Gereja Tidak Boleh Netral: Pdt. Eldarton Simbolon Tegaskan Peran HKBP Lindungi Pekerja Migran dan ODHIV di Batam

Dokumentasi Foto

Batam (28/2) – “Gereja tidak bisa bersikap netral. Peran gereja harus melampaui ibadah di altar; gereja harus hadir secara nyata di tengah realitas sosial jemaatnya, menjadi agen perubahan yang membawa kasih Kristus ke dalam kehidupan sehari-hari.” Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Kepala Departemen Diakonia HKBP, Pdt. Eldarton Simbolon, D.Min, yang menjadi sorotan utama dalam pembukaan Workshop Migrasi dan HIV: Peran Gereja dalam Menghadirkan Kasih dan Perlindungan di Batam. Digelar selama dua hari pada 27-28 Februari 2026, kegiatan ini menyoroti tingginya kerentanan jemaat, khususnya kaum buruh dan pekerja migran, terhadap bahaya perdagangan manusia (human trafficking) dan infeksi HIV yang telah mencapai 6.118 kasus (2026).

Kadep Diakonia mengungkapkan fakta bahwa di berbagai belahan dunia, organisasi keagamaan bahkan mampu menyediakan hingga 50 persen dari total layanan HIV. “Dengan jaringan jemaat yang luas, kepercayaan komunitas yang tinggi, dan kehadiran di tingkat akar rumput, HKBP memiliki posisi strategis untuk menjangkau mereka yang paling rentan dan paling membutuhkan,” tegasnya.

Kegiatan kolaboratif ini diselenggarakan oleh Departemen Diakonia melalui unit pelayanannya HKBP AIDS Ministry (HAM), Panti Asuhan (PA) Elim, dan Justice Gender Policy (JGP), yang bekerja sama dengan HKBP Distrik XX Kepulauan Riau. Sebanyak 22 peserta yang terdiri dari pendeta, diakones, sintua, jemaat, hingga perwakilan buruh dari 11 ressort turut ambil bagian.

 

Menjawab Tantangan di Kota Transisi

Pemilihan Batam sebagai lokasi lokakarya bukan tanpa alasan. Kota ini merupakan salah satu wilayah dengan arus migrasi tenaga kerja terbesar di Indonesia. Berdasarkan pemaparan Norma, SKM., ahli epidemiologi dari Dinas Kesehatan Kota Batam, tercatat lebih dari 6.118 kasus dan risiko HIV di kota tersebut sejak 2017 hingga awal 2026. Banyak migran terhambat dalam mengakses layanan kesehatan akibat ketiadaan dokumen kependudukan, ditambah lagi dengan stigma negatif yang masih melekat di masyarakat.

Menanggapi realitas ini, Praeses HKBP Distrik XX Kepri, Pdt. Henry Banuareah, S.Th., M.M., melalui khotbah pembukanya yang didasarkan pada Yohanes 13:34-35, mengingatkan bahwa gereja dipanggil untuk memikul beban kaum marginal sebagai wujud nyata damai sejahtera. Panggilan untuk tidak diam juga disuarakan oleh Romo Paschall, aktivis kemanusiaan dan pelindung pekerja migran di Batam. Ia menyayangkan bahwa isu perdagangan manusia kerap dinormalisasi dan dianggap sebatas isu politik oleh gereja. Romo Paschall mendorong gereja untuk berani tampil sebagai suara kenabian (profetis) dan menyediakan ruang aman bagi para korban.

 

Pelayanan Holistik: Dari Edukasi hingga Perlindungan Anak dan Perempuan

Dalam lokakarya ini, unit-unit pelayanan HKBP membagikan pengalaman nyata mereka di lapangan. Sekretaris Eksekutif HAM, Diak. Berlina Sibagariang, menyoroti siklus memprihatinkan yang kerap menimpa pemuda dari kawasan Toba. Minimnya edukasi membuat banyak pemuda yang merantau ke kota industri seperti Batam tertular penyakit menular seksual, termasuk HIV, lalu pulang kembali ke kampung halaman tanpa akses pengobatan yang memadai.

Ancaman ini tidak hanya berhenti pada masalah kesehatan. Pdt. Evelin Suminar Idayanti Sihombing, M.Th., dari PA Elim, memaparkan bagaimana panti asuhan tersebut harus menjadi rumah aman bagi anak-anak korban kekerasan dan penelantaran yang lahir dari kerasnya kehidupan migrasi. “Perlindungan anak bukanlah pilihan, melainkan kewajiban moral. Kita tidak boleh menunggu sampai ada korban berikutnya,” tegasnya.

Sementara itu, Elyanju Sihombing dari JGP menggarisbawahi bahwa kemiskinan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sering kali memaksa perempuan mengambil jalur pekerjaan ilegal yang sangat eksploitatif. Ia mengajak gereja untuk secara aktif menyuarakan kesetaraan gender dari mimbar dan melindunginya melalui kebijakan gerejawi.

 

Langkah Nyata ke Depan

Pada hari kedua, peserta diajak melihat langsung wujud pelayanan nyata melalui kunjungan kerja (exposure) ke Shelter Santa Theresia. Kunjungan ini membuka mata peserta tentang pentingnya kerja sama lintas lembaga dalam menangani kasus pelecehan seksual dan perdagangan manusia, mulai dari tahap pencegahan, advokasi hukum, hingga rehabilitasi.

Kegiatan ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Para pelayan dan jemaat bersepakat merancang langkah-langkah konkret yang bisa segera diterapkan di gereja masing-masing, seperti edukasi pencegahan HIV di kalangan pemuda, penghapusan stigma terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV), serta wacana penyediaan rumah aman bagi jemaat yang menjadi korban eksploitasi.

Rangkaian acara diakhiri dengan ibadah yang dipimpin oleh Kabid Diakonia HKBP Distrik XX Kepri, Pdt. Boni Sipahutar. Mengambil teladan Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:25-37), ia berpesan, “Nilai sejati kehidupan orang Kristen adalah keberanian untuk mengasihi tanpa memandang status sosial, dan kemauan untuk memulihkan martabat mereka yang terpinggirkan.”

Scroll to Top