Doa Pembuka: Damai sejahtera dari Allah Bapa, yang melampaui akal dan pengertianmu, itulah kiranya yang memelihara hati dan pikiranmu. Di dalam Yesus Kristus Tuhan. Amin.
Bapak Ibu, saudara/i sekalian yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus Firman Tuhan di Epistel Jumat Agung Peringatan Hari Kematian Tuhan Yesus tanggal 03 April 2026, diambil dari Mazmur 22 : 1-12. Saya akan bacakan, Demikian Firman Tuhan,
Â
1 Untuk pemimpin kor. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. (22-2) Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
2 (22-3) Ya Allahku, aku berseru di waktu siang, tetapi Engkau tetap diam. Aku berdoa di waktu malam, hatiku tidak juga tenang.
3 (22-4) Namun Engkau Raja Yang Mahasuci, yang dipuji-puji oleh Israel.
4 (22-5) Nenek moyang kami berharap kepada-Mu, mereka berharap, dan Engkau menyelamatkan mereka.
5 (22-6) Mereka berseru kepada-Mu dan diluputkan; mereka berharap dan tidak dikecewakan.
6 (22-7) Tetapi aku ini cacing, bukan manusia, dicemoohkan dan dihina orang banyak.
7 (22-8) Semua yang melihat aku, mengejek aku, mencibirkan bibir dan menggelengkan kepala.
8 (22-9) Kata mereka, “Biarlah ia mengandalkan TUHAN, supaya TUHAN menyelamatkan dia, kalau TUHAN senang kepadanya!”
9 (22-10) Engkaulah yang mengeluarkan aku dari kandungan, dan membuat aku aman di pangkuan ibuku.
10 (22-11) Sejak lahir, nasibku ada di tangan-Mu, sejak dalam kandungan, Engkaulah Allahku.
11 (22-12) Janganlah jauh, sebab bahaya sudah dekat, dan tidak ada yang menolong.
12 (22-13) Seperti kawanan banteng, musuh mengerumuni aku, seperti banteng liar dari Basan mereka mengepung aku.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih Dalam Nama Tuhan, Mazmur 22:1–12 adalah ungkapan hati yang sangat jujur dari Daud ketika ia berada dalam penderitaan yang mendalam. Ia memulai dengan seruan, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Kata-kata ini terasa begitu kuat karena menggambarkan pergumulan iman seseorang yang merasa jauh dari pertolongan Tuhan. Namun, di balik keluhan itu, tersimpan kerinduan yang dalam untuk tetap percaya kepada Allah.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Dalam bagian ini, Daud tidak menyembunyikan perasaannya. Ia dengan jujur mengungkapkan rasa sakit, ketakutan, dan kesendiriannya. Ia merasa seolah-olah Tuhan jauh dan tidak menjawab seruannya. Ini menunjukkan bahwa dalam hubungan dengan Tuhan, kejujuran adalah hal yang penting. Kita tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan-Nya; kita boleh datang dengan segala kelemahan dan pergumulan kita. Namun menariknya, di tengah keluhannya, Daud tetap mengingat siapa Tuhan itu. Ia berkata bahwa Tuhan adalah kudus dan layak dipuji, dan bahwa nenek moyangnya percaya kepada Tuhan dan tidak dikecewakan. Ini adalah langkah iman yang penting—di tengah perasaan yang tidak menentu, Daud memilih untuk berpegang pada kebenaran tentang karakter Allah, bukan hanya pada apa yang ia rasakan. Daud juga menggambarkan dirinya sebagai “ulat dan bukan orang,” menunjukkan betapa rendah dan hancurnya ia merasa. Ia dihina, ditertawakan, dan dipandang rendah oleh orang-orang di sekitarnya. Pengalaman ini mungkin sangat dekat dengan kehidupan kita. Ada saat-saat di mana kita merasa tidak berharga, diremehkan, atau bahkan ditinggalkan oleh orang lain. Dalam kondisi seperti itu, mudah bagi kita untuk kehilangan harapan. Tetapi Daud tidak berhenti di sana. Ia kembali mengingat bahwa sejak lahir, Tuhan telah memeliharanya. Ia menyadari bahwa hidupnya tidak pernah lepas dari tangan Tuhan. Bahkan sejak ia masih bayi, Tuhan sudah menjaga dan menyertainya. Ini menjadi pengingat yang kuat bahwa kesetiaan Tuhan tidak tergantung pada keadaan kita saat ini. Apa yang kita rasakan hari ini tidak mengubah fakta bahwa Tuhan telah dan akan tetap setia. Di ayat-ayat selanjutnya, Daud memohon agar Tuhan tidak menjauh darinya, karena kesusahan sudah dekat dan tidak ada yang menolong. Ini adalah doa yang sangat manusiawi—permohonan agar Tuhan hadir di saat kita paling membutuhkannya. Dari sini kita belajar bahwa dalam kesesakan, respons terbaik adalah tetap berseru kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya. Mazmur ini juga sering dikaitkan dengan penderitaan Yesus, karena sebagian dari kata-katanya diucapkan kembali saat penyaliban. Hal ini menunjukkan bahwa Allah benar-benar memahami penderitaan manusia, bahkan mengalaminya sendiri. Ini memberi kita penghiburan bahwa ketika kita menderita, kita tidak sendirian.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Mazmur 22:1–12 mengajarkan kita bahwa pergumulan iman adalah bagian dari kehidupan rohani. Merasa ditinggalkan bukan berarti kita benar-benar ditinggalkan. Dalam setiap keluhan, tetap ada ruang untuk percaya. Dalam setiap kesedihan, masih ada harapan. Ketika kita menghadapi masa sulit, marilah kita meneladani Daud—jujur dalam perasaan, tetapi tetap berpegang pada kebenaran tentang Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan yang sama yang setia di masa lalu, adalah Tuhan yang akan menolong kita hari ini dan di masa depan. Karena itu, tetaplah berseru kepada-Nya, sebab Ia tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.
Doa Penutup: Terima kasih Ya Tuhan Allah, untuk FirmanMu yang telah kami dengar. Ajari kami untuk selalu bersyukur memiliki Engkau, ajarkan kami bahwa betapa bahagianya kami karena Engkau begitu mengasihi kami. Dengan bimbingan rohMu, kami akan melakukan FirmanMu untuk kemuliaan namaMu. Kami serahkan hidup kami hari ini, esok dan selamanya hanya kedalam tangan pengasihanMu. Di dalam Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Pdt. Andar Panuturi Sitompul, S.Th., M.Sos- Fungsional di Biro Ibadah Musik HKBP



