Dibagian sessi ke III dalam Lokakarya yang diselenggarakan Departemen Marturia, Kepala Departemen Marturia Pdt. Dr. Anna Vera Pangaribuan memaparkan dalam Ceramahnya bahwa HKBP adalah persekutuan orang-orang percaya kepada Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus yang dipanggil dalam dunia, dihimpun dan dikuduskan menjadi Gereja, serta diutus ke dalam dunia memberitakan Injil Allah dalam Yesus Kristus dan menjadi berkat bagi dunia.

Ditambahkan, bahwa tanpa terasa HKBP sudah berusia ± 155 tahun, berdiri dari buah pemberitaan Injil yang disampaikan oleh Missionaris Rheinische Missions Gessellschaft (RMG). Dalam perjalanan sejarah, HKBP telah berkembang ke seluruh Tanah Batak, Indonesia dan dunia. HKBP selalu mempersembahkan dirinya menjadi alat Allah untuk melaksanakan misi Allah di dunia ini. Keseriusan untuk menjalankan misi itu juga tertuang dalam Konfessi HKBP pasal 9 yang mengatakan: “Tiap-tiap orang Kristen terpanggil menjadi saksi Kristus”. Artinya, setiap warga HKBP dan pelayan HKBP terpanggil untuk menunaikan tugas panggilannya seturut dengan Amanat Agung Yesus Kristus (Mat. 28:19-20).

Kepala Departemen Marturia menambahkan bahwa tugas Marturia ini dalam gereja yaitu memberitakan kesaksian dalam persekutuannya. Marturia mencakup: penginjilan/zending, ibadah dan musik.  Tiga bagian ini adalah hal yang sangat luas dan sangat mempengaruhi  pertumbuhan iman. Sampai tahun 1940 (saat HKBP  Mandiri/Manjujung Baringinna) zending atau Pekabaran Injil HKBP manjadi prioritas dalam pelayanan HKBP dengan mottonya: kita sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat.

Pardonganon Mission Batak  (PMB) yang menjadi cikal bakal Seksi zending Hatopan HKBP yang kemudian menjadi Depatemen Zending HKBP terus bergiat dan bersemangat (bahkan berkobar-kobar) menunaikan tugas pelayanannya, baik oleh seluruh jajaran pelayan (pendeta, guru huria, bibelvrow, evanggelist dan sintua) dengan jemaat awam  (petani, pedagang, guru, pegawai, tentara, bahkan jemaat biasa) berlomba menjadi missionar-missionar lokal.

Adapun Zending dalam pemahaman para pelayan adalah: Beradasarkan situasi di lapangan, pemimpin di wilayah Zending  adalah fungsional bukan struktural. Nampaknya zending kurang diminati oleh pelayan HKBP baik pendeta, Guru Huria, Bibelvrouw, Diakones, Evangelist, dan Sintua. Terdapat wilayah zending yang telah dimekarkan atau dimadirikan namun kembali menjadi pos  zending, ditambah dengan kekurangan tenaga pelayan.

Hal prioritas yang harus ditingkatkan adalah Peningkatan mutu Evangelisasi. Pemberian Beasiswa untuk Jemaat Zending. Menjajaki kembali daerah Zending yang baru (Riau, Bengkalis/Siak/Meranti, Kepulauan Riau/Batam, Kaltimsel-Kaltara). Pemberdayaan kepada pelayan zending.

Di akhir sessinya, Kepala Departemen Marturia menyimpulkan: Revitalisasi pelayanan Marturia HKBP sangat diperlukan di tingkat local, resort dan di distrik. Diperlukan net working yang menunjang pelayanan Marturia mulai tingkat local sampai dengan pusat (Badan Kerjasama Marturia = BKS Marturia; dll. Perlunya pemetaan pelayanan Marturia dapat dikategorikan tiga bagian besar secara geografis : Kota, transisi, dan desa. Perlu pelayanan Marturia sesuai dengan kebutuhan jemaat. Penggunaan ilmu pengetahuan dan tegnologi menunjang kelancaran pelayanan Marturia. Sampai berita ini diterbitkan, sedang berlangsung Ceramah Sessi ke IV yang disampaikan oleh Ir. Lukas B. Tandadjaja (Ketua Evangelism Explosion International Indonesia. Salam Marturia. /Arth-Biro Informasi.