HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN

SILANGIT (14/1) – Panitia Sosialisasi Sistem Budgeting HKBP menggelar rapat perdana di Perkampungan Pemuda Jetun Silangit, dipimpin oleh Pdt. Rein Justin Gultom sebagai ketua panitia, Pdt. Same Siahaan sebagai sekretaris panitia, dan Pdt. Manaris Simatupang sebagai Bendahara. Pertemuan yang dibuka dengan doa oleh Pdt. Esron Siregar ini bertujuan mematangkan persiapan sosialisasi sistem budgeting HKBP yang akan diselenggarakan pada hari Selasa tanggal 27 Januari 2026 mendatang. Fokus utama rapat adalah merumuskan anggaran per seksi untuk pelaksanaan Training for Trainers (ToT) bagi Bendahara Huria, Parhalado Parartaon, Sekretaris, dan Pendeta Resort se-Tapanuli Raya. Panitia berkomitmen menjalankan tugas sesuai Surat Penugasan Ephorus guna mewujudkan tata kelola keuangan HKBP yang lebih transparan dan akuntabel.

TARUTUNG (14/1) – Ephorus HKBP melalui akun media sosialnya memberikan pemaknaan mendalam terhadap Doa Bapa Kami dalam konteks krisis ekologis saat ini. Berdasarkan teks asli Yunani, permohonan “makanan secukupnya” lebih tepat dimaknai sebagai “apa yang dibutuhkan untuk hidup.” Hal ini menegaskan bahwa doa tersebut bukan sekadar permohonan, melainkan pedoman etika untuk membatasi kerakusan dan peduli terhadap sesama. Ephorus menekankan bahwa kerusakan lingkungan di Indonesia berakar pada ketamakan segelintir pihak. Mengutip Mahatma Gandhi, beliau mengingatkan bahwa bumi cukup untuk kebutuhan semua orang, namun tidak akan pernah cukup untuk memuaskan ketamakan. Pesan ini menjadi seruan bagi warga HKBP untuk hidup bersahaja dan bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian alam demi kelangsungan hidup bersama.

TARUTUNG (13/1) – Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, melaporkan bahwa bantuan dana kemanusiaan yang terkumpul melalui Satgas Peduli Kasih HKBP telah mencapai hampir Rp12 miliar. Dari jumlah tersebut, lebih dari Rp8 miliar telah disalurkan secara bertahap kepada jemaat terdampak bencana berdasarkan skala prioritas dan koordinasi ketat dengan para Praeses di wilayah terdampak. Ephorus menyampaikan apresiasi mendalam kepada para donatur dan menyerukan doa bagi penguatan warga yang menderita akibat bencana ekologis. Beliau juga menegaskan sikap gereja untuk menentang perusakan lingkungan dan eksploitasi hutan guna mencegah bencana lebih dahsyat. Komitmen ini mempertegas peran HKBP dalam misi kemanusiaan sekaligus pelestarian keutuhan ciptaan Tuhan.

SIBOLGA (12/1) – Sekretaris Jenderal HKBP, Pdt. Rikson M. Hutahaean, M.Th, memimpin Ibadah Syukuran Bona Taon Distrik IX Sibolga-Tapteng-Nias pada Senin. Dalam kunjungan tersebut, Sekjen HKBP bersama Praeses Pdt. Nikson Simanjuntak menyerahkan bantuan “Tali Kasih” secara simbolis kepada warga jemaat yang terdampak bencana alam di wilayah tersebut. Penyaluran bantuan juga dilakukan melalui Pendeta Resort HKBP Sarudik, Pdt. Nommensen Sibagariang, untuk menjangkau jemaat yang tidak dapat hadir berdasarkan data dari sintua lingkungan. Melalui aksi diakonia ini, pimpinan HKBP memberikan penguatan spiritual dan dukungan nyata agar seluruh jemaat serta pelayan tetap semangat dan teguh dalam menghadapi masa pemulihan pascabencana.

MENTAWAI (13/1) – Pospel HKBP Kepulauan Mentawai, yang baru berdiri selama empat bulan, kini tengah mengupayakan pembangunan rumah ibadah permanen pertama di wilayah tersebut. Saat ini, jemaat yang berkembang pesat dari 17 KK menjadi hampir 30 KK masih beribadah sementara di Aula Kodim 0319 Mentawai. Dipimpin Pdt. Tampil Mancari Parapat, jemaat telah berhasil menyediakan lahan seluas 40 x 80 meter secara swadaya. HKBP mengajak partisipasi donasi dari seluruh jemaat melalui rekening BRI 7919-01-017238-53-5 (Panitia Pembangunan HKBP Mentawai). Inisiatif ini merupakan langkah bersejarah bagi perluasan pelayanan HKBP dalam menghadirkan pusat persekutuan dan kesaksian iman di Kepulauan Mentawai.

LAGUBOTI (12/1) – Kepala Departemen Marturia HKBP, Pdt. Bernard Manik, memimpin ibadah Open House sekaligus menjadi narasumber Kuliah Umum di Sekolah Tinggi Bibelvrouw (STB) HKBP. Mengawali semester genap, dengan membawakan topik “Pengajaran Iman di Tengah Keluarga” berdasarkan Ulangan 6:4–7, yang selaras dengan Orientasi Pelayanan HKBP 2026. Dalam khotbahnya (Matius 25:24–30), beliau menekankan pentingnya mengembangkan potensi diri sebagai wujud kesetiaan kepada Tuhan. Kegiatan ini disambut antusias oleh para mahasiswi dan dosen. Melalui momentum ini, Departemen Marturia mendorong STB HKBP agar terus mencetak pelayan yang berkarakter dan mampu menjadikan keluarga sebagai basis utama pembentukan iman jemaat.

PEARAJA (13/1) – Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga, memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) perdana tahun 2026 di Ruang Oval, Kantor Pusat HKBP, Tarutung. Pertemuan ini menjadi momentum strategis untuk mengevaluasi kinerja departemen selama satu bulan terakhir sekaligus memantapkan langkah pelayanan ke depan. Dalam rakor tersebut, Departemen Koinonia resmi meluncurkan Kalender Pelayanan 2026 dan menyusun persiapan implementasi program kerja untuk satu bulan mendatang. Pdt. Deonal menekankan pentingnya sinergi dan efektivitas dalam menjalankan program agar selaras dengan orientasi pelayanan HKBP tahun ini. Melalui koordinasi yang solid, Departemen Koinonia berkomitmen meningkatkan kualitas persekutuan dan pembinaan iman bagi seluruh jemaat HKBP.

SIBOLGA (12/1) – HKBP menggelar Bazaar Pakaian Gratis di HKBP Sibuluan, Distrik IX Sibolga-Tapteng-Nias, yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari Minggu, 11 Januari hingga Selasa, 13 Januari 2026. Pada hari kedua, Senin, 12 Januari 2026, tercatat lebih dari 1.000 pengunjung memadati lokasi untuk mendapatkan pakaian layak pakai hasil donasi jemaat HKBP Distrik DKI Jakarta dan Deboskab. Kegiatan yang diinisiasi Departemen Diakonia HKBP ini bertujuan meringankan beban ekonomi jemaat terdampak bencana serta masyarakat sekitar. Aksi solidaritas ini menjadi bukti nyata kepedulian lintas distrik HKBP dalam membantu pemulihan kondisi sosial jemaat pascabencana. Melalui bantuan ini, gereja berharap jemaat merasakan kehadiran kasih Kristus yang nyata di tengah masa-masa sulit.

BATU ONOM (11/1) – Jemaat HKBP Perumnas Batu Onom menyelenggarakan ibadah syukur Bona Taon 2026 di Gedung Sekolah Minggu sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan. Kegiatan ini menjadi sarana strategis untuk mempererat kebersamaan antara jemaat dan para pelayan, termasuk pendeta ressort, pendeta fungsional, bibelvrouw, serta seluruh elemen parhalado dan utusan kategorial. Acara yang dipimpin Pdt. Sabar M. Lubis ini berlangsung tertib dengan kehadiran perwakilan sektor, panitia pembangunan, hingga remaja-naposo. Melalui syukuran ini, HKBP Perumnas Batu Onom secara resmi memulai tahun pelayanan baru dengan semangat kesatuan. Rangkaian kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk melayani lebih sungguh di tengah tantangan pelayanan tahun 2026.

Renungan Harian HKBP

Renungan Terkini

RENUNGAN HARIAN MARTURIA: Kamis, 15 Januari 2026

Doa Pembuka

Tuhan Allah Bapa Kami yang penuh kasih, kami bersyukur atas kasih setia dan pemeliharaan-Mu yang tidak pernah berkesudahan dalam hidup kami hingga saat ini. Kami datang kehadapan-Mu dengan hati yang rindu akan Firman-Mu. Curahkanlah Roh Kudus-Mu untuk membuka hati dan pikiran kami. Kiranya kami tidak hanya menjadi pembaca atau pendengar saja, tetapi sungguh-sungguh menjadi pelaku Firman-Mu sesuai dengan kehendak dan kebenaran-Mu. Tuntunlah kami ya Tuhan, agar Firman-Mu menjadi kekuatan, penghiburan dan pedoman dalam langkah hidup kami. Terimalah doa kami ini ya Tuhan, dan biarlah segala yang kami lakukan hanya untuk kemuliaan nama-Mu. Amin.

Renungan

Roma 3:23 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.

Saudara saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus, pernahkah kita berpikir sejenak dalam kehidupan kita, mengapa Tuhan sangat mengasihi kita ? apakah karena perbuatan kita? Apakah karena pekerjaan kita? Atau karena apa yang kita lakukan kepada Allah? Sering kali kita merasa bahwa kasih Tuhan harus “dibayar” dengan kebaikan, kesalehan atau keberhasilan. Namun firman Tuhan ini membawa kita pada satu kebenaran tentang diri manusia.

Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma yang hidup dalam keberagaman latar belakang, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi. Dalam kehidupan beriman mereka, muncul kecenderungan untuk merasa lebih benar dari yang lain: ada yang mengandalkan hukum Taurat, ada pula yang merasa cukup dengan moral dan kebijaksanaan manusia. Melalui surat ini Paulus menegaskan kebenaran yaitu: keselamatan tidak pernah lahir dari usaha manusia, melainkan semata-mata anugerah dari Allah.

Rasul Paulus berkata dalam Roma 3:23 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Firman ini menegaskan bahwa tidak ada satupun manusia yang tidak berbuat dosa, baik dari status sosial, pekerjaan, karakter dan yang lainnya. Dosa bukan hanya soal perbuatan yang terlihat besar di mata manusia, tetapi juga tentang hati, pikiran, dan sikap hidup yang sering kali jauh dari kehendak Allah. Tanpa kita sadari, ego, kesombongan, iri hati, dan ketidaktaatan menjadi bagian dari keseharian kita. Inilah realitas manusia: kita telah kehilangan kemuliaan Allah.  Meskipun kita berdosa namun kenyataannya bahwa kasih Alah tidak berhenti karena dosa manusia. Justru ditengah keberdosaan itulah kasih Tuhan dinyatakan. Tuhan mengasihi kita bukan karena kita layak, bukan karena kita setia dan bukan karena kita telah melakukan banyak hal baik. Tuhan mengasihi kita karena kita berharga dimata-Nya. Kasih Allah lahir dari siapa Dia, bukan dari siapa kita.

Allah tidak membiarkan manusia tinggal dalam kondisi tersebut. Dalam Roma 3:25, Paulus menegaskan bahwa Allah tidak membiarkan manusia tinggal dalam keberdosaan dan keterpisahan. Allah sendirilah yang memulihkan hubungan kepada manusia dengan menetapkan Yesus Kristus sebagai jalan keselamatan melalui darah-Nya. Keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah yang diterima melalui iman. Kasih Tuhan dinyatakan bukan karena kita layak, tetapi karena Allah setia mengasihi kita. Darah Kristus menjadi tanda bahwa dosa tidak lagi menjadi akhir dari cerita hidup manusia.

Kita menyadari bahwa kita adalah manusia berdosa,tetapi kita juga percaya bahwa kita adalah manusia yang dikasihi dan ditebus. Dengan demikian marilah memandang diri dengan penuh pengharapan, tumbuhkan rasa kerendahan hati, rasa syukur dan kerinduan untuk hidup dalam ketaatan, bukan karena takut dihukum, melainkan karena telah lebih dahulu dikasihi. Amin

Doa Penutup

Tuhan yang setia dan penuh anugerah, kami mengucap syukur atas Firman-Mu yang telah kami renungkan. Kami diingatkan bahwa kami adalah manusia berdosa yang hidup bukan oleh kebaikan kami sendiri, melainkan oleh kasih dan pengorbanan Kristus. Tuhan tolong kami, agar kami dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ajari kami hidup dengan hati yang rendah, penuh bersyukur dan setia berjalan didalam kehendak-Mu. Kiranya anugerah-Mu senantiasa menyertai langkah hidup kami, menguatkan iman kami, dan menuntun kami untuk hidup sebagai terang di dunia ini. Amin

CBiv. Septi Napitupulu

RENUNGAN HARIAN MARTURIA: Rabu, 14  Januari  2026

Selamat pagi dan Selamat Tahun Baru bagi Bapak, Ibu dan Saudara-saudara  yang kami kasihi di dalam Kristus Yesus Tuhan kita. Semoga di pagi hari ini kita dalam keadaan sehat dan penuh sukacita. Saudara-saudara sebelum kita kembali melakukan pekerjaan kita sepanjang hari ini, terlebih dahulu kita akan merenungkan Firman Tuhan yang akan menjadi kekuatan bagi kita, untuk itu mari kita berdoa dalam hati kita masing-masing.

 

Saat teduh………

Doa Pembuka : Kami memuji dan memuliakan namaMu ya Tuhan Allah Bapa kami didalam nama AnakMu Tuhan Yesus Kristus. Di pagi hari ini kami bersyukur kepadaMu atas berkatMu yang kami peroleh hingga pada saat ini.  Ya Tuhan, kami ingin melakukan pekerjaan kami pada satu hari ini, kiranya Tuhan menolong kami. Dan sebelumnya, kami ingin dikuatkan oleh kebenaran FirmanMu, bukalah hati kami agar mengerti dan mau melakukan kehendakMu. Hanya didalam nama Yesus, kami berdoa dan mengucap syukur kepadaMu. Amin

 

Nats Renungan : Yosua 1 : 9

“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu : kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Jangan kecut dan tawar hati, sebab Tuhan Allahmu menyertai engkau, kemanapun engkau pergi”

 

Bapak ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus

Yosua yang baru saja menggantikan Musa memimpin bangsa Israel pasti akan merasakan banyak tantangan, hambatan yang membuat dia gentar. Ia harus memimpin bangsa yang besar dan berjalan menyeberangi sungai Yordan juga akan memasuki tanah Kanaan, yaitu tempat yang belum pernah ia kenal. Karena itulah Tuhan memberi perintah, juga sebagai dorongan kepada Yosua : Kuatkan dan teguhkanlah hatimu”

Saudara-saudara, Perintah tersebut menunjuk kepada sikap Yosua supaya jangan gentar, tetapi harus kuat dan berani, kunci supaya kuat dan berani, ialah  keyakinan kepada  kekuatan Tuhan yang selalu mau dan ada untuk menyertai.  Saudaraku…..apa sebabnya kita sering ragu bahkan tidak berani menghadapi tantangan hidup ini ? kita kurang meyakini Tuhan dan kuasaNya. Bahkan rasa khawatir yang ada pada kita, itu sering terjadi karena kita selalu mengandalkan pikiran dan kekuatan kita sendiri, yang ternyata pikiran dan kekuatan kita tidak akan mampu untuk menghadapinya. Untuk itu kita perlu memahami dan meyakini bahwa  hanya oleh penyertaan Tuhanlah kita akan memperoleh kekuatan dan keberanian.

 

 

Saudara-saudara, Petunjuk atau perintah itu, adalah sebagai jaminan bagi Yosua, yang memastikan bahwa Yosua bersama umat akan sanggup menghadapi rintangan dalam perjalanan mereka, apabila Yosua selalu tunduk dan taat akan petunjuk  Tuhan.  Yosua akan dimampukan untuk melakukan segala tugas-tugas yang begitu berat, bahkan Tuhan akan selalu ada menyertai kemanapun dia pergi, hingga Yosua bersama umat akan berhasil memasuki tanah perjanjian tersebut.

 

Bapak,Ibu dan saudara-saudara, Petunjuk tersebut, juga sangat berguna bagi kita.  Jika pada hari ini memang sudah kita jalani Empat Belas hari  di Tahun Baru 2026 ini,   itu tidak berarti bahwa kita sudah terjamin akan mampu, kuat dan berani untuk melangkahkan kaki kita hingga ke akhir tahun nanti. Bisa saja kita semakin dipenuhi oleh ke khawatiran, apalagi melihat dan mengalami betapa banyaknya persoalan hidup yang kita jalani seperti  sekarang ini, ada musibah dari bencana alam, persoalan ekonomi dan politik. Bagaimana kita sanggup menghadapinya tanpa rasa khawatir dan berani ? “iman dan keyakinan” kita kepada Tuhan, itu saja yang dapat kita andalkan, dan kita harus yakin, Tuhan akan menolong kita jika kita taat dan tunduk kepadaNya. Janganlah kecut dan tawar hati, tetapi  kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu bahwa Tuhan akan menyertai kita. Ingat, Tuhan tidak selalu menjanjikan jalan yang mudah untuk kita lalui, tetapi Tuhan selalu menjanjikan PenyertaanNya bagi kita. Amin

 

Doa Penutup

Terimakasih ya Tuhan Allah Bapa kami atas FirmanMu yang telah kami dengarkan di pagi hari ini. Oleh FirmanMu kami diingatkan supaya kami berjalan melewati hari-hari hidup kami yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Melalui FirmanMu kami disadarkan bahwa Tuhan ada dan selalu ada untuk menyertai kami, oleh karena itu Tuhanlah yang membimbing kami, memberi keyakinan dan keteguhan hati, supaya kami kuat dan berani menjalani hari-hari hidup kami ini. Dalam  satu hari ini, kami kembali akan melanjutkan pekerjaan kami, kiranya  Tuhan selalu menolong kami dan memberi kesehatan dan kekuatan bagi kami, jagailah  kami dan berkati segala pekerjaan kami yang berkenan di hadapanMu. Kami menyadari betapa banyak dosa dan kesalahan kami di hadapanMu, kami memohon hapuskanlah dan sucikanlah kami melalui darah AnakMu Yang kudus. Terimalah  doa dan syukur kami  kepadaMu. Hanya di dalam nama Yesus, kami berdoa kepadaMu.  Amin  

Berkat : Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus, Kasih setia dari Allah Bapa, dan Persekutuan dari Roh Kudus, itulah kiranya yang menyertaimu, hari ini sampai selama-lamanya!  Amin   

 

Pdt. Samsir Hutagalung, M.Div

Renungan Harian Marturia: Selasa, 13 Januari 2026

Doa Pembuka : Marilah kita berdoa! Allah Bapa yang bertahta di Kerajaan Sorga, Allah Sang Pemilik kehidupan, kami mengucap syukur atas pernyertaan dan berkat Tuhan yang selalu kami rasakan disepanjang kehidupan kami. Kami juga bersyukur dan bersukacita atas satu hari baru yang Engkau anugerahkan bagi kami. Pada saat ini ya Allah kami hendak dituntun oleh Firman-Mu, berilah kami hikmat kebijaksanaan, agar Firman ini dapat menjadi pegangan kami dalam menjalani kehidupan. Dalam Kristus kami berdoa, Amin.

Bapa Ibu, saudara-saudari Firman Tuhan yang menjadi renungan kita hari ini diambil dari Kisah Para Rasul 1:8 beginilah Firman Tuhan…

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria  dan sampai ke ujung bumi”.

Bapa Ibu saudara/i terkasih, bayangkan hidup kita seperti sebuah ponsel. Kita tahu ponsel itu punya banyak fitur hebat, tetapi tanpa daya, semua itu sia-sia; layarnya gelap, tidak bisa melakukan apa-apa. Kuasa Roh Kudus layaknya Baterai Ilahi kita. Yesus tidak langsung menyuruh murid-murid-Nya berlari dan bersaksi dalam keadaan bingung dan ketakutan. Ia meminta mereka menunggu hingga mereka menerima kuasa Roh Kudus. Kuasa ini mengubah kelemahan menjadi kekuatan, membuat kita untuk menanggung misi yang besar. Tanpa “pengisian daya” Roh Kudus, upaya kita bersaksi akan cepat melelahkan, terasa hampa, dan tidak berdaya.

Bapa Ibu, ayat ini mengajak kita untuk bergantung pada energi Roh Kudus. Seringkali, kita mencoba melayani dengan kekuatan dan kepintaran kita sendiri, padahal itu sama saja seperti mencoba menyalakan ponsel yang mati dengan mengguncang-guncangnya. Kita akan lelah dan frustrasi. Kuasa Roh Kudus adalah daya yang mengubah kata-kata biasa kita menjadi benih Injil yang hidup, dan mengubah tindakan kasih kita menjadi bukti nyata kehadiran Kerajaan Allah. Inilah yang membedakan kesaksian kita dari sekadar motivasi atau nasihat biasa.

Setelah menerima Baterai Ilahi tersebut, barulah datang perintah untuk bersaksi, sebuah misi yang memiliki peta jelas: mulai dari Yerusalem (lingkungan terdekat kita, keluarga, rekan kerja), meluas ke Yudea dan Samaria (lingkungan yang lebih jauh atau mungkin lingkungan yang kurang kita sukai), hingga Sampai ke Ujung Bumi. Seringkali, kita ingin langsung melompat ke “ujung bumi”—melakukan hal-hal besar—sambil mengabaikan “Yerusalem” kita. Padahal, kita harus mulai dari tempat kita berdiri. Misi dimulai dari integritas kita di rumah dan kejujuran kita di tempat kerja, di mana karakter kita menjadi kesaksian bisu yang paling kuat.

Maka dari itu, untuk mempraktikkan janji ini, langkah pertama kita adalah memprioritaskan pengisian daya. Luangkan waktu setiap pagi untuk meminta Roh Kudus memenuhi kita, memohon kekuatan-Nya agar kesaksian kita tidak hanya berupa pendapat kita sendiri. Kedua, kita dipanggil untuk menjadi saksi. Tugas kita adalah menceritakan apa yang telah kita lihat dan alami, apa yang Kristus lakukan dalam hidup kita. Di “Yerusalem” kita hari ini—di rumah atau kantor— carilah kesempatan untuk membagikan satu hal spesifik tentang kebaikan Tuhan yang kita alami. Mari kita melampaui zona nyaman kita dengan menunjukkan kasih Kristus secara nyata. Mari kita hidup dengan “Baterai Ilahi” yang penuh, dan dengan keberanian, mulai bersaksi dari tempat kita berdiri. Amin

Doa Penutup : Kami bersyukur Tuhan atas FirmanMu yang senantiasa mengingatkan kami bahwa hidup kami harus selalu dipenuhi dengan Roh Kudusmu. Mampukan kami untuk meneladani Engkau dan mengandalkan Engkau disetiap langkah kehidupan kami. Biarlah hidup kami selalu memancarkan perbuatan-perbuatan baik supaya Nama-Mu selalu dimuliakan. Dalam Kristus kami berdoa, Amin.

C.Pdt. Naomi Greta Angelia Panjaitan, S.Th – LPP I di Biro TIK HKBP

 

RENUNGAN HARIAN MARTURIA: Senin, 12 Januari 2026

Doa Pembuka:

Allah Bapa yang kami sembah di dalam Anak-Mu, Tuhan Yesus Kristus. Kami bersyukur atas semua nikmat hidup yang telah Tuhan berikan pada kami. Tuntunlah kami, ya Tuhan, agar terus mensyukuri hidup kami dan senantiasa terhubung pada-Mu. Terlebih, dalam memahami dan menghidupi Firman-Mu. Amin.

Bapak/Ibu, yang menjadi ayat renungan kita hari ini tertulis di dalam Ulangan 6 : 5. Beginilah bunyi Firman Tuhan,

“Kasihilah TUHAN Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”        

Bapak/Ibu yang dikasihi Tuhan, sering kali kita datang kepada Tuhan dengan doa, pujian, dan persembahan, tetapi kita tidak sungguh jujur di hadapan-Nya. Kita rajin berdoa, namun jarang bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya kita cari. Apakah kita datang karena ingin mencari dan mengalami Tuhan, atau karena ada sesuatu yang ingin kita peroleh dari-Nya. Dalam setiap doa yang kita panjatkan, kehendak siapa yang lebih banyak kita suarakan, kehendak Tuhan atau kehendak kita sendiri? Bisa jadi kita bukan sedang mencari kehendak Tuhan, melainkan sedang berusaha meyakinkan Dia agar menjadikan keinginan kita sebagai kehendak-Nya.

Pertanyaan-pertanyaan ini penting sebagai bahan perenungan iman kita, karena iman tidak diukur dari seberapa sering kita menyebut nama Tuhan. Iman diukur dari apa yang benar-benar menguasai hati, pikiran, dan kekuatan kita. Pada moment inilah kita diajak kembali kepada inti pengakuan iman Israel, sebuah pengakuan yang tidak hanya menyatakan siapa Tuhan itu, tetapi juga menuntut seluruh hidup agar tertuju kepada-Nya.

Pengalaman nyata bangsa Israel yang hidup dibawah kesetiaan Allah yang melindungi dan memelihara mereka, itulah yang kini menuntut kasih mereka pada-Nya. Oleh karena itu, kasih kepada Tuhan bukanlah usaha untuk mendapatkan berkat, melainkan tanggapan iman atas kesetiaan Tuhan yang lebih dahulu hadir dalam kehidupan kita. Kasih itu mencakup seluruh keberadaan manusia. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati berarti kita bersedia menyerahkan pertimbangan dan keputusan hidup kepada-Nya. Mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa berarti menjadikan Dia pusat kehidupan, bukan sekadar salah satu bagian dari hidup kita. Mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan berarti mempersembahkan waktu, tenaga, dan seluruh kemampuan yang kita miliki bagi kemuliaan-Nya.

Di sinilah iman kita sering kali diuji. Kita dengan mudah berkata “aku mengasihi Tuhan”, tapi hanya ketika hidup berjalan sesuai dengan harapan kita. Namun Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk mengasihi Dia bukan karena apa yang kita terima dari-Nya, melainkan karena Dia adalah keseluruhan hidup kita. Karena kasih yang sejati tidak menempatkan Tuhan sebagai alat untuk mencapai tujuan, tetapi mengakui Dia sebagai tujuan itu sendiri. Dari kasih yang seperti inilah lahir ketaatan yang sejati, ketaatan yang dilakukan dengan kerelaan dan sukacita, bukan dengan keterpaksaan. Ia tampak dalam kata-kata yang kita ucapkan, dalam keputusan yang kita ambil, dan dalam cara hidup yang kita jalani setiap hari. Dengan demikian, mengasihi Tuhan bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan menjadi cara hidup kita, umat-Nya. Amin.

Doa Penutup:

Kami memuji Engkau ya Allah yang setia memelihara dan memberkati hidup kami. Engkau yang selalu mengasihi kami dan memberikan yang terbaik bagi hidup kami. Untuk itu, ya Tuhan, tolonglah kami agar mampu merespon kasih-Mu dengan menjadikan-Mu sebagai tujuan hidup kami. Biarlah totalitas kehidupan kami, yaitu hati, jiwa dan kekuatan, kami persembahkan bagi kemuliaan Tuhan. Amin.

CPdt. Rosmauli Sianipar

 

RENUNGAN Minggu I Setelah Epiphanias: Minggu, 11 Jan 2026

Yesaya 42:1-9 “Allah menyatakan keselamatan”

Bapa Ibu Saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus…Selamat hari  Minggu.

Pada Minggu I setelah Ephipanias ini, kita akan bersekutu dengan Tuhan melalui Firmannya. Marilah kita berdoa :

“Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, itulah yang memelihara hati dan pikiranmu, dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Amin”

Firman Tuhan yang menjadi khotbah bagi kita pada Minggu I set. Ephipanias ini:

Yesaya 42:1-9 “Allah Menyatakan Keselamatan”

Prinsip “siapa yang kuat, dia yang selamat” (Survival of the Fittest) yang dipopulerkan filsuf Herbet Spencer, mengandung arti bahwa keselamatan itu bergantung pada diri manusia itu sendiri: kekuatannya, kekayaannya, kemampuan, kepintarannya. Dengan demikian, posisi orang yang lemah, miskin akan sulit mendapat kesempatan,Bahkan bisa saja terancam. Seperti terkandung dalam falsafah Batak “Na bisuk nampuna hata, na oto tu pargadisan”, seseorang bisa mengendalikan oranglain yang lebih lemah nalar atau kemampuan berpikirnya.

Namun dalam  nas ini ditunjukkan bahwa Tuhan tidak membiarkan umatnya berada dalam prinsip hidup yang sedemikian, makanya Ia hadir melalui seorang “hamba”  yang diutus ke tengah dunia yang telah rusak tersebut. Sang mesias yang disebut “hamba” Tuhan  bertindak dengan penuh kasih dan perhatian. Pertama, secara khas Tuhan menunjukan bahwa keselamatan yang akan dihadirkan tertuju bagi semua pihak, bahkan bagi setiap mereka yang tidak lagi sanggup untuk mempertahankan dirinya. Keselamatan itu tidak perlu dimiliki dengan prinsip ‘yang kuat yang akan bertahan’ karena TUHAN sendirilah yang akan menguatkan mereka yang lemah demi mengalami keselamatan. Dengan kata lain, keselamatan dari TUHAN adalah murni anugerah yang merangkul, menguatkan, dan membangkitkan setiap orang.

Kedua, Hamba Tuhan tersebut membawa harapan, pemulihan, dan keadilan sejati dengan cara yang lembut dan penuh kasih, mengundang setiap orang untuk mengalami dan membagikan kabar baik ini.  Dia bekerja atas pimpinan Roh Allah, sehingga Ia bertindak sesuai dengan tuntunan Roh itu: menegakkan keadilan bukan hanya bagi Israel tetapi bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia.  Ia akan menjadi terang bagi bangsa-bangsa, membuka mata orang buta, membebaskan tawanan, dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap. Ia tidak akan berseru atau membentak; Ia tidak akan mematahkan buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar, melainkan dengan lembut memulihkan mereka yang rusak dan putus asa. TUHAN menyatakan hal-hal baru, hal-hal yang belum terjadi, yaitu karya keselamatan dan keadilan-Nya yang baru melalui Hamba-Nya.

Ini adalah kabar baik bagi kita dan telah nyata di dalam karya penebusan Yesus yang universal, yang menguatkan dan meneguhkan iman kita, di dalam Yesus hamba Allah yang telah menyatakan diriNya diam bersama dengan kita, akan bertindak menyelamatkan kita.  Seperti buluh yang patah dan sumbu yang pudar, orang yang merasa tidak berharga atau berdosa tetap berharga di mata Yesus. Dia tidak akan membuang kita. Yesus datang untuk memperbaiki dunia dengan kelembutan. Kita dapat datang kepada-Nya dengan segala kelemahan dan dosa, dan Dia akan menerima kita.  Amin.

************************

EPISTEL:

KISAH PARA RASUL 10:34-43

Kita diciptakan Tuhan berbeda, namun bukan berarti kita dibeda-bedakan. Kenyataannya, dalam relasi sosial, sering terjadi pembeda-bedaan atas suku, marga, ras, warna kulit dan bahasa, termasuk strata sosial. Yang lebih parah, terjadi sikap rasialis yang menghasilkan ketidakadilan, pertikaian, bahkan peperangan. Orang Yahudi pernah mengalami penderitaan dahsyat karena perlakuan rasialis dari bangsa Jerman. Namun banyak orang Yahudi pada masa Perjanjian Baru pun bersikap rasialis. Mereka merasa satu-satunya umat Allah yang berhak atas semua janji-Nya. Bangsa-bangsa lain tak lebih daripada binatang yang tak layak mendapat anugerah Allah.

Khotbah Petrus kepada Kornelius dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang. Allah berkenan atas setiap orang dari bangsa manapun yang datang dengan tulus mencari-Nya termasuk Kornelius yang adalah seorang kafir. Rahasia perkenanan Allah atas semua orang ini terletak pada diri Yesus Kristus (ayat 36-38). Yesus yang datang ke dunia ini mengerjakan karya keselamatan untuk membuat orang berkenan kepada Allah. Melalui kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus telah menyediakan jalan keselamatan untuk semua orang, semua bangsa.

Petrus, sebagai seorang Yahudi belajar mengatasi sikap rasialis dan menerima Kornelius, seorang kafir sebagai sesama manusia yang dikasihi Allah (ayat 34). Bahkan Petrus menyadari bahwa panggilannya mengikut Yesus adalah untuk memberitakan keselamatan bagi semua orang (ayat 42). Jika Yesus telah menerima semua orang dari suku bangsa manapun dan memberikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepadaNya, bukankah kita juga seharusnya meneladani sikap Yesus tersebut? Kita patut bersyukur karena hanya oleh karya Kristuslah kita bisa datang kepada Allah dan layak disebut sebagai umat-Nya. Tugas kita sekarang adalah memberitakan anugerah itu kepada semua orang lintas ras, suku, bangsa, dan bahasa, juga status sosial. Amin.

 

Pdt. Daniel Napitupulu

Renungan Marturia: Sabtu, 10 Januari 2026

Yohanes 3:16 

Bapak, Ibu, Saudara Sekalian, Dalam kehidupan sehari-hari, kata kasih sering terdengar, namun tidak selalu mudah untuk dijalani. Kita hidup di dunia yang penuh perhitungan: untung dan rugi, aman dan berisiko, memberi sejauh tidak merugikan diri sendiri. Banyak relasi rusak karena kasih dipahami sebatas perasaan, bukan komitmen. Kita mencintai selama tidak terluka, memberi selama masih nyaman. Di tengah realitas inilah Yohanes 3:16 berbicara dengan sangat tajam dan jujur.

Kasih Allah dalam ayat ini bukan kasih yang abstrak atau sekadar emosi ilahi. Kata “begitu besar” menunjukkan ukuran kasih yang melampaui batas kewajaran manusia. Allah mengasihi dunia—bukan hanya orang benar, bukan hanya orang  yang diannggap layak, tetapi dunia yang telah jatuh dalam dosa dan pemberontakan. Kasih ini tidak berhenti pada niat baik, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata yaitu Allah memberikan Anak-Nya.

Bapak, Ibu, Saudara Sekalian, “Memberikan Anak” dalam nas ini adalah tindakan yang penuh risiko dan penderitaan. Kasih Allah bukan kasih yang aman. Ia tahu dunia akan menolak, dunia akan  menghakimi, bahkan dunia akan menyalibkan Anak-Nya. Namun Allah tetap memilih jalan itu. Di sinilah Injil menjadi sangat realistis: keselamatan tidak datang dari usaha manusiayang  naik kepada Allah, melainkan dari Allah yang turun memasuki kerapuhan manusia.

Tujuan kasih ini juga jelas: supaya manusia tidak binasa. Ini bukan ancaman kosong, melainkan pengakuan jujur tentang kondisi manusia tanpa Allah yaitu hidup yang kehilangan arah, yang kehilangan makna, dan pengharapan sejati. Namun Allah tidak berhenti pada penyelamatan dari kebinasaan; Ia menawarkan hidup yang kekal, yaitu relasi yang dipulihkan dengan-Nya, mulai sekarang dan berlanjut sampai kekekalan.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: bagaimana kita merespons kasih sebesar itu? Percaya kepada Kristus bukan hanya soal pengakuan iman, tetapi keberanian untuk menyerahkan hidup kepada kasih yang mengubah. Di dunia yang penuh ketakutan, sinisme, dan kelelahan rohani, Yohanes 3:16 mengingatkan bahwa kita hidup karena terlebih dahulu dikasihi.

Bapak, Ibu, Saudara Sekalian, Marilah kita berhenti memandang diri kita hanya dari kegagalan dan ketidaklayakan. Terimalah kasih Allah yang telah dinyatakan di dalam Kristus. Dan sebagai jemaat yang telah dikasihi, marilah kita belajar mengasihi dengan tindakan nyata—berani memberi, berani peduli, dan berani hidup dalam terang kasih Tuhan di tengah dunia yang terluka. Amin.

 

CGr Jeffry Tarihoran

HKBP Channel

Video Terkait Lainnya

11 Videos
Scroll to Top