Renungan Harian Marturia: Selasa, 13 Januari 2026

Doa Pembuka : Marilah kita berdoa! Allah Bapa yang bertahta di Kerajaan Sorga, Allah Sang Pemilik kehidupan, kami mengucap syukur atas pernyertaan dan berkat Tuhan yang selalu kami rasakan disepanjang kehidupan kami. Kami juga bersyukur dan bersukacita atas satu hari baru yang Engkau anugerahkan bagi kami. Pada saat ini ya Allah kami hendak dituntun oleh Firman-Mu, berilah kami hikmat kebijaksanaan, agar Firman ini dapat menjadi pegangan kami dalam menjalani kehidupan. Dalam Kristus kami berdoa, Amin.

Bapa Ibu, saudara-saudari Firman Tuhan yang menjadi renungan kita hari ini diambil dari Kisah Para Rasul 1:8 beginilah Firman Tuhan…

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria  dan sampai ke ujung bumi”.

Bapa Ibu saudara/i terkasih, bayangkan hidup kita seperti sebuah ponsel. Kita tahu ponsel itu punya banyak fitur hebat, tetapi tanpa daya, semua itu sia-sia; layarnya gelap, tidak bisa melakukan apa-apa. Kuasa Roh Kudus layaknya Baterai Ilahi kita. Yesus tidak langsung menyuruh murid-murid-Nya berlari dan bersaksi dalam keadaan bingung dan ketakutan. Ia meminta mereka menunggu hingga mereka menerima kuasa Roh Kudus. Kuasa ini mengubah kelemahan menjadi kekuatan, membuat kita untuk menanggung misi yang besar. Tanpa “pengisian daya” Roh Kudus, upaya kita bersaksi akan cepat melelahkan, terasa hampa, dan tidak berdaya.

Bapa Ibu, ayat ini mengajak kita untuk bergantung pada energi Roh Kudus. Seringkali, kita mencoba melayani dengan kekuatan dan kepintaran kita sendiri, padahal itu sama saja seperti mencoba menyalakan ponsel yang mati dengan mengguncang-guncangnya. Kita akan lelah dan frustrasi. Kuasa Roh Kudus adalah daya yang mengubah kata-kata biasa kita menjadi benih Injil yang hidup, dan mengubah tindakan kasih kita menjadi bukti nyata kehadiran Kerajaan Allah. Inilah yang membedakan kesaksian kita dari sekadar motivasi atau nasihat biasa.

Setelah menerima Baterai Ilahi tersebut, barulah datang perintah untuk bersaksi, sebuah misi yang memiliki peta jelas: mulai dari Yerusalem (lingkungan terdekat kita, keluarga, rekan kerja), meluas ke Yudea dan Samaria (lingkungan yang lebih jauh atau mungkin lingkungan yang kurang kita sukai), hingga Sampai ke Ujung Bumi. Seringkali, kita ingin langsung melompat ke “ujung bumi”—melakukan hal-hal besar—sambil mengabaikan “Yerusalem” kita. Padahal, kita harus mulai dari tempat kita berdiri. Misi dimulai dari integritas kita di rumah dan kejujuran kita di tempat kerja, di mana karakter kita menjadi kesaksian bisu yang paling kuat.

Maka dari itu, untuk mempraktikkan janji ini, langkah pertama kita adalah memprioritaskan pengisian daya. Luangkan waktu setiap pagi untuk meminta Roh Kudus memenuhi kita, memohon kekuatan-Nya agar kesaksian kita tidak hanya berupa pendapat kita sendiri. Kedua, kita dipanggil untuk menjadi saksi. Tugas kita adalah menceritakan apa yang telah kita lihat dan alami, apa yang Kristus lakukan dalam hidup kita. Di “Yerusalem” kita hari ini—di rumah atau kantor— carilah kesempatan untuk membagikan satu hal spesifik tentang kebaikan Tuhan yang kita alami. Mari kita melampaui zona nyaman kita dengan menunjukkan kasih Kristus secara nyata. Mari kita hidup dengan “Baterai Ilahi” yang penuh, dan dengan keberanian, mulai bersaksi dari tempat kita berdiri. Amin

Doa Penutup : Kami bersyukur Tuhan atas FirmanMu yang senantiasa mengingatkan kami bahwa hidup kami harus selalu dipenuhi dengan Roh Kudusmu. Mampukan kami untuk meneladani Engkau dan mengandalkan Engkau disetiap langkah kehidupan kami. Biarlah hidup kami selalu memancarkan perbuatan-perbuatan baik supaya Nama-Mu selalu dimuliakan. Dalam Kristus kami berdoa, Amin.

C.Pdt. Naomi Greta Angelia Panjaitan, S.Th – LPP I di Biro TIK HKBP

 

Scroll to Top