Hutabayu Raja (10/3) – Gereja yang tangguh tidak dimulai dari mimbar rumah ibadah, melainkan dari meja makan di tengah keluarga. Pesan mendalam inilah yang menjadi sorotan utama Kepala Departemen Marturia HKBP, Pdt. Bernard Manik, M.Th., saat melakukan kunjungan pastoral ke Konvent Pelayan HKBP Distrik XXIV Tanah Jawa, Selasa (10/3/2026).
Berpusat di HKBP Bangun Putih, Resort Pokan Baru, pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat ini menjadi momentum strategis bagi para Pelayan Penuh Waktu beserta keluarga dan seluruh parhalado setempat. Kehadiran pimpinan HKBP tersebut secara khusus bertujuan untuk mensosialisasikan fokus pelayanan gereja tahun ini, yakni Tahun Pengajaran Iman di Tengah Keluarga 2026, sekaligus menyuntikkan semangat baru bagi para pelayan di akar rumput.
Dalam arahannya, Pdt. Bernard Manik menegaskan bahwa keluarga adalah agen terkecil namun paling fundamental dalam transmisi nilai-nilai kekristenan. Ia mengajak para pelayan gereja untuk merefleksikan kembali amanat agung yang tertulis dalam kitab Ulangan 6:6–7. “Pengajaran firman Tuhan tidak eksklusif hanya terjadi di tempat ibadah. Sejak zaman Perjanjian Lama, Tuhan telah memerintahkan agar firman-Nya diajarkan berulang-ulang kepada anak-anak—saat duduk di rumah, saat dalam perjalanan, bahkan dari waktu berbaring hingga bangun kembali,” papar Kadep Marturia.
Lebih lanjut, ia mengangkat ketegasan Yosua yang mendeklarasikan, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN” (Yosua 24:15). Teladan ini merupakan cerminan ideal tentang bagaimana kepala keluarga harus mengambil peran proaktif sebagai pemimpin spiritual, menjadikan rumah tangga sebagai ruang utama di mana iman dipelihara, dipraktikkan, dan diwariskan antargenerasi.
Tantangan dinamika pelayanan masa kini yang semakin kompleks menuntut gereja untuk memperkuat fondasi dasarnya. Melalui kunjungan ini, para pelayan didorong untuk mengedukasi dan mendampingi jemaat agar kembali menghidupkan kebiasaan doa bersama, pembacaan Alkitab, dan diskusi rohani dalam rutinitas harian keluarga.
“Dengan keluarga yang kuat secara rohani, gereja juga akan semakin kokoh dalam menjalankan panggilan pelayanannya,” tambahnya, seraya mengingatkan para pelayan untuk senantiasa menjaga kesatuan hati dan kerendahan diri.
Pesan pastoral ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh para peserta konvent. Sesi dialog yang berlangsung terbuka memberikan ruang yang aman bagi para pelayan untuk saling membagikan pengalaman, menyuarakan pergumulan pelayanan, serta merajut harapan. Berbagai masukan konstruktif yang mengemuka dari diskusi ini dinilai akan memperkaya arah dan strategi pelayanan di Distrik XXIV Tanah Jawa ke depannya.
Kunjungan pastoral ini diharapkan menjadi sebuah titik tolak untuk mempererat kesatuan visi para pelayan Tuhan. Pada akhirnya, mereka didorong untuk terus saling menopang demi menghadirkan pelayanan yang tidak hanya relevan, tetapi juga secara nyata mampu menjawab kebutuhan spiritual jemaat di masa kini.



