Doa Pembuka: Damai sejahtera dari Allah Bapa, yang melampaui akal dan pengertianmu, itulah kiranya yang memelihara hati dan pikiranmu. Di dalam Yesus Kristus Tuhan. Amin.
Bapak Ibu, saudara/i sekalian yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus Firman Tuhan di minggu tanggal 29 Maret 2026, di minggu Palmarum diambil dari Filipi 2 ayat 5-11. Saya akan bacakan, Demikian Firman Tuhan.
5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih dalam Nama Tuhan, Filipi 2:5–11, salah satu teks kristologis paling mendalam dalam Perjanjian Baru. Perikop ini sering disebut sebagai “hymne Kristus” karena memuat ringkasan iman gereja mula-mula tentang pribadi dan karya Yesus Kristus. Secara teologis, teks ini tidak hanya berbicara tentang siapa Kristus, tetapi juga bagaimana hidup orang percaya harus dibentuk oleh teladan-Nya. Dalam konteks surat kepada jemaat Filipi, Rasul Paulus menekankan kesatuan, kerendahan hati, dan pengosongan diri sebagai ekspresi iman yang sejati.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Ayat 5 membuka dengan seruan etis: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Ini menunjukkan bahwa teologi tidak pernah berhenti pada pemahaman intelektual, tetapi harus berinkarnasi dalam praksis hidup. Pola hidup Kristus menjadi norma bagi komunitas iman. Ayat 6–7 mengungkapkan misteri inkarnasi: Kristus, yang “dalam rupa Allah,” tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, melainkan “mengosongkan diri-Nya” (kenosis). Secara teologis, ini tidak berarti Kristus kehilangan keilahian-Nya, tetapi Ia melepaskan hak-hak kemuliaan-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Ini adalah paradoks ilahi: kemuliaan Allah justru dinyatakan melalui kerendahan hati dan pelayanan. Ayat 8 memperdalam tema ini dengan menyatakan bahwa Kristus taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Salib dalam konteks Romawi adalah simbol kehinaan dan kutuk. Namun, di sinilah terlihat inti dari karya keselamatan: ketaatan total Kristus kepada kehendak Bapa. Dalam perspektif teologis, salib bukan sekadar tragedi, tetapi tindakan penebusan yang menunjukkan kasih Allah yang radikal. Ayat 9–11 menampilkan gerakan “kenaikan” setelah “penurunan.” Allah sangat meninggikan Kristus dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. Ini menegaskan prinsip teologis bahwa kerendahan hati mendahului kemuliaan. Pengakuan universal bahwa “Yesus Kristus adalah Tuhan” menunjukkan bahwa karya Kristus memiliki dimensi kosmik—melampaui batas individu dan mencakup seluruh ciptaan. Pengakuan ini bukan hanya pernyataan iman, tetapi juga deklarasi kedaulatan Kristus atas segala sesuatu.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Filipi 2:5–11 mengajarkan bahwa inti kehidupan Kristen adalah partisipasi dalam pola hidup Kristus: kerendahan hati, ketaatan, dan kasih yang rela berkorban. Secara teologis, teks ini menggabungkan doktrin inkarnasi, penebusan, dan pemuliaan dalam satu kesatuan yang utuh. Bagi orang percaya, panggilan utamanya bukan sekadar mengagumi Kristus, tetapi meneladani-Nya. Dalam dunia yang sering mengejar kuasa dan kemuliaan diri, jalan Kristus mengingatkan bahwa kemuliaan sejati justru ditemukan dalam kerendahan hati dan penyerahan diri kepada Allah.
Doa Penutup: Terima kasih Ya Tuhan Allah, untuk FirmanMu yang telah kami dengar. Ajari kami untuk selalu bersyukur memiliki Engkau, ajarkan kami bahwa betapa bahagianya kami karena Engkau begitu mengasihi kami. Dengan bimbingan rohMu, kami akan melakukan FirmanMu untuk kemuliaan namaMu. Kami serahkan hidup kami hari ini, esok dan selamanya hanya kedalam tangan pengasihanmu. Di dalam Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Pdt. Andar Panuturi Sitompul, S.Th., M.Sos- Melayani di Biro Ibadah Musik HKBP



