“Allah yang Meluruskan Jalanmu”
Amsal 3:1–6
Terpujilah Allah yang telah menghantarkan kita ke tahun yang baru ini.
Pada Minggu Ujung Tahun Gerejawi, yang sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang telah meninggal dunia, tanggal 23 November 2025 yang lalu, kita telah mendengar nama-nama saudara dan teman kita yang telah dipanggil Tuhan. Marilah terlebih dahulu kita perhatikan hal berikut ini:
Kita hanya mendengar nama orang lain yang telah meninggal diwartakan; nama kita belum diwartakan. Sekali lagi: “nama kita belum diwartakan.” Apakah makna dari hal itu bagi kita di tahun baru ini?
Sedikitnya ada tiga hal yaitu:
Pertama, marilah kita mendoakan dan mendukung saudara-saudara kita yang sedang gundah, agar mereka diteguhkan oleh Tuhan dan tetap teguh beriman kepada-Nya.
Kedua, jika kita masih hidup sampai saat ini, itu bukan berarti karena kita lebih baik dari teman-teman kita yang telah mendahului kita. Itu semata-mata hanyalah karena kasih karunia Tuhan. Dan hal inilah yang paling penting: bahwa Tuhan punya rencana yang indah bagi kita, sehingga kita masih diperkenankanNya hidup dan memasuki tahun yang baru ini.
Ketiga, marilah kita bersukacita dan memuji Tuhan sambil menapaki hidup dalam “pengenalan yang benar akan Allah dan segala karya-Nya, serta dengan cara hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan!
HKBP menetapkan orientasi pelayanan tahun 2026: “Pengajaran Iman di Tengah Keluarga” (Pangajarion Haporseaon di Tonga ni Keluarga). Kita disapa oleh Tuhan melalui Amsal 3:1–6, yang berbicara erat tentang kehidupan keluarga.
Dalam Amsal 3 ini, ditekankan pentingnya hati (Batak: roha). Dikatakan: “Biarlah hatimu memeliharanya,” “Tuliskanlah itu pada loh hatimu,” dan “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau.” (Batak: unang ma tallushon sian roham habasaon dohot hasintongan). Lebih jelas lagi pada ayat 5: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
Namun janganlah terlebih dahulu hati kita tertuju pada beratnya perintah itu walaupun akhirnya kita harus memikulnya. Tetapi yang pertama-tama dan terutama harus kita hayati adalah kebaikan dan rahmat Allah yang telah memberi kita “hati.” Itulah kelebihan manusia, anugerah yang tidak diberikan kepada ciptaan lainnya. Maka, pemberian hati merupakan karunia yang sangat mahal. Allah yang Mahabaik menciptakan hati manusia baik adanya.
Kita meyakini bahwa hati adalah tempat Allah berdiam dalam hidup kita. Di dalam hati terjadi pertimbangan; dari hati lahir keputusan; dan hati menentukan perilaku serta perbuatan kita. Karena itu ditegaskan dalam Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Jika hati kita baik, itu tampak melalui hati yang gembira di dalam Tuhan, hati yang bersyukur dan bermurah hati. Tetapi jika hati rusak, tampaklah melalui rencana jahat (marroharoha), sifat egois (parroha diri), bejat (parroga mago), dan licik (sigodang roha). Hati yang rusak melahirkan perilaku yang rusak pula, dan hidupnya tidak akan berbuah baik.
Karena itu, mari kita pegang teguh firman di ayat 5 itu: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
Saudara-saudari!
Kita tahu banyak hal di zaman ini yang mengotori hati manusia. Banyak pula yang mencemari hati anak-anak muda kita. Beragam jenis narkoba, judi daring (online), dan permainan digital (game) telah merusak pikiran dan hati generasi muda. Tentang dampak permainan daring, misalnya, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada penyakit yang disebut game disorder (gangguan akibat kecanduan bermain gim) yang menyebabkan gangguan pada pikiran, hati, dan kehidupan sosial seseorang. Anak-anak kita perlu dimerdekakan dari bencana besar akibat narkoba, judi daring, dan kecanduan gim.
Peranan keluarga sangat besar dalam menjaga anak-anak kita agar terhindar dari hal-hal yang merusak. Rumah dan keluarga adalah sekolah pertama, tempat dimana iman, hati, dan perilaku anak dapat bertumbuh. Gereja, sekolah dan lain-lain berperan sebagai penolong dan penopang. Karena itu, keluarga perlu menjadi komunitas pendoa. Firman Tuhan harus selalu terdengar di tengah keluarga. Jika anak-anak kita tidak lagi tinggal di rumah karena studi atau pekerjaan, kemajuan teknologi bisa menolong kita untuk tetap bersekutu dengan mereka, misalnya melalui doa malam bersama lewat video call. Kemajuan zaman pun dapat menjadi alat Tuhan agar keluarga tetap dekat dengan-Nya.
Sampai saat ini ada dua pola didikan anak yang tidak baik.
Pertama, didikan yang terlalu keras: anak dipaksa bekerja melebihi kemampuannya, bahkan mengalami kekerasan verbal (kata-kata yang menimbulkan patah semangat, amarah, putus asa) dan fisik dengan cara memukul. Kekerasan itu berakar di hatinya, dan bila tidak sembuh hingga dewasa, ia dapat menjadi pribadi yang keras atau bahkan menjadi pribadi yang jahat.
Kedua, didikan yang terlalu memanjakan: segala keinginan anak dituruti karena orang tua merasa mampu atau memiliki uang yang berkecukupan. Akibatnya lahirlah apa yang disebut “generasi stroberi,” kelihatannya indah dan menawan tetapi mudah busuk; artinya pribadi yang mudah stres, cepat menyerah, dan kurang daya juang.
Lalu bagaimana seharusnya?
Dengan hikmat dari Tuhan, tugas orang tua adalah tegas tanpa kekerasan, dan membuat anak bahagia tanpa memanjakan.
Dengan mencermati betapa pentingnya tuntunan bagi anak-anak kita, maka selama lima tahun terakhir ini kami terus menyerukan kepada anak-anak Sekolah Minggu, Remaja, dan Naposobulung agar mereka berjanji di hadapan Allah untuk memiliki tiga tinggi dan satu rendah, yaitu:
Tinggi iman,
Tinggi ilmu,
Tinggi perbuatan baik,
dan rendah hati.
Sebagai orang tua, kita terpanggil mendukung mereka supaya dalam hidup mereka ditemukan tiga tinggi dan satu rendah itu. Sebagai gereja, kita pun terpanggil untuk menuntun mereka agar bertumbuh dan dewasa sebagai orang yang setia mengikuti Tuhan. Hal-hal baik lainnya akan mengikuti.
Di tengah dunia yang penuh kesemrawutan dan kesulitan ini, marilah hati kita semakin berpaut kepada Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi kita yakin: Allah kita hidup dan bekerja di tengah-tengah kita. Di awal tahun ini Tuhan menyapa kita: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Allah kita setia. Ia menguatkan kita menghadapi segala kesulitan, menuntun kita memilih yang terbaik sesuai kehendak-Nya, dan memberi kebijaksanaan melebihi kepintaran manusia.
Tidak ada yang terlalu sulit bagi Allah. Karena itu, janganlah kita mudah putus asa. Sekali lagi, mari tanamkan dalam hati kita masing-masing: tidak ada yang terlalu sulit bagi Allah, oleh karena itu jangan mudah putus asa.
Kini, mari kita berjanji di hadapan Tuhan:
“Aku percaya kepada-Mu, ya Allah. Aku akan menjalani tahun 2026 ini dengan sukacita dalam penyertaan-Mu. Jadikan hidupku berkat bagi sesama dan penuntun bagi perubahan yang lebih baik di sekelilingku.” Amin.
Selamat Tahun Baru bagi kita semua
Teriring salam dan doa
HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN
Pearaja Tarutung, 1 Januari 2026
Ephorus HKBP,
Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST



