Renungan Harian HKBP Senin, 16 Maret 2026

 

Syalom, bapak/ibu saudara/i dan seluruh jemaat yang terkasih, sebelum kita mendengarkan Firman Tuhan di hari ini, alangkah baiknya kita siapkan hati dan pikiran kita, marilah kita mengambil saat teduh sejenak, kita bersatu di dalam doa.

  1. Doa Pembuka

Bapa yang baik, bapa yang kami kenal melalui anakMu Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan juruselamat kami, kami bersyukur untuk penyertaan dan kebaikanMu yang mengiringi langkah hidup kami. Saat ini ya Tuhan, kami ingin menyerahkan diri kami untuk mendengarkan firmanMu yang akan menyapa dan menguatkan kami. Karena itu, kami siapkan hati dan pikiran kami sepenuhnya, kiranya Engkau berkati agar kami dapat dengan sukacita menerima FirmanMu. Kami sambut kasih setia Tuhan di dalam sukacita. Amin.

  1. Renungan

Bapak/ibu saudara/i yang terkasih, firman Tuhan yang menyapa kita saat ini tertulis dalam:

Yunus 1 : 2

“Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.”

Bapak/ibu saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus, Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih, dalam keseharian kita di tengah masyarakat, keluarga, lingkungan kerja, atau bahkan di ruang lingkup media sosial, mungkin seringkali kita melihat sesuatu yang tidak benar, tindakan kejahatan, ketidakadilan, penindasan terjadi begitu saja. Banyak orang yang melihat hal yang demikian, tetapi memilih untuk diam, lebih memilih untuk tidak berkomentar karena takut, lebih memilih untuk diam tidak mengingatkan karena takut terlibat, dan lebih memilih untuk mengabaikan karena merasa itu bukan urusannya. Dari satu sisi sikap seperti ini memang manusiawi, menghindari hal-hal yang berat dan berisiko. Namun saudara/i, di balik sikap yang demikian, ada satu pertanyaan yang perlu untuk kita renungkan secara mendalam, yaitu “bagaimana jika Tuhan justru memanggil aku/kamu/kita untuk bertindak?”

Situasi ini kembali membawa kita kepada proses pemanggilan Tuhan kepada Yunus, seorang tokoh dalam Perjanjian Lama. Khususnya dalam nats yang menyapa kita hari ini, Tuhan menyuruh Yunus untuk bangun dan pergi ke Niniwe, sebuah kota yang besar yang telah penuh dengan kejahatan. Tuhan menaruh tanggungjawab kepada Yunus untuk berseru mengingatkan kota yang besar yang telah dipenuhi oleh dosa itu. Yang pertama kita bisa melihat bahwa Allah pasti melihat setiap kejahatan yang dilakukan oleh manusia, dan untuk itu Allah tidak akan tinggal diam. Tuhan memanggil Yunus untuk menjadi alatNya menyampaikan teguran dan panggilan pertobatan.

Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih, mari kita perhatikan kata “bangunlah” dalam nats ini. Perintah Tuhan dimulai dengan kata “Bangunlah.” Kata ini bukan sekedar perintah untuk berdiri saja, tetapi kata ini adalah seruan ilahi untuk bangkit, bergerak, taat, dan siap melaksanakan misi Tuhan. Dengan kata lain, ini adalah ajakan untuk keluar dari kenyamanan dan kepasifan. Tuhan menghendaki Yunus bergerak dan terlibat dalam rencanaNya. Melalui ayat ini kita melihat bahwa Tuhan peduli terhadap keadaan dunia. Tidak ada kejahatan yang luput dari perhatianNya. Dan perlu untuk kita tahu, Tuhan sering memilih bekerja melalui manusia, dan itu yang terjadi melalui Yunus dalam nats ini. Ia  dipanggil untuk menyuarakan kebenaran, pertobatan di tengah masyarakat yang sudah rusak.

Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih, ada hal yang menarik kemudian perlu untuk kita renungkan. Kota Niniwe memang dikenal sebagai kota yang besar yang penuh dengan kejahatan, dosa, dan kekerasan. Namun yang menarik adalah, Tuhan tahu akan hal itu tapi Ia tidak langsung menghukum kota itu. Sebaliknya, Ia memberi kesempatan kepada kota itu untuk bertobat melalui pesan dan seruan, dan itulah tugas yang dibawa oleh seoarang Yunus. Artinya, Tuhan kita adalah Tuhan yang peduli, penuh perhatian kepada umatNya, penuh dengan keadilan sekaligus penuh belas kasihan. Sekalipun kita tahu bahwa Yunus sempat melarikan diri, pesan dan seruan ini tetap sampai kepada kota itu.

Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih, nats yang berisi kisah Yunus ini sangat relevan bagi kehidupan kita sekarang. Jelas, mungkin Tuhan tidak memanggil kita untuk pergi ke kota besar seperti Niniwe, tetapi harus kita tahu, sebagai orang percaya, Ia tetap memanggil kita untuk menjadi pembawa suara dan seruan kebenaran di tempat dimana kita berada. Di tengah keluarga, di tengah masyarakat, di tengah gereja, tempat kerja, dan dimana pun itu. Memang harus kita akui, terkadang panggilan itu terasa berat, atau bahkan tidak nyaman. Kita mungkin takut ditolak, diejek, disalahpahami, atau bahkan dimusuhi karena membawa suara kebenaran. Tetapi  dari nats ini mari kita ingat satu pesan penting, bahwa panggilan Tuhan selalu memiliki tujuan, salah satunya yaitu untuk menghadirkan kesempatan pertobatan dan perubahan.

Oleh karena itu, marilah kita belajar dan berdoa kepada Tuhan agar kita boleh peka dan taat terhadap panggilan Tuhan. Ketika kita gusar, gelisah atau sedih ketika melihat ketidakadilan, atau kejahatan, atau penindasan terjadi di sekitar kita, mungkin Tuhan sedang menggerakkan hati kita untuk melakukan sesuatu. Ia memanggil kita untuk mampu menegur dengan kasih, memberi teladan hidup yang benar, atau bahkan membawa kembali orang-orang yang telah menjauh dari Tuhan. Tentu, kita dipanggil bukan untuk menghakimi mereka, tetapi kita dipanggil untuk menjadi alat perpanjangan kasih dan kebenaranNya. Nats ini mengingatkan kita bahwa panggilan Tuhan selalu dimulai dengan satu langkah, yaitu “bangun dan pergi.” Kita sering mendengar bahwa Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, tetapi ia mencari orang yang bersedia untuk taat. Ketika kita mau menjawab panggilanNya, Tuhan dapat memakai hidup kita untuk membawa terang dan kebenaran. Amin.

III.       Doa Penutup

            Marilah kita berdoa. Kami bersyukur ya Tuhan Allah kami untuk kesempatan yang begitu berharga yang engkau berikan kepada kami. Saat ini kami boleh dan telah bersekutu bersama untuk mendengarkan firmanMu, yang mengingatkan bahwa sebagai orang percaya, kami memiliki tugas panggilan untuk bersedia menjadi pembawa pesan dan seruan kebenaran di tengah kehidupan kami. Biarlah rohMu ya Tuhan menguatkan kami untuk tetap berdiri dengan teguh di dalam iman kami kepadaMu. Biarlah hidup kami ya Tuhan menjadi berkat bagi banyak orang, lewat pekerjaan, pelayanan dan seluruh cara hidup kami. Tuhan ajari dan kuatkan kami untuk hidup sesuai dengan kehendakMu. Inilah doa dan permohonan kami, di dalam nama anakMu Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Pdt. Frans M. Sormin

 

Scroll to Top