Pematangsiantar 28 Maret 2019, telah berlangsung Rapat Dewan Kurator Sekolah Pendeta HKBP bertempat di kantor sekpend – kompleks STT HKBP Pematangsiantar. Dalam rapat tersebut turut hadir, Ompu i Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing, Direktur Sekolah Pendeta Pdt. Robert Silitonga, M.Th, Pdt. Dr. Riris Siagian, Pdt. Bangun Aruan, M.Th, Praeses HKBP Distrik XXIV Tanah Jawa Pdt. Sikpan K. Sihombing, M.Th, Praeses HKBP Distrik XIV Tebing Tinggi Deli Pdt. Pantun Silitonga, S.Th, M.Sc, dan Diak. Julinda br. Lubis.

Sebagaimana juga yang hasil keputusan Rapat Praeses HKBP di Bandung lalu, program penerimaan Mahasiswa/i Sekolah Pendeta diharapkan akan tetap dibuka dengan mempertimbangkan, bila memungkinkan bukan hanya tahbisan Guru Huria saja yang bisa mengikuti pendidikan Sekolah Pendeta, tetapi juga dimungkinkan untuk Tahbisan Bibelvrouw, dan Tahbisan Diakones. Pendidikan Sekolah Pendeta yang bisa dipahami sebagai vocational ini dipahami sangat penting untuk tetap berjalan.

Lalu Ephorus HKBP berpesan agar Direktur Sekolah Pendeta bersama para dosen untuk membicarakan secara serius pentingnya kelanjutan pendidikan Sekolah Pendeta termasuk merespon adanya usulan kalau pendidikan bisa diiikuti bukan hanya dari Tahbisan Guru Huria saja tetapi juga bisa diikuti Tahbisan Bibelvrouw, dan Tahbisan Diakones, demikian juga pentingnya kelanjutan program pendidikan dengan berbagai pertimbangan termasuk dengan membuat konsep kurikulum yang bersifat berkesinambungan dengan menyertakan alasan konkret, usulan pertimbangan agar minimal tahbisan yang diterima menjadi mahasiswa/i menjadi 8 tahun tahbisan bukan lagi 10 tahun tahbisan, demikian tentunya juga dengan melihat kebutuhan HKBP sendiri bagaimana pandangan para dosen dengan alasan konkret dan berdata misalnya dengan adanya orientasi pendidikan yang lebih khusus tentang dokumen teologi.

Hasil tersebut sangat penting diulas dengan jelas, lalu dibawakan ke rapat dewan kurator guna memperoleh pertimbangan, masukan, dan persetujuan, yang kemudian nantinya hasil tersebut bukan lagi hanya hasil dari rapat pada dosen namun menjadi hasil dari Rapat Dewan Kurator Sekolah Pendeta, kata Ephorus.

Hasil tersebut akan disampaikan kepada Ephorus HKBP untuk dibicarakan di Rapat Praeses HKBP dan Rapat Majelis Pekerja Sinode (MPS) HKBP dalam waktu dekat. Dengan berakhirnya pendidikan Mahasiswa/i Sekolah Pendeta HKBP dengan berlangsungnya wisuda lalu, maka telah berakhir masa pendidikan tahun 2015 – 2019, yang akan menjadi salah satu laporan Sekolah Pendeta kepada Ephorus HKBP.

Salah satu Dewan Kurator Praeses Pdt. Pantun Silitonga juga mengatakan kalau Rapat Praeses HKBP yang berlangsung di Bandung, juga mengulas tentang Sekolah Pendeta HKBP, disana ditampung ada harapan kalau Sekolah Pendeta akan tetap bahkan bukan hanya dikhususkan kepada Tahbisan Guru Huria tetapi juga dengan Tahbisan Bibelvrouw dan Tahbisan Diakones. Mungkin bisa disusun juga materi perkulihan, yang tentunya ada perbedaan dan persamaan mata kuliah, misanya ada perbedaan kekhususan dikarenakan berbeda tahbisan misalnya tentang teologi panggilan, demikian ada persamaan ketika membicarakan tahbisan kependetaan dikarenakan muaraya akan kesana juga, karena Tahbisan Kependetaanlah yang mencakup semua tahbisan, kata dewan kurator. Bila dimungkinkan juga, hanya sekitar 20 – 30 orang cukup, dan ditambah dengan mata kuliah dari para dosen tamu yang bersifat tematis, kata Ephorus. Rapat Dewan Kurator tersebut berlangsung cukup singkat dan sukacita. (APS)