Doa Pembuka: Damai sejahtera dari Allah Bapa, yang melampaui akal dan pengertianmu, itulah kiranya yang memelihara hati dan pikiranmu. Di dalam Yesus Kristus Tuhan. Amin.
Bapak Ibu, saudara/i sekalian yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus Firman Tuhan di Epistel Minggu tanggal 29 Maret 2026, di minggu Palmarum diambil dari Mazmur 31 : 8-16. Saya akan bacakan, Demikian Firman Tuhan,
8 Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah memperhatikan kesesakan jiwaku,
9 dan tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.
10 Kasihanilah aku, ya TUHAN, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku.
11 Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah.
12 Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku.
13 Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah.
14 Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, ada kegentaran dari segala pihak! mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku.
15 Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!”
16 Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih Dalam Nama Tuhan, Mazmur 31:8–16 menampilkan dinamika iman yang sangat manusiawi: pergumulan antara kepercayaan kepada Allah dan realitas penderitaan yang menekan. Pemazmur tidak menutupi luka batin maupun ancaman eksternal yang dihadapinya. Justru di tengah keterbatasan itu, ia mengarahkan diri kepada Tuhan sebagai satu-satunya sumber perlindungan. Secara teologis, bagian ini mengajarkan bahwa iman bukanlah ketiadaan krisis, melainkan keberanian untuk tetap bersandar kepada Allah di dalam krisis. Relasi perjanjian antara Allah dan umat-Nya menjadi dasar pengharapan yang tidak goyah, sekalipun keadaan tampak berlawanan.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Ayat 8–9 menekankan pengalaman pembebasan yang konkret: Tuhan tidak menyerahkan pemazmur ke tangan musuh, melainkan memberi “tempat lapang.” Secara teologis, ini mencerminkan karya penyelamatan Allah yang aktif dalam sejarah hidup manusia. Allah bukan sekadar konsep abstrak, tetapi Pribadi yang bertindak. Namun, ketegangan muncul di ayat 10–14 ketika pemazmur mengungkapkan penderitaan fisik, emosional, dan sosial—mata menjadi redup, jiwa merana, bahkan ia menjadi bahan ejekan. Di sini terlihat realitas dosa dan kejatuhan dunia: penderitaan tidak selalu langsung dihapus, bahkan bagi orang yang percaya. Menariknya, pemazmur tidak menafsirkan penderitaan sebagai bukti ketiadaan Allah. Sebaliknya, ia tetap berdoa dan berseru. Ini menunjukkan pemahaman teologis bahwa Allah tetap hadir sekalipun tidak selalu segera mengubah situasi. Dalam tradisi iman, ini dikenal sebagai theologia crucis—pemahaman bahwa Allah seringkali bekerja melalui penderitaan, bukan hanya melalui kemenangan lahiriah. Ayat 15–16 menjadi titik balik: “Tetapi aku percaya kepada-Mu, ya TUHAN.” Kata “tetapi” menunjukkan keputusan iman yang disengaja. Pemazmur mengakui kedaulatan Allah atas waktu hidupnya: “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu.” Ini adalah pernyataan teologis yang mendalam tentang providensia ilahi—bahwa seluruh hidup manusia, termasuk penderitaan, berada dalam kendali Allah yang setia. Permohonan “buatlah wajah-Mu bercahaya” mengingatkan pada berkat imam, yang berarti pemulihan relasi dan kehadiran Allah yang penuh kasih.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Mazmur 31:8–16 mengajarkan bahwa iman sejati tidak meniadakan penderitaan, tetapi menempatkannya dalam terang kedaulatan dan kesetiaan Allah. Pemazmur memberi teladan bagaimana merespons krisis: jujur dalam keluhan, tetapi teguh dalam kepercayaan. Secara teologis, bagian ini mengarahkan kita untuk melihat bahwa keselamatan bukan hanya pembebasan dari masalah, melainkan relasi yang hidup dengan Allah yang memegang seluruh hidup kita. Dalam dunia yang rapuh, pengakuan bahwa “masa hidupku ada dalam tangan-Mu” menjadi dasar pengharapan yang kokoh—bahwa tidak ada penderitaan yang sia-sia di dalam rencana Allah.
Doa Penutup: Terima kasih Ya Tuhan Allah, untuk FirmanMu yang telah kami dengar. Ajari kami untuk selalu bersyukur memiliki Engkau, ajarkan kami bahwa betapa bahagianya kami karena Engkau begitu mengasihi kami. Dengan bimbingan rohMu, kami akan melakukan FirmanMu untuk kemuliaan namaMu. Kami serahkan hidup kami hari ini, esok dan selamanya hanya ke dalam tangan pengasihanMu. Di dalam Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Pdt. Andar Panuturi Sitompul, S.Th., M.Sos- Melayani di Biro Ibadah Musik HKBP



