Senin (15/4), Kepala Departemen Marturia HKBP Pdt. Dr. Anna Ch. Vera Pangaribuan membimbing dan memberikan sesi kepada para pelayan yang berada di kantor Zending HKBP, Pematang Siantar. Pertemuan ini adalah kali kedua, untuk memperlengkapi para pelayan yang di kantor untuk melanjutkan pelayanan penginjilan internal di kawasan kota Pematang Siantar. Sesi pada saat ini membahas seni mendengar, memang sesi ini kedengaran sangat biasa dan tidak menarik dalam sesi apapun di pelayan kita. Dalam sesi ini menjelaskan pentingnya mendengar saat melakukan penginjilan melalui ilmu pastoral, adapun tujuan mendengarkan, yaitu:

  1. Tujuan mendengarkan dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berkomunikasi lisan dengan orang lain. Dalam komunikasi tersebut kita akan menyampaikan dan      menerima informasi. Proses penyampaian informasi secara lisan di sebut berbicara.        Sedangkan proses menerima menerima informasi di sebut mendengarkan.
  2. Mendengarkan untuk mendapat informasi berarti memperoleh beberapa kemampuan baru atau segala sesuatu yang berhubungan dengan beberapa perilaku yang lebih efektif seperti bagaimana menggunakan computer, membuat kurva, atau mempersiapkan jamuan makan. Pada kesempatan lain kita mendengarkan untuk informasi yang kita gunakan dalam memberikan beberapa macam evaluasi, keputusan, dan kritikan.
  3. Mendengarkan untuk menolong yang dalam hal ini berfungsi membantu orang lain dalam mengatasi masalah. Misalnya saja kita mendengarkan orang mengadu, mendengarkan persoalan pribadi, atau berusaha untuk membuat keputusan. Mungkin saja kita hanya sekedar mendengarkan atau menjadi pendengar dan hanya bersifat pendukung saja, namun demikian proses ini sudah menjadi upaya untuk menolong orang lain.

Dalam hal mendengar juga ada beberapa keterampilan untuk melakukannya, yaitu:

  1. Bukan pendengar adalah model pendengar yang membosankan sebab pusatnya bukan engkau, tetapi aku. Baginya berbicara lebih utama daripada mendengarkan.
  2. Pendengar dangkal adalah orang yang sudah mendengar apa yang diucapkan, tetapi belum benar apa yang dibicarakan. Pendengar seperti ini dapat mempunyai sikap tidak sungguh-sungguh dalam mendengar.
  3. Pendengar evaluatif ini sudah jauh lebih baik dibandingkan pendengar dangkal dan bukan pendengar. Pendengar evaluatif sudah masuk cukup jauh dalam percakapan dimana pendengar sudah mau menangkap ungkapan-ungkapan baik verbal maupun nonverbal.
  4. Tipe pendengar Kritis ini adalah orang yang tidak mau asal menerima dan asal percaya saja. Jika sudah dipertimbangkan, barulah ia mengambil sikap percaya atau menerima. Bila tidak masuk akalnya, ia pun akan menolak hal tersebut.
  5. Tipe pendengar Aktif ini berusaha sedapat-dapatnya menyimak, menyelami dan memahami seluruh gerak, perasaan dan pikiran si konseli. Dalam pemahaman tersebut, pendengar menghargai dan memahami informasi yang disampaikan oleh konseli.

Pendengar yang Baik Menurut Keith Davis, antara lain:

  • Berhenti bicara pada waktu orang lain bicara.
  • Mengusahakan agar orang yang berbicara dapat bersikap tenang.
  • Menunjukkan keinginan untuk mendengarkan.
  • Menyingkirkan gangguan.
  • Menyelami dan mengerti keadaan lawan bicara.
  • Sabar, tenang dan ramah.
  • Mampu mengendalikan temperamen.
  • Bersikap tenang sewaktu mendengar kritik-kritik.
  • Mengajukan pertanyaan-pertanyaan jika kurang mengerti inti permasalahan.

Diakhir sesi, ibu kadep membuka ruang untuk sesi pertanyaan. Ada beberapa pelayan kantor zending memberikan pertanyaan dan respon dari apa yang dipelajari dan pahami hari ini. Sesi ini akan terus berkelanjutan, agar pelayan yang berada dikantor zending HKBP dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan maksimal dan membawa jiwa-jiwa untuk percaya bahwa Tuhan Yesus setia di dalam hidup kita. Dengan demikian, marilah memulai penginjilan dengan mendengar apa dikatakan Firman Allah, mendengarkan masalah-masalah kelompok yang tidak terjangkau atau belum dijangkau. Horas Penginjilan HKBP, Horas Zending HKBP. //JLS