Doa Pembuka
Allah Bapa yang kami kenal di dalam Anak-Mu, Tuhan Yesus Kristus, kami mengucap syukur atas anugerah kehidupan yang masih Engkau berikan kepada kami. Biarlah Engkau tetap membimbing langkah kehidupan kami, lewat terang Firman-Mu. Amin.
Bapak Ibu, saudara/i terkasih dalam Kristus Yesus.
Firman Tuhan yang menjadi renungan kita pada pagi hari ini diambil dari Yeremia 1:5, demikian:
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam kandungan, Aku telah mengenal engkau; sebelum engkau lahir, Aku telah menguduskan engkau, dan telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”
Dunia yang kita hadapi sekarang ini adalah dunia yang penuh dengan banyak hal yang tidak kita pahami. Mulai dari ketidakstabilan geopolitik, kasus-kasus immoral ada di mana-mana, hingga perubahan-perubahan sosial yang bahkan sulit untuk kita ikuti dan pahami. Di hadapan semua kasus itu, kita merasa diri kita kecil dan tidak berdaya. Bisa kita bayangkan bagaimana orang yang diberikan tugas, tapi tidak mampu mengerjakan tugas tersebut. Pada akhirnya, orang itu akan menjadi orang yang “bingung” atau “menyerah”, tanpa tahu cara mengerjakan tugas tersebut dengan baik.
Demikian pulalah konteks Firman Allah dalam Yeremia ini, yang lahir dari situasi krisis yang kompleks. Mulai dari tekanan geopolitik, kemerosotan moral-spiritual, bahkan krisis kepemimpinan. Yeremia dipanggil di tengah situasi besar ini. Bisa kita bayangkan bagaimana seorang muda seperti Yeremia, dipanggil dalam situasi yang kompleks seperti itu. Respons Yeremia adalah respons yang biasa kita ucapkan ketika kita merasa tidak layak atau tidak mampu dalam menyelesaikan sebuah tugas, “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda” (ay. 6).
Namun, melalui perasaan ketidakmampuan Yeremia inilah, Allah bekerja. Allah berkata,
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam kandungan, Aku telah mengenal engkau… Aku telah menguduskan engkau… dan menetapkan engkau.”
Urutan kata yang Allah pilih itu menunjukkan sesuatu yang penting tentang bagaimana Tuhan memanggil. Allah memulai dengan “membentuk” Yeremia sebelum lahir. Kata membentuk berarti panggilan Tuhan tidak dimulai dari kemampuan kita, atau bahkan kesiapan kita. Allah sudah menyiapkan kita dari awal, jauh sebelum kita menyadarinya. Dia membentuk hati kita, karakter kita, dan kapasitas kita, sehingga kita bisa digunakan untuk tujuan-Nya. Setiap detail hidup kita, sejak awal, sudah ada dalam rancangan-Nya.
Dari pengenalan itu, Allah “menguduskan” Yeremia, dan memisahkannya untuk tugas khusus. Pengudusan ini karena ia telah disiapkan sepenuhnya untuk kehendak-Nya. Dan akhirnya, Allah “menetapkan” Yeremia, memberi penugasan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Urutan dalam ayat 5 ini adalah proses panggilan Allah. Panggilan itu bersifat monolog, sehingga tidak ada ruang untuk berdalih bagi Yeremia. Dan di sanalah Yeremia mendapatkan kekuatan untuk menjalani panggilannya, yaitu ketika dia menyadari kelemahannya, dan mencari kekuatan pada Allah.
Bapak/Ibu, saudara/i terkasih dalam Kristus Yesus.
Minggu Invocavit mengingatkan kita bahwa panggilan Tuhan itu nyata dan bersifat pribadi. “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan akan menjawabnya.” Allah memanggil kita di tengah dunia saat ini. Kita mungkin sering mencoba untuk berdalih seperti Yeremia, bahwa kita tidak mampu menghadapi panggilan itu di tengah derasnya perkembangan zaman. Atau bahkan, kita juga mudah tergoda untuk mengandalkan kekuatan sendiri.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan untuk tidak mengandalkan kekuatan kita sendiri. Mengandalkan kekuatan kita sendiri, adalah bukti kelemahan kita. Panggilan kita di dunia bukan karena kita siap, kuat, atau mampu, tapi karena kita disiapkan, dikuatkan, dan dimampukan oleh Allah. Ketidakpastian dunia, rasa takut, atau ketidakpercayaan diri mungkin sering menyelimuti kita. Namun, Allah yang membentuk, mengenal, menguduskan, dan menetapkan kita, adalah Allah yang juga akan menyertai kita sepanjang hidup. Seperti Yeremia, kita diajak untuk percaya bahwa meski kita merasa kecil dan tak mampu, panggilan Tuhan selalu disertai kehadiran dan kekuatan-Nya.
Oleh sebab itu, kalau hari ini kita masih merasa takut, atau bimbang menjalani kehidupan, itu bukan karena kita yang tidak mampu. Bisa saja itu karena kita yang kurang berkomunikasi, atau memanjatkan doa kepada Allah. Tema Minggu ini, “Tuhan dekat tatkala aku memanggil” mengingatkan kita, bahwa dalam setiap ketakutan, kebingungan, atau keraguan yang kita alami, Allah selalu hadir. Kehadiran Allah yang paling sempurna ada dalam Kristus Yesus. Yesus yang melemahkan diri-Nya menjadi manusia, yang mengalami ketidakberdayaan, penderitaan, dan penganiayaan, menunjukkan bahwa Allah hadir bahkan dalam kelemahan kita. Maka marilah kita berseru kepada Allah melalui Kristus, memohon bimbingan dan kekuatan dari-Nya, berhenti mengandalkan kemampuan sendiri, dan hidup dalam pengharapan bahwa Dialah sumber kekuatan sejati kita. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih Engkau telah mengajarkan kami tentang panggilan-Mu dan kesetiaan-Mu. Bantu kami hidup dalam Firman-Mu setiap hari dan menjawab panggilan-Mu dengan iman dan ketaatan. Amin.
C.Pdt. Rosma Sianipar



