Shalom saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Kami sangat berharap saudara/i dalam keadaan sehat saat ini. Sebelum kita mendengarkan renungan pada hari ini, marilah kita beri waktu sejenak untuk saat teduh…..
Marilah kita berdoa : Kami sungguh bersyukur ya Bapa, karena kasihMu selalu menyertai kami setiap saat. Pada pagi hari ini, sebelum kami melakukan segala kegiatan kami, kami hendak bersekutu dengan Engkau dan mendengarkan firmanMu. FirmanMu sebagai dasar bagi kami untuk berkata dan berbuat dalam satu hari ini, maka dari itu biarlah Roh KudusMu yang memberi hikmat kepada kami, agar kami mengerti akan Firman-Mu dan dapat melakukannya. Terimalah doa kami ini, yang kami sampaikan hanya di dalam nama Anak-Mu Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin
Firman Tuhan yang akan kita dengarkan hari ini tertulis dalam 2 Tesalonika 1 : 4 “sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita”
Saudara/i, tidak ada seorangpun yang mengharapkan dia berada di dalam masalah, menghadapi penganiayaan dan penindasan, atau menghadapi sakit penyakit. Semua orang akan berusaha menghindari masalah, mencegah agar tidak sakit. Tetapi terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang diterima, seperti penyakit yang bisa datang kapan saja, walaupun kita sudah berupaya makan dan minum teratur, tidur sesuai yang disarankan, harus 8 jam dalam 1 hari, bahkan kita selalu mengkonsumsi vitamin, tetapi kenyataannya sakit juga. Kita berusaha membuat yang terbaik didalam perkumpulan, tetapi ternyata baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain, sehingga muncul masalah atau kesulitan. Kita bukannya tidak menjaga diri kita dari penyakit atau kesulitan, namun hal-hal ini terkadang datang tanpa kita duga dan tidak dapat kita hindari. Akhirnya penyakit atau masalah itu membuat kita terbeban, sehingga kita mengalami penderitaan yang mendalam dan terkadang berlarut. Maka dari itu janganlah kita hanya fokus mencari cara untuk menghindarinya, tetapi kita harus berupaya mencari cara ketika kita harus menghadapinya. Kita harus menanggapi masalah itu dengan benar, agar kita tidak menjadi putus asa, bahkan menimbulkan penyakit, seperti depresi bahkan sampai kehilangan iman percaya kita. Kita harus ingat bahwa “TUHAN tidak pernah menjanjikan setiap orang yang percaya kepadaNya tidak mengalami kesusahan, tetapi yang TUHAN janjikan Dia akan selalu ada menemani kita didalam keadaan susah ataupun senang”.
Demikian juga dengan keadaan jemaat di Tesalonika yang menghadapi penganiayaan bahkan penindasan dari orang-orang yang menentang pemberitaan Injil. Tetapi jemaat Tesalonika merespon masalah itu dengan sabar, sehingga keteladanan mereka patut untuk dimegahkan. Mereka memiliki iman yang teguh yang dapat dilihat dengan perbuatan mereka yang nyata, mereka sungguh sungguh mengasihi TUHAN sehingga mereka tetap semangat melayani TUHAN walaupun didalam kondisi tertindas, dan mereka selalu hidup dalam pengharapan sehingga mereka tetap tabah dan tekun melakukan apa yang dikehendaki TUHAN walaupun menghadapi penganiayaan (bnd.1 Tesalonika 1:1-3).
Maka itu Rasul Paulus mengatakan “kami sendiri bermegah tentang kamu”, bermegah karena iman jemaat Tesalonika yang teguh. Tetapi kita harus memahami bahwa bermegah karena ketabahan dan iman dalam penderitaan bukan berarti kita tidak peduli dengan berbagai masalah dan tantangan hidup yang sedang kita hadapi,
tetapi sesungguhnya kita belajar bahwa di dalam penderitaan yang dialami, disitu akan nyata pertolongan Tuhan yang sempurna. Seperti yang dikatakan dalam 2 Korintus 12 : 9-10 “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat”. Berbeda terbalik dengan kenyataan yang sering kita alami. Iman kita menjadi lemah apabila kita menghadapi penindasan. Dari pengalaman Rasul Paulus ini kita dapat belajar bahwa iman kita akan semakin kuat walaupun mengalami penindasan apabila kita mencari kekuatan di dalam Tuhan. Maka itu janganlah kita bergantung pada orang lain, atau kekuatan kita sendiri, tetapi carilah kekuatan di dalam TUHAN agar kita tidak menjadi lemah. Seperti Jemaat di Tesalonika, mereka menghadapi penindasan dengan cara mencari Tuhan dengan lebih lagi. Bahkan di tengah penganiayaan itu mereka lebih saling mengasihi, kasih persaudaraan mereka semakin kuat. Mereka merasa senasib sepenanggungan karena semua orang yang teraniaya berada pada posisi yang sama. Dengan demikian, penindasan dan penganiayaan itu bukannya menjadi batu sandungan yang menjatuhkan mereka, justru membuat iman mereka semakin bertumbuh.
Karena hal itulah Rasul Paulus bangga melihat jemaat ini, yang tetap tekun walaupun disiksa dan dianiaya. Mereka tidak menyerah pada siksaan, namun tetap berdiri dalam iman kepada Kristus. Jemaat di Tesalonika dianiaya sedemikian rupa, tetapi mereka tetap tabah. Kekuatan iman yang dimiliki mereka membuat Rasul Paulus bermegah tentang jemaat Tesalonika kepada jemaat-jemaat lain. Jemaat Tesalonika menjadi kesaksian yang hidup bagi jemaat-jemaat yang lain.
Bapak-ibu, saudara/i yang terkasih mari kita belajar dari jemaat di Tesalonika. Kondisi pertumbuhan iman dan kasih bukan bergantung pada keadaan eksternal yang sedang baik atau tidak. Tetapi hal itu bergantung pada cara kita merespon keadaan tersebut. Kita harus tetap hidup dalam kuasa Tuhan sehingga iman dan kasih kita akan tetap teguh walaupun harus mengalani penderitaan. Tuhan yang memegang kendali hidup kita. Kita tidak pernah berjalan sendiri, kita akan tetap dijaga oleh-Nya, sehingga jangan pernah menyerah dalam menghadapi setiap tantangan dan pergumulan dalam hidup kita, karena kita akan menerima upahnya. Seperti yang dikatakan Roma 8:18 “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”. Amin
Mari kita berdoa :
Ya Allah Bapa, terimakasih kami ucapkan, karena Engkau selalu ada untuk kami. Kami mohon agar Engkau terus berkarya dalam kekuatan kuasa dan kasih-Mu untuk terus menuntun, memelihara dan memampukan kami menghadapi setiap bentuk tantangan dan pergumulan dalam hidup ini. Jangan biarkan kami menjadi lemah, tetapi kiranya kami tetap kuat sehingga kami akan tetap bermegah di dalam Engkau dan memuliakan-Mu. Ditengah-tengah perjalanan kami di dunia ini, ajari kami melakukan kehendakMu dalam hidup kami, sehingga kami dapat menyenangkan hatiMu. Terimakasih ya Allah Bapa. Terimalah doa ini ya Bapa, yang kami sampaikan melalui AnakMu, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup. Amin
Kasih setia dari Tuhan Yesus Kristus, Anugrah dari Allah Bapa, dan Persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. Amin
-Pdt. Susi Hutabarat



