Doa Pembuka
Terimakasih ya Allah sumber segala Rahmat. Syukur bagiMu yang senantiasa memberkati dan memelihara hidup kami hingga saat ini. Kami mau mendengar Firman mu ya Tuhan, kiranya Engkau hadir di setiap hati kami.
Ibrani 1:3
“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,”
Â
Kita tahu Cahaya bulan itu tidak bersumber dari dirinya, tapi itu Adalah cahaya yang dipantulkan dari matahari. Namun kita sering kali salah paham dan memaknai bahwa bulan menghasilkan cahanya sendiri tanpa bantuan dari tata surya lain.
Ibrani 1:3 mengatakan, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.” Penggunaan kata cahaya dalam nas ini hendak menggambarkan bahwa pancaran cahaya itu tidak dapat terpisahkan dari sumbernya. Jika Allah adalah Matahari, maka Yesus adalah sinarnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan.
Analogi ini membawa kita pada sebuah perenungan tentang identitas kita sebagai manusia. Sama seperti bulan yang tidak memiliki api atau cahaya sendiri, kita pun demikian. Bulan hanyalah benda mati yang gelap, namun ia menjadi indah dan terang ketika ia memposisikan dirinya tepat di hadapan matahari.
Ibrani 1:3 mengingatkan kita, bahwa Yesus adalah “pancaran cahaya kemuliaan Allah.” Ketika kita disebut sebagai “terang dunia,” itu bukan berarti kita memiliki kebaikan atau kesucian yang bersumber dari diri kita sendiri. Inilah hakikat kehidupan orang beriman: Cahaya yang kita pancarkan bukanlah milik kita, melainkan pantulan dari Kristus yang adalah Sumber Cahaya Sejati.
Saat ini merupakan masa-masa Prapaskah, dimana kita diperhadapkan pada kenyataan yang getir. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, banyak orang mulai kehilangan arah dan tidak lagi mengenal Allah yang sejati. Kita hidup di era di mana manusia cenderung “menciptakan Allah lain” atau berhala-berhala baru dalam hidupnya. Berhala ini tidak lagi berbentuk patung, melainkan berupa ambisi yang tak terkendali, ketergantungan pada teknologi, pemujaan terhadap kekayaan, hingga pengagungan terhadap diri sendiri.
Ketika manusia berhenti memandang kepada Kristus sang Cahaya sejati itu, mereka mulai mencoba menghasilkan cahaya mereka sendiri. Kita berusaha tampak “terang” melalui pencapaian, status sosial, atau citra di media sosial. Namun, cahaya buatan manusia ini bersifat semu dan melelahkan.
Ibrani 1:3 memberikan peringatan sekaligus penghiburan yang kokoh dalam kehidupan kita. Di tengah dunia yang seolah kacau dan penuh tuhan-tuhan palsu, firman Allah tetap “penuh kekuasaan” untuk menopang segala yang ada.
Kita diingatkan melalui Firman Tuhan Hari ini bahwa, Kemuliaan kita bukanlah milik kita, melainkan milik Dia. Semakin dekat kita dengan Yesus sang Cahaya Sejati, semakin terang pula hidup kita untuk menerangi sesama.
Doa Penutup.
Terimakasih ya Tuhan untuk sapaan firmanmu pada hari ini yang mengingatkan kami bahwa Engkau adalah sumber cahaya sejati dan pemilik kekuasaan ditengah dunia ini. Ajari dan tolonglah kami ya tuhan untuk mensyukuri semua berkat mu dalam hidup kami. Terpujilah Engkau
Amin.
C.Gr Jeffry Tarihoran



