Yesaya 42:1-9 “Allah menyatakan keselamatan”
Bapa Ibu Saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus…Selamat hari Minggu.
Pada Minggu I setelah Ephipanias ini, kita akan bersekutu dengan Tuhan melalui Firmannya. Marilah kita berdoa :
“Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, itulah yang memelihara hati dan pikiranmu, dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Amin”
Firman Tuhan yang menjadi khotbah bagi kita pada Minggu I set. Ephipanias ini:
Yesaya 42:1-9 “Allah Menyatakan Keselamatan”
Prinsip “siapa yang kuat, dia yang selamat” (Survival of the Fittest) yang dipopulerkan filsuf Herbet Spencer, mengandung arti bahwa keselamatan itu bergantung pada diri manusia itu sendiri: kekuatannya, kekayaannya, kemampuan, kepintarannya. Dengan demikian, posisi orang yang lemah, miskin akan sulit mendapat kesempatan,Bahkan bisa saja terancam. Seperti terkandung dalam falsafah Batak “Na bisuk nampuna hata, na oto tu pargadisan”, seseorang bisa mengendalikan oranglain yang lebih lemah nalar atau kemampuan berpikirnya.
Namun dalam nas ini ditunjukkan bahwa Tuhan tidak membiarkan umatnya berada dalam prinsip hidup yang sedemikian, makanya Ia hadir melalui seorang “hamba” yang diutus ke tengah dunia yang telah rusak tersebut. Sang mesias yang disebut “hamba” Tuhan bertindak dengan penuh kasih dan perhatian. Pertama, secara khas Tuhan menunjukan bahwa keselamatan yang akan dihadirkan tertuju bagi semua pihak, bahkan bagi setiap mereka yang tidak lagi sanggup untuk mempertahankan dirinya. Keselamatan itu tidak perlu dimiliki dengan prinsip ‘yang kuat yang akan bertahan’ karena TUHAN sendirilah yang akan menguatkan mereka yang lemah demi mengalami keselamatan. Dengan kata lain, keselamatan dari TUHAN adalah murni anugerah yang merangkul, menguatkan, dan membangkitkan setiap orang.
Kedua, Hamba Tuhan tersebut membawa harapan, pemulihan, dan keadilan sejati dengan cara yang lembut dan penuh kasih, mengundang setiap orang untuk mengalami dan membagikan kabar baik ini. Dia bekerja atas pimpinan Roh Allah, sehingga Ia bertindak sesuai dengan tuntunan Roh itu: menegakkan keadilan bukan hanya bagi Israel tetapi bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Ia akan menjadi terang bagi bangsa-bangsa, membuka mata orang buta, membebaskan tawanan, dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap. Ia tidak akan berseru atau membentak; Ia tidak akan mematahkan buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar, melainkan dengan lembut memulihkan mereka yang rusak dan putus asa. TUHAN menyatakan hal-hal baru, hal-hal yang belum terjadi, yaitu karya keselamatan dan keadilan-Nya yang baru melalui Hamba-Nya.
Ini adalah kabar baik bagi kita dan telah nyata di dalam karya penebusan Yesus yang universal, yang menguatkan dan meneguhkan iman kita, di dalam Yesus hamba Allah yang telah menyatakan diriNya diam bersama dengan kita, akan bertindak menyelamatkan kita. Seperti buluh yang patah dan sumbu yang pudar, orang yang merasa tidak berharga atau berdosa tetap berharga di mata Yesus. Dia tidak akan membuang kita. Yesus datang untuk memperbaiki dunia dengan kelembutan. Kita dapat datang kepada-Nya dengan segala kelemahan dan dosa, dan Dia akan menerima kita. Amin.
************************
EPISTEL:
KISAH PARA RASUL 10:34-43
Kita diciptakan Tuhan berbeda, namun bukan berarti kita dibeda-bedakan. Kenyataannya, dalam relasi sosial, sering terjadi pembeda-bedaan atas suku, marga, ras, warna kulit dan bahasa, termasuk strata sosial. Yang lebih parah, terjadi sikap rasialis yang menghasilkan ketidakadilan, pertikaian, bahkan peperangan. Orang Yahudi pernah mengalami penderitaan dahsyat karena perlakuan rasialis dari bangsa Jerman. Namun banyak orang Yahudi pada masa Perjanjian Baru pun bersikap rasialis. Mereka merasa satu-satunya umat Allah yang berhak atas semua janji-Nya. Bangsa-bangsa lain tak lebih daripada binatang yang tak layak mendapat anugerah Allah.
Khotbah Petrus kepada Kornelius dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang. Allah berkenan atas setiap orang dari bangsa manapun yang datang dengan tulus mencari-Nya termasuk Kornelius yang adalah seorang kafir. Rahasia perkenanan Allah atas semua orang ini terletak pada diri Yesus Kristus (ayat 36-38). Yesus yang datang ke dunia ini mengerjakan karya keselamatan untuk membuat orang berkenan kepada Allah. Melalui kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus telah menyediakan jalan keselamatan untuk semua orang, semua bangsa.
Petrus, sebagai seorang Yahudi belajar mengatasi sikap rasialis dan menerima Kornelius, seorang kafir sebagai sesama manusia yang dikasihi Allah (ayat 34). Bahkan Petrus menyadari bahwa panggilannya mengikut Yesus adalah untuk memberitakan keselamatan bagi semua orang (ayat 42). Jika Yesus telah menerima semua orang dari suku bangsa manapun dan memberikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepadaNya, bukankah kita juga seharusnya meneladani sikap Yesus tersebut? Kita patut bersyukur karena hanya oleh karya Kristuslah kita bisa datang kepada Allah dan layak disebut sebagai umat-Nya. Tugas kita sekarang adalah memberitakan anugerah itu kepada semua orang lintas ras, suku, bangsa, dan bahasa, juga status sosial. Amin.
Pdt. Daniel Napitupulu



