Renungan Harian Marturia HKBP: Jumat, 10 April 2026

 

Doa Pembuka: Terima kasih Tuhan buat penyertaan-Mu yang senantiasa kami rasakan dalam kehidupan kami. Terima kasih karena Engkau telah memelihara hidup kami, dan hari ini Engkau kembali memberi kami kesempatan untuk memulai setiap pekerjaan dan pelayanan kami di dalam kasih dan penyertaan-Mu. Pada saat ini kami merenungkan firman-Mu, kiranya Engkau memampukan kami untuk memahami setiap kebenaran firman-Mu yang baik. Hendaknya firman-Mu berakar dalam hati kami dan menjadi pedoman dalam setiap langkah kehidupan kami. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Roma 5 : 8

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita,  ketika kita masih berdosa.

Semua manusia pada dasarnya dapat dengan mudah menunjukkan kasih. Namun, jika kita memperhatikan kehidupan di sekitar kita, sering kali kasih itu tidak muncul dengan tulus. Ada orang yang tiba-tiba menunjukkan kasih kepada temannya dengan menolong tanpa diminta, tetapi di balik itu terdapat keinginan untuk memperoleh sesuatu. Karena adanya tujuan tertentu, ia secara spontan memperlihatkan sikap mengasihi, padahal sebelumnya hal itu tidak pernah dilakukannya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kasih sering kali diperlakukan tidak semestinya, seolah-olah dapat dimainkan sesuai dengan keinginan hati manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang mengenal apa itu kasih. Namun, kasih yang dipahami manusia seringkali diidentikkan sebagai kasih yang bersyarat. Seseorang cenderung mengasihi orang lain yang berbuat baik kepadanya, menghargainya, dan memperlakukannya dengan menyenangkan. Sebaliknya, ketika muncul kekecewaan atau rasa kesal, kasih itu pun perlahan memudar. Akibatnya, tidak jarang hubungan yang semula dilandasi kasih menjadi renggang.

Firman Tuhan pada hari ini memberikan makna yang lebih dalam tentang kasih, yaitu kasih yang tanpa syarat dan nyata. Melalui Roma 5:8, kita melihat betapa besar dan dalamnya kasih Allah kepada manusia. Allah tidak hanya menyatakan kasih-Nya melalui kata-kata, tetapi membuktikannya melalui tindakan yang nyata, yaitu ketika Kristus mati untuk kita, bahkan saat kita masih berada dalam dosa.

Kasih Allah dinyatakan secara sempurna melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, yang kita peringati dalam peristiwa Paskah. Paskah bukan hanya berbicara tentang kematian, tetapi juga tentang kemenangan, yaitu kebangkitan Yesus yang mengalahkan dosa dan maut. Dengan demikian, Roma 5:8 memberikan penggenapan bahwa kasih Allah adalah kasih yang rela berkorban sekaligus kasih yang memberi hidup baru.

Kasih ini hadir sebagai karya penyelamatan yang menembus keterbatasan manusia. Kasih Allah bukanlah kasih yang menunggu kita menjadi baik terlebih dahulu; justru ketika manusia masih hidup dalam dosa, lemah, dan jauh dari Tuhan, Kristus telah datang dan memberikan diri-Nya. Melalui kematian-Nya, kita diperdamaikan dengan Allah dan menerima kasih, anugerah (grace), serta hidup yang baru. Hal ini menunjukkan bahwa kasih Allah adalah kasih tanpa syarat, kasih yang tidak didasarkan pada karakter, kelayakan, atau keadaan manusia, melainkan semata-mata pada kemurahan hati-Nya sendiri.

Melalui ayat ini, kita diajak untuk tidak hanya menerima kasih Allah, tetapi juga merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kasih itu nyata ketika kita belajar mengampuni, meskipun sulit. Kasih itu terlihat ketika kita tetap peduli, meskipun pernah disakiti. Kasih itu hidup ketika kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan. Dalam keluarga, pelayanan, dan dalam relasi sosial, kita dipanggil menjadi saksi kasih itu. Kita menjadi “bukti hidup” bahwa kasih Allah benar-benar ada dan bekerja dalam diri kita. Amin

Doa Penutup: Tuhan yang penuh kasih, Kami mengucap Syukur atas firman-Mu yang telah kami renungkan dalam hati kami. Terima Kasih atas setiap pengajaran dan kebenaran yang Engkau nyatakan kepada kami. Kami memohon pertolongan-Mu, agar kami tidak hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga pelaku firman-Mu di dalam kehidupan kami setiap hari. Berikanlah kami hikmat dan kebijaksanaan untuk hidup baru seturut kehendak-Mu.Kiranya firman yang telah kami terima dapat menuntun, menguatkan dan menjadi terang dala setiap Langkah kehidupan kami. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa dan mengucap Syukur. Amin.

 

C.Bvr. Septyana Putri Napitupulu, S.Ag- LPP I di Biro Perempuan HKBP

Scroll to Top