (Evangelium Minggu Setelah Tahun Baru tgl.04 Januari 2026)

DARI KEPENUHAN-NYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA

(Ev. Yohanes 1 : 10 – 17)

Doa Pembuka:

Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal dan pikiran manusia, itulah kiranya memberkati hati dan pikiranmu, dalam Kristus Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita yang hidup. Amin!

[10]   Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

[11]   Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

[12]   Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

[13]   orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

[14]   Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

[15]   Yohanes memberi kesaksian tentang Dia, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”

[16]   Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;

[17]   sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,…!

Kalau kita memperhatikan judul di Alkitab, adalah satu bagian mulai dari ayat 1 – 18, dari Yohanes pasal 1 ini, yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diberi judul: “Firman Yang Telah Menjadi Manusia.” Siapakah yang dimaksud dengan judul tersebut? Tidak lain adalah Yesus Kristus. Rentetan peristiwa dalam kisah kelahiran Yesus Kristus sebagaimana dicatat dalam kitab Injil Matius, Markus dan Lukas; tidak demikian yang dituliskan dalam kitab Injil Yohanes. Kalau dalam kitab Injil Matius, Markus dan Lukas, dituliskan kisah atau peristiwa kelahiran Yesus Kristus; ada Yusuf dan Maria, kandang domba, kota kecil Betlehem sebagai tempat kelahiran Yesus, orang majus dari Timur, dan lain-lain. Tidak demikian di kitab Injil Yohanes. Kitab Injil Yohanes justru mencatat siapa Yesus yang sebenarnya. Hal itu dapat kita temukan di Yohanes pasal 1 ini. Dalam arti, maksud kedatangan Yesus ke dalam dunia ini. Dalam kitab Injil Yohanes ada beberapa sebutan kepada Yesus Kristus: Ia adalah terang (1:4); Yesus sebagai Air Kehidupan (4:10); Yesus sebagai Roti Kehidupan (6:33); Yesus sebagai Gembala Yang Baik (pasal 10).

Kalau kita baca Yohanes pasal 1 ini, kita dapat menemukan maksud dan tujuan Yesus datang ke dalam dunia ini. Yesus disebut Terang (ayat 4 dan 5) . Yesus datang untuk menerangi dunia ini. Terang berfungsi dalam situasi dan kondisi gelap. Di malam hari ketika gelap, kita membutuhkan terang, sehingga menyalakan lampu atau alat penerang. Bila aliran listrik padam, kita pasti akan mencari alat penerang, apakah itu senter, lilin, obor. Bisa juga mengambil handphone dan menyalakan senter yang terdapat di dalam handphone. Dunia ini telah diliputi kegelapan karena dosa dan kejahatan semakin merajalela di tengah-tengah dunia ini. Dalam hal ini kita membutuhkan Yesus Kristus yang akan menerangi hati umat manusia. Itulah salah satu maksud dan tujuan kedatangan Yesus Kristus.

Di ayat 11 dikatakan, Yesus Kristus datang atau hadir di tengah-tengah dunia ini, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Yang dimaksud di sini ialah, orang-orang yang hidupnya terlepas dari Yesus Kristus dan yang hidupnya tidak sesuai dengan kehendak dan ajaran Yesus. Itulah yang tidak mengenal Yesus. Ada juga banyak orang yang menolak kehadiran Yesus Kristus. Hal itu terjadi sejak kelahiran Yesus di tengah-tengah dunia ini, hingga saat ini. Berbagai cara dilakukan oleh banyak orang untuk menolak Yesus Kristus, dengan cara menolak kehadiran orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dengan melakukan penolakan, pengejaran, pengusiran, bahkan penganiayaan dan pembunuhan. Termasuk menolak kehadiran gereja di dunia ini; itu juga adalah bentuk penolakan kepada Yesus Kristus.

Tetapi banyak orang telah percaya kepada Yesus Kristus, yang telah menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya. Orang-orang yang telah percaya inilah yang diberi kuasa menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak di dalam Kerajaan Allah, itu berarti menjadi pewaris di dalam Kerajaan Allah, yaitu mewarisi kehidupan yang kekal. Itulah anugerah keselamatan bagi orang beriman. Orang yang menerima Yesus, hatinya akan diterangi dan ia akan berjalan sesuai dengan kehendak Yesus Kristus.

Kalau dalam ayat 17 dikatakan: “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” Kita tahu dalam Perjanjian Lama, Tuhan memberikan 10 Hukum Taurat kepada bangsa Israel dengan perantaraan Musa, yang akan menjadi aturan dan pedoman hidup bagi mereka. Tetapi kasih karunia atau anugerah hanya diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus. Kasih karunia terbesar bagi orang beriman adalah keselamatan. Kematian Yesus Kristus di kayu salib adalah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa dan maut. Kasih karunia Yesus Kristus harus disambut dengan iman. Iman kepada Yesus Kristus itu bukan iman yang pasif atau statis, tetapi yang harus dikerjakan, iman yang harus berbuat. Yakobus mengatakan: “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (2:17). Tunjukkan buah imanmu dalam perbuatan dan tindakan yang baik dalam hidup sehari-hari. Saudara-saudara,…terimalah Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, terimalah Dia sebagai terang yang menerangi hatimu, menerangi dan menuntun perjalanan hidupmu. Amin!

Doa Penutup:

Terimakasih Tuhan untuk berkat-Mu hari ini, yang boleh kami terima dan rasakan. Terimakasih untuk kesehatan, nafas kehidupan, yang senantiasa Tuhan anugerahkan dalam hidup kami. Kami bersyukur untuk Firman-Mu yang telah kami dengarkan. Kiranya Tuhan memeteraikannya di dalam hati kami, dan kiranya Tuhan memberikan kepada kami kekuatan, kemampuan dan ketekunan untuk melakukan firman dan kehendak-Mu dalam kehidupan kami sehari-hari. Dalam nama AnakMu Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami berdoa dan mengucap syukur. Amin!

Pdt. Manaris R. E. Simatupang, M.Th – Bendahara Umum HKBP

[email protected]

RENUNGAN APLIKASI MARTURIA (Epistel Minggu Setelah Tahun Baru tgl.04 Januari 2026)

DARI KEPENUHAN-NYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA

(Ep. Mazmur 147 : 12 – 20)

[12]   Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion!

[13]   Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu.

[14]   Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik.

[15]   Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari.

[16]   Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu.

[17]   Ia melemparkan air batu seperti pecahan-pecahan. Siapah yang tahan berdiri menghadapi dingin-Nya?

[18]   Ia menyampaikan firman-Nya, lalu mencairkan semuanya, Ia meniupkan angin-Nya, maka air mengalir.

[19]   Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel.

[20]   Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal. Haleluya!

Tuhan itu Mahabesar! Kebesaran Tuhan dapat kita lihat dari banyak hal. Salah satunya melalui dunia dan segala isinya. Dunia ini dan segala ciptaan di dalamnya ada, karena Tuhan yang menciptakan. Tidak ada oknum yang lain, selain Allah yang dapat menciptakannya. Terutama manusia, sebagai mahkota ciptaan Tuhan, yang berbeda dari ciptaan yang lain. Karena manusia diciptakan memiliki akal, yang tidak dimiliki ciptaan yang lain. Anggota-anggota tubuh manusia juga ditempatkan sedemikian rupa, sehingga begitu baik kelihatannya dan juga dapat berfungsi dengan baik. Mengagumi kebesaran Tuhan dapat kita lakukan dengan mengunjungi tempat-tempat wisata alam, seperti: daerah tepi pantai, danau, pegunungan, dan lain-lain. Kita sering takjub melihat alam semesta ciptaan Tuhan. Banyak turis dari dalam dan luar negeri yang datang ke Bali, bukan hanya untuk menikmati suguhan pagelaran budaya, tetapi juga untuk menikmati pemandangan alamnya yang indah dan eksotik. Kawasan danau Toba juga tidak kalah indahnya dari Pulau Bali.

Kebesaran Tuhan juga dinyatakan atas umat manusia, terutama atas diri umat Israel sebagai umat pilihanNya, sebagaimana dinyatakan dalam Perjanjian Lama. Ketika bangsa itu diperbudak di Mesir dalam kurun waktu 400 tahun, Tuhan membebaskan umatNya. Dan dalam perjalanan di padang gurun menuju tanah perjanjian, Tuhan pun menunjukkan kuasaNya dengan berbagai cara. Tuhan menyediakan makanan dan minuman; Tuhan mendatangkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun perjalanan mereka sekaligus melindungi tubuh mereka dari cuaca ekstrim di padang gurun. Tuhan melalui Musa membelah laut Merah agar bangsa Israel dapat meloloskan diri dari kejaran tentara Firaun, dan lain-lain. Oleh karenanya umat Israel bernyanyi memuji Tuhan, sebagai bentuk ungkapan syukur atas berkat, penyertaan dan pertolongan Tuhan dalam hidup mereka. “Bernyanyilah bagi Tuhan dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!” (ayat 7).

Tindakan, perbuatan atau mujizat Tuhan tersebut dapat juga kita rasakan dalam kehidupan kita dalam berbagai hal. Tuhan juga mau dan mampu melakukan mujizatnya dalam kehidupan kita; dan yang pasti kita pasti pernah merasakannya. Pertolongan Tuhan juga dapat kita rasakan ketika kita dalam keadaan lemah, sehingga kita menjadi kuat Kembali; ketika sakit, Tuhan menyembuhkan; ketika menghadapi kesulitan atau persoalan besar, Tuhan memberikan jalan keluar dan pertolonganNya. Banyak lagi hal yang lain.

Kita adalah orang-orang yang telah merasakan dan menikmati kebesaran Tuhan di dalam kehidupan kita masing-masing. Hal yang patut kita lakukan adalah memuji dan memuliakan Tuhan, terutama melalui nyanyian pujian. Memuliakan Tuhan dapat juga kita lakukan dengan memberikan persembahan kepada Tuhan dan mempersembahkan diri kita dengan cara ikut dalam pelayanan di tengah-tengah gereja dan di tengah-tengah masyarakat. Hal tersebut merupakan respon atau tanggapan kita atas kebesaran Tuhan yang dinyatakan dalam hidup kita; atau sebagai bentuk ucapan Syukur kita kepada Tuhan. “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya” (Mzm 107:1).  “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya” (Mzm 103:2). Amin,…!

Pdt. Manaris R. E. Simatupang, M.Th – Bendahara Umum HKBP

HKBP Channel

Video Terkait Lainnya

11 Videos
Scroll to Top