Renungan Harian HKBP: Epistel Minggu, 1 Maret 2026

  1. Doa pembuka.

Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa Kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. Amin.

  1. Renungan.

Yeremia 31: 31-34

31:31 Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,

31:32 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN.

31:33 Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

31:34 Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”

 

Bapa ibu dan sauadara yang terkasih. Didalam pertumbuhan relasi kita dengan Tuhan, pernahkah kita membuat standar peribadahan/pelayanan di dalam hidup kita? Yang di mana standar itu menjadi tolak ukur, yang sering sekali, secara sadar maupun tidak sadar menjadi acuan kita untuk menentukan, apakah kita sudah layak di hadapan Tuhan, maupun didalam lingkungan masyrakat!

Jika pernah! Saya bukan bermaksud untuk mangatakan, bahwa itu adalah tindakan yang salah. Itulah adalah tindakan yang sah-sah saja untuk kita lakukan, sebagai acuan dan motivasi di dalam hidup kita. Agar kita semakin bertumbuh di dalam Iman kepada Tuhan. Namun itu akan menjadi keliru, ketika itu menjadi dasar utama bagi kita di dalam menentukan kualitas iman dan relasi kita kepada Tuhan!

Sama halnya seperti yang dilakukan bangsa Israel, pada masa pemerintahan Yehuda saat itu. Dalam setiap kegagalan, kesalahan dan perbuatan dosa mereka. Mereka mengganggap bahwa ritus-ritus peribadahan yang sesuai dengan Hukum Taurat dapat menyelamatkan mereka dari dosa dan kegagalan hidup tersebut. Mereka beranggapan, semakin mereka giat dan konsisten untuk beribadah dan menjalankan ritus peribadahan, maka mereka akan terselamatkan dari dosa dan kegagalan tersebut.

Ini adalah kekeliruhan iman yang bangsa Israel lakukan! Karya penyelamatan Allah bukanlah hasil dari kerjasama (synergisme) antara manusia dengan Tuhan, Bukan! Melainkan hanya karena usaha Allah sendiri (monergisme). Allah bertindak, Allah memberi dan manusia menerima.

Kegagalan bangsa Israel yang selalu jatuh kedalam dosa, bukan berarti akibat Hukum Taurat salah maupun tidak berfungsi! Kegagalan bangsa israel sepenuhnya akibat kekeliruhan mereka di dalam memahami Hukum Taurat Allah, sehingga mereka gagal mempertahankan perjanjian itu, yaitu perjanjian lama, antara Allah dengan manusia yang dulunya diberikanNya kepada nenek moyang mereka.

Meskipun mereka, meskipun mereka berdosa. Allah tidak bermaksud untuk meninggalkan bangsa itu. Tetapi Allah menyelamatkan mereka dengan memperbaharui janjinya, seperti yang tertulis di ayat 33 “…. Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

               Ini adalah Perjanjian Baru yang Tuhan janjikan kepada bangsa itu. Dan sama seperti sebelumnya. Perjanjian ini adalah inisiatif Allah sepenuhnya. Tidak ada syarat yang Allah berikan kepada manusia untuk melakukan perjanjian ini. Sebab ini adalah tindakah Allah sendiri. Jika Perjanjian yang sebelumnya (Perjanjian lama) itu bersifiat: Eksternal, tertulis di batu, bersyarat dalam ketaatan (Tetapi tidak bertujuan sebagai sarana penyelamatan). Maka di perjanjian yang baru, itu bersifat internal, berada di dalam hati, yang bertujuan sebagai pengampunan (ayat 33-34). Dan pengampunan ini bukan karena usaha manusia, bukan karena perubahan moral manusia, bukan karena ketaatan manusia, melainkan karena pembenaran yang berikan Tuhan semata. Kita selamat bukan karena kita sudah taat terlebih dahulu. Tetapi Allahlah yang membernarkan kita terlebih dahulu, sehingga kita boleh selamat dan menjadi hidup yang baru.

Bapa ibu dan saudara yang terkasih di dalam Yesus Kristus. Mungkin hari ini kita gagal, mungkin hari ini hidup kita sedang tidak baik-baik saja. Mungkin saat ini ada dosa berulang yang terus menerus kita lakukan! Tetapi percayalah, keselamatan dan kelayakan kita di hadapan Tuhan bukan karena usaha dan kekonsitenan kita untuk beribadah. Melainkan hanya karena pembenaran Allah sendiri!

Stop menjadikan ketaatan sebagai jalan untuk mendapatkan keselamatan dan pembenaran dari Tuhan. Tetapi marilah berlaku benar, berpikir benar dan bertindak benar, karena kita sudah dibenarkan oleh Allah terlebih dahulu.

Stop merasa benar! Tetapi marilah menjadi pribadi-pribadi yang benar di dalam kehidupan kita! Karena Tuhan sudah membenarkan hidup kita, agar kita layak menerma keselamatan yang daripadaNya. Tuhanlah yang memampukan kita! Amin.

 

  1. Doa Penutup

Tuhan terima kasih atas anugerah keselamatan yang senantiasa Engkau berikan kepada kami. Engkau membenarkan kami, agar kami dapat berlaku yang benar di dalam kehidupan kami! Engkau senantiasa hadir di dalam hidup kami. Namun kami menyadari, kami sering lupa dan terlena akan usaha dan kekuatan kami, yang membuat kami merasa mampu dan hebat! Tetapi itu semua hanyalah keyakinan yang keliru! Kami memohon Tuhan, ampuni Kami! Kasihani kami! Tuntun kami, agar kami boleh mampu untuk melakukan segala firmanMu di dalam hidup kami. Terima Tuhan, dalam nama Yesus Kristus! Kami berdoa. Amin.

Pdt. Febri Hutapea
Scroll to Top