HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN
Berita Terkini HKBP



Renungan Harian HKBP
Renungan Terkini
Renungan Harian Marturia Jumat, 12 Desember 2025
Renungan: Mazmur 91:4
Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.
Bapak Ibu saudara yang dikasihi Tuhan, saat ini, banyak orang yang berjalan dengan hati yang Lelah dan berat namun tersenyum seolah dia baik-baik saja. Kita hidup di zaman ketika ketakutan itu tidak selalu hadir dalam bentuk bahaya fisik, tetapi dalam bentuk yang lebih halus: kecemasan yang mungkin datang tiba-tiba, pikiran yang sering tidak dapat tenang.
Saudara saudari, terkadang Ada orang yang tertawa dalam percakapan, tetapi menangis diam-diam sebelum tidur. Ada yang terlihat kuat di depan umum, tetapi rapuh ketika sendirian. Dunia kita penuh janji keamanan, namun hati manusia sering tetap merasa tidak aman.
Dalam realitas seperti inilah Mazmur 91 berbicara dengan begitu kuat—sebuah mazmur yang seolah memeluk kita ketika dunia terasa terlalu bising. Mazmur ini dari kehidupan nyata yang penuh ancaman dan ketidakpastian. Di balik kata-katanya, ada pergumulan umat yang bertanya: “Adakah tempat aman? Adakah tangan yang sungguh memelihara?” Dan di tengah pertanyaan itu, Mazmur 91:4 muncul bagaikan jawaban yang lembut namun pasti.
Mazmur 91 termasuk dalam mazmur perlindungan, sebuah mazmur yang menguatkan umat ketika mereka menghadapi bahaya yang tidak selalu terlihat oleh mata. Ayat renungan hari ini mencatat bahwa mazmur ini digunakan dalam masa-masa krisis: ketika penyakit menyebar, musuh mengancam, atau ketika hidup terasa tidak stabil.
Saudara yang dikasihi Tuham, Ayat 4 menghadirkan salah satu metafora paling lembut tentang Allah: “Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung; kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.” Gambaran ini merujuk pada induk burung yang menyembunyikan anaknya di bawah sayapnya ketika bahaya datang. Ini bukan gambaran kekuatan saja, tetapi gamabaran kehangatan, kedekatan, dan sentuhan yang penuh kasih. Allah digambarkan sebagai pribadi yang tidak hanya melindungi dari jauh, tetapi mendekap dengan penuh kasih.
Firman hari ini mengingatkan, bahwa hidup orang percaya tidak akan selalu bebas dari kesulitan, Mazmur ini juga tidak menjanjikan bahwa bahaya akan hilang, tetapi kita mau diingatkan, bahwa Allah akan senantiasa hadir di tengah bahaya itu. Perlindungan dalam ayat ini bukan jaminan bahwa badai tidak datang, tetapi kepastiannya adalah bahwa kita tidak akan menghadapi badai itu dengan sendirian.
Saudara yang dikasihi Tuhan, kata “kesetiaan-Nya” dalam ayat ini berasal dari kata Ibrani ’emet, yang berarti keteguhan, keandalan, dan kebenaran yang tidak berubah. Artinya, perlindungan Allah bukanlah perasaan, tetapi fakta rohani. Pemazmur hendak berkata bahwa hidup orang percaya tidak ditopang oleh stabilitas dunia, tetapi oleh kesetiaan Allah yang tidak pernah goyah.
Namun, Mazmur 91:4 ini bukan hanya pernyataan tentang siapa Allah, tetapi juga undangan bagi manusia untuk bertindak: untuk datang, mendekat, dan berlindung di bawah sayap-Nya. Perlindungan Allah tersedia, tetapi harus didekati. Sayap-Nya terbuka, tetapi kita perlu memilih untuk bernaung di bawahnya. Mazmur ini menantang kita untuk memilih posisi hati—apakah kita hidup dalam ketakutan yang menguasai, atau memilih hidup dalam perlindungan Allah yang menenangkan?
Sudara yang dikasihi Tuha, firman Tuhan hari ini berbicara langsung kepada setiap hati yang gelisah. Banyak orang mencoba bertahan dengan kekuatan sendiri—mengatur semuanya, memikul semuanya, dan berusaha terlihat kuat. Namun Mazmur 91:4 mengingatkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu ditemukan dalam kemampuan mempertahankan diri, melainkan dalam keberanian untuk berlindung.
Berlindung di bawah sayap-Nya berarti menyerahkan kecemasan yang kita sembunyikan dari orang lain. Itu berarti percaya bahwa ketika kita tidak mengerti jalan hidup kita, Allah tetap menutupi kita dengan kasih-Nya. Percaya meski hati kita belum tenang, sebab ketenangan bukan syarat untuk berlindung, kita berlindung agar hati menjadi tenang.
Firman Tuhan hari ini, membawa penghiburan bagi siapa pun yang mendengarnya hari ini. Di dunia yang penuh ketidakpastian, kita memiliki perlindungan yang tidak tergoyahkan. Di bawah sayap-Nya, kita aman. Dalam kesetiaan-Nya, kita dikuatkan. Dan dalam kasih-Nya, kita menemukan rumah bagi hati kita.
C.Gr. Jepri Tarihoran, S.Ag- LPP III di Biro Sekolah Minggu HKBP
Renungan Harian Marturia, Kamis 11 Desember 2025
Doa Pembuka: Mari kita berdoa! Allah Bapa yang kami kenal di dalam Kristus Yesus. Terima kasih atas kasih setia-Mu yang boleh kami rasakan hingga pagi hari ini. Sebelum kami memulai aktivitas kami dalam satu hari ini biarlah firmanMu menjadi penopang dan kekuatan baru bagi kami, untuk itu berkatilah hati dan pikiran kami agar boleh menerima dan memahami kebenaran Firman Tuhan. Di dalam nama anakMu Tuhan Yesus Kristus kami berdoa, Amin.
Firman Tuhan yang menjadi landasan kita beraktivitas pada hari ini Kamis, 11 Desember 2025 tertulis dalam Injil Matius 15: 32. Beginilah Firman Tuhan. “Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Demikian Firman Tuhan.
Bapak ibu, saudara/I yang terkasih, mungkin ketika ada yang bertanya kepada diri kita tentang apa yang paling kita ingat dari sosok Yesus Kristus, kita semua pasti setuju bahwa “Kasih” adalah kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ya, kasih bukan hanya pengajaran yang Yesus tampilkan melalui perkataan, tetapi juga terpancar di dalam kehidupanNya. Bahkan karena kasihlah kita boleh berpengharapan akan hidup baru yang Tuhan berikan melalui pengorbanan Anak-Nya di kayu salib.
Yesus katakan “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu”. Perkataan ini bukan hanya menyatakan kebesaran hati Kristus terhadap orang banyak yang sudah lelah berjalan mengikuti Dia selama berhari-hari. Tetapi juga menjadi pengajaran yang berharga bagi kita untuk melihat hidup ini. Sebagai orang percaya kita selalu diajak untuk meneladani hidup Kristus, berarti seluruh hati dan fikiran bahkan perkataan kita haruslah tertuju hanya kepada-Nya.
Apa yang Yesus lakukan di dalam nats ini tentu membuka cara baru bagi kita untuk melihat keadaan di sekitar kita. setiap orang mungkin memiliki kasih di dalam hati dan pikirannya, tetapi tidak semua mampu untuk merangkat melakukan kasih di dalam kehidupannya. Yesus bukan hanya mengatakan bahwa hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, tetapi ia melakukan lebih daripada itu, yaitu menyatakan kasih-Nya bagi banyak orang.
Bapak/ibu dan saudara/I yang terkasih, dalam beberapa minggu terakhir kita mendengar bahwa banyak bencana yang terjadi di Negara kita ini, banjir bandang dan tanah longsor yang mengakibatkan banyak orang harus menderita. Maka dari itu, melalui nats ini kita semua di ajak untuk saling bahu-membahu menyalurkan kasih kita. melalui Doa maupun uluran tangan, itu semua sangat berharga bagi mereka yang membutuhkan. Yesus tidak memberi dari kecukupan tetapi ia memberi dari kekurangan yang pada Akhirnya menjadi cukup bagi banyak orang. Marilah menjadi saluran kasih Kristus bagi sesama manusia, sehingga semua dapat merasakan sukacita dari kasih yang Tuhan teladani bagi kita. Amin.
Doa Penutup: Bapa kami yang di sorga, yang kami kenal di dalam nama Anak-Mu Yesus Kristus, terima kasih untuk Firman-Mu yang boleh kami dengarkan pada pagi hari ini, biarlah firman-Mu tetap tinggal di dalam hati kami dan menjadi pengingat serta pedoman bagi kami dalam menjalani aktivitas pada satu hari ini.Terpujilah Engkau Tuhan di dalam nama Anak-Mu Tuhan Yesus Kristus kami berdoa dan mengucap syukur, Amin.
C.Pdt. Arif D.W. Simanjuntak, S.Th- LPP I di Biro Oikumene HKBP
Renungan Marturia HKBP, Rabu 10 Desember 2025
Doa Pembuka: Puji dan syukur kami panjatkan atas rahmat dan pengasihanMu ya Tuhan Allah kami, yang melindungi, memberkati, dan menyertai kami selalu. Saat ini kami merendahkan hati untuk mendengarkan FirmanMu. Kiranya Tuhan berkenan memberi pengertian bagi hati kami, memberi kekuatan untuk melakukannya dalam Nama AnakMu, Tuhan Yesus Kristus. Amin.
Renungan: Kisah Para Rasul 9:17
Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”
Saudara/i yang terkasih di dalam Yesus Kristus. Renungan hari ini merupakan bagian dari perjalanan Paulus, bukan hanya ke perjalanan menuju Damsyik, tetapi juga perjalanan menuju terang Allah. Suatu peristiwa yang menyejukkan hati ketika Ananias menumpangkan tangan atas Saulus, seorang yang berkobar-kobar untuk menganiaya para pengikut Kristus. Pada momen ini kita mulai merenungkan keindahan kasih Allah yang terjadi atas Saulus. Selain itu, bukan Saulus yang datang mencari Yesus, justrus Yesus yang datang menemuinya, menginterupsi rencananya, dan membuka jalan bagi kehidupan baru. Inilah kasih karunia Allah: Dia yang memulai, memilih dan menuntun hidup manusia.
Saulus berangkat ke Damsyik dengan hati penuh kebencian. Ia mengatur surat kuasa, strategi, dan rencana matang untuk membinasakan para murid Kristus. Namun dalam perjalanan itulah Yesus Kristus menemuinya. Saulus jatuh ke tanah dan menjadi buta — sebuah simbol bahwa hidupnya selama ini berjalan dalam kegelapan. Saulus yang dielu-elukan dengan kemampuan dan kecerdasannya sendiri menjadi tidak berdaya, bahkan harus dituntun oleh orang lain, menandai awal dari kerendahan hati yang Tuhan bangun dalam dirinya. Tiga hari dalam kebutaan menjadi ruang hening bagi Saulus untuk merenungkan hidupnya.
Kemudian Allah memulihkan Paulus, memberikannya kesempatan yang sungguh tak ternilai. Allah mengutus Ananias, seorang murid yang awalnya takut dan ragu, untuk merangkul Saulus sebagai saudara. Kata-kata Ananias, “Saulus, saudaraku…,” mencerminkan bahwa Allah tidak mengingat dosa masa lalu ketika Ia memanggil seseorang (Mazmur 25:7).
Kisah Saulus menggambarkan perjalanan iman setiap orang percaya. Kita mungkin tidak sekejam Saulus, namun keberdosaan telah menjauhkan kita dari Tuhan Allah. Tetapi Dia tidak melihat kita sebagai pribadi yang tidak layak ditebus. Dalam Kristus, Ia menanggung dosa kita, menghapus kesalahan kita (Yesaya 43:24b-25), dan memanggil kita masuk ke dalam hidup yang baru. Firman-Nya menegaskan bahwa kita dilahirkan kembali oleh Firman yang hidup dan kekal (1 Petrus 1:23).
Yesus sendiri berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16). Maka, ketika hidup kita berubah, itu terjadi karena Tuhan Allah yang lebih dulu bekerja dalam diri kita. Ia memberi arah baru, menuntun langkah kita, serta menjamin masa depan kita (Amsal 23:18–19). Kiranya kita, seperti Saulus, membuka hati untuk dibentuk, dipulihkan, dan diutus oleh Tuhan setiap hari. Amin.
Doa Penutup: Terima kasih ya Tuhan, kiranya FirmanMu memberikan kami kekuatan dan kesadaran bahwa Engkau bekerja dalam hidup kami. Biarlah hidup kami semakin berserah ke dalam kuasaMu, meyakini bahwa hidup kami haruslah dalam tuntunanMu. Ya Tuhan yang maha pengasih, janganlah mengingat segala kesalahan kami, tetapi lihatlah kami dari kasihMu yang tak berkesudahan. Beri kami kesempatan untuk menerima pembaharuan yang dari padamu, dan semakin mengandalkan Engkau dalam kehidupan kami. Berkati kami ya Tuhan, saudara dan seluruh keluarga kami, para sahabat, dan orang-orang yang hatinya telah kami lukai. Kiranya kami mampu menyadari dosa-dosa kami, mau mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kami, dan kiranya Tuhan berkenan untuk memberikan pengampunan. Kami yakin bahwa Tuhan setia mendengarkan doa kami, yang kami sampaikan dalam Nama AnakMu, Tuhan Yesus Kristus. Amin.
Pdt. Mika Simanjuntak, S.Th- Fungsional di Biro TIK HKBP
Renungan Harian Marturia HKBP, Selasa 9 Desember 2025
Doa Pembuka: Ya Tuhan Allah yang Mahakuasa, Mahapengasih, Bapa kami di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kami mengucap syukur dengan segenap hati kami, karena Engkau memelihara hidup kami sampai saat ini. BerkatMu menenteramkan hidup kami untuk merenung sejenak, dan mendengarkan suara-Mu yang penuh kasih. Kiranya melalui renungan ini, Engkau berbicara kepada kami dan membuka mata hati kami untuk melihat kebenaran-Mu. Biarlah setiap kata yang terdengar mengarahkan kami lebih dekat kepada-Mu, dan membawa perubahan dalam hidup kami yang memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami, Amin.
Renungan dari Efesus 1 : 4
“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam hati setiap manusia ada kerinduan yang sama: Kita ingin tahu bahwa hidup kita berarti. Kita ingin merasa diterima, diinginkan, dan tidak hidup secara sia-sia. Ketika kita dihargai, hati kita lega. Tetapi ketika kita ditolak atau diremehkan, kita merasa goyah. Bahkan orang yang paling kuat pun kadang bertanya dalam hati: “Apakah hidup saya sungguh berharga?”
Di tengah pertanyaan itu, Firman Tuhan dalam Efesus 1:4 datang dengan berita yang begitu indah dan menguatkan hati: “Di dalam Kristus, Ia telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercela di hadapan-Nya dalam kasih.” Ini berarti hidup kita bukan hasil kebetulan. Kata “memilih” (eklegomai), berarti memilih dengan sengaja dan penuh kasih. Dan Allah melakukan itu sebelum dunia dijadikan, sebelum kita bisa membuktikan apa pun. Kita tidak dipilih karena sudah baik, tetapi dipilih supaya Allah membentuk kita menjadi baik dan hidup dalam kasih-Nya.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Di zaman ini banyak orang merasa kehilangan arah. Tekanan hidup, tuntutan pekerjaan, komentar orang, dan perbandingan di media sosial sering membuat kita merasa tidak cukup. Dari luar banyak yang tampak baik-baik saja, tetapi di dalam hati mereka memikul beban yang tidak terlihat.
Firman ini datang sebagai penghiburan: “Engkau sudah Aku pilih. Engkau berharga. Engkau tidak kebetulan.” Dunia menilai dari pencapaian, tetapi Allah melihat kita dalam kasih-Nya. Ketika kita merasa tidak layak, Allah berkata: “Dalam Kristus, Aku telah memilihmu.” Tetapi pemilihan ini bukan hanya untuk memberi rasa aman. Ini juga menjadi panggilan. Allah memilih kita supaya cara hidup kita mencerminkan kasih-Nya: jujur ketika dunia penuh kepalsuan, setia dalam tekanan, mengampuni dalam luka, dan menjaga kekudusan ketika banyak orang memilih jalan yang mudah.
Hari ini mari kita bertanya dalam hati: Apakah saya sudah hidup sebagai orang yang dipilih Allah? Apakah hidup saya memancarkan kasih dan kekudusan-Nya? Ketika kita menyadari bahwa Allah telah memilih kita sejak kekekalan, kita akan menjadi lebih kuat menghadapi tekanan hidup, lebih tenang dalam pergumulan, dan lebih teguh berjalan bersama Kristus. Kita tidak berjalan tanpa arah, tetapi kita hidup dalam rencana kasih Allah. Amin.
Doa Penutup: Ya Allah Bapa di surga, Kami bersyukur atas Firman-Mu yang kembali mengingatkan kami bahwa Engkau telah memilih kami di dalam Kristus sejak sebelum dunia dijadikan. Teguhkanlah hati kami untuk hidup sesuai dengan kasih dan kekudusan-Mu. Jadikan kami umat yang setia, jujur, dan memuliakan-Mu dalam segala perkara. Biarlah Roh Kudus membimbing langkah kami, menguatkan kami dalam setiap pergumulan, dan menuntun kami agar hidup kami semakin mencerminkan rencana-Mu yang kekal. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sang Pemilih dan Penebus kami. Amin.
C.Pdt. Johannes Sibarani, S.Th- LPP III diBiro Ibadah Musik HKBP
Renungan Harian HKBP. Kamis, 04 Desember 2025
Doa Pembuka : Marilah kita berdoa! Allah Bapa yang bertahta di Kerajaan Sorga, Allah Sang Pemilik kehidupan, kami mengucap syukur atas pernyertaan dan berkat Tuhan yang selalu kami rasakan disepanjang kehidupan kami. Kami juga bersyukur dan bersukacita atas satu hari baru yang Engkau anugerahkan bagi kami. Pada saat ini ya Allah kami hendak dituntun oleh Firman-Mu, berilah kami hikmat kebijaksanaan, agar Firman ini dapat menjadi pegangan kami dalam menjalani kehidupan. Dalam Kristus kami berdoa, Amin.
Bapa Ibu, saudara-saudari Firman Tuhan yang menjadi renungan kita hari ini diambil dari Efesus 4:2 beginilah Firman Tuhan…
“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu”.
Bapa Ibu yang terkasih dalam Kristus, kita memasuki Minggu Advent 1 dengan sebuah tema yang penuh harapan: “Berjalan dalam Terang Tuhan.” Di tengah kerlap-kerlip persiapan Natal dan hiruk pikuk hidup, tema ini mengajak kita untuk sejenak berhenti dan merenungkan: bagaimana sesungguhnya kita berjalan bersama Tuhan? Apakah langkah kita sudah sejalan dengan terang-Nya, ataukah kita masih berjalan dalam bayangan keakuan dan egoisme?
Perjalanan hidup kita diibaratkan sebagai kapal besar di tengah samudra yang penuh konflik dan perbedaan, kita membutuhkan empat karakter Kristen dari Efesus 4:2 untuk berjalan dalam Terang. Kerendahan Hati dan Kelemahlembutan berfungsi sebagai kemudi kapal yang bijak, mengendalikan kita bukan berdasarkan ego atau emosi yang tinggi, melainkan berdasarkan masukan yang benar, sebab kapten yang rendah hati selalu mendengarkan demi keselamatan bersama, dan kerendahan hati sejati adalah mengosongkan diri dari kesombongan untuk mendengar kehendak Tuhan. Sementara itu, Kesabaran adalah jangkar kapal yang krusial, menahan kita dari terombang-ambing atau menabrak di tengah badai, memberi kita kemampuan untuk menunda reaksi instan dan menahan amarah, sebab ia menambatkan kita pada janji dan waktu Tuhan. Terakhir, Kasih dalam Saling Membantu adalah tali-temali yang kuat, mengikat setiap bagian kapal menjadi satu struktur yang saling menopang, sehingga beban atau kesulitan satu anggota dapat ditanggung dan diatasi oleh seluruh tubuh.
Jika kita ingin sungguh-sungguh “Berjalan dalam Terang Tuhan,” maka terang itu harus terlihat dalam interaksi kita sehari-hari. Dimulai dari Keluarga, kita harus belajar memadamkan api amarah, belajar mendengar dengan sabar bukan berteriak kasar. Dalam pekerjaan mari gunanakan otoritas kita dengan kelemahlembutan untuk melayani bukan untuk menindas. Kesabaran adalah menghadapi rekan kerja yang lambat atau sulit dengan kemurahan hati, mengingat bahwa Tuhan juga sangat sabar terhadap kita. Saling membantu adalah menawarkan bantuan sebelum diminta, tanpa mengharapkan imbalan.
Masa Advent adalah masa persiapan menyambut kedatangan Juruselamat. Yesus Kristus adalah terang dunia. Bagaimana Ia datang? Ia datang dalam kerendahan hati, ia lahir di palungan, memilih jalan penderitaan di kayu salib. Ia menunjukkan kelemahlembutan yang sempurna, kesabaran yang tak terbatas, dan kasih yang rela berkorban. Untuk “Berjalan dalam Terang Tuhan” berarti kita harus menanggalkan jubah keangkuhan, kemarahan, dan ketidaksabaran kita, dan mengenakan seragam Kristus: kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih. Hanya dengan begitu, cahaya Kristus yang akan datang dapat benar-benar terpancar dari hidup kita.
Doa Penutup : Kami bersyukur Tuhan atas FirmanMu yang senantiasa mengingatkan kami bahwa Kasih Tuhan sungguh tak terbatas. Mampukan kami untuk meneladani Engkau dan mengandalkan Engkau disetiap langkah kehidupan kami. Biarlah hidup kami selalu memancarkan perbuatan-perbuatan baik supaya Nama-Mu selalu dimuliakan. Dalam Kristus kami berdoa, Amin.
C.Pdt. Naomi Greta Angelia Panjaitan, S.Th – LPP I di Biro TIK HKBP
Renungan Harian Marturia HKBP, Senin 1 Desember 2025
Doa Pembuka: Allah Bapa yang baik, Sumber Kehidupan, terpuji Engkau yang telah memelihara kehidupan kami. Sejenak kami akan bersekutu dengan Firman-Mu, biarlah Roh Kudus menolong kami untuk mengerti kehendak-Mu melalui hidup kami. Amin.
Nats Renungan: Yesaya 30:19 (LAI TB 1) “Sungguh, hai di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau terus berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab.”
Ayat ini muncul ketika bangsa Yehuda berada dalam ancaman Asyur. Bukan mempercayai TUHAN, mereka malah mencari perlindungan ke Mesir, mengandalkan kekuatan politik dan militer manusia. Yesaya menegur mereka karena menolak Firman TUHAN. Namun, kabar sukacitanya ialah setelah teguran itu, TUHAN tetap menunjukkan belas kasihan-Nya. Ia tidak membiarkan kesalahan mereka menutup pintu pemulihan. TUHAN berkata bahwa ketika umat-Nya kembali berseru, Ia bukan hanya mendengar, Ia berbelaskasihan dan segera bertindak.
Dari Ayat ini kita belajar bahwa TUHAN tidak menunggu kita sempurna. Ia menunggu kita kembali. Bahkan pun jika kita sudah lama hanya mengandalkan pikiran, kekuatan atau kemampuan kita sendiri, TUHAN tetap membuka jalan. Terkadang TUHAN mengizinkan kegelisahan dan kesesakan supaya kita berhenti berlari ke “Mesir” kita, yaitu tempat-tempat yang kita anggap mampu menyelamatkan kita, padahal tidak. Dan ketika kita akhirnya berseru, TUHAN menjawab bukan dengan penundaan, tetapi dengan Kasih.
Hari ini ketika ada hal yang sedang membuatmu tertekan atau takut. Mungkin pun sudah mencari penghiburan cepat dari manusia atau hal-hal lain yang tampak lebih kuat, membuatmu melupakan TUHAN. Inilah kabar sukacita, mengajak untuk kembali kepada Sumber Kehidupan, kepada TUHAN Yang Maha Pendengar. Dalam doa singkat serukan “aku kembali kepada-Mu. Tolonglah aku Bapa..” Percayalah bahwa Dia mendengar dan menjawab pada waktu-Nya. Jalani hari ini dengan iman bahwa air mata, atau kesesakan yang kita rasakan bukan menjadi akhir cerita hidupmu – TUHAN siapkan pemulihan. Amin.
Doa Penutup: Terima kasih untuk Firman-Mu yang meneguhkan iman kami. Kami manusia lemah yang sering mengandalkan kekuatan sendiri, dan melupakan-Mu. Kini kami kembali ya Bapa. Tolonglah kami menjalani kesempatan yang Engkau berikan ini. Amin.
C.Pdt. Citra Novia Sinambela, S.Th- Melayani di Biro TIK HKBP
Renungan Lainnya
HKBP Channel
Video Terkait Lainnya
34:11
34:13
49:11
58:01
6:13
12:37
13:35
3:33
15:52
15:10
