Renungan Epistel: Minggu Septuagesima 1 Februari 2026

Doa Pembuka: Damai sejahterah Allah yang melampaui segala akal itu lah yang memberkati hati dan pikiran saudara di dalam Kristus Yesus. Amin.

 

Nats: Ulangan 33:24-29

33:24 Tentang Asyer ia berkata: “Diberkatilah Asyer di antara anak-anak lelaki; biarlah ia disukai oleh saudara-saudaranya, dan biarlah ia mencelupkan kakinya ke dalam minyak.

33:25 Biarlah dari besi dan dari tembaga palang pintumu, selama umurmu kiranya kekuatanmu.

33:26 Tidak ada yang seperti Allah, hai Yesyurun. Ia berkendaraan melintasi langit sebagai penolongmu dan dalam kejayaan-Nya melintasi awan-awan.

33:27 Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. Ia mengusir musuh dari depanmu dan berfirman: Punahkanlah!

33:28 Maka Israel diam dengan tenteram dan sumber Yakub diam tidak terganggu di dalam suatu negeri yang ada gandum dan anggur; bahkan langitnya menitikkan embun.

33:29 Berbahagialah engkau, hai Israel; siapakah yang sama dengan engkau? Suatu bangsa yang diselamatkan oleh TUHAN, perisai pertolongan dan pedang kejayaanmu. Sebab itu musuhmu akan tunduk menjilat kepadamu, dan engkau akan berjejak di bukit-bukit mereka.”

 

Bapa, ibu, serta Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

Dalam budaya kita orang Batak, seringkali ukuran kebahagiaan itu diukur dari “3H”: Hamoraon (kekayaan), Hagabeon (keturunan), dan Hasangapon (kehormatan). Jika sawah ladang subur, anak-anak sukses, dan kita dihormati di huta (kampung), maka kita disebut orang yang berbahagia atau “gabe”.

Namun, hari ini Firman Tuhan melalui Musa, di akhir hidupnya, memberikan definisi kebahagiaan yang jauh melampaui ukuran duniawi tersebut. Musa berbicara kepada suku Asyer dan seluruh Israel bukan sekadar tentang tanah yang subur, tetapi tentang Siapa yang menjamin tanah itu.

Nats Epistel hari ini memberikan kita dasar untuk hidup berbahagia.

Allah yang Mahakuasa adalah Penopang yang Pribadi. Mari kita memperhatikan ayat 26-27. Musa menggambarkan Allah “berkendaraan melintasi langit”. Dalam kepercayaan kuno, dewa-dewa dipercaya berada di atas langit duduk dalam tahta yang megah dan jauh dari manusia. Tetapi Allah yang kita sembah di dalam Yesus Kristus, melintasi langit untuk menolong kita.

Ada kalimat yang sangat indah di ayat 27: “Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal.” Bayangkan seorang ibu atau ayah yang menggendong anaknya yang sakit. Sekuat-kuatnya tangan manusia, pasti ada lelahnya. Ada saatnya kita harus meletakkan beban itu. Tetapi Tuhan? Lengan-Nya kekal! Mungkin saat ini kita sedang merasa berat beban hidupnya. Ekonomi sedang sulit, kesehatan menurun, atau masalah keluarga menumpuk. Ingatlah, kita punya Tuhan yang “lengan-Nya” tidak pernah lelah menopang kita. Dia bukan Allah yang jauh, Dia adalah Allah yang hadir menembus langit dan menopang kita dari bawah saat kita hampir jatuh. Inilah dasar kebahagiaan kita: Rasa Aman di dalam Tuhan.

Jadi, kebahagiaan orang Kristen adalah “Diselamatkan”. Selanjutnya di ayat 29, Musa berseru: “Berbahagialah engkau, hai Israel! Siapakah yang sama dengan engkau? Suatu bangsa yang diselamatkan oleh TUHAN.”

Dalam bahasa Batak, kata “Berbahagialah” ini sangat dekat dengan kata “Martua”. Orang yang Martua bukan hanya orang yang punya banyak uang, tetapi orang yang memiliki Tuhan. Jika ada orang yang jatuh pingsan di jalan, lalu ada orang lain memanggil ambulans, itu bantuan yang baik. Tetapi Yesus tidak sekadar memanggil bantuan saat melihat kita mati karena dosa. Yesus turun tangan sendiri! Dia tidak mengirim malaikat, tetapi Dia menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib untuk menebus kita.

Kita selamat bukan karena kehebatan kita melawan musuh, tetapi karena Sola Gratia (Hanya oleh Anugerah). Kita bahagia karena status kita sudah berubah dari hamba dosa menjadi anak Allah. Siapakah yang seperti kita? Tidak ada! Bukan karena kita hebat, tapi karena Tuhan kita hebat.

Kebahagiaan sejati juga berarti memiliki kekuatan untuk menang. Ayat 27 dan 29 mengatakan bahwa Allah akan mengusir musuh dan kita akan menginjak tempat-tempat tinggi mereka. Bagi Israel di Perjanjian Lama, musuh adalah bangsa Kanaan yang menyembah berhala. Bagi kita di zaman modern ini, “musuh” dan “tempat tinggi” itu adalah dosa, hawa nafsu, dan keputusasaan. Seringkali kita seperti Israel yang lelah berperang. Kita mulai kompromi. Kita membiarkan “musuh” itu tinggal di rumah kita: tontonan yang merusak, kebiasaan menipu, dendam yang disimpan, atau rasa khawatir yang berlebihan.

Tuhan mengingatkan kita: “Pedang kemuliaanmu adalah Tuhan”. Jangan berdamai dengan dosa! Jangan menyerah pada keadaan hidup! Tuhan sudah memberikan kita Roh Kudus dan Firman-Nya sebagai senjata. Seperti suku Asyer yang dijanjikan “pintu gerbang tembaga dan besi” (ayat 25) untuk keamanan, Tuhan memagari hati dan keluarga kita dengan kekuatan iman. Kita tidak berjuang sendirian.

Jadi, berbahagialah! Martua ma ho! Jangan biarkan sukacitamu dicuri oleh kekurangan materi atau tantangan hidup. Kebahagiaanmu adalah karena lengan Allah yang kekal itu sedang memelukmu erat, dan Dia telah menyelamatkanmu bagi kemuliaan-Nya. Amin.

 

Doa Penutup: Tuhan Allah yang Maha Pengasih dan Setia, kami mengucap syukur karena Engkau adalah tempat perlindungan kami yang kekal. Di tengah dunia yang tidak pasti ini, ingatkan kami bahwa kami adalah umat yang berbahagia karena telah diselamatkan oleh-Mu. Mampukan kami mengusir segala dosa dan kekhawatiran dengan kuasa Firman-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

 

Pdt. Mika Simanjuntak, S.Th- Staf di Biro TIK HKBP

 

Scroll to Top