Evangelium di Paskah II: Senin, 6 April 2026

Doa Pembuka:

Damai sejahterah Allah yang melampaui segala akal itu lah yang memberkati hati dan pikiran saudara di dalam Kristus Yesus. Amin.

Khotbah Evangelium:

Bapak, Ibu, serta Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

Pada Minggu Paskah I, gereja kita penuh dengan sorak-sorai kemenangan karena kubur telah kosong. Namun, sering kali ketika kita kembali pada rutinitas sehari-hari, euforia Paskah itu perlahan memudar. Kita kembali berhadapan dengan realitas dunia yang keras: tantangan ekonomi, sakit penyakit, dan bayang-bayang kematian. Oleh karena itu, Firman Tuhan hari ini hadir untuk memperkuat kembali esensi dari kebangkitan Kristus di tengah keseharian kita.

Nabi Yesaya menggambarkan kondisi umat Tuhan tanpa campur tangan-Nya dengan sebuah kiasan yang menyayat hati. Ia melukiskan seorang perempuan hamil tua yang menggeliat menahan sakit luar biasa saat bersalin. Namun setelah semua jerih payah dicurahkan, ia hanya “melahirkan angin”, yang berarti tidak ada kehidupan baru, dan tidak ada keselamatan yang tercipta.

Bukankah ini sering menjadi cerminan hidup kita? Kita hidup di dunia yang fana dan sering kali diliputi berbagai ketakutan, takut akan penyakit, cemas memikirkan keluarga, atau panik saat musibah datang. Kita berjuang mati-matian memeras keringat demi mengamankan masa depan. Namun tanpa Tuhan, semua jerih payah manusia pada akhirnya hanyalah kesia-siaan belaka yang berujung pada kegelapan. Kematian seolah menjadi garis akhir yang menakutkan dan tak terhindarkan.

Waktu dan sisa hidup kita di dunia ini sangatlah terbatas. Dunia sering kali membisikkan filosofi yang egois: “Makan, minum, dan bersenang-senanglah, karena besok kita mati! Habiskan waktumu untuk dirimu sendiri!” Tetapi, panggilan Kristus sangatlah berbeda. Tuhan meminta kita untuk mencurahkan kehidupan kita, baik itu waktu, tenaga, pelayanan, dan harta, bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan bagi Kerajaan Allah dan sesama. Mengapa kita berani melakukan pengorbanan itu? Karena kita percaya bahwa Tuhan telah menyediakan kehidupan kekal.

Mungkin ada yang bertanya, apa jaminan bahwa janji kehidupan kekal itu nyata? Sejak zaman Yesus, kelompok Saduki sudah meragukan kebangkitan. Namun, kekristenan adalah satu-satunya iman yang berani menjanjikan kebangkitan tubuh yang fisik dan nyata. Jaminan kita bukan sekadar filosofi indah, melainkan fakta sejarah: kubur yang kosong! Rasul Paulus menegaskan bahwa Yesus yang bangkit telah menampakkan diri kepada Petrus, Yakobus, dan lebih dari 500 orang sekaligus. Mereka melihat dan menyentuh-Nya. Yesus benar-benar hidup!

Karena Kristus hidup, maka nubuat Yesaya 26:19 digenapi dengan sempurna: “Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai!”

Pada hari Jumat Agung, Yesus merentangkan tangan-Nya di atas kayu salib untuk mengambil sengat maut yang seharusnya membinasakan kita. Ia menanggung sengatan itu di dalam tubuh-Nya sendiri agar kita selamat. Seperti yang diserukan oleh Rasul Paulus, “Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat kematian itu sudah tidak ada lagi bagi anak-anak Allah.

Tentu, sebagai manusia biasa, kita akan tetap menitikkan air mata ketika berdiri di tepi makam orang-orang yang kita kasihi. Kesedihan adalah hal yang sangat manusiawi. Namun, Tuhan Yesus berjanji: “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Kematian fisik belum sepenuhnya hilang, tetapi pemakaman bukanlah tempat di mana maut berkuasa. Pemakaman orang percaya adalah wilayah kekuasaan Yesus Kristus. Di sana, tubuh orang-orang kudus sedang beristirahat menantikan kedatangan-Nya.

Oleh karena itu marilah kita kembali memeriksa diri. Janganlah hidup dalam ketakutan akan kematian, namun jangan juga membuang waktu hanya untuk menimbun harta duniawi yang fana. Curahkanlah hidupmu untuk melayani Tuhan. Ajarlah keluarga tentang kasih Kristus, ambil bagian dalam pelayanan, dan tolonglah sesama.

Kewarganegaraan kita ada di surga. Kita menantikan saat di mana Sang Penjaga Jiwa memanggil nama kita, dan kita akan bangkit, mengenakan tubuh kemuliaan, serta bersorak-sorai selamanya. Terpujilah Kristus yang telah bangkit dan menang. Amin.

 

Doa Penutup:

Ya Allah Bapa sumber kehidupan, kami mengucap syukur atas kemenangan Paskah yang nyata. Terima kasih karena Engkau telah mengaruniakan Kristus untuk mengalahkan maut, memberikan kami pengharapan yang pasti. Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang singkat di dunia ini. Tolonglah kami agar tidak hidup dalam ketakutan atau hanya mengejar perkara duniawi yang fana. Sebaliknya, ajarlah kami untuk berani mencurahkan hidup kami demi melayani Engkau dan mengasihi sesama. Hiburkanlah setiap hati yang sedang berdukacita, dan teguhkanlah iman kami agar selalu mengingat bahwa kewarganegaraan kami ada di surga. Pimpinlah langkah kami memasuki minggu yang baru ini, hingga kelak kami dibangkitkan dan bersorak-sorai bersama-Mu di dalam kemuliaan yang kekal. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sang Kebangkitan dan Hidup, kami berdoa. Amin.

 

Pdt. Mika Simanjuntak

Scroll to Top