HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN
SILANGIT (14/1) – Panitia Sosialisasi Sistem Budgeting HKBP menggelar rapat perdana di Perkampungan Pemuda Jetun Silangit, dipimpin oleh Pdt. Rein Justin Gultom sebagai ketua panitia, Pdt. Same Siahaan sebagai sekretaris panitia, dan Pdt. Manaris Simatupang sebagai Bendahara. Pertemuan yang dibuka dengan doa oleh Pdt. Esron Siregar ini bertujuan mematangkan persiapan sosialisasi sistem budgeting HKBP yang akan diselenggarakan pada hari Selasa tanggal 27 Januari 2026 mendatang. Fokus utama rapat adalah merumuskan anggaran per seksi untuk pelaksanaan Training for Trainers (ToT) bagi Bendahara Huria, Parhalado Parartaon, Sekretaris, dan Pendeta Resort se-Tapanuli Raya. Panitia berkomitmen menjalankan tugas sesuai Surat Penugasan Ephorus guna mewujudkan tata kelola keuangan HKBP yang lebih transparan dan akuntabel.
TARUTUNG (14/1) – Ephorus HKBP melalui akun media sosialnya memberikan pemaknaan mendalam terhadap Doa Bapa Kami dalam konteks krisis ekologis saat ini. Berdasarkan teks asli Yunani, permohonan “makanan secukupnya” lebih tepat dimaknai sebagai “apa yang dibutuhkan untuk hidup.” Hal ini menegaskan bahwa doa tersebut bukan sekadar permohonan, melainkan pedoman etika untuk membatasi kerakusan dan peduli terhadap sesama. Ephorus menekankan bahwa kerusakan lingkungan di Indonesia berakar pada ketamakan segelintir pihak. Mengutip Mahatma Gandhi, beliau mengingatkan bahwa bumi cukup untuk kebutuhan semua orang, namun tidak akan pernah cukup untuk memuaskan ketamakan. Pesan ini menjadi seruan bagi warga HKBP untuk hidup bersahaja dan bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian alam demi kelangsungan hidup bersama.
TARUTUNG (13/1) – Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, melaporkan bahwa bantuan dana kemanusiaan yang terkumpul melalui Satgas Peduli Kasih HKBP telah mencapai hampir Rp12 miliar. Dari jumlah tersebut, lebih dari Rp8 miliar telah disalurkan secara bertahap kepada jemaat terdampak bencana berdasarkan skala prioritas dan koordinasi ketat dengan para Praeses di wilayah terdampak. Ephorus menyampaikan apresiasi mendalam kepada para donatur dan menyerukan doa bagi penguatan warga yang menderita akibat bencana ekologis. Beliau juga menegaskan sikap gereja untuk menentang perusakan lingkungan dan eksploitasi hutan guna mencegah bencana lebih dahsyat. Komitmen ini mempertegas peran HKBP dalam misi kemanusiaan sekaligus pelestarian keutuhan ciptaan Tuhan.
SIBOLGA (12/1) – Sekretaris Jenderal HKBP, Pdt. Rikson M. Hutahaean, M.Th, memimpin Ibadah Syukuran Bona Taon Distrik IX Sibolga-Tapteng-Nias pada Senin. Dalam kunjungan tersebut, Sekjen HKBP bersama Praeses Pdt. Nikson Simanjuntak menyerahkan bantuan “Tali Kasih” secara simbolis kepada warga jemaat yang terdampak bencana alam di wilayah tersebut. Penyaluran bantuan juga dilakukan melalui Pendeta Resort HKBP Sarudik, Pdt. Nommensen Sibagariang, untuk menjangkau jemaat yang tidak dapat hadir berdasarkan data dari sintua lingkungan. Melalui aksi diakonia ini, pimpinan HKBP memberikan penguatan spiritual dan dukungan nyata agar seluruh jemaat serta pelayan tetap semangat dan teguh dalam menghadapi masa pemulihan pascabencana.
MENTAWAI (13/1) – Pospel HKBP Kepulauan Mentawai, yang baru berdiri selama empat bulan, kini tengah mengupayakan pembangunan rumah ibadah permanen pertama di wilayah tersebut. Saat ini, jemaat yang berkembang pesat dari 17 KK menjadi hampir 30 KK masih beribadah sementara di Aula Kodim 0319 Mentawai. Dipimpin Pdt. Tampil Mancari Parapat, jemaat telah berhasil menyediakan lahan seluas 40 x 80 meter secara swadaya. HKBP mengajak partisipasi donasi dari seluruh jemaat melalui rekening BRI 7919-01-017238-53-5 (Panitia Pembangunan HKBP Mentawai). Inisiatif ini merupakan langkah bersejarah bagi perluasan pelayanan HKBP dalam menghadirkan pusat persekutuan dan kesaksian iman di Kepulauan Mentawai.
LAGUBOTI (12/1) – Kepala Departemen Marturia HKBP, Pdt. Bernard Manik, memimpin ibadah Open House sekaligus menjadi narasumber Kuliah Umum di Sekolah Tinggi Bibelvrouw (STB) HKBP. Mengawali semester genap, dengan membawakan topik “Pengajaran Iman di Tengah Keluarga” berdasarkan Ulangan 6:4–7, yang selaras dengan Orientasi Pelayanan HKBP 2026. Dalam khotbahnya (Matius 25:24–30), beliau menekankan pentingnya mengembangkan potensi diri sebagai wujud kesetiaan kepada Tuhan. Kegiatan ini disambut antusias oleh para mahasiswi dan dosen. Melalui momentum ini, Departemen Marturia mendorong STB HKBP agar terus mencetak pelayan yang berkarakter dan mampu menjadikan keluarga sebagai basis utama pembentukan iman jemaat.
PEARAJA (13/1) – Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga, memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) perdana tahun 2026 di Ruang Oval, Kantor Pusat HKBP, Tarutung. Pertemuan ini menjadi momentum strategis untuk mengevaluasi kinerja departemen selama satu bulan terakhir sekaligus memantapkan langkah pelayanan ke depan. Dalam rakor tersebut, Departemen Koinonia resmi meluncurkan Kalender Pelayanan 2026 dan menyusun persiapan implementasi program kerja untuk satu bulan mendatang. Pdt. Deonal menekankan pentingnya sinergi dan efektivitas dalam menjalankan program agar selaras dengan orientasi pelayanan HKBP tahun ini. Melalui koordinasi yang solid, Departemen Koinonia berkomitmen meningkatkan kualitas persekutuan dan pembinaan iman bagi seluruh jemaat HKBP.
SIBOLGA (12/1) – HKBP menggelar Bazaar Pakaian Gratis di HKBP Sibuluan, Distrik IX Sibolga-Tapteng-Nias, yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari Minggu, 11 Januari hingga Selasa, 13 Januari 2026. Pada hari kedua, Senin, 12 Januari 2026, tercatat lebih dari 1.000 pengunjung memadati lokasi untuk mendapatkan pakaian layak pakai hasil donasi jemaat HKBP Distrik DKI Jakarta dan Deboskab. Kegiatan yang diinisiasi Departemen Diakonia HKBP ini bertujuan meringankan beban ekonomi jemaat terdampak bencana serta masyarakat sekitar. Aksi solidaritas ini menjadi bukti nyata kepedulian lintas distrik HKBP dalam membantu pemulihan kondisi sosial jemaat pascabencana. Melalui bantuan ini, gereja berharap jemaat merasakan kehadiran kasih Kristus yang nyata di tengah masa-masa sulit.
BATU ONOM (11/1) – Jemaat HKBP Perumnas Batu Onom menyelenggarakan ibadah syukur Bona Taon 2026 di Gedung Sekolah Minggu sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan. Kegiatan ini menjadi sarana strategis untuk mempererat kebersamaan antara jemaat dan para pelayan, termasuk pendeta ressort, pendeta fungsional, bibelvrouw, serta seluruh elemen parhalado dan utusan kategorial. Acara yang dipimpin Pdt. Sabar M. Lubis ini berlangsung tertib dengan kehadiran perwakilan sektor, panitia pembangunan, hingga remaja-naposo. Melalui syukuran ini, HKBP Perumnas Batu Onom secara resmi memulai tahun pelayanan baru dengan semangat kesatuan. Rangkaian kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk melayani lebih sungguh di tengah tantangan pelayanan tahun 2026.
Berita Terkini HKBP



Renungan Harian HKBP
Renungan Terkini
RENUNGAN HARIAN MARTURIA: Rabu, 14 Januari 2026
Selamat pagi dan Selamat Tahun Baru bagi Bapak, Ibu dan Saudara-saudara yang kami kasihi di dalam Kristus Yesus Tuhan kita. Semoga di pagi hari ini kita dalam keadaan sehat dan penuh sukacita. Saudara-saudara sebelum kita kembali melakukan pekerjaan kita sepanjang hari ini, terlebih dahulu kita akan merenungkan Firman Tuhan yang akan menjadi kekuatan bagi kita, untuk itu mari kita berdoa dalam hati kita masing-masing.
Saat teduh…………
Doa Pembuka : Kami memuji dan memuliakan namaMu ya Tuhan Allah Bapa kami didalam nama AnakMu Tuhan Yesus Kristus. Di pagi hari ini kami bersyukur kepadaMu atas berkatMu yang kami peroleh hingga pada saat ini. Ya Tuhan, kami ingin melakukan pekerjaan kami pada satu hari ini, kiranya Tuhan menolong kami. Dan sebelumnya, kami ingin dikuatkan oleh kebenaran FirmanMu, bukalah hati kami agar mengerti dan mau melakukan kehendakMu. Hanya didalam nama Yesus, kami berdoa dan mengucap syukur kepadaMu. Amin
Nats Renungan : Yosua 1 : 9
“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu : kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Jangan kecut dan tawar hati, sebab Tuhan Allahmu menyertai engkau, kemanapun engkau pergi”
Bapak ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus
Yosua yang baru saja menggantikan Musa memimpin bangsa Israel pasti akan merasakan banyak tantangan, hambatan yang membuat dia gentar. Ia harus memimpin bangsa yang besar dan berjalan menyeberangi sungai Yordan juga akan memasuki tanah Kanaan, yaitu tempat yang belum pernah ia kenal. Karena itulah Tuhan memberi perintah, juga sebagai dorongan kepada Yosua : Kuatkan dan teguhkanlah hatimu”
Saudara-saudara, Perintah tersebut menunjuk kepada sikap Yosua supaya jangan gentar, tetapi harus kuat dan berani, kunci supaya kuat dan berani, ialah keyakinan kepada kekuatan Tuhan yang selalu mau dan ada untuk menyertai. Saudaraku…..apa sebabnya kita sering ragu bahkan tidak berani menghadapi tantangan hidup ini ? kita kurang meyakini Tuhan dan kuasaNya. Bahkan rasa khawatir yang ada pada kita, itu sering terjadi karena kita selalu mengandalkan pikiran dan kekuatan kita sendiri, yang ternyata pikiran dan kekuatan kita tidak akan mampu untuk menghadapinya. Untuk itu kita perlu memahami dan meyakini bahwa hanya oleh penyertaan Tuhanlah kita akan memperoleh kekuatan dan keberanian.
Saudara-saudara, Petunjuk atau perintah itu, adalah sebagai jaminan bagi Yosua, yang memastikan bahwa Yosua bersama umat akan sanggup menghadapi rintangan dalam perjalanan mereka, apabila Yosua selalu tunduk dan taat akan petunjuk Tuhan. Yosua akan dimampukan untuk melakukan segala tugas-tugas yang begitu berat, bahkan Tuhan akan selalu ada menyertai kemanapun dia pergi, hingga Yosua bersama umat akan berhasil memasuki tanah perjanjian tersebut.
Bapak,Ibu dan saudara-saudara, Petunjuk tersebut, juga sangat berguna bagi kita. Jika pada hari ini memang sudah kita jalani Empat Belas hari di Tahun Baru 2026 ini, itu tidak berarti bahwa kita sudah terjamin akan mampu, kuat dan berani untuk melangkahkan kaki kita hingga ke akhir tahun nanti. Bisa saja kita semakin dipenuhi oleh ke khawatiran, apalagi melihat dan mengalami betapa banyaknya persoalan hidup yang kita jalani seperti sekarang ini, ada musibah dari bencana alam, persoalan ekonomi dan politik. Bagaimana kita sanggup menghadapinya tanpa rasa khawatir dan berani ? “iman dan keyakinan” kita kepada Tuhan, itu saja yang dapat kita andalkan, dan kita harus yakin, Tuhan akan menolong kita jika kita taat dan tunduk kepadaNya. Janganlah kecut dan tawar hati, tetapi kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu bahwa Tuhan akan menyertai kita. Ingat, Tuhan tidak selalu menjanjikan jalan yang mudah untuk kita lalui, tetapi Tuhan selalu menjanjikan PenyertaanNya bagi kita. Amin
Doa Penutup
Terimakasih ya Tuhan Allah Bapa kami atas FirmanMu yang telah kami dengarkan di pagi hari ini. Oleh FirmanMu kami diingatkan supaya kami berjalan melewati hari-hari hidup kami yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Melalui FirmanMu kami disadarkan bahwa Tuhan ada dan selalu ada untuk menyertai kami, oleh karena itu Tuhanlah yang membimbing kami, memberi keyakinan dan keteguhan hati, supaya kami kuat dan berani menjalani hari-hari hidup kami ini. Dalam satu hari ini, kami kembali akan melanjutkan pekerjaan kami, kiranya Tuhan selalu menolong kami dan memberi kesehatan dan kekuatan bagi kami, jagailah kami dan berkati segala pekerjaan kami yang berkenan di hadapanMu. Kami menyadari betapa banyak dosa dan kesalahan kami di hadapanMu, kami memohon hapuskanlah dan sucikanlah kami melalui darah AnakMu Yang kudus. Terimalah doa dan syukur kami kepadaMu. Hanya di dalam nama Yesus, kami berdoa kepadaMu. Amin
Berkat : Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus, Kasih setia dari Allah Bapa, dan Persekutuan dari Roh Kudus, itulah kiranya yang menyertaimu, hari ini sampai selama-lamanya! Amin
Pdt. Samsir Hutagalung, M.Div
Renungan Harian Marturia: Selasa, 13 Januari 2026
Doa Pembuka : Marilah kita berdoa! Allah Bapa yang bertahta di Kerajaan Sorga, Allah Sang Pemilik kehidupan, kami mengucap syukur atas pernyertaan dan berkat Tuhan yang selalu kami rasakan disepanjang kehidupan kami. Kami juga bersyukur dan bersukacita atas satu hari baru yang Engkau anugerahkan bagi kami. Pada saat ini ya Allah kami hendak dituntun oleh Firman-Mu, berilah kami hikmat kebijaksanaan, agar Firman ini dapat menjadi pegangan kami dalam menjalani kehidupan. Dalam Kristus kami berdoa, Amin.
Bapa Ibu, saudara-saudari Firman Tuhan yang menjadi renungan kita hari ini diambil dari Kisah Para Rasul 1:8 beginilah Firman Tuhan…
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”.
Bapa Ibu saudara/i terkasih, bayangkan hidup kita seperti sebuah ponsel. Kita tahu ponsel itu punya banyak fitur hebat, tetapi tanpa daya, semua itu sia-sia; layarnya gelap, tidak bisa melakukan apa-apa. Kuasa Roh Kudus layaknya Baterai Ilahi kita. Yesus tidak langsung menyuruh murid-murid-Nya berlari dan bersaksi dalam keadaan bingung dan ketakutan. Ia meminta mereka menunggu hingga mereka menerima kuasa Roh Kudus. Kuasa ini mengubah kelemahan menjadi kekuatan, membuat kita untuk menanggung misi yang besar. Tanpa “pengisian daya” Roh Kudus, upaya kita bersaksi akan cepat melelahkan, terasa hampa, dan tidak berdaya.
Bapa Ibu, ayat ini mengajak kita untuk bergantung pada energi Roh Kudus. Seringkali, kita mencoba melayani dengan kekuatan dan kepintaran kita sendiri, padahal itu sama saja seperti mencoba menyalakan ponsel yang mati dengan mengguncang-guncangnya. Kita akan lelah dan frustrasi. Kuasa Roh Kudus adalah daya yang mengubah kata-kata biasa kita menjadi benih Injil yang hidup, dan mengubah tindakan kasih kita menjadi bukti nyata kehadiran Kerajaan Allah. Inilah yang membedakan kesaksian kita dari sekadar motivasi atau nasihat biasa.
Setelah menerima Baterai Ilahi tersebut, barulah datang perintah untuk bersaksi, sebuah misi yang memiliki peta jelas: mulai dari Yerusalem (lingkungan terdekat kita, keluarga, rekan kerja), meluas ke Yudea dan Samaria (lingkungan yang lebih jauh atau mungkin lingkungan yang kurang kita sukai), hingga Sampai ke Ujung Bumi. Seringkali, kita ingin langsung melompat ke “ujung bumi”—melakukan hal-hal besar—sambil mengabaikan “Yerusalem” kita. Padahal, kita harus mulai dari tempat kita berdiri. Misi dimulai dari integritas kita di rumah dan kejujuran kita di tempat kerja, di mana karakter kita menjadi kesaksian bisu yang paling kuat.
Maka dari itu, untuk mempraktikkan janji ini, langkah pertama kita adalah memprioritaskan pengisian daya. Luangkan waktu setiap pagi untuk meminta Roh Kudus memenuhi kita, memohon kekuatan-Nya agar kesaksian kita tidak hanya berupa pendapat kita sendiri. Kedua, kita dipanggil untuk menjadi saksi. Tugas kita adalah menceritakan apa yang telah kita lihat dan alami, apa yang Kristus lakukan dalam hidup kita. Di “Yerusalem” kita hari ini—di rumah atau kantor— carilah kesempatan untuk membagikan satu hal spesifik tentang kebaikan Tuhan yang kita alami. Mari kita melampaui zona nyaman kita dengan menunjukkan kasih Kristus secara nyata. Mari kita hidup dengan “Baterai Ilahi” yang penuh, dan dengan keberanian, mulai bersaksi dari tempat kita berdiri. Amin
Doa Penutup : Kami bersyukur Tuhan atas FirmanMu yang senantiasa mengingatkan kami bahwa hidup kami harus selalu dipenuhi dengan Roh Kudusmu. Mampukan kami untuk meneladani Engkau dan mengandalkan Engkau disetiap langkah kehidupan kami. Biarlah hidup kami selalu memancarkan perbuatan-perbuatan baik supaya Nama-Mu selalu dimuliakan. Dalam Kristus kami berdoa, Amin.
C.Pdt. Naomi Greta Angelia Panjaitan, S.Th – LPP I di Biro TIK HKBP
RENUNGAN HARIAN MARTURIA: Senin, 12 Januari 2026
Doa Pembuka:
Allah Bapa yang kami sembah di dalam Anak-Mu, Tuhan Yesus Kristus. Kami bersyukur atas semua nikmat hidup yang telah Tuhan berikan pada kami. Tuntunlah kami, ya Tuhan, agar terus mensyukuri hidup kami dan senantiasa terhubung pada-Mu. Terlebih, dalam memahami dan menghidupi Firman-Mu. Amin.
Bapak/Ibu, yang menjadi ayat renungan kita hari ini tertulis di dalam Ulangan 6 : 5. Beginilah bunyi Firman Tuhan,
“Kasihilah TUHAN Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Bapak/Ibu yang dikasihi Tuhan, sering kali kita datang kepada Tuhan dengan doa, pujian, dan persembahan, tetapi kita tidak sungguh jujur di hadapan-Nya. Kita rajin berdoa, namun jarang bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya kita cari. Apakah kita datang karena ingin mencari dan mengalami Tuhan, atau karena ada sesuatu yang ingin kita peroleh dari-Nya. Dalam setiap doa yang kita panjatkan, kehendak siapa yang lebih banyak kita suarakan, kehendak Tuhan atau kehendak kita sendiri? Bisa jadi kita bukan sedang mencari kehendak Tuhan, melainkan sedang berusaha meyakinkan Dia agar menjadikan keinginan kita sebagai kehendak-Nya.
Pertanyaan-pertanyaan ini penting sebagai bahan perenungan iman kita, karena iman tidak diukur dari seberapa sering kita menyebut nama Tuhan. Iman diukur dari apa yang benar-benar menguasai hati, pikiran, dan kekuatan kita. Pada moment inilah kita diajak kembali kepada inti pengakuan iman Israel, sebuah pengakuan yang tidak hanya menyatakan siapa Tuhan itu, tetapi juga menuntut seluruh hidup agar tertuju kepada-Nya.
Pengalaman nyata bangsa Israel yang hidup dibawah kesetiaan Allah yang melindungi dan memelihara mereka, itulah yang kini menuntut kasih mereka pada-Nya. Oleh karena itu, kasih kepada Tuhan bukanlah usaha untuk mendapatkan berkat, melainkan tanggapan iman atas kesetiaan Tuhan yang lebih dahulu hadir dalam kehidupan kita. Kasih itu mencakup seluruh keberadaan manusia. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati berarti kita bersedia menyerahkan pertimbangan dan keputusan hidup kepada-Nya. Mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa berarti menjadikan Dia pusat kehidupan, bukan sekadar salah satu bagian dari hidup kita. Mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan berarti mempersembahkan waktu, tenaga, dan seluruh kemampuan yang kita miliki bagi kemuliaan-Nya.
Di sinilah iman kita sering kali diuji. Kita dengan mudah berkata “aku mengasihi Tuhan”, tapi hanya ketika hidup berjalan sesuai dengan harapan kita. Namun Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk mengasihi Dia bukan karena apa yang kita terima dari-Nya, melainkan karena Dia adalah keseluruhan hidup kita. Karena kasih yang sejati tidak menempatkan Tuhan sebagai alat untuk mencapai tujuan, tetapi mengakui Dia sebagai tujuan itu sendiri. Dari kasih yang seperti inilah lahir ketaatan yang sejati, ketaatan yang dilakukan dengan kerelaan dan sukacita, bukan dengan keterpaksaan. Ia tampak dalam kata-kata yang kita ucapkan, dalam keputusan yang kita ambil, dan dalam cara hidup yang kita jalani setiap hari. Dengan demikian, mengasihi Tuhan bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan menjadi cara hidup kita, umat-Nya. Amin.
Doa Penutup:
Kami memuji Engkau ya Allah yang setia memelihara dan memberkati hidup kami. Engkau yang selalu mengasihi kami dan memberikan yang terbaik bagi hidup kami. Untuk itu, ya Tuhan, tolonglah kami agar mampu merespon kasih-Mu dengan menjadikan-Mu sebagai tujuan hidup kami. Biarlah totalitas kehidupan kami, yaitu hati, jiwa dan kekuatan, kami persembahkan bagi kemuliaan Tuhan. Amin.
CPdt. Rosmauli Sianipar
RENUNGAN Minggu I Setelah Epiphanias: Minggu, 11 Jan 2026
Yesaya 42:1-9 “Allah menyatakan keselamatan”
Bapa Ibu Saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus…Selamat hari Minggu.
Pada Minggu I setelah Ephipanias ini, kita akan bersekutu dengan Tuhan melalui Firmannya. Marilah kita berdoa :
“Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, itulah yang memelihara hati dan pikiranmu, dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Amin”
Firman Tuhan yang menjadi khotbah bagi kita pada Minggu I set. Ephipanias ini:
Yesaya 42:1-9 “Allah Menyatakan Keselamatan”
Prinsip “siapa yang kuat, dia yang selamat” (Survival of the Fittest) yang dipopulerkan filsuf Herbet Spencer, mengandung arti bahwa keselamatan itu bergantung pada diri manusia itu sendiri: kekuatannya, kekayaannya, kemampuan, kepintarannya. Dengan demikian, posisi orang yang lemah, miskin akan sulit mendapat kesempatan,Bahkan bisa saja terancam. Seperti terkandung dalam falsafah Batak “Na bisuk nampuna hata, na oto tu pargadisan”, seseorang bisa mengendalikan oranglain yang lebih lemah nalar atau kemampuan berpikirnya.
Namun dalam nas ini ditunjukkan bahwa Tuhan tidak membiarkan umatnya berada dalam prinsip hidup yang sedemikian, makanya Ia hadir melalui seorang “hamba” yang diutus ke tengah dunia yang telah rusak tersebut. Sang mesias yang disebut “hamba” Tuhan bertindak dengan penuh kasih dan perhatian. Pertama, secara khas Tuhan menunjukan bahwa keselamatan yang akan dihadirkan tertuju bagi semua pihak, bahkan bagi setiap mereka yang tidak lagi sanggup untuk mempertahankan dirinya. Keselamatan itu tidak perlu dimiliki dengan prinsip ‘yang kuat yang akan bertahan’ karena TUHAN sendirilah yang akan menguatkan mereka yang lemah demi mengalami keselamatan. Dengan kata lain, keselamatan dari TUHAN adalah murni anugerah yang merangkul, menguatkan, dan membangkitkan setiap orang.
Kedua, Hamba Tuhan tersebut membawa harapan, pemulihan, dan keadilan sejati dengan cara yang lembut dan penuh kasih, mengundang setiap orang untuk mengalami dan membagikan kabar baik ini. Dia bekerja atas pimpinan Roh Allah, sehingga Ia bertindak sesuai dengan tuntunan Roh itu: menegakkan keadilan bukan hanya bagi Israel tetapi bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Ia akan menjadi terang bagi bangsa-bangsa, membuka mata orang buta, membebaskan tawanan, dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap. Ia tidak akan berseru atau membentak; Ia tidak akan mematahkan buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar, melainkan dengan lembut memulihkan mereka yang rusak dan putus asa. TUHAN menyatakan hal-hal baru, hal-hal yang belum terjadi, yaitu karya keselamatan dan keadilan-Nya yang baru melalui Hamba-Nya.
Ini adalah kabar baik bagi kita dan telah nyata di dalam karya penebusan Yesus yang universal, yang menguatkan dan meneguhkan iman kita, di dalam Yesus hamba Allah yang telah menyatakan diriNya diam bersama dengan kita, akan bertindak menyelamatkan kita. Seperti buluh yang patah dan sumbu yang pudar, orang yang merasa tidak berharga atau berdosa tetap berharga di mata Yesus. Dia tidak akan membuang kita. Yesus datang untuk memperbaiki dunia dengan kelembutan. Kita dapat datang kepada-Nya dengan segala kelemahan dan dosa, dan Dia akan menerima kita. Amin.
************************
EPISTEL:
KISAH PARA RASUL 10:34-43
Kita diciptakan Tuhan berbeda, namun bukan berarti kita dibeda-bedakan. Kenyataannya, dalam relasi sosial, sering terjadi pembeda-bedaan atas suku, marga, ras, warna kulit dan bahasa, termasuk strata sosial. Yang lebih parah, terjadi sikap rasialis yang menghasilkan ketidakadilan, pertikaian, bahkan peperangan. Orang Yahudi pernah mengalami penderitaan dahsyat karena perlakuan rasialis dari bangsa Jerman. Namun banyak orang Yahudi pada masa Perjanjian Baru pun bersikap rasialis. Mereka merasa satu-satunya umat Allah yang berhak atas semua janji-Nya. Bangsa-bangsa lain tak lebih daripada binatang yang tak layak mendapat anugerah Allah.
Khotbah Petrus kepada Kornelius dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang. Allah berkenan atas setiap orang dari bangsa manapun yang datang dengan tulus mencari-Nya termasuk Kornelius yang adalah seorang kafir. Rahasia perkenanan Allah atas semua orang ini terletak pada diri Yesus Kristus (ayat 36-38). Yesus yang datang ke dunia ini mengerjakan karya keselamatan untuk membuat orang berkenan kepada Allah. Melalui kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus telah menyediakan jalan keselamatan untuk semua orang, semua bangsa.
Petrus, sebagai seorang Yahudi belajar mengatasi sikap rasialis dan menerima Kornelius, seorang kafir sebagai sesama manusia yang dikasihi Allah (ayat 34). Bahkan Petrus menyadari bahwa panggilannya mengikut Yesus adalah untuk memberitakan keselamatan bagi semua orang (ayat 42). Jika Yesus telah menerima semua orang dari suku bangsa manapun dan memberikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepadaNya, bukankah kita juga seharusnya meneladani sikap Yesus tersebut? Kita patut bersyukur karena hanya oleh karya Kristuslah kita bisa datang kepada Allah dan layak disebut sebagai umat-Nya. Tugas kita sekarang adalah memberitakan anugerah itu kepada semua orang lintas ras, suku, bangsa, dan bahasa, juga status sosial. Amin.
Pdt. Daniel Napitupulu
Renungan Marturia: Sabtu, 10 Januari 2026
Yohanes 3:16
Bapak, Ibu, Saudara Sekalian, Dalam kehidupan sehari-hari, kata kasih sering terdengar, namun tidak selalu mudah untuk dijalani. Kita hidup di dunia yang penuh perhitungan: untung dan rugi, aman dan berisiko, memberi sejauh tidak merugikan diri sendiri. Banyak relasi rusak karena kasih dipahami sebatas perasaan, bukan komitmen. Kita mencintai selama tidak terluka, memberi selama masih nyaman. Di tengah realitas inilah Yohanes 3:16 berbicara dengan sangat tajam dan jujur.
Kasih Allah dalam ayat ini bukan kasih yang abstrak atau sekadar emosi ilahi. Kata “begitu besar” menunjukkan ukuran kasih yang melampaui batas kewajaran manusia. Allah mengasihi dunia—bukan hanya orang benar, bukan hanya orang yang diannggap layak, tetapi dunia yang telah jatuh dalam dosa dan pemberontakan. Kasih ini tidak berhenti pada niat baik, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata yaitu Allah memberikan Anak-Nya.
Bapak, Ibu, Saudara Sekalian, “Memberikan Anak” dalam nas ini adalah tindakan yang penuh risiko dan penderitaan. Kasih Allah bukan kasih yang aman. Ia tahu dunia akan menolak, dunia akan menghakimi, bahkan dunia akan menyalibkan Anak-Nya. Namun Allah tetap memilih jalan itu. Di sinilah Injil menjadi sangat realistis: keselamatan tidak datang dari usaha manusiayang naik kepada Allah, melainkan dari Allah yang turun memasuki kerapuhan manusia.
Tujuan kasih ini juga jelas: supaya manusia tidak binasa. Ini bukan ancaman kosong, melainkan pengakuan jujur tentang kondisi manusia tanpa Allah yaitu hidup yang kehilangan arah, yang kehilangan makna, dan pengharapan sejati. Namun Allah tidak berhenti pada penyelamatan dari kebinasaan; Ia menawarkan hidup yang kekal, yaitu relasi yang dipulihkan dengan-Nya, mulai sekarang dan berlanjut sampai kekekalan.
Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: bagaimana kita merespons kasih sebesar itu? Percaya kepada Kristus bukan hanya soal pengakuan iman, tetapi keberanian untuk menyerahkan hidup kepada kasih yang mengubah. Di dunia yang penuh ketakutan, sinisme, dan kelelahan rohani, Yohanes 3:16 mengingatkan bahwa kita hidup karena terlebih dahulu dikasihi.
Bapak, Ibu, Saudara Sekalian, Marilah kita berhenti memandang diri kita hanya dari kegagalan dan ketidaklayakan. Terimalah kasih Allah yang telah dinyatakan di dalam Kristus. Dan sebagai jemaat yang telah dikasihi, marilah kita belajar mengasihi dengan tindakan nyata—berani memberi, berani peduli, dan berani hidup dalam terang kasih Tuhan di tengah dunia yang terluka. Amin.
CGr Jeffry Tarihoran
Renungan Harian HKBP Jumat, 9 Januari 2026
“Diberkati, Dijagai, Dirahmati”
Bilangan 6:24-26
Doa Pembuka:
Tuhan yang penuh kasih, kami datang kepada-Mu membawa hidup kami apa adanya. Di tengah berbagai keadaan yang kami jalani hari ini, sukacita, kelelahan, harapan, maupun kekhawatiran, kami datang kepada-Mu, kami rindu mendengar suara-Mu. Melalui firman-Mu, ajar kami untuk percaya bahwa hidup kami ada dalam penjagaan, berkat, dan rahmat-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa,
Amin.
Amang/inang saudara/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Firman Tuhan yang menyapa kita hari ini diambil dari Bilangan 6:24-26 beginilah firman Tuhan:
24 Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
25 Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
26 Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
Amang/inang, saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan,
Firman ini dikenal sebagai berkat yang diucapkan oleh imam kepada umat saat itu. Namun berkat ini bukan sekadar penutup ibadah atau rangkaian kata indah yang dihafalkan. Di dalamnya, Allah sendiri sedang menyatakan sikap hati-Nya kepada umat-Nya. Tercatat, tiga kali nama TUHAN diucapkan, seakan menegaskan bahwa pusat dari kehidupan umat bukanlah keadaan, usaha, atau kemampuan manusia, melainkan Allah sendiri. Segala yang kita perlukan, baik penjagaan, berkat, kasih karunia, maupun damai sejahtera, semuanya bersumber dari Allah semata.
Pernyataan berkat ini lahir bukan dari situasi atau suasana yang nyaman dan ideal, melainkan dari perjalanan umat yang masih belajar percaya, masih sering goyah, dan masih menghadapi ketidakpastian. Namun justru di tengah kondisi seperti itulah Allah menghadirkan janji yang menenangkan, bahwa hidup umat-Nya tidak dibiarkan berjalan sendirian. Ketika berkat ini diucapkan, Allah seakan menunduk, mendekatkan diri dan berkata dengan lembut, ‘Aku menyertaimu’
Selanjutnya, ketika berkat “TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau.” diucapkan, kita diajak untuk meyakini bahwa Allah memberkati bukan hanya dengan pemberian, tetapi juga dengan menjaga. Kita perlu menyadari dan menerima bahwa hidup sering kali membawa kita pada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, seperti masa depan yang belum jelas, kesehatan, atau situasi yang berubah tiba-tiba, bahkan keamanan hidup sekalipun. Namun firman ini mengingatkan kita bahwa ada Penjaga yang setia, yang tidak pernah lengah dan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan selalu menghadirkan perlawatan yang tidak pernah kita duga dalam hidup kita dan membawa kita pada keyakinan bahwa akan selalu ada tangan yang menopang hidup kita, bahkan ketika kita tidak sanggup menopang diri sendiri.
Firman ini lalu berkata, “ Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;” Wajah Allah yang bersinar adalah wajah yang berkenan dan penuh kasih, bukan wajah yang menghakimi. Ia tidak berpaling ketika kita lelah, ketika kita gagal dan merasa tidak layak. Justru dalam kelemahan itulah kasih karunia-Nya dinyatakan. Kita diingatkan bahwa kita hidup bukan karena kita kuat, melainkan karena Allah, dan kemurahan hati-Nya, yang terus menghadapkan wajah-Nya kepada kita dan memberi anugerah yang memulihkan bagi kita.
Akhirnya, firman ini ditutup dengan janji yang meneduhkan: “Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Damai yang dimaksud bukanlah hidup tanpa luka atau masalah, melainkan keadaan ketika hidup penuh gumul dan juang, kita tetap bisa berjalan. Damai sejahtera lahir dari keyakinan bahwa Allah memperhatikan hidup kita secara pribadi, hadir dengan kepedulian yang penuh, dan tidak meninggalkan kita di tengah pergumulan.
Amang/inang, saudara/saudari yang terkasih. Firman Tuhan hari ini akhirnya mengundang kita menjalani hari dengan langkah yang lebih tenang dan berpengharapan. Hidup kita dijagai oleh-Nya, maka kita tak perlu larut dalam kekhawatiran. Hidup kita diberkati oleh-Nya, maka tak perlu kita cemas. Hidup kita dirahmati oleh-Nya, maka kita boleh belajar mengasihi dan mengampuni sesama. Dalam penjagaan, berkat, dan rahmat Tuhan, kita menemukan kekuatan untuk terus berjalan, satu hari demi satu hari, dan menjadi saluran damai sejahtera bagi dunia di sekitar kita.
Amin
Doa Penutup:
Tuhan Yesus yang penuh kasih, terima kasih atas firman yang mengingatkan kami bahwa Engkau senantiasa memberkati, menjaga, dan merahmati, serta menghadapkan wajah-Mu atas hidup kami. Jagalah kami hari ini, limpahi kami dengan kasih karunia-Mu, dan berikanlah damai sejahtera-Mu tinggal di hati kami. Ajarlah kami hidup dengan percaya dan menjadi pembawa damai bagi sesama. Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.
CPdt. Randi Simbolon, S.Si. Teol
Renungan Lainnya
HKBP Channel
Video Terkait Lainnya
34:11
34:13
49:11
58:01
6:13
12:37
13:35
3:33
15:52
15:10
