Renungan Harian Marturia HKBP Jumat, 16 Januari 2026

Doa pembuka

Ya Tuhan Allah yang Mahakuasa, Mahapengasih, Bapa kami di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kami mengucap syukur dengan segenap hati kami, karena Engkau memelihara hidup kami sampai saat ini. BerkatMu menenteramkan hidup kami untuk merenung sejenak, dan mendengarkan suara-Mu yang penuh kasih. Kiranya melalui renungan ini, Engkau berbicara kepada kami dan membuka mata hati kami untuk melihat kebenaran-Mu. Biarlah setiap kata yang terdengar mengarahkan kami lebih dekat kepada-Mu, dan membawa perubahan dalam hidup kami yang memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami, kami berdoa. Amin.

Renungan

HAKIM-HAKIM 6 : 12

“Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Dalam hidup ini, sering kali nilai diri kita ditentukan oleh apa yang kita miliki, apa yang kita capai, atau bagaimana orang lain memandang kita. Dunia mengajarkan bahwa yang kuat adalah yang terlihat percaya diri, yang berhasil, yang tidak ragu. Sementara yang lemah, yang takut, yang gagal, yang merasa kecil, sering dianggap tidak layak diperhitungkan. Namun realitas hidup justru berkata sebaliknya. Banyak orang hari ini tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam. Banyak yang terlihat sibuk, produktif, dan berani, tetapi diam-diam hidup dengan ketakutan: takut tidak cukup, takut gagal, takut ditinggalkan, takut masa depan. Bahkan orang-orang beriman pun tidak luput dari pergumulan ini.

Di tengah realitas seperti itulah firman Tuhan hari ini berbicara.

Ketika bangsa Israel hidup dalam penindasan Midian, mereka miskin, tertekan, dan kehilangan harapan. Gideon, yang kelak menjadi pahlawan Israel, pertama kali muncul dalam kisah ini sebagai orang yang takut, bersembunyi sambil mengirik gandum di tempat pemerasan anggur.” Dan tepat di saat itulah Malaikat TUHAN datang dan berkata kepadanya: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”

Kalimat ini terdengar janggal. Gideon tidak sedang berani. Ia tidak sedang memimpin. Ia tidak sedang berjuang. Tetapi Tuhan menyapanya bukan berdasarkan keadaan Gideon, melainkan berdasarkan panggilan dan penyertaan-Nya. Di sinilah pesan teologis yang dalam itu muncul: Allah tidak menamai kita berdasarkan ketakutan kita, tetapi berdasarkan rencana-Nya. Gideon melihat dirinya kecil dan tidak layak. Tetapi Tuhan melihat siapa yang akan ia jadikan. Sebab keberanian Gideon bukan berasal dari dirinya, melainkan dari satu kebenaran ini: “TUHAN menyertai engkau.” Penyertaan Allah selalu mendahului perubahan hidup.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, bukankah ini juga realita kita hari ini? Kita hidup di tengah tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, kecemasan sosial, dan ketidakpastian masa depan. Tidak jarang iman kita melemah, doa tidak lagi kita rasakan menguatkan, dan hati kita diliputi perasaan seolah-olah Tuhan jauh dari perjalanan hidup kita.

Firman hari ini mengingatkan: Tuhan tidak menunggu kita kuat untuk menyertai kita.
Justru karena Ia menyertai kitalah, kita dimampukan untuk berdiri. Dalam Kristus, janji ini digenapi sepenuhnya. Ia disebut Imanuel—Allah beserta kita. Artinya, penyertaan Tuhan bukan lagi sekadar janji, tetapi kenyataan yang hidup dalam setiap pergumulan kita. Maka firman ini mengundang kita untuk belajar hidup dari identitas yang Tuhan nyatakan, bukan dari ketakutan yang kita rasakan. Dunia mungkin melihat kita biasa, gagal, atau kecil. Tetapi Tuhan berkata: “Aku menyertaimu.” Dan itu sudah cukup untuk melangkah. Kiranya firman ini menggugah kita untuk berani hidup setia, bukan karena kita merasa mampu, tetapi karena kita percaya: Tuhan yang memanggil, Tuhan juga yang menyertai. Amin.

Doa Penutup

Ya Tuhan Allah kami, kami bersyukur atas firman-Mu yang meneguhkan hati kami. Di tengah ketakutan dan kelemahan kami, Engkau tetap menyertai dan memanggil kami menurut rencana-Mu. Tolonglah kami agar tidak hidup menurut rasa takut, melainkan berani melangkah dalam iman, karena kami percaya Engkaulah yang menyertai setiap langkah hidup kami. Kuatkan kami untuk setia menjalani panggilan-Mu di tengah realitas hidup yang kami hadapi, hingga hidup kami menjadi kesaksian bagi kemuliaan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan menyerahkan hidup kami. Amin.

 

CPdt. Johannes Sibarani

Scroll to Top