PEARAJA (23/2) – Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, M.ST., menekankan makna puasa sebagai instrumen pengendalian diri dan penguatan karakter bangsa. Fokus utama dari refleksi ini adalah transformasi spiritual di mana penyangkalan diri melatih kepekaan jiwa terhadap kehendak Tuhan, sekaligus menumbuhkan empati tulus di tengah keberagaman. Melalui sikap saling menghargai terhadap perbedaan keyakinan dan aturan agama, gereja mendorong terciptanya jembatan persaudaraan yang kokoh bagi seluruh warga negara. Sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal konsumsi, menjadi fondasi utama bagi kerukunan dan kedamaian nasional. Dengan mengedepankan kesantunan, jemaat diajak untuk memusatkan energi pada pembangunan kebajikan dan kemajuan negara. Nilai-nilai toleransi ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi masyarakat untuk hidup rukun dan saling mendukung dalam menjalankan kewajiban agama masing-masing secara bermartabat demi masa depan bangsa yang lebih baik.

Scroll to Top