Ephorus HKBP mengatakan kemitraan ini menjadi perakit bukan hanya antargereja-gereja HKBP dengan UEM – Jerman dan Tanzania, tetapi juga perakit gereja HKBP dengan gereja-gereja dari Asia secara khusus dari Indonesia yang bermitra ke UEM

 

Hari ini, Rabu (27/3/2019) Ompu i Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing memberikan bimbingan dalam pertemuan sosialisasi kemitraan HKBP yang diselenggarakan di Perkampungan Pensiunan Bibelvrouw Eben Eser Sinaksak. Tujuh (7) Distrik dan 3 Lembaga yang bermitra ke UEM (Jerman) dan Tanzania ini sangat antusias mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut yang telah berlangsung sejak kemarin. Kegiatan ini dikoordinir oleh Sekretaris Mitra yang bertugas sebagai jembatan penghubung antara mitra HKBP dengan Jerman dan Tanzania.

Dari HKBP, yang bermitra dengan UEM (Jerman) dan Nothwestern Diocese of Evangelical Lutheran Church in Tanzania diantaranya Distrik II Silindung bermita dengan Distrik Koein Sud, Distrik III Humbang bermitra dengan Distrik Krefeld Viersen, Distrik VI Dairi bermita dengan Distrik An der Agger, Distrik VII Samosir bermitra dengan Distrik Oberhaussen, Distrik X Medan Aceh bermitra dengan Distrik An der Agger, Distrik XVI Humbang Habinsaran bermitra dengan Distrik Aachen dan Distrik Tanzania, Rumah Sakit HKBP Balige bermitra dengan Distrik Koein Sud, Distrik XI Toba Hasundutan dan Pendidikan Diakones bermitra dengan Distrik Luedencheid – Plettenberg, Perkampungan Bibelvrouw Pensiun bermitra dengan Niederkassel.

Ephorus HKBP dalam bimbingannya memberikan semacam penguatan terhadap berbagai hal yang dapat memperkuat kemitraan yang dilaksanakan oleh distrik – distrik dan lembaga dengan distrik/badan yang ada di luar negeri seperti Tanzania khususnya yang berada di Jerman. Kemitraan ini kita harapkan bisa merupakan perakit daripada gereja – gereja yang bermitra ke Jerman dan harapan juga ikut kepada antara gereja – gereja yang sama – sama berasal dari Asia khusunya Indonesia, dan itu merupakan stressing nanti, kata Ompu i Ephorus.

Ephorus memaparkan ada tiga hal penting yang perlu didiskusikan sebagai evaluasi sekaligus bisa menjadi program diantaranya;

Pertama, ada keluhan yang kita hadapi, apabila kita mengadakan kemitraan gereja HKBP atau juga gereja – gereja di Asia dengan Jerman. Kita gereja – gereja Asia hanya bertumpu kepada Jerman, sementara kita yang sama – sama di Asia ini justru kurang memperdulikan kemitraan kita sendiri sesama gereja – gereja di Asida. Misalnya, kita HKBP yang bermitra ke Jerman, dan yang ada di Jawa juga bermitra ke Jerman, gereja yang di Papua juga bermitra ke Jerman, padahal kita sama kita di Indonesia tidak saling kenal satu sama lain, misalnya dengan gereja di Jawa dan di Papua. Kita tidak begitu kenal familiar gereja GKJTU, dan lainnya, dan keluhan ini juga dirasakan oleh gereja – gereja lain bahkan juga dirasakan oleh gereja – gereja Jerman. Kita disini tidak ada kerjasama, padahal di Jerman kita ketemu dan bekerjasama, saling kenal disana, jadi ini satu keheranan juga. Sangatlah baik kalau kita bisa merakit hubungan kita dengan gereja – gereja yang di Asia ini atau khusus dulu di Indonesia ini. Baik kita punya komunikasi bagus dengan Jerman, tetapi harus juga ada di lintas gereja sesama di Indonesia. Memang ada Sekber UEM, tetapi ini masih terfokus antar Pimpinan – pimpinan Gereja saja. Bahkan sangat perlu dikembangkan ke tingkat Asia. Ini terungkap ketika kita bertemu dengan utusan – utusan, kelompok, departemen, yang ada di bawah naungan gereja masing – masing.

Kedua, bagaimana kita melihat antara hubungan kita dengan gereja – gereja yang ada di Jerman, dan hubungan gereja – gereja lain juga yang ada di Jerman. Bukan dimaksud dengan persaingan yang tidak sehat, tetapi kita bisa merasakan ketika semacam memasukkan atau mengajukan proposal, ada semacam kesulitan agar proposal itu disetujui, misalnya ada program beasiswa dan lainnya. Ada perbandingan atas nama gereja, sementara jumlah kepersonaliaannya pun sangat berbeda dimana tentu HKBP dengan kepersonaliaannya yang besar seharusnya memiliki peluang yang lebih besar bukan penjatahan gereja ini dengan nama sinode gereja itu tetapi seharusnya melihat jumlah kepersonaliaannya dan pelayanannya masing – masing gereja. Kalau ke depan tentunya apa dan bagaimana HKBP lengkap dengan programnya, departemennya, dan juga sumber daya manusianya, sehingga perbandingan program juga jelas. Selain argumentasi yang logis kita pakai, tetapi juga terlihat urgensi program yang kita ajukan itu.

Ketiga, kontinuitas daripada semua program mitra yang telah dilaksanakan. Tentunya Mitra yang paling tahu, apa saja program yang sudah ada di distrik dan lembaga masing – masing. Kesinambungan itulah yang perlu kita pelihara, dengan ditentukan urgensinya. Memang kita dapat melihat bahwa suatu kerjasama dengan Jerman, bisa saja ada yang tidak relevan lagi karena urgensinya tidak tepat lagi. Kalau memang tidak relevan lagi, maka kita bisa alihkan dengan program yang lain. Misalnya, ternyata mereka hampir bingung apakah program kerjasama yang sedang berjalan itu, masih relevan lagi diteruskan atau tidak relevan lagi diteruskan? Ini sering dipertanyakan. Ketika saya menjabat Ketua STT HKBP, saya pernah berkunjung ke UEM, terpaksa saya perpanjang karena mereka meminta roundtable di UEM, jadi ketika Ibu Sonya mengatakan, Bapak Tobing harus memperpanjang karena semua mitra yang ada di gereja gereja ini ingin informasi. Jadi saya pikir itu mulanya hanya gereja HKBP, tetapi ternyata semua gereja yang ada di Indonesia. Ternyata banyak gereja – gereja yang tidak memiliki atau tidak meng update apakah relevan atau tidak relevan lagi program ini. Sering mitra kita tidak tahu, apakah program itu masih relevan atau tidak, kalau tidak relevan maka diganti dengan program yang lain termasuk ini kami alami ketika kunjungan kami yang terakhir ini. Jadi relevansi suatu program ini harus dibahas disini dan diberikan informasi ke Jerman agar mitra kita juga bisa tahu dengan jelas. Kerjasama kita tidak hanya satu bidang saja dan ada waktunya, jadi bisa dialihkan dengan program lain kalau benar – benar dibutuhkan dan bermanfaat, kata Ompu i Ephorus.

Ketika kunjungan kami terakhir di Bulan Nopember 2018, kami berkumpul yang dari HKBP, kami juga menerima informasi kalau ada juga distrik yang memperoleh pujian karena distrik tersebut selalu memberikan informasi dan berkomunikasi kepada mereka, misalnya Distrik XI Toba Hasundutan yang rutin berkomunikasi. Mereka juga senang dengan informasi yang sering mereka terima dengan berlangsungnya program di distrik masing – masing. Tanpa ada kunjungan pun, kita bisa saling menyapa melalui alat – alat komunikasi, ini sangat penting, bahkan ini juga semacam penghargaan juga bagi yang rajin berkomunikasi secara pribadi, kelembagaan, maupun distrik dan lembaga, sehingga mereka juga membutuhkan dan bangga atas berita dari sini kesana. Ini menjadi aktualisasi dari program – program yang sedang berjalan, tutur Ephorus.

Ompu i Ephorus dalam memberikan bimbingan ini didampingi dan dimoderatori oleh Sekretaris Jenderal Pdt. David Farel Sibuea, M.Th, D.Min, yang turut juga didampingi Kepala Departemen Marturia Pdt.Dr. Anna V. Pangaribuan, Kepala Departemen Diakonia Pdt. Debora P. Sinaga, M.Th, dan Sekretaris Mitra Pdt. Sondang Napitupulu, M.Th.

Sekretaris Jenderal mengatakan, sebagaimana yang disampaikan Ompu i Ephorus HKBP, kalau kemitraan ini memang merupakan kemitraan gereja HKBP dengan UEM Jerman dan Tanzania, tetapi juga perlu ada menjalin kerjasama dengan gereja – gereja yang ada di sekitar kita.

Selain arahan, juga ada pertanyaan yang disampaikan peserta diantaranya dari Ketua Sekolah Tinggi Diakones (STD) HKBP Diak. Serepina Sitanggang menyampaikan harapan agar ada sinergitas atau kerjasama baik antara Distrik dengan BPM di distrik masing – masing, terkesan masalah diwariskan tetapi Praeses berikutnya tidak mau menyelesaikan yang ada supaya tidak berdampak negatif dengan kerjasama kita dengan gereja – gereja Jerman.

Memang penting ada dipelihara kepercayaan satu sama lain, kepercayaan lembaga, kepercayaan pengurus. Memang ini selalu menjadi masalah, pindah Praeses, masalah tetap tinggal, seandainya pindah Badan Pengurus Mitra (BPM), masalahnya pun tetap tinggal, kata Sekjend.

Lalu Ephorus mengatakan merakit kemitraan ini bukan hanya merakit lembaga atau distriknya, tetapi juga perlu kerjasama orangnya yang didalam, karena dialah pelaku yang menentukan hidup matinya konektivitas kerjasama tersebut, sangat ditentukan oleh pejabat itu sendiri, siapa Praeses disini dan siapa Praeses disana. Misalnya, luar biasa penyambutan Presiden An der Agger kepada kami di Jerman karena ada dari berbagai unsur baik pimpinannya maupun juga dari pemerhati gerejanya yang berlatar belakang keahlian yang berbeda – beda. Pemahaman kami, bukan hanya kami yang disambut, tetapi juga tentunya An der Agger memahami kalau kami tidak terlepas dari kepuasan mereka akan pelayanan dari Distrik X Medan Aceh dan Distrik VI Dairi. Mereka sangat bersukacita atas kehadiran kami, bahkan meminta kami agar berkenan memberikan pelayanan Firman di dalam acara itu. Memang pada akhirnya, penentu kemitraan ini sangat ditentukan oleh person, memang program ada, tetapi kalau hanya diajukan bisa tidak jalan, harus dilakoni – disentuh dan berkomunikasi agar berjalan dengan baik. Bisa saja, mereka menganggap kita sudah mandiri, tetapi di sisi lain bisa dipahami terjadi ketidakseimbangan. Jadi perlu ada upaya menangani ini, dengan memberikan argumentasi secara logis dengan program – program yang benar  bermanfaat dengan pertimbangan luasnya pelayanan HKBP, sehingga bukan lagi sekedar hanya daftar nama sinode saja, dan itu semua memerlukan ada komunikasi aktif supaya ada keseimbangan. Kemitraan kita merupakan pertukaran pelayanan yang saling menguntungkan, bukan hanya mereka membantu kita tetapi kita juga membantu mereka.

Sosialisasi Kemitraan ini akan menghasilkan pedoman pelayanan kemitraan yang akan disahkan oleh Ephorus HKBP setelah melalui Rapat Majelis Pekerja Sinode (MPS) HKBP. Usai sesi dari Ompu i Ephorus HKBP, dilanjut dengan sesi pleno. Acara diakhiri dengan apresiasi tepuk tangan dan tak lupa foto bersama. (APS)