Renungan Marturia Jumat, 23 Januari 2026

Doa Pembuka: Terpujilah Engkau Tuhan yang senantiasa memberkati kami pribadi lepas pribadi dalam setiap aktivitas kehidupan kami. Kami akan memulai segala kegiatan kami pada pagi hari ini engkau yang memberkati kami, terlebih firmanMu yang akan menjadi pedoman bagi kehidupan kami, berkati hati dan pikiran kami supaya kami dipenuhkan oleh hanya karna FirmanMu. Di dalam nama anakMu Tuhan Yesus Kristus kami berdoa kepadaMu. Amin.
Firman Tuhan yang menjadi pedoman dalam menjalani hari ini di hari Jumat 23 Januari 2026 tertulis di 2 Samuel 2:6 “Oleh sebab itu, Tuhan kiranya menunjukkan kasih dan setiaNya kepadamu. Aku pun akan berbuat kebaikan yang sama kepadamu, karena kamu telah melakukan hal demikian.” Demikianlah firman Tuhan.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih dalam nama Tuhan.
Latar Belakang Teks: Pasal ini menceritakan awal masa kepemimpinan Daud setelah kematian Saul. Daud baru saja diurapi menjadi raja atas suku Yehuda di Hebron (2 Sam. 2:4). Ketika Daud mendengar bahwa orang-orang dari Yabesh-Gilead telah menunjukkan keberanian dan kesetiaan dengan menguburkan Saul secara terhormat (2 Sam. 2:5), Daud mengirim pesan penghormatan. Daud tidak hanya memuji mereka, tetapi juga mendoakan mereka agar menerima “kasih dan setia” Tuhan (chesed we’emet dalam bahasa Ibrani), istilah yang digunakan untuk menggambarkan karakter perjanjian Allah—kasih yang tidak berubah, setia, dan penuh kebenaran.
Ini menunjukkan karakter Daud sebagai pemimpin:
• Menghargai kesetiaan
• Tidak membalas dendam, meski Saul pernah memburunya
• Memandang relasi melalui kacamata kasih Tuhan, bukan politik atau kekuasaan
Renungan:
Ayat ini mengajak kita melihat sebuah nilai penting: kesetiaan tidak pernah sia-sia.
Orang Yabesh-Gilead berani menghormati Saul meskipun ia telah jatuh dan mati dengan cara yang memalukan. Tindakan itu bukan didasari keuntungan, melainkan penghormatan dan kesetiaan.
Daud melihat hal itu dan menjawab dengan: Doa, Penghargaan, dan Janji kebaikan
Kisah ini mengingatkan kita bahwa:
• Tuhan menghargai orang yang tetap setia, terutama ketika kesetiaan itu tidak menguntungkan.
• Tuhan tidak melupakan tindakan kebaikan, meskipun manusia mungkin mengabaikannya.
• Kesetiaan seseorang menjadi saluran berkat bagi generasi berikutnya.
Daud bisa saja berkata:
• “Saul membenciku, jadi mengapa aku harus menghormati orang yang setia kepadanya?”
Tetapi ia tidak memilih kebencian, melainkan kasih yang memulihkan.
Ketika Daud mengatakan, “Kiranya Tuhan menunjukkan kasih dan setia-Nya kepadamu”, itu bukan hanya ucapan—itu pengakuan bahwa semua kebaikan sejati bersumber dari Allah.
Aplikasi dalam Kehidupan
1. Tetaplah Setia Walau Tidak Dilihat Orang. Kesetiaan yang sejati terlihat bukan ketika mudah, tetapi ketika sulit. Tuhan melihat dan menghargainya.
2. Balaslah Kejahatan dengan Kebaikan. Daud menjadi teladan bahwa luka masa lalu tidak boleh mengalahkan sikap hati yang benar.
3. Tunjukkan kasih dalam tindakan, bukan hanya kata-kata. Kesetiaan bukan sekadar teori, tetapi dibuktikan lewat pengampunan, dukungan, kepedulian, dan pengorbanan.
4. Jangan ragu menghargai kebaikan orang lain. Kata-kata berkat seperti Daud dapat menguatkan, memulihkan, dan menghidupkan relasi.
5. Ingat bahwa sumber kesetiaan kita adalah Tuhan. Kita mampu mengasihi dan setia bukan karena kekuatan kita, tetapi karena Tuhan lebih dulu setia kepada kita (1 Yoh. 4:19).
Penutup
Kesetiaan adalah bahasa kasih Allah. Ketika kita hidup dalam kesetiaan kepada keluarga, gereja, pelayanan, pekerjaan, dan sesama, kita sedang memantulkan karakter Allah sendiri. Kiranya Tuhan menjadikan kita pribadi yang tetap setia—bahkan ketika dunia tidak menghargainya—dan melalui itu, nama-Nya dimuliakan.
Doa Penutup: Terima kasih Tuhan untuk FirmanMu yang memberikan pemahaman dan kekuatan untuk memenangkan hari ini di dalam kemuliaan namaMu. Berkatilah setiap pekerjaan kami, lindungi dan jaga setiap orang tua kami, keluarga kami, jemaatmu, anak-anak kami dalam menjalani kehidupannya dan pendidikannya. Kami serahkan hidup kami hari ini, esok dan untuk selamanya kedalam tangan pengasihanMu. Di dalam Yesus Kristus kami berdoa dan mengucap syukur. Amin.

Pdt. Pangihutan Hasibuan

Scroll to Top