HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN

JAYANTI (25/1) – Praeses HKBP Distrik XXIV Banten, Pdt. Sumihar Sinaga, meninjau langsung 150 warga jemaat Pospel HKBP Jayanti yang terdampak banjir di wilayah Jabodetabek. Pospel tersebut dilayani oleh Biv. Paska Maria Situmorang. Jemaat tetap berkumpul dalam persekutuan doa dan makan malam bersama di kediaman St. Lindung Nainggolan meski gedung gereja terendam air. Kunjungan ini meneguhkan iman jemaat bahwa damai sejahtera sejati bersumber dari hati yang taat (Hagai 2:1-9), bukan dari situasi luar. Kehadiran pimpinan distrik bersama para pelayan setempat menjadi wujud nyata kepedulian gereja dalam mendampingi warga yang sedang menghadapi musibah.

SIPOHOLON (25/1) – Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga, memimpin ibadah Minggu III Setelah Epiphanias di HKBP Lumban Baringin, Resort Sipoholon. Mengangkat topik “Allah Memberikan Damai Sejahtera”, ia menekankan bahwa di tengah berbagai pergumulan hidup, jemaat harus tetap bersandar pada janji penyertaan Tuhan yang melampaui segala akal. Pesan pastoral ini mengajak jemaat untuk menjadi pembawa damai dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Melalui penguatan iman ini, diharapkan jemaat HKBP Lumban Baringin semakin kokoh dalam persekutuan dan menjadi berkat yang memancarkan ketenangan Kristus di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

JAMBI (25/1) – Ephorus HKBP bersama Praeses Distrik XXV Jambi melakukan audiensi hangat dengan Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, Minggu malam (25/1). Dalam pertemuan tersebut, Ephorus mengapresiasi perjalanan hidup inspiratif Gubernur yang meniti karier dari bawah hingga dipercaya memimpin Jambi untuk periode kedua. Ketangguhan masa lalu beliau dinilai menjadi akar kepedulian tulusnya terhadap kesejahteraan rakyat. Ephorus juga memuji stabilitas kerukunan umat beragama di Provinsi Jambi yang terjaga dengan baik di bawah kepemimpinan Al Haris. Pertemuan ini memperkuat sinergi antara HKBP dan Pemerintah Provinsi Jambi dalam merawat kebhinekaan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui kolaborasi spiritual dan sosial yang berkelanjutan.

TANJUNG JABUNG BARAT (25/1) – HKBP Simpang Rambutan, Resort Tungkal Ulu, merayakan sukacita ganda dalam ibadah syukur 25 tahun perjalanan iman sekaligus pelaksanaan Mameakhon Batu Ojahan (MBO), Senin (26/1). Ephorus HKBP memimpin prosesi sakral penanaman fondasi iman yang mencakup peletakan Alkitab, Konfesi, hingga Aturan Peraturan HKBP sebagai komitmen menjaga kekudusan jemaat. Perayaan yang dihadiri 1.070 jiwa ini juga menjadi bukti nyata toleransi di Jambi dengan kehadiran unsur pemerintah, TNI, Polri, serta tokoh lintas agama. Di usia perak ini, HKBP Simpang Rambutan meneguhkan diri untuk terus menjadi terang Kristus yang merangkul keberagaman demi kedamaian bangsa.

TARUTUNG (25/1) – Sekitar 800 pemuda memadati Gedung Sopo Partungkoan dalam ibadah Kebaktian Kebangkitan Iman (KKI) yang digelar Departemen Marturia bersama Distrik II Silindung. Mengusung tema “Pemuda Beriman di Tengah Tantangan Zaman”, kegiatan ini bertujuan membakar semangat spiritual generasi muda Tarutung agar tetap teguh menghadapi dinamika era modern melalui penguatan hati dan iman dalam Kristus. Dalam khotbahnya, Pdt. Dr. Deonal Sinaga mengajak pemuda hidup setia dan berani menjadi diri sendiri sesuai panggilan Tuhan. Acara yang didukung Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara ini ditutup dengan semboyan, “Pemuda Tarutung Stay Strong in Faith, Yes I Can”, sebagai komitmen bersama untuk terus bertumbuh dalam iman dan pengharapan di tengah perubahan dunia.

SIPOHOLON (26/1) – Panitia Penerimaan Calon Pelayan HKBP menggelar tahapan verifikasi data di Seminarium Sipoholon. Proses ini diikuti sekitar 800 peserta yang sebelumnya telah mendaftar secara online maupun onsite. ​Kegiatan yang dimulai pukul 11.20 WIB ini mencakup verifikasi berkas bagi calon pendeta, guru huria, diakones, dan bibelvrow. Untuk menjaga ketertiban, meja verifikasi disusun spesifik berdasarkan jenis tohonan dan nomor urut peserta. ​Suasana di lokasi terpantau kondusif dengan ruang ujian yang telah tertata rapi. Tahapan verifikasi ini merupakan persiapan penting sebelum para peserta menghadapi ujian seleksi utama yang dijadwalkan berlangsung pada 27–29 Januari 2026.

JAMBI (24/1) – Ephorus HKBP melakukan pertemuan hangat dengan Kapolda Jambi, Irjen Pol. Krisno H. Siregar, guna mempererat tali silaturahmi dan komitmen merawat harmoni sosial. Dalam perjumpaan tersebut, Kapolda menyampaikan bahwa toleransi antarumat beragama di Provinsi Jambi terjaga dengan sangat baik berkat kerja sama seluruh elemen masyarakat. Ephorus mengapresiasi kerukunan tersebut dan mendoakan Kapolda agar senantiasa diberikan hikmat dalam menjaga keamanan wilayah. Setelah pertemuan, Ephorus melanjutkan perjalanan pelayanan selama empat jam menuju HKBP Simpang Rambutan, Resort Tungkal Ulu, didampingi Praeses Distrik XXV Jambi dan Kepala Biro Jemaat HKBP untuk menemui jemaat setempat.

TARUTUNG (24/1) – Ephorus HKBP melalui akun media sosialnya, memberikan pesan pastoral penting mengenai etika bermedia sosial bagi jemaat dan masyarakat luas. Ia menekankan bahwa media sosial seharusnya menjadi anugerah untuk menyebarkan kasih, bukan alat pemecah belah. Ephorus mengingatkan agar setiap kata yang diunggah harus melewati “saringan hati,” karena jejak digital mencerminkan kedewasaan iman dan kejernihan batin seseorang. Sebagai orang percaya, jemaat diajak untuk bijak dalam menyaring konten dan tidak terjebak menyebarkan fitnah yang merusak martabat sesama. Sebelum bertindak di dunia maya, Ephorus mengajak setiap pribadi merenungkan apakah unggahan tersebut membangun dan memuliakan Tuhan demi menjaga persaudaraan yang rukun

SURABAYA (23/1) – Ephorus HKBP memimpin Ibadah Syukuran Tahun Baru 2026 Distrik XVII IBT di HKBP Surabaya. Ibadah ini menjadi momentum peneguhan Orientasi Pelayanan HKBP 2026: “Transformasi: Pengajaran Iman di Tengah Keluarga”. Melalui renungan Ulangan 6:4–7, Ephorus menekankan pentingnya peran keluarga sebagai pusat persemaian iman yang harus diwariskan secara tekun kepada generasi muda. Acara ini dihadiri Kepala Bappisus, Aries Marsudiyanto, dan Ketua Yayasan UHN, Effendi Simbolon. Dalam kesempatan tersebut, Ephorus menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo atas langkah tegas mencabut izin perusahaan perusak lingkungan di Sumatera Utara, termasuk PT TPL, demi kelestarian alam ciptaan Tuhan.

Renungan Harian HKBP

Renungan Terkini

Renungan Harian Senin 26 Januari 2026

Syalom Selamat pagi bapak / ibu dan saudara / i yang terkasih di dalam nama Tuhan Yesus

Kristus. Marilah kita mempersiapkan diri untuk mendengarkan Firman Tuhan dengan bersaat

teduh sejenak .

Doa pembukaan Kita berdoa:   Terima kasih Tuhan atas penjagaanMu saat ini sehinga kami dapat melakukan segala pekerjaan kami terlebih dahulu kami mau di safah oleh firman Mu  dan kami masih bernafaskan kehidupan. Amin.

Yang menjadi nats renungan kita hari ini Senin 26 Januari 2026. 1 Rajaraja 2:3 Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukankanNya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuanNya seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju.

Bapak, ibu, saudara/ i yang terkasih di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Nats ini merupakan pesan terakhir raja Daud kepada Salomo anaknya sebelum meningal, dan semasa hidupnya, sejak mudah sudah belajar untuk hidup setia kepada Tuhan dan memelihara segala hukum Musa. Dan begitu juga dalam kehidupan kita barang siapa meneladani perintah Tuhan, peraturan seperti yang tertulis dalam hukum Musa, engkau beruntung dalam segala pekerjaan  yang kau lakukan  dan dalam segala yang kau tuju . Firman ini mengajarkan dan mengingatkan kita. Nats  1 rajaraja 2:3  ini adalah pesan yang menekankan tentang pentingnya hidup lurus dijalan Tuhan, dan  memelihara ketetapan  perintah Tuhan. Seperti Daud mencontohkan ketatannya kepada Salomo kerajaannya kokoh dan berkat Tuhan turun temurun kepada dia. Di dalam nats ini ada 4 yang di tekankan perkataan yang  pertama lakukanlah kewajbanmu denga setia terhadap Tuhan Allahmu. 2 Hidup menurut jalan yang ditujukannya. 3 Tetap mengikuti segala ketetapan  peraturan dan ketentuaNya. 4 Supaya beruntung dalam  segala yang dituju . Semuanya ini menunjukan pentingnya hidup lurus. Nah amang inang. Lantas bagaimanahkah dengan diri kita? Sudahkah kita berjalan lurus seperti layaknya orang orang yang percaya kepadaNya? Sudahkah kita melakukan kewajiban dengan setia dan menurut yang ditunjukanNya? Sudahkah mengikuti dan melakukan  segala ketetapan dan kekentuanNya? Kalau sudah. Berbahagilah kita yang sudah  yang melakukan kewajiban  dengan setia dan menurut jalan yang ditunjukan Nya segala ketetapan perintah, peraturan  dan ketentuanNya denga setia beribadah, berdoa. Amin.

Doa penutup : Terima kasih Tuhan kami telah selesai mendengarkan firmanMu ingatkan diri kami bahwasannya penting  untuk hidup mentaati peintahMu dan menjalankan segala ketetapan ketetapanMu. Amin.

Anugrah Tuhan Yesus Kristus dan kasih setia dari Allah bapa serta persekutuan Roh Kudus

kiranya menyertai kita sekalia . Amin .

 

Bvr  Cleopatra  Sitorus  – Kantor biro Zending Siantar

Renungan Marturia Jumat, 23 Januari 2026

Doa Pembuka: Terpujilah Engkau Tuhan yang senantiasa memberkati kami pribadi lepas pribadi dalam setiap aktivitas kehidupan kami. Kami akan memulai segala kegiatan kami pada pagi hari ini engkau yang memberkati kami, terlebih firmanMu yang akan menjadi pedoman bagi kehidupan kami, berkati hati dan pikiran kami supaya kami dipenuhkan oleh hanya karna FirmanMu. Di dalam nama anakMu Tuhan Yesus Kristus kami berdoa kepadaMu. Amin.
Firman Tuhan yang menjadi pedoman dalam menjalani hari ini di hari Jumat 23 Januari 2026 tertulis di 2 Samuel 2:6 “Oleh sebab itu, Tuhan kiranya menunjukkan kasih dan setiaNya kepadamu. Aku pun akan berbuat kebaikan yang sama kepadamu, karena kamu telah melakukan hal demikian.” Demikianlah firman Tuhan.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih dalam nama Tuhan.
Latar Belakang Teks: Pasal ini menceritakan awal masa kepemimpinan Daud setelah kematian Saul. Daud baru saja diurapi menjadi raja atas suku Yehuda di Hebron (2 Sam. 2:4). Ketika Daud mendengar bahwa orang-orang dari Yabesh-Gilead telah menunjukkan keberanian dan kesetiaan dengan menguburkan Saul secara terhormat (2 Sam. 2:5), Daud mengirim pesan penghormatan. Daud tidak hanya memuji mereka, tetapi juga mendoakan mereka agar menerima “kasih dan setia” Tuhan (chesed we’emet dalam bahasa Ibrani), istilah yang digunakan untuk menggambarkan karakter perjanjian Allah—kasih yang tidak berubah, setia, dan penuh kebenaran.
Ini menunjukkan karakter Daud sebagai pemimpin:
• Menghargai kesetiaan
• Tidak membalas dendam, meski Saul pernah memburunya
• Memandang relasi melalui kacamata kasih Tuhan, bukan politik atau kekuasaan
Renungan:
Ayat ini mengajak kita melihat sebuah nilai penting: kesetiaan tidak pernah sia-sia.
Orang Yabesh-Gilead berani menghormati Saul meskipun ia telah jatuh dan mati dengan cara yang memalukan. Tindakan itu bukan didasari keuntungan, melainkan penghormatan dan kesetiaan.
Daud melihat hal itu dan menjawab dengan: Doa, Penghargaan, dan Janji kebaikan
Kisah ini mengingatkan kita bahwa:
• Tuhan menghargai orang yang tetap setia, terutama ketika kesetiaan itu tidak menguntungkan.
• Tuhan tidak melupakan tindakan kebaikan, meskipun manusia mungkin mengabaikannya.
• Kesetiaan seseorang menjadi saluran berkat bagi generasi berikutnya.
Daud bisa saja berkata:
• “Saul membenciku, jadi mengapa aku harus menghormati orang yang setia kepadanya?”
Tetapi ia tidak memilih kebencian, melainkan kasih yang memulihkan.
Ketika Daud mengatakan, “Kiranya Tuhan menunjukkan kasih dan setia-Nya kepadamu”, itu bukan hanya ucapan—itu pengakuan bahwa semua kebaikan sejati bersumber dari Allah.
Aplikasi dalam Kehidupan
1. Tetaplah Setia Walau Tidak Dilihat Orang. Kesetiaan yang sejati terlihat bukan ketika mudah, tetapi ketika sulit. Tuhan melihat dan menghargainya.
2. Balaslah Kejahatan dengan Kebaikan. Daud menjadi teladan bahwa luka masa lalu tidak boleh mengalahkan sikap hati yang benar.
3. Tunjukkan kasih dalam tindakan, bukan hanya kata-kata. Kesetiaan bukan sekadar teori, tetapi dibuktikan lewat pengampunan, dukungan, kepedulian, dan pengorbanan.
4. Jangan ragu menghargai kebaikan orang lain. Kata-kata berkat seperti Daud dapat menguatkan, memulihkan, dan menghidupkan relasi.
5. Ingat bahwa sumber kesetiaan kita adalah Tuhan. Kita mampu mengasihi dan setia bukan karena kekuatan kita, tetapi karena Tuhan lebih dulu setia kepada kita (1 Yoh. 4:19).
Penutup
Kesetiaan adalah bahasa kasih Allah. Ketika kita hidup dalam kesetiaan kepada keluarga, gereja, pelayanan, pekerjaan, dan sesama, kita sedang memantulkan karakter Allah sendiri. Kiranya Tuhan menjadikan kita pribadi yang tetap setia—bahkan ketika dunia tidak menghargainya—dan melalui itu, nama-Nya dimuliakan.
Doa Penutup: Terima kasih Tuhan untuk FirmanMu yang memberikan pemahaman dan kekuatan untuk memenangkan hari ini di dalam kemuliaan namaMu. Berkatilah setiap pekerjaan kami, lindungi dan jaga setiap orang tua kami, keluarga kami, jemaatmu, anak-anak kami dalam menjalani kehidupannya dan pendidikannya. Kami serahkan hidup kami hari ini, esok dan untuk selamanya kedalam tangan pengasihanMu. Di dalam Yesus Kristus kami berdoa dan mengucap syukur. Amin.

Pdt. Pangihutan Hasibuan

Renungan Harian di Aplikasi Marturia HKBP Kamis, 22 Januari 2026

Bapak, ibu dan saudara/i yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, sebelum kita memulai seluruh aktivitas kita satu hari ini, marilah kita terlebih dahulu mempersiapkan diri kita untuk mendengarkan firman Tuhan. Kita berdoa.

1. Doa Pembuka
Allah Bapa yang bertakhta di dalam Kerajaan Surga, kami mengucap syukur atas cinta kasih, dan berkat-Mu yang memelihara kehidupan kami. Kami akan mendengarkan firmanMu, pimpinlah hati dan pikiran kami dengan terang Roh Kudus-Mu, agar kami dapat menerima dan memahami firmanMu. Dalam nama Kristus Yesus kami berdoa. Amin.

2. Renungan
Firman Tuhan yang menjadi renungan bagi kita, tertulis dalam 2 Korintus 1:3-4 “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”

Dalam surat 2 Korintus 1, penulis memulainya dengan berkat dari Allah; dan bahkan bersyukur kepada Allah atas iman dan kasih para pembacanya, ia mengundang mereka untuk mengucap doa syukur atas nama-Nya (ay. 11). Allah dipuji bukan karena Ia kekurangan sesuatu pada diri-Nya sendiri. Tetapi Ia memang menginginkan pujian dari makhluk ciptaan-Nya. Memuji Allah berarti memuji Dia sebagai sumber segala berkat. “Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah kami…” adalah sebuah rumusan doa Yahudi kuno, yang masih dipergunakan oleh orang-orang Yahudi masa kini. Mereka mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan yang dimuliakan (Rm. 10:9; 1 Kor. 12:3; Flp. 2:11).

Penggambaran tentang Allah sebagai Bapa yang penuh belas-kasihan juga mencerminkan bahasa doa Yahudi kuno. Belas-kasihan Allah bagi mereka yang menderita itu terus-menerus dan selalu baru; itulah sebuah tema yang konsisten dalam tulisan-tulisan mazmur (40:11). Semua itu tidak pernah diperoleh karena kerja keras manusia, melainkan diberikan secara cuma-cuma, karena sukacita Allah yang terbesar adalah memperlihatkan belas-kasih. Dari hakikat dan perbuatan-Nya, Ia adalah Allah segala penghiburan (bnd. Mzm. 51:1). Setiap penghiburan sejati bagi mereka yang resah haruslah datang dari Allah.

Dalam teks 2 Korintus 1:3-10, kita menemukan ada penghiburan bagi pengikut Yesus Kristus yang sedang menghadapi berbagai penderitaan dalam mengikut-Nya. Kita menemukan ada 9 kali kata “penghiburan” di sebutkan dalam teks tersebut.

Paulus bersaksi bahwa mereka yang telah mengalami penghiburan dari Allah yang akan mampu menolong orang lain yang menderita. Ibarat pelari estafet, Paulus melanjutkan penghiburan dari Tuhan kepada jemaat. Paulus belajar melalui banyak kesukaran yang ia alami sendiri. Penahanan di penjara disebutkan sebagai salah satu penderitaan Paulus di dalam 2 Korintus 11:23-27. Di sini ia ingin menggarisbawahi bahwa ia merasa hukuman mati itu sudah dijatuhkan kepadanya, sehingga rasa putus asanya sedemikian hebat. Akan tetapi, pengalaman ini mempunyai maksud yang bermanfaat. Ini adalah suatu pelajaran lagi baginya untuk tidak mengharapkan jaminan-jaminan duniawi (lih. 11:22; Flp. 3:4) dan untuk bersandar kepada Allah (Flp. 4:7-10). Mereka yang mengenal kasih Allah di dalam Kristus dapat melihat maksud yang baik bahkan di dalam penderitaan (Rm. 8:28-39). Tuhan bekerja dalam segala sesuatu yang dialami setiap orang, termasuk melalui tangisan, keluhan, dan kekecewaan. Kelemahan manusia memberikan Allah kesempatan untuk menunjukkan kuasa-Nya.

Penderitaan karena iman kepada Kristus adalah cara Tuhan memurnikan umat, membangun jiwa, membina iman, mengolah karakter, sekaligus mempersiapkan umat untuk tugas besarnya: melayani Tuhan. Bersekutu dengan Kristus pun harus mau mengambil penderitaan Kristus. Penderitaan Kristus juga memiliki kemuliaan, penghiburan yang melimpah. Sebab penghiburan sejati dari Tuhan tidak hanya berguna bagi diri sendiri. Tuhan pun rindu kita menghibur sesama yang tengah menderita. Melalui penderitaan yang pernah kita alami dan penghiburan dari Tuhan yang boleh kita rasakan, tentu kita dapat lebih mudah memahami, berempati, dan menguatkan sesama. Sehingga sebagai sesama anggota keluarga kerajaan Allah kita saling menopang dan mendukung di dalam iman.

Lalu, bagaimana kita dapat menerima penghiburan dalam penderitaan?
1. Harus siap menerima penderitaan sebagai pengikut Tuhan Yesus.
2. Harus beriman sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus.
3. Harus berdoa sungguh-sungguh untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain.

Dengan melakukan 3 keharusan ini maka penghiburan dalam menghadapi penderitaan adalah pasti, Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

3. Doa Penutup
Ya Tuhan Allah Bapa kami yang penuh belas kasih, terima kasih atas sapaan firmanMu hari ini, yang telah mengingatkan kami untuk selalu mengucap syukur atas segala berkatMu yang tak berkesudahan, Engkau juga adalah Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, dan mengingatkan kami untuk mampu berempati, menguatkan, dan menghibur sesama kami yang menderita. Ajarlah kami Bapa untuk melihat maksud baik dari setiap penderitaan yang kami alami. Secara khusus kami berdoa buat saudara/i kami yang terkena dampak bencana ekologis, kiranya Engkau yang selalu membersamai dan menolong mereka serta mencukupkan segala kebutuhan hidup mereka. Dalam Kristus Yesus, kami berdoa. Amin.

Pdt. Senada Siallagan, M.Th – Pendeta Fungsional Biro Ibadah dan Musik HKBP

Renungan Harian Marturia HKBP Rabu, 21 Januari 2026

Doa pembuka
Ya Tuhan Allah yang Mahakuasa, Mahapengasih, Bapa kami di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kami mengucap syukur dengan segenap hati kami, karena Engkau memelihara hidup kami sampai saat ini. BerkatMu menenteramkan hidup kami untuk merenung sejenak, dan mendengarkan suara-Mu yang penuh kasih. Kiranya melalui renungan ini, Engkau berbicara kepada kami dan membuka mata hati kami untuk melihat kebenaran-Mu. Biarlah setiap kata yang terdengar mengarahkan kami lebih dekat kepada-Mu, dan membawa perubahan dalam hidup kami yang memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami, kami berdoa. Amin.
Renungan
1 SAMUEL 3 : 10
“Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Dalam dunia yang semakin bising, kemampuan manusia untuk mendengar justru semakin menipis. Kita hidup di tengah suara notifikasi, tuntutan pekerjaan, target hidup, opini publik, dan hiruk-pikuk media sosial. Ironisnya, kita tahu banyak hal, tetapi jarang benar-benar mendengar. Kita sering berbicara, berpendapat, dan bereaksi, tetapi semakin jarang berhenti, diam, dan membuka hati.
Di tengah realitas seperti itulah Firman Tuhan hari ini berbicara kepada kita. 1 Samuel 3:10 membawa kita pada sebuah malam yang sunyi, ketika seorang anak bernama Samuel terbangun bukan oleh suara dunia, melainkan oleh panggilan Tuhan. Firman mengatakan, “Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil: ‘Samuel! Samuel!’” Ini bukan Allah yang berteriak dari jauh, melainkan Allah yang datang, berdiri dekat, dan memanggil dengan penuh kasih. Yang menarik, Samuel menjawab bukan dengan banyak kata, bukan dengan tuntutan, bukan pula dengan rasa takut. Ia berkata sederhana namun mendalam: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Dalam bahasa iman Israel, “mendengar” bukan hanya soal telinga, tetapi tentang hati yang siap taat. Samuel menyerahkan kendali hidupnya sepenuhnya kepada Allah.
Firman ini lahir pada masa ketika suara Tuhan jarang terdengar, bukan karena Tuhan diam, tetapi karena manusia tidak lagi mau mendengar. Para pemimpin rohani sibuk dengan kepentingan sendiri. Namun Tuhan memilih berbicara kepada seorang anak yang bersedia diam dan membuka diri. Dari sinilah kita belajar: Tuhan tidak terutama mencari orang yang paling hebat, tetapi yang paling siap mendengar. Jika kita jujur, banyak orang Kristen hari ini rajin berdoa, tetapi jarang memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara. Kita datang kepada Tuhan dengan daftar permintaan, tetapi lupa berkata, “Tuhan, apa kehendak-Mu?” Kita ingin Tuhan mengikuti rencana kita, bukan kita yang taat pada suara-Nya.
Firman ini mengajak kita bercermin: di tengah kesibukan, ambisi, dan tekanan hidup, masihkah kita menyediakan ruang sunyi untuk Tuhan? Masihkah kita mau mendengar, meski suara Tuhan mungkin menegur, mengoreksi, atau mengubah arah hidup kita? Renungan ini mengajak kita memulihkan satu doa yang sederhana namun radikal:
“Berbicaralah, Tuhan, hamba-Mu mendengar.” Doa ini bukan doa orang yang tahu segalanya, tetapi doa orang yang mau dibentuk. Dan di sanalah hidup mulai diubah, bukan oleh kebisingan dunia, tetapi oleh suara Tuhan yang lembut dan berkuasa. Amin.
Doa Penutup
Ya Tuhan Allah Bapa kami di sorga, kami mengucap syukur atas Firman-Mu yang hidup dan berkuasa, yang telah Engkau sampaikan kepada kami. Seperti Samuel hamba-Mu, ajarlah kami memiliki hati yang rendah, telinga yang terbuka, dan hidup yang siap taat kepada kehendak-Mu. Jauhkanlah kami dari kebisingan dunia yang membuat kami lalai mendengar suara-Mu. Pimpinlah kami oleh Roh Kudus-Mu, agar Firman yang kami dengar hari ini nyata dalam perkataan, sikap, dan perbuatan kami sehari-hari. Hanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kami, kami berdoa dan berserah. Amin.

CPdt. Johanes Sibarani

Renungan Harian Selasa, 20 Januari 2026

Doa pembuka: Marilah kita berdoa! Terpujilah engkau Tuhan kami Yesus Kristus yang masih memelihara hidup kami hingga saat ini sehingga kami masih bisa merasakan hari-hari kami dengan baik, dan biarlah Engkau yang selalu menuntun kami melalui Firman-Mu yang menjadi dasar dalam hidup kami. Amin

Bapa/Ibu, yang menjadi ayat renungan kita hari ini tertulis di dalam 2 Korintus 12:9. Beginilah Firman Tuhan,

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukupkanlah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus Yesus, tentu kita menyadari sebagai manusia kita adalah ciptaan yang lemah yang setiap saat membutuhkan pertolongan terlebih dalam menjalani kehidupan yang Tuhan berikan untuk kita. Di dalam menjalani kehidupan ini banyak hal, tantangan, pergumulan yang membuat kita lemah, tidak berdaya, atau mengarah kepada keputus-asaan. Pergumulan itu sering datang dari kehidupan dimana kita bekerja, masalah ekonomi, keluarga, pengangguran atau bahkan penyakit. Tetapi saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus Yesus firman Tuhan hari ini mengingatkan kita, memberi harapan baru dan kekuatan baru bagi kita, ternyata Tuhan Yesus hadir dalam hidup kita ditengah kelemahan kita, Yesus datang menolong kita dan memberi kekuatan, dan harapan yang membuat kita bangkit dari keterpurukan. Yesus mengatakan cukup kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Yang artinya kasih karunia Tuhan Yesus Kristus mampu mengatasi segala pergumulan/permasalahan yang kita hadapi apabila kita selalu berseru kepada Tuhan Yesus. Jangan pernah andalkan pikiranmu, kekuatanmu, jabatanmu dalam menghadapi pergumulanmu, akan tetapi serukanlah, jalinlah komunikasi yang intens dengan Tuhan supaya kita kuat dan beriman yang teguh. Amin.

Doa penutup: sungguh besar kasih karuniaMu di dalam hidup kami ya Yesus, karna kasihMu kami bisa kuat dalam kelemahan kami, kami kuat dalam menghadapi setiap pergumulan hidup, kami yakin dan percaya kasih setia Tuhan selalu hadir dalam hidup kami pribadi lepas pribadi. Biarlah Engkau yang bekerja dalam hidup kami, tuntun kami Tuhan untuk tetap setia mengikut Engkau ditengah-tengah hiruk-pikuk duniawi yang terkadang membuat kami cemas dan khawatir. Lindungilah kami ya Tuhan, Amin.

 

Pdt. Hana Sihombing

Renungan Harian Senin, 19 Januari 2026

“Allahmulah Allahku”

Salam sejahtera bagi kita semuanya….

Kita Berdoa:

Bapa di surga! Kami bersyukur atas kasihMu yang menyertai kehidupan kami hingga saat ini.  Sebentar kami akan mendengarkan FirmanMu; Tuntunlah kami untuk memahami dan Melakukan Firman-Mu dalam kehidupan kami. Hanya di dalam Nama Yesus Kristus kami berdoa, Amin!

 

Bapak, Ibu, saudara sekalian yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus…

Firman Tuhan hari ini tertulis di kitab Rut 1:16  ”Tetapi kata Rut: Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamulah bangsaku, dan Allahmulah Allahku.”

              

Jemaat yang dikasihi Kristus

Kitab Rut sangat menarik dan disukai oleh kaum ibu pada umumnya. Kenapa? Karena kitab Rut mengisahkan hubungan kekeluargaan yang luar biasa antara seorang menantu terhadap mertuanya perempuan, yaitu Rut dan Naomi. Hubungan kekeluargaan ini mengajarkan tentang pemulihan hubungan, komitmen dan kesetiaan iman.

Naomi adalah seorang Yahudi dari suku Yehuda, sedangkan Rut adalah orang Moab, yang secara sosial politik kedua suku ini sering terlibat konflik dan permusuhan, padahal kedua suku ini masih memiliki hubungan keluarga, yaitu dari Lot dan Abraham. Akibat dari permusuhan itu menyebabkan adanya larangan kawin campur di antara kedua suku. Namun, anak-anak Naomi justru menikah dengan perempuan Moab, Orpa dan Rut (Rut 1:4).

Dari sini kita lihat, sejak awal Kitab Rut mengajarkan adanya upaya pemulihan hubungan kekeluargaan. Akan tetapi, sangat disayangkan karena kedua anak Naomi pun mati, yang menyebabkan Naomi harus berpisah dengan kedua menantunya. Naomi akan kembali ke Betlehem dan kedua menantunya akan kembali kepada orangtuanya masing-masing seperti adat istiadat yang berlaku.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Di sinilah poin penting dari Firman Tuhan hari ini. Memang, si Orpa dengan berat hati, dia berpisah dengan Naomi, sedangkan Rut membuat keputusan spektakuler: dia setia kepada Naomi, tapi bukan sekedar setia pada ibu mertua, lebih dari itu dia setia pada Allah Israel. Dengan tegas dia berkata: “ke mana engkau pergi, ke situ juga aku pergi; di mana engkau bermalam di situ juga aku bermalam, bangsamulah bangsaku, Allahmulah Allahku”. Perkataan Rut ini adalah komitmen iman yang luar biasa, melampaui batas-batas budaya, sosial, dan nilai-nilai politik yang sedang terjadi pada saat itu.

 

Jemaat yang dikasihi Kristus….

Keputusan Rut ini pantas untuk kita renungkan dan teladani di masa kini. Bukan sekadar soal pindah adat, budaya, sosial dan agama; sebab secara materi tidak ada keuntungan yang didapatkan oleh Rut, bukankah lebih baik baginya kembali pada keluarganya dan menikah lagi dengan laki-laki lain orang Moab demi masa depannya? Namun, dia tulus untuk mengabdi pada Naomi dan Allah Naomi. Rut telah melakukan pemulihan hubungan kekeluargaan, perdamaian dan kesetiaan iman, sehingga dia memperoleh lebih dari segala materi. Pada akhirnya, Rut menikah dengan Boas, dan dari merekalah keturunan Daud sampai kepada Yesus Kristus.

Tanpa menepikan faktor Naomi, tentulah Allah yang berperan dalam hidup Rut untuk mengambil keputusan dalam hidupnya. Dan Allah juga yang berperan dalam hidup Naomi untuk turut membawa Rut ke Betlehem. Artinya: Mereka dipakai Tuhan untuk mewujudkan rancangan pemulihan, perdamaian dan keselamatan-Nya.

Dari kisah ini, kita patut merenungan bahwa Tuhan mempunyai rancangan-Nya dalam hidup setiap orang percaya dan setia imannya kepada Tuhan. Sebab itu, nyatakanlah komitmen imanmu di hadapan Tuhan dan setialah pada-Nya. AMIN

 

Mari kita Berdoa.

Bapa disorga… Trimakasih untuk firman-Mu yang menguatkan hati kami dan meneguhkan iman kami. Kiranya firman-Mu hari ini dapat menginpirasi dan memotivasi iman kami agar tetap setia kepada-Mu. Ajarlah  kami untuk tetap percaya, setia dan berharap hanya kepada-Mu saja, agar kami dimampukan dan dikuatkan untuk menjalani kehidupan ini. Karena itu, kami serahkan  hidup kami hanya kepada Tuhan. Dengarlah Doa kami ini Hanya didalam Nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin

Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus. Kasih setia dari Allah Bapa dan Persekutuan Roh Kudus, kiranya menyertai kita sekalian hari ini dan selamanya. Amin.

Bvr. Sulastri Sitompul – Kantor Biro Zending HKBP

HKBP Channel

Video Terkait Lainnya

7 Videos
Scroll to Top