Renungan Harian Selasa, 24 Februari 2026

 

“Kasih yang Mengajarkan”

Bilangan 6:24-26 

Doa Pembuka:

Bapa di surga, kami datang kepada-Mu dengan kerinduan untuk belajar dari firman-Mu hari ini. Lembutkan hati kami agar kami tidak hanya mendengar, tetapi juga melakukannya. Bentuklah kami menjadi jemaat yang saling mengasihi dan saling menguatkan di dalam iman. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.

Amin.

Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Firman Tuhan yang menyapa kita hari ini diambil dari 1 Timotius 1:5 beginilah firman Tuhan:

Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.

Bapak, ibu, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Suatu kali, seorang pelari maraton hampir menyerah di kilometer terakhir. Kakinya terasa berat dan napasnya tersengal. Namun dari pinggir lintasan, terdengar suara sahabatnya berseru, “Sedikit lagi! Kamu pasti bisa!” Dukungan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuatnya melangkah kembali dan mencapai garis akhir.

Dalam 1 Timotius 1:5, Rasul Paulus mengingatkan bahwa tujuan nasihat adalah kasih—kasih yang lahir dari hati yang suci, hati nurani yang murni, dan iman yang tulus. Nasihat di sini bukan sekadar teguran keras atau kritik tajam. Paulus berbicara tentang dorongan rohani yang lahir dari kasih. Artinya, ketika kita saling mengingatkan, motivasinya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk meneguhkan. Sayangnya, dalam kehidupan bergereja, kita sering ragu untuk menegur atau mengingatkan. Ada yang takut merusak relasi. Ada yang memilih diam supaya tidak terlibat. Ada pula yang menegur, tetapi tanpa kasih—sehingga melukai, bukan memulihkan.

Paulus menunjukkan keseimbangan: kebenaran dan kasih berjalan bersama. Kasih tanpa kebenaran menjadi kompromi. Kebenaran tanpa kasih menjadi kekerasan. Tetapi ketika nasihat lahir dari iman yang tulus, hati yang bersih, dan nurani yang murni, maka teguran berubah menjadi dukungan, dan peringatan menjadi penguatan.

Bapak/ibu, jemaat Tuhan dipanggil bukan hanya untuk beribadah bersama, tetapi juga untuk bertumbuh bersama. Itu berarti kita berani saling mengingatkan ketika ada yang mulai menjauh dari Tuhan. Kita berani saling mendukung ketika ada yang lemah. Kita rela menopang ketika ada yang hampir menyerah.

Mungkin hari ini ada seseorang di sekitar kita yang sedang lelah secara rohani. Mungkin ia tetap hadir, tetapi hatinya jauh. Mungkin ia tersenyum, tetapi imannya sedang goyah. Tuhan bisa memakai kita sebagai suara yang menguatkan, seperti seorang sahabat di pinggir lintasan tadi yang menguatkan seorang pelari maraton, kita pun hadir menjadi saudara yang menguatkan.

Pertanyaannya bukan, “Apakah saya berani menegur?” tetapi “Apakah saya cukup mengasihi untuk peduli terhadap sesama saya?” Maka, kasih yang sejati tidak membiarkan saudaranya berjalan sendirian. Kasih yang sejati justru hadir, mendukung, dan dengan rendah hati berkata, “Mari kita berjalan bersama dalam iman kepada Tuhan”

Bapak, ibu, hari ini, mari kita meminta Tuhan membentuk hati kita untuk menjadi suci dan membentuk iman kita menjadi tulus, supaya melalui hidup kita, jemaat Tuhan semakin kuat dan ditopang sampai garis akhir imannya.

Amin

Doa Penutup:

Tuhan Yesus Kristus,  Kami bersyukur untuk firman-Mu yang menguatkan kami hari ini.  Ajar kami, ya Allah, mengasihi dengan benar dan berikan kami keberanian untuk saling mengingatkan dengan hati yang murni dan motivasi yang tulus. Jauhkan kami dari sikap acuh tak acuh dan dari teguran yang melukai. Pakailah kami, ya Allah, untuk saling mendukung dan menopang dalam iman, agar kami bersama-sama bertumbuh dan setia sampai akhir. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.

CPdt. Randi Simbolon

Scroll to Top