Renungan Harian HKBP Rabu, 11 Maret 2026

Doa Pembuka: Bapa yang Mahakasih, kami mengucap syukur atas penyertaan-Mu sehingga kami masih dapat merasakan anugerah nafas kehidupan yang dari padaMu hingga saat ini. Ya Tuhan, sebentar lagi kami akan mendengarkan firman-Mu. Tuntunlah kami oleh Roh Kudus, bukalah hati dan pikiran kami agar kami siap menerima teguran, didikan, serta kekuatan dari firman-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan memulai persekutuan ini. Amin.

Renungan:
Amos 5:24 – Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.
Shalom saudara/i yang terkasih di dalam Kristus. Bayangkan kita baru saja selesai mengikuti ibadah Minggu yang luar biasa di gereja. Koor bernyanyi dengan merdu, khotbah yang menyentuh hati, dan persaudaraan begitu hangat. Namun, ketika kita melangkah keluar, Tuhan menegur dengan keras: “Aku membenci dan menolak ibadahmu. Aku tidak mau mendengarkan nyanyianmu.” Tentu kita akan terkejut. Mengapa ibadah yang begitu indah ditolak oleh Tuhan?
Inilah pesan tegas yang disampaikan Nabi Amos kepada bangsa Israel, dan juga kepada kita saat ini. Pada masa itu, Israel sedang berada dalam kemakmuran. Ibadah persembahan mereka sangat megah. Namun, di balik kemegahan itu, terjadi ketimpangan yang luar biasa. Orang kaya semakin serakah menindas yang miskin, dan hukum dengan mudah dipermainkan.
Melalui Amos 5:24, Tuhan berseru: “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir,” Iman percaya kita menghidupi Tri Tugas Panggilan Gereja, yaitu Koinonia (bersekutu), Marturia (bersaksi), dan Diakonia (melayani). Pesan Amos ini adalah panggilan keras pada aspek Diakonia kita. Ibadah ritual kita di gedung gereja (Koinonia) tidak akan ada artinya di mata Tuhan jika tidak menghasilkan buah keadilan dalam kehidupan sehari-hari.
Tuhan menggunakan perumpamaan “air yang mengalir”. Air yang mengalir terus-menerus akan membawa kehidupan, menyegarkan yang dahaga, dan membersihkan kotoran. Keadilan tidak boleh seperti genangan air yang diam, pasif, dan akhirnya menjadi sumber penyakit. Keadilan harus aktif dan bergerak membela mereka yang lemah.
Keadilan yang mengalir ini berarti kita berani bertindak benar walau sulit. Wujud nyatanya sangat dekat dengan keseharian kita: tidak berbuat curang di tempat kerja, membayar upah pekerja dengan layak, membela rekan yang difitnah, dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan harta atau jabatan. Melalui kayu salib, Yesus Kristus telah menunjukkan keadilan sejati yang dibalut dengan kasih dan anugerah. Ia rela turun membasuh luka dunia yang penuh dosa ini. Karena kita telah menerima keadilan dan kasih Tuhan, marilah kita menjadi saluran air kehidupan itu.
Jangan biarkan ibadah kita selesai hanya sampai di ucapan “Amin” di dalam gereja. Biarlah keadilan dan kebenaran terus mengalir deras melalui tindakan kita di keluarga, tempat kerja, dan masyarakat. Tuhan memberkati. Amin.

Doa Penutup: Ya Tuhan Allah kami, terima kasih atas Firman yang baru saja kami dengar dan renungkan. Berikanlah kami kekuatan dan keberanian agar kami tidak hanya menjadi pendengar, tetapi mampukan kami menjadi pelaku firman, yang mengalirkan keadilan dan kebenaran-Mu di tengah kehidupan sehari-hari. Sertailah langkah dan aktivitas kami selanjutnya. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat kami, kami berdoa dan mengucap syukur. Amin.

 

Pdt. Mika T.J. Simanjuntak – Staf di Biro TIK HKBP

 

Scroll to Top