Jetun Silangit (10/1) – Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, menyampaikan pesan teologis yang kuat mengenai krisis lingkungan hidup dalam Ibadah Syukuran Awal Tahun (Bona Taon) Sekretariat Bersama Gerakan Oikumenis Keadilan Ekologis Sumatera Utara (Sekber GOKESU) di Jetun Silangit. Dalam arahannya, Ephorus menegaskan bahwa iman Kristiani yang hidup harus mewujud dalam keberpihakan nyata terhadap kelestarian alam dan perlindungan hak masyarakat adat.
Acara ini menjadi momen penting bagi penguatan gerakan lintas iman. Kehadiran umat Muslim dari Tapanuli Selatan, para pimpinan gereja anggota UEM dan LWF—seperti Ephorus GKPS Pdt. Jhon Saragih, Ephorus HKI Pdt. Firman Sibarani, Sekjen GKPI Pdt. Parsaoran Sinaga, serta Kadep Koinonia HKBP Pdt. Dr. Deonal Sinaga—mempertegas bahwa isu ekologis adalah tanggung jawab kemanusiaan yang melampaui batas dogma.
Dalam sambutannya, Ephorus menyoroti luka ekologis akibat banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara baru-baru ini. Ia menegaskan bahwa bencana tersebut bukanlah kehendak Tuhan, melainkan dampak nyata dari keserakahan manusia dalam mengeksploitasi hutan. “Alam kini mengambil alih mimbar. Ia berseru melalui rumah yang hanyut dan sawah yang tertimbun. Inilah saatnya pemerintah bertindak tegas dan para pengusaha berhenti merusak demi keuntungan segelintir orang,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Sekber GOKESU mengumumkan rencana aksi damai ke Istana Negara, Jakarta, pada 27 Januari 2026. Aksi ini bertujuan menuntut penutupan permanen PT Toba Pulp Lestari (TPL) dan menyerahkan surat resmi kepada Presiden RI yang ditandatangani langsung oleh para pimpinan gereja di Sumatera Utara.
Ketua Sekber GOKESU, Ps. Walden Sitanggang, OFM. Cap, menekankan bahwa perjuangan ini tidak hanya melalui diplomasi dan aksi massa, tetapi juga melalui tindakan nyata (aksi ekologis). Hal ini dibuktikan dengan pembagian 1.800 bibit pohon kepada para undangan, masyarakat adat, dan aktivis lingkungan sebagai simbol komitmen pemulihan ruang hidup yang rusak.
Ephorus HKBP mendukung penuh langkah ini dengan mengingatkan bahwa perjuangan ekologis harus mengawal pemulihan hulu sungai dan hutan. Hal ini krusial agar konflik antara satwa dan manusia berakhir, serta masyarakat dapat hidup sejahtera tanpa rasa takut.
Gerakan ini turut didukung oleh lembaga pendamping seperti KSPPM, BAKUMSU, AMAN Tano Batak, serta kalangan akademisi Universitas HKBP Nommensen dan Greenpeace. Ibadah ditutup dengan komitmen bersama bahwa menjaga ciptaan adalah mandat ilahi yang tidak bisa ditawar demi masa depan generasi mendatang.














