RENUNGAN HARIAN MARTURIA: Senin, 12 Januari 2026

Doa Pembuka:

Allah Bapa yang kami sembah di dalam Anak-Mu, Tuhan Yesus Kristus. Kami bersyukur atas semua nikmat hidup yang telah Tuhan berikan pada kami. Tuntunlah kami, ya Tuhan, agar terus mensyukuri hidup kami dan senantiasa terhubung pada-Mu. Terlebih, dalam memahami dan menghidupi Firman-Mu. Amin.

Bapak/Ibu, yang menjadi ayat renungan kita hari ini tertulis di dalam Ulangan 6 : 5. Beginilah bunyi Firman Tuhan,

“Kasihilah TUHAN Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”        

Bapak/Ibu yang dikasihi Tuhan, sering kali kita datang kepada Tuhan dengan doa, pujian, dan persembahan, tetapi kita tidak sungguh jujur di hadapan-Nya. Kita rajin berdoa, namun jarang bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya kita cari. Apakah kita datang karena ingin mencari dan mengalami Tuhan, atau karena ada sesuatu yang ingin kita peroleh dari-Nya. Dalam setiap doa yang kita panjatkan, kehendak siapa yang lebih banyak kita suarakan, kehendak Tuhan atau kehendak kita sendiri? Bisa jadi kita bukan sedang mencari kehendak Tuhan, melainkan sedang berusaha meyakinkan Dia agar menjadikan keinginan kita sebagai kehendak-Nya.

Pertanyaan-pertanyaan ini penting sebagai bahan perenungan iman kita, karena iman tidak diukur dari seberapa sering kita menyebut nama Tuhan. Iman diukur dari apa yang benar-benar menguasai hati, pikiran, dan kekuatan kita. Pada moment inilah kita diajak kembali kepada inti pengakuan iman Israel, sebuah pengakuan yang tidak hanya menyatakan siapa Tuhan itu, tetapi juga menuntut seluruh hidup agar tertuju kepada-Nya.

Pengalaman nyata bangsa Israel yang hidup dibawah kesetiaan Allah yang melindungi dan memelihara mereka, itulah yang kini menuntut kasih mereka pada-Nya. Oleh karena itu, kasih kepada Tuhan bukanlah usaha untuk mendapatkan berkat, melainkan tanggapan iman atas kesetiaan Tuhan yang lebih dahulu hadir dalam kehidupan kita. Kasih itu mencakup seluruh keberadaan manusia. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati berarti kita bersedia menyerahkan pertimbangan dan keputusan hidup kepada-Nya. Mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa berarti menjadikan Dia pusat kehidupan, bukan sekadar salah satu bagian dari hidup kita. Mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan berarti mempersembahkan waktu, tenaga, dan seluruh kemampuan yang kita miliki bagi kemuliaan-Nya.

Di sinilah iman kita sering kali diuji. Kita dengan mudah berkata “aku mengasihi Tuhan”, tapi hanya ketika hidup berjalan sesuai dengan harapan kita. Namun Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk mengasihi Dia bukan karena apa yang kita terima dari-Nya, melainkan karena Dia adalah keseluruhan hidup kita. Karena kasih yang sejati tidak menempatkan Tuhan sebagai alat untuk mencapai tujuan, tetapi mengakui Dia sebagai tujuan itu sendiri. Dari kasih yang seperti inilah lahir ketaatan yang sejati, ketaatan yang dilakukan dengan kerelaan dan sukacita, bukan dengan keterpaksaan. Ia tampak dalam kata-kata yang kita ucapkan, dalam keputusan yang kita ambil, dan dalam cara hidup yang kita jalani setiap hari. Dengan demikian, mengasihi Tuhan bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan menjadi cara hidup kita, umat-Nya. Amin.

Doa Penutup:

Kami memuji Engkau ya Allah yang setia memelihara dan memberkati hidup kami. Engkau yang selalu mengasihi kami dan memberikan yang terbaik bagi hidup kami. Untuk itu, ya Tuhan, tolonglah kami agar mampu merespon kasih-Mu dengan menjadikan-Mu sebagai tujuan hidup kami. Biarlah totalitas kehidupan kami, yaitu hati, jiwa dan kekuatan, kami persembahkan bagi kemuliaan Tuhan. Amin.

CPdt. Rosmauli Sianipar

 

Scroll to Top